
Dominique tidak menjawab, wajahnya sudah seperti udang rebus. Malu.
"Sudah jangan bercanda lagi" Dominique mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa?Kau Malu?Memang apa yang bisa kau sembunyikan, semua sudah aku lihat dan coba" Dominique segera menutup mulut Haiden dengan tangannya.
Haiden meraih tangan Dominique dan mengecup keningnya, "Tolong jangan bermain lagi dengan pria brengsek itu, Aku percaya padamu Domi,
dan dihatiku ini hanya kamu seorang,
wanita yang kucintai" Dominique terharu dengan pernyataan cinta Haiden yang begitu tulus.
Dominique hanya tersenyum miris, dia belum bisa membayangkan apa yang akan Haiden lakukan kalau dia tahu Justin menciumnya kemarin.
Dominique berbalik badan, bangun dan duduk di tepi ranjang,
"Iden, jangan marah, kau kan tahu perasaan_ku padamu, aku masih belum__"
"tapi, kau istriku sekarang, besok dan nanti, itu tidak akan pernah berubah" Haiden tidak ingin mendengar penolakan dari Dominique, yang juga duduk di samping Dominique.
"Dan, aku yakin, suatu hari kau pasti akan mencintai_ku"
"Bagaimana kalau ti-dak" suara Dominique terdengar ragu, menoleh menatap wajah Haiden yang terluka atas ucapannya.
"Aku akan tetap memaksa_mu, dan memastikan bahwa dihidup_mu, hanya aku orang yang bisa kau lihat, bila perlu akan kubuat kau catat, agar kau tetap bersamaku, seumur hidup-mu, kau pasti tahu dengan pasti aku tidak pernah main-main dengan ucapanku" Haiden membalas Dominique dengan tatapan tajam.
"huh, bisakah kau sedikit saja, tidak keras kepala dan berpikir seperti itu, Iden"
"Kalau masalah lain mungkin, tapi tidak dengan dirimu, kau segalanya bagiku" jawab Haiden makin tegas.
Dominique hanya menelan salivanya sendiri, rasanya negosiasi dengan Haiden masih tidak semulus perkiraan_nya.
Bagaimana aku bisa lepas darinya, bahkan aku masih belum tahu perasaan_ku, kalau saja dia tidak memaksakan diri untuk menikahiku,
mungkin aku masih bisa menata hatiku. Meluruskan dengan jelas hatiku. Tidak terikat dengan perasaan_ku kepada Justin. Aku tidak mungkin membiarkan perasaanku, aku pun ingin merasakan benar-benar jatuh cinta.
Aku hanya ingin Jatuh cinta pada orang yang tepat. Kalau dengan Haiden, aku tahu posisiku, sekuat apapun aku melangkah, aku pasti tidak akan sanggup menapaki tangga terjal berduri ini, sedangkan dengan Justin pasti aku mendapatkan cerita yang berbeda__.
"Aku mandi dulu" Dominique beranjak dari duduknya, membuyarkan semua pikirannya yang sudah seperti benang kusut.
"Domi" tangan Haiden menghentikan langkah Dominique.
Dominique menolehkan kepala, "Kau kan masih cuti, kenapa kau tetap bersikeras bekerja" Haiden mulai mengeluh.
"Aku mau bekerja, tidak perlu cuti lama"
"Kau hanya ingin bertemu dengannya kan" Haiden berdiri, berjalan menghampiri Dominique yang memalingkan wajahnya.
Deg. Panah tepat sasaran menghujam jantung Dominique.
"Kau diam, jawab!" Haiden mulai berteriak.
"Apa kau tetap kukuh dengan pendirian_mu, mempertahankannya? Hah" Haiden mengguncang tubuh Dominique yang tetap membisu.
__ADS_1
"Iden, lepas, aku mau mandi" Dominique menghempaskan tangan Haiden dan segera berlari ke kamar mandi, Haiden pun mengikuti.
"Idennn, please, jangan sekarang, aku tidak ingin melakukan_nya" Dominique mendorong tubuh Haiden yang terus memepet tubuhnya ke tembok.
Haiden tidak menggubris ucapan Dominique, ia mencengkram kedua tangan Dominique ke atas, dan memulai olahraga paginya dengan kasar, membuat Dominique beberapa kali berteriak kesakitan karena ulah brutal Haiden.
Dominique keluar kamar mandi, dengan handuk yang menggulung ditubuhnya, sedangkan Haiden keluar kamar mandi dengan siulan gembira.
Dominique meraih ponselnya yang terus berbunyi,
"iya_Sop" suara serak dan lelah terdengar ditelpon.
"Domi, kau kenapa, sakit lagi?" Sophie terdengar khawatir.
"mm__maaf ya Sop, sepertinya aku tidak bisa masuk hari ini" Haiden yang mendengar tersenyum.
