MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Sophie Pergi


__ADS_3

Langkah kakinya terhenti saat melihat sosok di hadapannya. Tubuhnya sedikit bergetar dan mundur beberapa langkah. Sejenak tatapan matanya kosong ketika dihadapkan dengan seseorang yang sangat tak ingin dia temui.


Kedua suami yang dibelakang langsung menaikkan rahangnya dengan kasar. Menatap geram sosok di hadapan mereka.


Mau apa lagi wanita itu? Masih saja dia berani menunjukkan wajahnya di hadapan istriku. 


Geram tak bisa Willy tahan saat melihat Rebecca. Ya wanita yang sudah membuat istrinya terluka teramat dalam. Walaupun dia sedikit mendapat keuntungan. Tapi, dia sangat tak menyukai kedatangannya pagi ini.


Cih, dia belum saja pergi. Harusnya sebelum aku pergi kemarin siang, aku bereskan dia. Pekik Haiden.


Rebecca menatap wajah Dominique penuh harap. Tatapan matanya begitu sayu dan sangat lemah. Bahkan dia dapat melihat lingkaran hitam di dekat kedua bola matanya, menandakan dirinya tak cukup beristirahat dan banyak pikiran.


“Aku mohon maafkan aku, Dominique, aku mohon!” dia berlutut dan terisak dengan sangat kencang. Membuat dada Dominique terasa nyes dan sakit. Dia seolah dapat merasakan kepedihan dari isak yang Rebecca sampaikan. Dominique masih tak bergeming.


Bayangannya bergulir pada dua tahun silam saat Rebecca menghampirinya dengan penuh percaya diri. Menunjukkan hasil test DNA antara anaknya dan suaminya. Menyuruhnya menyingkir dan menghilang dari kehidupan suaminya.


Dia bahkan masih dapat merasakan cacian dan hinaan yang terlontar dari mulutnya. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Dia berbalik dan langsung menghempaskan tubuhnya di pelukan Willy. Eratan di gigi Haiden terdengar jelas. Bahkan saat istrinya merasakan luka, bukan dia yang dipilih untuk menenangkan hati.


“Aku tidak mau bertemu dengannya Will!” ucapnya lirih dalam dekapan Willy yang sangat erat.


“Pergilah. Istriku tidak ingin menemuimu,” Will masih mengusirnya secara halus.


Sesaat Rebecca termangu saat ucapan istri terlontar dari mulut pria lain bukan dari Haiden. Ada sedikit rasa penasaran bergelayut. Namun, saat ini ada hal yang lebih penting dari apapun. Dia datang untuk meminta pertolongan Dominique. Memintanya agar dia bisa membujuk Haiden untuk mendonorkan darah demi keselamatan anaknya.


“Jangan usir aku, Domi. Aku mohon maafkan aku,” wanita itu sudah mencengkaran erat kedua kaki Dominique. Bersujud memohon pengampunan. Air matanya masih belum berhenti.

__ADS_1


“Maafkan aku, Domi. Aku sungguh-sungguh. Maafkan aku, Dominique!” dia terus mengiba dan menangis lebih keras.


“John!” teriak Haiden.


John sigap. Menarik kasar tubuh Rebecca yang tengah bersimpuh. Bahkan air mata yang terus mengalir dari wanita itu tidak mengoyahkan dan meluluhkan John.


“Aku mohon John, izinkan aku berbicara dengannya. Aku sungguh hanya ingin meminta maaf dan meminta bantuan, aku mohon John ...,” renggeknya seperti anak kecil yang sangat takut akan kehilangan sesuatu. Hatinya seolah tercabik oleh ribuan pedang. John tanpa belas kasih. Tatapannya dingin dan penuh dengan amarah. Dia menyeret Rebecca yang menangis tanpa ampun.


Sophie yang berhasil dibujuk Ramon memaksa untuk ke halamannya. Matanya membulat tajam ketika dia melihat Rebecca di tarik kasar dan di hempaskan hingga dia tersungkur di tanah.


Amarahnya benar-benar membuatku merinding. Aku sangat takut jika sudah melihatnya seperti itu.


Sophie hendak berbalik badan. Namun, dia pun tertegun ketika melihat Ramon melangkah maju. Dan dia sudah berada di sebelah John.


