
Haiden melirik wajah rivalnya yang terlihat frustasi. Menggandeng istrinya masuk ke dalam.
"Aku sudah menyiapkan sup hangat untukmu, kau coba dulu ya," ucap Haiden mengusap punggung lengan istrinya. Dia masih dapat merasakan tangan istrinya dingin karena udara malam dan entah apa yang terjadi padanya. Dia masih belum mau bertanya sebelum istinya sendiri yang berbicra.
"Biarkan aku membersihkan diri dulu, Iden!" dia melepaskan perlahan tangan suaminya dan masuk ke kamarnya. Matanya sedikit melirik kearah Will. Jelas masih tersimpan banyak kekesalan dari wajahnya.
"Apa yang terjadi?" Haiden membalikan tubuhnya. Menatap serius rivalnya, meminta penjelasan sejelas-jelasnya.
"Sepertinya rencana satu tahun-ku di percepat. Aku akan atur semuanya dengan sebaik mungkin. Aku akan usahakan tidak membuatnya terluka!"
Srek
Haiden menarik kedua kerah baju Will. Dia bahkan tak perduli dengan semua luka yang mengering di wajah rivalnya. Baginya ucapan Will barusan langusng mengusik hatinya.
"Apa maksudmu? Jangan bilan kau akan-" Haiden bukan hanya tahu tentang kebenaran yang selama ini mereka tutupi. Buatnya saat ini mengingat kondisi kehamilan istrinya yang makin besar, dia tak mengizinkan hal apapun membuat hati istrinya berkemelut.
"Semua sudah terjadi, sepertinya aku tak bisa menutupinya terlalu lama. Aku dan yang lain akan bersiap, setelah semua ini, aku yakin dia butuh waktu untuk menenangkan diri."
Perkataan Will membuat Haiden geram. Ingin sekali saat ini pun dia menghujamkan semua pukulan yang dia kepal erat di tangannya. Menghajar Will hingga dia tak bernyawa. Namun, dia tak mungkin melakukannya, saat ini orang yang berharga dan dicintai istrinya adalah orang yang di hadapannya ini.
"Kau bodoh!! Seharusnya sejak awal kau tidak muncul dan menganggunya!" Dia hanya bisa meraup wajahnya sendiri dengan kasar melampiaskan segala kesal dalam dirinya.
Ceklek
__ADS_1
Ramon masuk ke dalam kamar istrinya. Di lihatnya istrinya sedang diatas ranjang berselimut dalam pelukan John. Matanya langsung memindai kedatangannya, dia melepaskan pelukannya dan turun dari ranjangnya.
Bugh
Sophie memeluk erat tubuh suaminya. Entah kenapa rasa haru langsung menyergap relung hatinya. Dia meleleh. Menangis tersedu dalam pelukan suaminya. Walaupun awal pernikahan dia menentang hatinya untuk memiliki dua suami. Namun, beberapa bulan dia menjalani bersama semua tak seburuk penilaian sebelah matanya dulu.
"Kau pulang? Apa kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Sophie tak sabar menghujam suaminya dengan berbagai pertanyaan.
"Aku akan tunggu di luar. Dia tak mau tidur sebelum kau pulang!" John menepuk pundak Ramon. Dia tahu, dia ingin memberikan waktu perpisahan untuk istrinya. Ramon menjawab dengan anggukan kepala.
Dia membawa istrinya duduk di tepi ranjang, "Kenapa belum tidur? Ini sangat tidak baik untukmu dan bayi kita!" Ramon mengusap wajah istrinya dengan lembut. Tatapan matanya sendu penuh dengan kebimbangan.
"Kau belum pulang mana aku bisa tidur." Setengah kecut dia menjawab pertanyaan suaminya.
"Kau harus terbiasa sayang, mulai hari ini dan hari-hari berikutnya!" Ramon memberikan penegasan agar istrinya tak perlu menunggunya kembali.
“Sayang dengarkan aku. Aku akan pergi untuk beberapa waktu-“ Ramon menatap wajah istrinya yang menggeleng dengan cepat.
“Kau mau kemana? Berapa lama kau akan pergi? Masa kau akan pergi. Sebentar lagi anak kita kan mau lahir,” pertanyaan yang sulit diberikan jawaban oleh Ramon. Jelas Sophie menolak kepergian suaminya yang mendadak.