"Iyah__tidak apa-apa Dom, aku telpon cuma mau bilang kau bisa lanjut cutinya, pesan Bu Ririn, Ajeng sudah masuk kok"
"Ah, iya, Terima kasih Sop" Dominique menutup telponnya dengan kecewa.
ah, sial, aku akan seharian lagi dengan Serigala ini, dia pasti akan mengerjaiku habis-habisan.
"ehem"
Dominique segera berlari ke lemari baju dan bergegas mengenakan baju_nya.
ish, kenapa bajunya seperti ini, apa dia sengaja.
Dominique yang kesal dengan bajunya yang sangat minim, mini dress diatas paha dengan kerah Sabrina, membuat Haiden yang menatap terus menelan salivanya.
Belum Dominique menjawab, bel pintu terdengar, "Apapun yang kau makan, aku pasti makan"
"Benarkah?"
"Hmm, ya sudah aku buka pintu" Dominique berjalan pelan menghampiri pintu dan membukanya.
"Selamat pagi" sapa Justin di ambang pintu, sesaat dia terpana melihat penampilan Dominique yang mengoda imannya.
"Ah, pagi, maaf Justin, aku lanjut cuti"
"cuti lagi? kenapa?"
"Dia kelelahan sehabis olahraga pagi bersamaku" Haiden yang sudah di belakang Dominique dan merangkulnya.
Dada Justin bergolak panas, apalagi melihat Haiden yang sengaja menebar kemenangan dan kemesraannya.
"Oh, pasti kau belum sarapan, ini aku bawakan sarapan" Justin yang tidak perduli, nyelonong masuk ke dalam apartemen Haiden.
"Hey, kau, aku tidak menyuruhmu masuk" Haiden yang berkacak pinggang, melihat Justin masuk dan langsung menghampiri meja makan.
"wow, wow__kau tidak salah memberikan Domi_ku sarapan seperti ini" Justin yang meledek sarapan yang disediakan Haiden, Justin menaruh paper bag yang dia bawa diatas meja makan, berjalan kehadapan Dominique yang masih bengong dan menarik tangannya, mata Justin tersayat, hatinya teriris melihat banyak stempel yang tertinggal di leher dan beberapa bagian yang terbuka.
Dominique yang sadar, canggung dengan tatapan Justin, "kau berangkat saja, aku kan sudah bilang tidak masuk" Dominique yang akan duduk, ditarik Haiden duduk di pangkuan nya, "Kau tidak tuli kan" seringai Haiden kesal.
__ADS_1
Justin mengeluarkan ponselnya, dia menelpon seseorang, dan pembicaraan Dominique tahu siapa yang di telpon Justin. Haiden membulatkan matanya kesal, mendengar ucapan Justin di telpon.
"Kau juga tidak tuli kan, kau dengar aku bilang apa barusan" Justin yang tidak mau kalah, dia meminta izin tidak masuk bekerja.
Apa mereka gilak, aku sudah pusing dengan Haiden, eh__Justin malah sama saja.
"Justin, kau gila" Dominique yang mendelikkan matanya.
"Iya, aku gila karena-mu"
"Jangan konyol" Dominique malas berdebat dan mau bangkit dari pangkuan Haiden.
"Kau mau kemana" cegah Haiden.
"Idenn, akh, please kalian berdua, bisakah kalian membuatku tenang, sehari saja, aku ingin istirahat"
"Tidak" jawab keduanya kompak.
"Aaggghhh, aku bisa gilaaaa" teriak Dominique mengacak rambutnya.
"sshhttt" Justin menempelkan satu jari di bibir Dominique, "jangan buang energi, kau sarapan dulu yaa, aku sudah beli nasi uduk semur jengkol kesukaan_mu" ucap Justin.
"Apa, JENGKOL, Dominique kau masih suka makan jengkol" Haiden menautkan alisnya tidak percaya hobi Dominique yang belum berubah.
Dominique hanya nyengir kuda saat mendengar semur jengkol, air liur Dominique tak kuasa menahannya.
"Mana" Dominique antusias saat Justin membuka paper bag bawannya.
"Shitt" Haiden bangun dari duduknya, tak sengaja mendorong Dominique hingga duduk dan kepelukan Justin, Jantung Justin langsung berdebar, apalagi saat mencium aroma tubuh Dominique. Justin tidak ingin melewatkannya walau sesaat, ia pun mengecup leher Dominique.
Dominique kaget, mendelikkan matanya, "Kau gila Domi, Jengkol, akhh!! Kau" Haiden yang marah-marah tidak jelas karena jengkol.
Dominique tertawa geli sendiri,
ah, aku tahu, dia kan tidak suka dengan bau jengkol, berarti aku makan saja jengkol setiap hari. Thanks Justin, you're my hero.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena,
baca cerita lainku ya yang berjudul :
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Dua Hati
✔ Silence
✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