
Gadis itu tak memberikan perlawanan. Dia memberikan aksesnya secara lebar. Haiden tersenyum, dia menyadari bahwa dia sedang di goda oleh istrinya karena menginginkan satu hal.
"Katakan. Aku akan melihat seberapa rumit perkaranya? Aku akan mempertimbangkannya," dia mengecup dengan hangat bibir gadis itu.
"Apa boleh aku meminum jus mentimun sesering mungkin," ucapnya. Membuat aktivitas yang sedang Haiden kerjakan terhenti. Dia menatap wajah istri kesayangannya. Berfikir sesaat.
"Cih, apa kau masih belum puas? Apa kami masih kurang tampan dan memuaskan-mu? Sampai kau berniat melihat wajah lainnya," Haiden mengerutkan dahinya. Dari arah pembicaraan istinya dia tahu apa yang sedang istrinya inginkan.
"Ayolah ... kalian kan tak bisa membuat jus mentimun seperti yang aku inginkan. Sebagai gantinya aku akan cabut yang satu bulan itu," dia memberikan penawaran yang tak mungkin di tolak oleh Haiden.
"Kau sungguh berani membuat penawaran denganku? Kau tahu hukuman yang akan kuberikan padamu pasti kau tidak akan sanggup untuk menahannya. Apalagi posisimu sekarang sudah berbadan dua," Haiden mulai bisa menerima semua kekurangan yang ada pada istrinya. Walaupun perih yang dia rasakan bahwa istrinya sedang tidak mengandung anak darinya.
Dominique hanya bisa terdiam saat menerima sindirian halusnya. Dia tahu dirinya salah. Dia mempunyai anak yang bukan darah daging yang di inginkan Haiden.
Dia memalingkan wajahnya. Terdiam untuk sesaat.
Hurf
Terdengar helaan nafas panjang dari Haiden. Kali ini pun dia harus banyak mengalah. Mengalah untuk mendapatkan hati istrinya lagi secara penuh. Mendapatkan kepercayaannya seperti dulu.
"Maaf untuk soal yang ini sayang. Aku tahu aku salah. Kita akan cek DNA setelah anaknya lahir-" dia berbicara sangat lirih dengan wajah yang masih berpaling.
Haiden menarik tubuhnya hingga dia duduk di tepi ranjang. Manarik tubuh istrinya yang sudah setengah polos dan berantakan hasil ulahnya barusan dalam pangkuannya.
"Dengarkan aku sayang. Aku mencintaimu tanpa syarat. Aku harap kau bisa kembali seperti Domi-ku yang dulu. Hanya ada aku di hatimu," ucapnya membelai kedua pipi istrinya itu.
Haiden merasakan tubuh istrinya itu bergetar. Dia tahu istrinya masih belum bisa menerimanya dengan penuh.
"Apakah itu sangat sulit untuk dirimu? Apa kau benar benar tak menyisakan cintamu padaku, sedikit saja? Uhm?" masih saja dia melayangkan pertanyaan yang sangat sulit di jawab olehnya. Istri tersayangnya seolah telah mengunci hatinya untuk lelaki lain.
"Aku bahkan sudah merelakan istriku sendiri di jamah olehnya. Aku membenamkan segala sakit yang aku rasakan, hanya untukmu seorang. Aku hanya ingin menebus semua rasa bersalahku dan membuatmu bahagia. Aku tak meminta apapun, aku hanya ingin kau kembali seperti Domi-ku yang dulu. Domi yang hanya mengingatku seorang,"
Pedih sangat yang Dominique rasakan. Dia bahkan tak bisa membohongi perasaannya atau pun berbohong di hadapan suaminya yang masih sangat mencintainya itu.
"Ma-afkan a-ku Iden-" dia bahkan tak sanggup mengutarakan semua ucapan yang dia pendam hanya dengan linangan air mata yang sudah membasahi pipi sudah dapat menjawab semua pertanyaan yang Haiden inginkan.
__ADS_1
Dia kalah. Dia tak mungkin lagi mendapatkan hati istrinya. Walaupun sekarang tubuhnya ada di sisinya. Namun, hatinya sudah berpaling dalam kurun waktu dua tahun itu.
Begitu banyak penyesalan yang dia rasakan. Ingin rasanya Haiden membunuh lelaki yang sedang di cintai istrinya itu dengan tangannya sendiri. Namun, dia tak mungkin sekejam itu sampai hati membuat hati istrinya terluka kembali.
"Baiklah aku izinkan," ucapnya menatap wajah istrinya penuh dengan luka yang tak bisa dia jelaskan.
"Su-sungguh?" dia menarik wajahnya. Melihat wajah suaminya yang begitu pasrah dan terluka.
Apa aku sungguh egois? Di balik apapun aku hanya ingin bahagia. Andai dia bisa melepaskan-ku. Ini semua tidak akan mungkin terjadi.
Dia tahu bahwa suami yang satunya itu sangat posesif terhadapnya. Akan melakukan segala cara untuk menggagalkan semua keinginannya. Namun, yang dia lihat saat ini tatapan mata suami sangat tak berdaya. Membuat hatinya terbakar sesuatu yang panas. Sakit sekali.
