MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Makam Saudaraku


__ADS_3

Willy langsung menyadari dan mengusap pipi Dominique, Dominique melompat kepelukan Willy,


"Antarkan aku ke makamnya" Suara Dominique lirih tertahan menahan airmatanya yang terus mengalir.


Setelah berpikir keras Dominique menyakini bahwa tidak ada orang yang begitu mirip dengan nya bahkan memiliki golongan darah yang sama jika dia bukan saudara kembarnya.


Willy menarik tubuh Dominique menatap wajah wanita yang dicintainya dengan penuh luka. Airmata Dominique mengalir terus, wajahnya tergambar dengan jelas, bahkan pedihnya sampai menyayat hati Willy.


"Apa kau sungguh ingin bertemu" tegas Willy sekali lagi.


Dominique mengangguk pelan.


"Baiklah, kita pergi sekarang"


Willy merengkuh kembali wanita yang dicintai kedalam pelukan dan memapahnya berjalan.


Hati Willy tergores, dirinya bahkan rela menggantikan semua penderitaan yang dirasakan Dominique asalkan Dominique berhenti menangis.


Sepanjang perjalanan Dominique hanya memeluk Willy dengan erat. Hati Dominique kacau dan berdebat terus berputar kebohongan apa lagi yang belum dia ketahui dari orangtua nya.


Dia hanya tahu bahwa dirinya adalah putri tunggal, papa dan mama Dominique tidak pernah sekalipun mengungkit apapun tentang masalah saudara kembarnya.


Kabut gelap menyelimuti suatu tempat terpencil. Willy menggandeng erat tangan Dominique yang terasa dingin dan bergetar.


Willy menghentikan langkahnya menatap kembali Dominique yang terus tertunduk dan menahan sesak di dadanya.


"Sayang, kalau kau belum siap kita bisa kembali..." Ucap Willy menyentuh pipi Dominique dengan kedua tangannya, mengangkat dengan jelas wajah Dominique yang terlihat gusar.


"Tidak apa-apa, aku hanya gugup" Sahut Dominique berusaha tersenyum dengan semua getir yang ada.


Willy menghela nafasnya sesaat rasanya dia masih tidak tega melihat kembali kepedihan yang terpancar dari mata Dominique.


"Ayo..., tunjukkan padaku dimana tempatnya" Ucap Dominique berusaha tegar.


Willy membalikkan badannya dan menggengam kembali tangan Dominique, membawanya melewati beberapa blok lagi dari area pemakaman. Hingga langkah Willy terhenti dengan area khusus pemakaman dengan satu pohon besar yang rindang dihiasi taman bunga.


Langkah Dominique semakin berat memasuki area tersebut, jantungnya berdegup lebih kencang dari saat dia merasakan cinta.

__ADS_1


Tubuhnya bergetar dengan hebat saat beberapa langkah darinya dia melihat batu nisan yang bertuliskan Marissa. Makan saudara yang selama ini bahkan Dominique belum sempat sekali pun bertemu dengannya.


Willy melepaskan tangan Dominique perlahan, dia memberikan ruang untuk Dominique bertemu dengan Marissa.


Tangan Dominique masih bergetar ketika dia meletakkan satu buket karangan bunga yang sudah dibawanya. Mata Dominique menatap tak percaya foto yang terpasang pada batu nisan tersebut adalah wajah yang begitu mirip dengan dirinya. Wajah saudara kembarnya.


"Bagaimana kau bisa begitu mirip dengan-ku..., kita bahkan belum sempat sekalipun bertemu Marissa... " ucap Dominique dengan suara bergetar dengan tangisnya yang mengalir tanpa henti.


"Apa yang harus aku lakukan pada kedua orangtua kita Marissa, mereka sudah lebih dahulu meninggalkan ku dan sekarang saat kutahu memiliki saudara kau pun telah tiada..., haruskah aku membenci mereka Marissa..., katakanlah... tolong katakan padaku... "


"Aku tidak bahagia Marissa..., sungguh aku tidak bahagia. Aku hanya ingin merasakan memiliki satu buah keluarga yang utuh, seperti mereka diluar sana... A-aku hanya meminta itu apakah itu sangat sulit... " Dominique tiba-tiba berteriak histeris dalam tangisnya mengeluarkan semua sesak yang bergejolak dalam dadanya.


