
John tertegun sesaat mendengar ucapan yang keluar dari mulut tuannya. Dia pun menyadari keberadaan Ramon yang juga mengicar Shopie untuk menjadikannya kekasih.
"Saya akan melakukan hal yang sama. Seperti yang anda lakukan sekarang. Saya tidak ingin kehilangan dia. Apa pun akan saya pertahankan agar dia tetap di sisi saya," jawaban sakras membuat Haiden hanya bisa menaikkan satu bibirnya dengan kecut.
"Kau gila!" dengus Haiden.
"Jangan memaki-ku. Kau pun sama. Apa kau bisa melepaskannya,"
Bugh
Sekali lagi Haiden menendang kakinya.
"Huh berani sekali kau menyamakan dirimu. Kisahku dengan Dominique berbeda, aku bahkan sudah mengenalnya jauh lebuh lama dari kisah cintamu yang kacangan itu," dia kesal tak ingin di samakan.
"Sama saja. Walaupun kau mengenalnya lebih lama dariku. Itu tidak akan mengubah apapun, posisimu di hatinya sudah bergeser. Kau kalah strategi dengan Bunarco itu," kini bahasa John berubah bukan sekedar atasan dan bawahan. Dia berbicara sebagai sahabatnya sekarang.
"Aku benar benar kesal mendengarnya. Dia, bagaimana bisa meluluhkan hatinya hanya dalam dua tahun!"
"Dua tahun bagimu, tapi untuk seorang Bunarco dia memulai semuanya dari awal. Dia sudah memperlakukannya dengan sangat baik sejak mereka bertemu. Sedangkan kau? Mungkin di hatinya hanya ada kenangan buruk. Sejak masa sekolah kau hanya memperlakukannya seperti pelayan. Kau hanya mengekang semua kebebasannya,"
Deg
Ucapan John seperti menampar wajah Haiden berkali kali. Dia bahkan melupakan kalau dirinya selama ini hanya mengekang kebebasan Dominique. Memasukkannya ke dalam sangkar emas. Seperti burung kenari, dia mengikat leher dan kakinya. Bahkan untuk bernafas pun, dia harus mendapatkan izin darinya.
Hurf
Dia hanya bisa menghela nafasnya. Semua yang di katakan John tidak salah. Dia ingin sekali memperbaiki keadaan. Membawa Dominique pergi sejauh mungkin dari kekangan yang membelenggunya.
Kekangan Willy. Dia tahu laki laki di sampingnya bukan orang biasa. Mengingat semua latar belakangnya. Bahkan kali ini Haiden sangat takut jika Dominique akan menangis dan merasakan kecewa berlipat kali.
__ADS_1
"Katakan padaku? Apa yang terjadi? Apa John melakukan sesuatu pada teman kencanmu?"
Dominique menatap wajah temannya yang tak berhenti mengeluarkan air mata dan terisak. Shopie masih belum bisa berbicara. Dia binggung akan memulai darimana ceritanya.
Bukan teman kencanku Domii, dia sudah merenggut paksa kehormatan-ku. Dia menjadikan aku miliknya. Huhh, bagaimana aku bisa menceritakan ini semua padanya.
"Shop ayo dong jangan diam saja, " Dominique menyentuh tangannya perlahan. Membuyarkan lamunannya.
Tok Tok Tok
Diana membuka pintu. Memasukkan kepalanya.
"Kau harus minum susu dulu. Aku sudah membawakannya," dia berjalan masuk membawa segelas susu hangat.
"Aku tidak ingin meminumnya hari ini Di," tolaknya. Entah kenapa perutnya langsung terasa mual ketika melihat susu.
"Ayolah, kau tahu. Suami-mu itu akan memarahiku. Dia masih menunggu di luar. Kalau susu ini tak kau habiskan-" belum sempat Diana mengakhiri ucapannya, Dominique menyambar gelasnya. Berjalan kearah pintu, dan membukanya.
"Minumlah sayang, perutku tiba tiba mual saat melihat susu. Kau bisa mewakilkan aku minum kan? Ini bukan aku yang mau loh ... anak kita yang mau sayang," dia menunjukkan senyumannya yang bagai malaikat. Membuat Willy yang setengah marah tak tega melihat wajahnya yang begitu lembuh.