"Apapun itu, asalkan kau bahagia. Jadi kau mau berangkat kapan? Apa aku boleh ikut menemanimu? Atau kau akan di temani oleh Sophie?" sontak hatinya bertambah sakit saat mendengar semua ucapan suaminya berubah menjadi lembut. Tak ada nada kemarahan lagi. Bahkan dia bertanya dengan penuh hati hati saat menatap wajahnya.
"Uhm itu jika boleh, aku akan pergi dengan Sophie. Tapi, sepertinya dia pun mempunyai masalah yang harus dia selesaikan dengan kedua orang itu," ketus terdengar dari bibir Domi yang terdengar di telinga Haiden.
"Apa perlu aku membius mereka semua, lalu mengirimkannya ke catatn sipil di luar seperti ucapan Bunarco. Agar mereka segera menikah dan masalah terselesaikan!" dengus Haiden sambil tersenyum menatap wajah istrinya.
"Sepertinya Sophie tidak menginginkan dua suami sepertiku. Aku rasa," sahutnya kembali seutas senyum mengalir dibibir mungilnya.
"Benarkah? Sepertinya aku tidak melihatnya. Aku rasa dia pun tidak akan keberatan mempunyai dua suami seperti-mu," Haiden mencubit hidungnya.
"Aw, sakit!" dia berlari mengamburkan wajahnya kepelukan Haiden.
"Hei, kau tidak sedang menggodaku lagi kan?" ucapnya membuat Dominique menarik wajahnya perlahan menatap wajah suaminya.
"Memangnya kau-?" wajahnya memerah.
"Tidak. Aku tidak ingin menjadi suami yang melakukan apapun demi imbalan. Ya ... aku memang tak pernah bisa berbohong untuk hal yang satu itu aku tidak akan pernah bisa tahan. Namun, sekarang aku akan mencoba mengerti dirimu, aku ingin menjadi sosok yang lebih baik di matamu."
Deg
Kembali hatinya bergetar dengan semua ketulusan yang terucap. Dia bahkan tak bisa berkata kata lagi.
Aku hanya ingin kau bahagia Domi, di saat nanti kau tahu siapa Bunarco sebenarnya. Kau tidak akan kehilangan rasa kasih sayang dariku.
__ADS_1
"Jadi aku boleh langsung pergi?" setelah dia merasa penawaran yang dia buat telah disetujui.
"Uhm," dia mengangguk dengan pasti.
"Terima kasih, Iden!" seraya ingin sekali dia melompat kegirangan di lantai, tapi tidak dia lakukan karena malu di tertawai.
"Aku memang menyetujuinya. Namun, aku tidak tahu apakah Bunarco akan menyetujuinya juga? Kau tahu dia kan?" Haiden menaikkan rahangnya dengan kasar.
"Kau jangan memprovaksiku, dia pasti menyetujuinya. Dia pasti mengizinkanku pergi," Dominique menjawab dengan penuh percaya diri.
Cih, sangat percaya diri sekali dia. Benar benar hatinya tak tergoyahkan. Sihir Bunarco memang manjur.' Haiden merengut kesal saat mendengar perkataan istrinya.
Haiden turun dari ranjang berjalan kearah pintu dan membukanya. Willy sudah berdiri sambil melipat kedua dadanya.
"Kau sungguh melepaskannya begitu saja? Ini bahkan belum sampai satu jam?" ejek Willy. Dia bahkan tak mendengar suara apapun dari balik pintu.
"Dia hanya berbicara meminta izin denganku, untuk apa berlama lama," sahutnya sambil meninggalkan Willy sesaat hanya terdiam.
Dia bergegas masuk ke kamar. Melihat sekeliling dan melihat istrinya duduk di tepi ranjang sambil termenung.
"Apa dia sungguh melepaskanmu begitu saja?" Willy menghampiri istrinya masih dengan pakaiannya yang terlihat kacau. Namun, dia tak melihat tanda tanda pergulatan di atas ranjang.
"Uhm, kami hanya berbicara. Tak lebih," sahutnya dengan nada sedikit melemah.
"Apa yang kalian bicarakan? Kau meminta izin apa dengannya?" penasaran juga Will dengan Haiden yang melepaskan istri tersayangnya begitu saja.
"Uhm, aku hanya bilang padanya, aku mau minum jus mentimun," dia melirik ragu wajah suaminya yang sudah duduk di sebelahnya.
Willy menautkan alisnya. Dia pun berfikir sesaat dan menyadari akhir akhir ini istrinya sangat ingin sekali minum jus mentimun. Dia bertanya dalam hati jus mentimun seenak apa sehingga istrinya sangat ketagihan.
"Aku jadi penasaran dengan rasa jus mentimun yang sering kau bicarakan itu? Apa benar benar seenak yang kubayangkan atau ada hal lainnnya?"
Dominique hanya bisa terdiam saat mendengar ucapan dari sang suami satunya. Ternyata, pertanyaan darinya lebih mengharu biru ketimbang Haiden.
"Sebenarnya biasa saja sih. Aku hanya sedang ingin sekali meminum itu," ucapnya menunjukkan wajah mengibanya.
__ADS_1
"Benarkah? Tidak ada hal lainnya?" Willy menatap wajah Dominique dengan tajam. Menantikan kejujuran yang akan dia ungkapkan.
"Huh, bisakah kau tak curiga kepadaku?" dia menjawab dengan sedikit ketus.