Willy mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Dominique yang sangat membuatnya terusik. Dadanya bergetar hebat menyaksikan semua penderitaan wanita yang sangat dicintainya.


Dominique terus menangis histeris meluapkan semua kesal di hatinya.


Willy melangkah maju perlahan merengkuh tubuh Dominique kedalam pelukan. Menenangkan semua kepedihan yang dia rasakan.


"Jangan tinggal-kan aku..., aku tidak ingin sendiri... " tangisan Dominique dalam pelukannya Willy.


"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang, aku disini, selalu disini untuk-mu... " ucap Willy mengusap punggung Dominique dengan penuh perasaan.


.


.


.


"Tuan" ucap John yang menghamburkan lamunan Haiden saat mereka sudah tiba di negara dimana Dominique tinggal.


Haiden hanya menghela nafasnya sesaat,


"Kau sudah tahu dimana dia"


John mengangguk, "Kita akan sampai beberapa menit lagi, Tuan" sahut John.


Haiden menganggukkan kepalanya lamunannya terus berputar hal apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan Dominique nanti, apakah Dominique akan mau ikut pulang bersamanya...

__ADS_1


Mobil Willy memasuki pekarangan rumahnya, Carlos dan Diana menyambut kedatangan mereka. Carlos sudah diberitahu Willy bahwa Dominique pingsan lagi, Willy cemas dan takut akan efek obat yang dia berikan dulu kepada Dominique sedang bereaksi.


Carlos membukakan pintu mobil untuk Willy yang memapah tubuh Dominique masuk kedalam rumahnya.


Tak berapa lama mobil Haiden memasuki perkarangan rumah Willy, mata Haiden sempat berkeliling melihat dimana istrinya selama dua tahun ini tinggal.


Cih, jika dia ingin tinggal ditempat seperti ini, aku pun bisa mengabulkan nya bahkan lebih dari ini. Batin Haiden.


Haiden menyadari beberapa keributan dari dalam rumah Willy, ia segera menerobos masuk bahkan ketika para pengawal Willy menghalangi masuk para pengawal Haiden pun tak kalah siap menyerah, namun Haiden tidak ingin memberikan kesan jelak ataupun keributan untuk Dominique, dia ingin membawa pulang Dominique baik-baik...


"Cepat perikasa kondisi Dominique Carlos, dia pingsan lagi, apa kau yakin obat yang kau berikan tak ada efek samping nya" Senggit Willy marah terhadap Carlos yang sedang memeriksa kondisi Dominique yang masih pingsan.


Telinga Haiden yang sangat jernih mendengar ucapan Willy apalagi saat Willy mengucapkan nama Dominique, langkah kaki Haiden melangkah dengan cepat,


"Kau bilang apa barusan, Bunarco?" Haiden yang langsung menarik kerah baju Willy, mencengkram nya dengan erat.


Willy sempat tersentak kaget dia tak menyangka bahwa Haiden akan secepat ini berada di hadapannya.


Willy masih diam, baginya sekarang kemarahan Haiden bukanlah hal yang paling penting, dia hanya ingin Dominique segera sadar.


Willy menghempaskan kasar kedua tangan Haiden di kerah bajunya.


"Apa yang kau dengar?" mata Willy mendelik tajam.


"Kau menyebutkan apa untuk nama istriku barusan" Haiden tak mahu kalah tegas dengan Willy, Haiden ingin meyakinkan kembali bahwa dia tidak salah mendengar.


Willy mencoba bersikap lebih tenang walaupun kedua tangannya terkepal dengan erat...


"Dominique! Kau sudah puas mendengarnya sekarang!" sahut Willy tegas.


BUGH.


Satu tinju dari Haiden langsung melayang pada wajah Willy membuat Willy tersungkur di lantai.


Haiden yang masih terlihat begitu emosi melihat ketenangan dari Willy.


"Kau sungguh brengsek. Kembalikan istriku sekarang atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" Haiden yang begitu emosi terus memukuli wajah Willy berkali-kali hingga bibirnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


Dominique yang tersadar karena mendengar suara baku hantam seseorang memukuli seseorang segere membuka matanya perlahan...


__ADS_2