Huh, aku masih saja kalah saat melihat wajah manis dan imutnya itu.' dengus Will.
Dominique masih belum menurunkan tangannya, memberikan gelas yang berisi susu hangat tadi.
"Kau tahu kan aku tidak suka susu yang itu," jawaban sambil menunjukkan kearah yang lain dengan bibirnya.
"Argghhh Will. Jangan berfikir macan macan. Malam ini aku ingin bersama dengan Shopie. Aku sudah bilang tadi dan tak bisa di ganggu," merenggut sudah wajahnya. Dia kesal melihat Will meliriknya dengan pandangan buas.
"Aku mana bisa menahannya. Kau tahu untuk urusan itu aku tidak bisa mengalah. Aku dengar Aramgyan akan mengurus cuti teman-mu. Aku bisa pasti dia akan tinggal di sini lebih lama dari perkiraan-mu. Jadi sekarang kembalilah ke kamar, aku sudah tak bisa terlalu lama menahannya," ucap Will tak sabar meraih gelas di tangannya, memberikan kepada Diana yang mengikutinya dari di belakang.
__ADS_1
"Jadi kau mau minum apa sebelum kau tidur sayang? Ayolah jangan egois, ingat sekarang kau tidak sedang sendiri. Kau juga harus memikirkan bayi kita yang ada di dalam sana," lagi Will meluluhkan hatinya tanpa bisa di berkata sambil mengelus perutnya.
"Malam ini saja aku mohon sayang. Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin mengobrol saja sih," kini matanya melirik Haiden dan John yang keluar kamar menatap mereka.
"Biarkan Ramon berbicara dengan temanmu. Dia akan mengajak-nya untuk menikah, besok!"
Deg
Shopie yang baru saja mengganti bajunya dengan pakaian tidur hanya bisa memegangi pintu. Dia hampir pingsan saat mendengar ucapan Will.
"Arrgh, Domii. Aku benaran pulang saja. Aku tidak mau di sini," gadis itu ketakutan apalagi saat menatap John dan Ramon yang melayangkan pandangannya langsung padanya.
"Hiihh. Kaliannn mengagetkan saja. Kalian ingin membuat temanku mati karena serangan jantung mendadak," ketus Dominique menghampiri Shopie memapah tubuhnya yang bergetar karena syok.
"Biarkan mereka bicara sayang. Biar malam ini mereka selesaikan. Kau kembalilah ke kamar dengan kami," kedua lelaki Dominique kompak. Menghampirinya. Kedua pria itu menarik satu satu dari kedua tangannya.
"Agh. Tidak mau. Aku tidak mau. Biarkan aku bicara dengan Shopie. Argghhh!!" suara teriakannya sudah tak terdengar. Mereka menutup pintu kamar dengan rapat. Kamar mereka yang kedap suara.
Kini yang saling menatap John dan Ramon. Tanpa berucap kedua lelaki itu maju menghampiri Shopie.
"Sepertinya kamar belakang juga kedap suara. Apa kau ingin membawanya masuk ke sana?" Ramon memberikan ide. Karena dia tahu soal seluk-beluk rumah baru yang mereka tinggali.
"Sepertinya tidak buruk. Karena aku sudah lebih dulu tadi mencicipinya. Aku rasa kalau kau memang sudah tak keberatan," John berucap dengan kegilaannya. Dia bahkan seolah buta karena cinta. Yang dia inginkan hanya gadis di hadapannya ada dalam pelukannya.
Ramon memberikan lirikan tajam. Dia merasa kalah satu langkah dari rivalnya. Shopie mulai tersadar dan segera berbalik badan. Masuk ke kamarnya. Namun, kedua lelaki di hadapannya sudah memburunya seperti serigala buas yang kelaparan.
"Jangan mendekat! Aku tidak mau bertemu dan berbicara dengan kalian," Shopie terus menjauhi kedua lelaki yang terus mendekati-nya.
Buatnya ini adalah pengalaman pertama. Dia disukai oleh dua pria sekaligus. Dan mereka memaksanya untuk menikah.
__ADS_1
Huhuhu. Apa ini perasaan Domi saat mereka memaksanya. Benar benar membuat takut.