"Kalian urus wanita itu. Jangan biarkan dia mendekati istriku lagi. Kalau perlu lenyapkan dia!" perintah Will penuh penekanan. Dominique menarik wajahnya saat Rebecca berkata tidak dan meneriaki namanya dengan tersedu. Tangisannya melengking dengan tajam.


"Kau sungguh berhati baik. Tapi, tidak denganku, sayang. Aku tidak akan pernah bisa melupakan dan memaafkan apa yang sudah dia lakukan terhadap-mu," Will dengan tatapan matanya seperti ingin melenyapkan nyawa seseorang.


Pertama kali dia melihat wajah suaminya begitu berbeda. Hampir saja dia lupa bahwa yang sedang memeluknya ada suami yang sangat dia cintai. Tatapan Will penuh dengan amarah.


John dan Ramon menyeret tubuh Rebecca keluar dari kediaman mereka secara paksa. Bahkan raungan dan tangisnya masih terdengar memekakkan telinga Dominique. Dia mendengar dengar samar Rebecca menerikan kata tolong Terry, dia sedang sakit.


Tubuhnya terus bergetar. Bahkan pelukan dari Will belum mampu menenangkan hatinya. Dominique terlihat syock dengan kedatangan Rebecca.


“Sebaiknya kita ke dalam sayang,” Will memapah perlahan tubuh istrinya. Haiden hanya bisa mengikuti mereka. Rasanya dia ingin sekali berada dalam posisi Willy. Memeluk dan menenangkan hati istrinya.

__ADS_1


Namun, dia menyadari semua tidak akan pernah terjadi. Kedekatan yang terjalin antara istrinya dan Will bukan hanya sesaat. Dia sudah kalah untuk hal ini karena Will-lah yang selalu mendampingi dirinya di masa dia kesulitan.


Sophie meremas erat gaun yang dia pakai dengan erat. Sesaat pikirannya guncang dengan apa yang dilihatnya. Dia masih belum bisa percaya. Dua suami barunya dapat memperlakukan wanita dengan kasar dan tak berperasaan.


Aku harus pergi dari sini. Bagaimana pun caranya.


Gadis yang baru menjabat sebagai seorang istri itu menatap sekitar. Penuh dengan para pengawal. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba menetralkan kondisi yang sedang bergumuruh dihatinya. Dia mencoba tersenyum saat melewat beberapa pengawal. Langkahnya terhenti saat seorang pengawal menghadangnya di pintu gerbang.


“Maaf bisakah kalian mencarikan-ku taksi. Aku harus segera mencari sesuatu untuk menenangkan nyonya Dominique,” ucapnya. Menyakinkan dengan pasti. Dan tersenyum selebarnya.


"Ba-baik Nona, akan saya carikan taksi. Mohon anda tunggu sebentar,” pengawal tadi bergegas meninggalkan Sophie. Tak perlu waktu lama taksi sudah berada di hadapannya, “Terima kasih,” ucapnya tersenyum dan segera menutup pintunya.


Maaf Dom dan terima kasih banyak. Namun, aku tidak mau terjebak dalam penjara cinta yang sama denganmu.


“Katakan padaku, Iden. Apa yang kau sembunyikan dariku?” setelah Carlos mengecek kondisinya dan lebih baik. Mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga.


“Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud membohongimu. Maaf karena aku belum sempat cerita denganmu soal kedatangan Rebecca,” jelas Haiden sambil menggengam kedua tangan istrinya. Berharap sang istri dapat mengerti dan memahami kondisinya.


"Tapi, kenyataannya kau tetap saja berbohong padaku kan? Bisakah sekali saja kau percaya padaku. Katakan apapun itu walaupun akan sangat menyakitkan untuk-ku," tudingnya dengan air mata yang terus mengalir.


Deg


Hati Will terasa kacau setelah mendengar ucapan Dominique. Dia sendiri belum berani membayangkan apa yang akan terjadi saat istrinya tahu tentang jati dirinya.


"Maaf sayang, sungguh aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya tidak ingin kau bertemu dengannya dan luka yang sedang coba kau hilangkan malah timbul kembali,"

__ADS_1


"Akhirnya kau hanya bisa membuatku menangis kan? Kau hanya terus melukaiku kan? Hah?" Haiden tak bisa menjawabnya. Dia tak ingin memperkeruh suasana hati istrinya yang sedang kacau.


__ADS_2