“Maafkan aku sayang, mungkin aku tidak akan mendampingimu saat melahirkan. Aku kembali hanya untuk berpamitan denganmu!”
Deg
__ADS_1
Jantung Sophie seperti terkana ribuan panah. Menancap tepat di jantungnya. Bagaimana suaminya bisa mengucapkan kata perpisahan dengan wajahnya yang tenang dan datar. Seperti semua sudah dia rencanakan sejak awal.
“Jelaskan padaku! Aku ingin kau menjelaskan semua, apa yang sebenarnya terjadi? Kau, Carlos dan Will? Ada apa, tolong katakan padaku!” Sophie tetap beersikeras. Dia menginginkan penjelasan yang gambalang dan tak membuat hatinya di penuhi pertanyaan.
“Dengarkan aku, kau jangan melihat atau mendengar kearah manapun. Yang harus kau tahu, hari ini, esok dan selamanya, aku hanya mencintaimu. Cintaku padamu adalah tulus. Aku sangat menyayangi dirimu dan anak kita. Aku bahagia bisa mengenal dirimu. Kau sudah menjadi sinar dalam ruang gelapku. Aku mencintaimu, Sophie!” perkataan demi perkataan yang menyayat hatinya. Bukan jawaban ataupun penjelasan yang dia dapatkan. Dia hanya mendapat pengakuan cinta suaminya yang begitu tulus.
Air matanya terus berlinang. Entah kenapa dia merasa, saat ini mungkin adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan suaminya. Satu kecupan dan hangat mengalir di bibirnya. Begitu dalam dan bermakna. Kecupan perpisahan yang diiringi dengan air mata.
Ruang makan terasa sunyi dengan keberadaan banyak penghuni. Setelah selesai makan mereka memilih untuk bercengkrama dalam kamar masing-masing. Will terus melirik istrinya yang membungkam. Dia tahu istrinya tak akan berbicara dengannya sebelum dia sendiri yang memulai pembicaraan. Haiden terlhat geram menatap rivalnya. Kesal, marah, ingin membunuh dengan tangannya mungkin adalah pilihan yang terbaik.
Hurf
Dominique menghela nafasnya panjang. Tangannya terus mengelus perutnya yang sesekali dia meringgis karena pergerakan bayinya yang snagat aktif.
“Jadi sampai kapan kau akan melakukan aksi tutup mulutmu?” Dominique menatap kesal suaminya yang duduk di hadapannya masih saja bungkam. Will beranjak dari duduknya, menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya. Haiden tetap menjaga jarak, dia tahu saat ini bukan kapasitasnya untuk ikit campur. Dia memantau dari tembok belakang sofanya.
“Sayang, aku tidak tahu harus memulai semuanya darimana. Yang aku inginkan setelah kau mendengar ini, aku hanya ingin kau tak membenci dan menjauhiku. Yang harus kau tahu, aku sangat-sangat mencintaimu. Aku bahkan rela menukar nyawaku ini dengan apapun, asalkan kau bisa berbahagia!”
Jleb
Dia menautkan alisnya ketika suaminya berbicara. Ada perasaan yang mengusik hatinya. Suaminya belum pernah sedikitpun membahas masalah yang begitu serius dengannya secara terang-terangan dan mengungkapkannya dengan lisan.
“Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan. Tolong jangan berputar-putar. Jelaskan secara lebih singkat agar aku bisa memahaminya!” jelas istrinya masih meraba semua ucapan suaminya. Apa hubungan dengan peristiwa yang terjadi padanya dan teka-teki apa yang suaminya tutupi darinya.
__ADS_1
Will meraih kedua tangan istrinya, matanya menatap wajah istrinya yang bingung. Dia tahu, dia hanya mengulur waktu untuk berbicara pada istrinya.
“Sayang, maafkan aku, aku berbohong padamu, Marissa meninggal bukan karena kecelakaan. Marissa meninggal karena aku tak sengaja menembaknya dan saat itu aku sudah berusaha membawa Marissa ke rumah sakit. Sungguh. Aku benar-benar tak sengaja, itu adalah kecelakaan. Aku berumpah, sayang....”