
Willy membuka pintu mobilnya, berjalan memasuki cafe, dia duduk di sebarang sambil terus menata Dominique yang tengah asik bercerita.
"Tuan, anda," Willy memberi kode tutup mulut kepada Ramon.
.
.
.
"Jadi kenapa lo keluar sih Dom ...," Sophie yang sudah penasaran setengah mati.
"Aku ..., sudah menikah Sop," Sophie tersedak, " Serius ..., Dom, kamu nggak bohong?,"
"Iyaa,"
"Kau ... menikah dengan Justin, bukan?," Dominique menghela nafasnya,
" Andai saja itu benar Sop ..., aku nggak akan sampai berhenti kerja seperti ini, " keluh Dominique.
"Lalu, kau menikah dengan siapa?," Sophie yang tambah penasaran.
"Mmmm ..."
"Siapa sih Dom ..., jangan bikin aku penasaran,' Sophie melirik jari manis Dominique, melingkar cincin berlian yang dia sendiri bahkan tidak bisa menebak harganya.
"Pria kaya ..., dari mana dia Dom," sambil memegang lengan Dominique.
"Aku menikah dengan mantan pacarku,"
"Mantan?. Kau nggak pernah cerita punya mantan,"
"Dia lama tinggal di Inggis,"
"Inggris?," Sophie mulai menebak.
"OMG, jangan bilang ...," Dominique mengangguk.
"Nggak mungkin ..., " Sophie menggeleng, Dominique mengangguk yakin. Sophie meneguk minumannya, menenangkan diri, "Bagaimana bisa Dom ..., kau sungguh beruntung, aku iri,"
"Apaan sih, nggak enak tahu ...,"
"Dia kan kaya, keren, trus pengusaha terkenal lagi Dom ...,"
"Tidak semudah itu furgoso ..." Dominique meraup kasar wajah dengan kedua tangannya.
"Ya sudah Dom ..., terima saja, tapi ..., aku penasran, Justin kemana,"
Dominique masih sedikit bergetar ketika seseorang menanyakann tentang Justin, masih ada serpihan luka yang tersimpan untuk Justin, "Dia ..., pergi ke luar negeri, menikah dengan wanita yang di jodohkan orangtuanya,'
"Bohong, ah ...," Sophie tidak percaya.
__ADS_1
"Buat apa aku bohong sih,"
"Trus ..., kalian putus begitu saja, hiii ...Justin pengecut banget sih, cowok apaan sih ..., masa dia nggak bisa memepertahankan cintanya," kesal Sophie.
" Sudah lewat Sop, aku sedang menata hatiku, tadinya aku mencoba buat buka hati sama dia, tapi ..., pagi inii ..., ah ..., entahlah Sop ..,"
"Kenapa lagi Dom?,"
"Tadi pagi kami kedatangan tamu, seorang wanita dan anak laki-laki ..., dia bilang ..., nggak punya hubungan, cuma teman dia sejak kecil ..., mana ada sih Sop ..., pertemanan antara laki-laki dan wanita, bulshit ...," cibir Dominique ketus.
Dari seberang meja Willy terus menatap Dominique, sambil meneguk minumannya sesekali tersenyum melihat kehebohan Dominique bercerita.
"Tuan Willy sungguh jatuh cinta dengan Nona Dominique ..., lalu bagaimana dengan Tuan Aramgyan," celetuk Ramon melihat tingkah Tuannya.
"Kau jangan berisik, tunggu saja sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya Bunarco," seringai Willy.
.
.
.
"Kau beneran mau menginap Dom?," Dominique manggut.
"Aku bayar dulu ya," Dominique beranjak dari duduknya menghampiri kasir.
"Mba ..., meja no 4, " ucapku saat di depan kasir, "Meja no 4 sudah di bayar kak,"
"Willy,"
"Iya, aku Willy,"
"Berapa semua Will, aku ..., transfer ya,"
"Aku nggak butuh uang-mu, kau kan tahu aku kaya raya,'
"Cih," cibir Dominique.
"Sudah Dom," suara Sophie melerai pertengkaran kami.
Sophie melirik laki-laki di samping Dominique,"Loh ..., Dom ..., ini bukannya,"
"Iya, iya, yuk ..,ah," tarik Dominique melewati Willy.
"Hei, kau,"
"Apa lagi," tangan Willy melingkar di pinggang Dominique.
"Kau mau kemana, aku antar," tawar Willy.
"Tidak usah, terima kasih,"
__ADS_1
"Ayolah," terus mengekori Dominique.
"Willy ..., apa sih ..., kayak anak kecil deh," ketus Dominique.
"Aku ikut," tarik Willy ke mobil.
Dominique pasrah, akhirnya menuruti, ia duduk di tengah.
***
Apartemen Haiden.
"Untuk apa kau datang?," tanya Haiden sinis. John menatap Rebecca, mengintimidasi.
"Huh, siapa suruh kau pergi tanpa pamit,"
"John, antar dia ke salah satu hotel kita," John baru menggerakkan tubuhnya.
"No. Aku ga mau tinggal di hotel. Aku mau di sini, lagi pula kamarmu kan banyak ...,"
"Sudah aku bilang kau jangan melewati batas, pergilah dengan John, sekarang," perintah Haiden.
"Kenapa kau mengusirku juga Gyan ..., apa kau lupa semua pengorbananku padamu," Rebecca mengungkit satu hal.
Haiden menghela nafasnya.
"Tiga hari, setelah itu kau kembali-lah," Haiden meninggalkan Rebecca masuk ke kamarnya.
Menyuruhku pergi. Tidak semudah itu Gyan. Rebecca.
Di dalam kamar Haiden menelpon Dominique. Tiga kali menelpon, namun tetap tidak di angkat.
"John," panggil Haiden, John menghampirinya ke kamar.
"Di mana dia," John mengeluarkan ponselnya, mengecek keberadaan Dominique.
"Sepertinya ..., nyonya ke tempat Nona Sophie , Tuan ...,"
"Awasi dia, sepertinya dia masih marah kepadaku, besok pagi kita jemput,"
"Baik Tuan, apa ada hal lainnya,"
"Tidak, kau pergilah,"
"Bagaimana dengan Nona Rebecca , Tuan?,"
"Aku masih bisa atasi, kau pergilah,"
***
Bersambung
__ADS_1