
Dhyson mengangguk lalu dia teringat seseorang,
"Grandma bagaimana dengan Richard," ucap Dhyson yang terlihat gelisah.
"Kita juga pun tak tahu akan jadi seperti ini, aku akan pikirkan cara untuk berbicara dengannya" Grandama Rose tampak menerawang jauh.
.
.
.
"Kau mau minum sesuatu" Tanya Willy saat Marissa sudah benar-benar bisa mengatur suhu tubuhnya setelah adu gulat tadi.
"Mmm..., sepertinya sesuatu yang dingin sangat menyegarkan" Sahut Dominique.
"Baiklah, aku akan buatkan sesuatu yang segar untukmu" Willy yang melangkahkan kaki ke dapur mereka, tampak beberapa koki siap mendampingi Willy saat membuatkan minuman untuk Marissa.
PAKK!!
"Aw" pekik Marissa, Carlos dengan sengaja memukul lengan Marissa yang masih di balut perban.
"Oh, maaf! Aku pikir sudah sembuh karena tadi kulihat kau begitu semangat saat menyerang pria dingin itu" Sunggut Carlos menjulingkan matanya kepada Willy yang langsung menoleh ketika mendengar suara teriakan Marissa.
"Tadi kan aku sedang bertaruh dengannya, kalau aku kalah darinya mana mungkin dia akan memberikan ku hadiah" seloroh Marissa kepada Carlos yang begitu semangat saat membicarakan hadiah dari kemenangan nya.
"Hahahaha..., kau lucu sekali Marissa, masa mau minta hadiah kau harus mengalahkan dia dalam bergulat, memang suami-mu sudah miskin sampai dia tidak bisa memenuhi keinginanmu. Kalau memang seperti itu sebaiknya kau pikirkan ulang untuk mencari pengganti-nya" ucap Carlos nyeletuk seenaknya, dia tidak sadar dengan ucapannya Willy sudah berada di belakangnya dengan tatapan ingin membunuh Carlos.
"Oh, menurutmu kira-kira siapa yang pantas menjadi pengganti pria dingin itu?" ucap Marissa sambil tersenyum dan menaikan satu alis memberikan kode pada Carlos kalau Willy sudah ada di belakangnya sedang mengeluarkan bola matanya.
"Tentu saja kau boleh mempertimbangkan a-ku" ucap Carlos sambil menaikan kedua kerah kemejanya sampai menutupi leher.
Marissa makin geli melihat tingkah Carlos,
"Jadi kau punya berapa nyawa untuk melindungi Marissa-ku" ucap Willy.
__ADS_1
"Ahahaha..., nyawa..., pastinya dengan segenap hati aku akan selalu melindungi-mu" Carlos yang mulai tebar pesona menggoda Marissa, namun pendengaran kembali terusik, otak Carlos berpikir dengan pertanyaan yang di lontarkan Marissa barusan.
"Ah, sial" pekik Carlos, wajahnya berubah pucat saat dia kembali mengingat pertanyaan barusan.
"Ini minuman-mu sayang" Willy menyodorkan satu gelas besar jus strawberry kepada Marissa, kalau dia tak ingat itu pesanan Marissa pasti jus strawberry itu sudah berpindah ke kepala Carlos.
Carlos berbalik dan langsung memasang senyum termanis nya di hadapan Willy.
"Oh, rupanya kau sudah selesai dengan kegiatan-mu, kalau begitu aku tinggal dulu ya" Carlos yang mulai beranjak dari duduknya yang di hadapan Marissa, namun pundaknya di tekan kembali oleh Willy agar duduk.
"Kau bilang apa tadi, pria dingin... pria pengganti katamu... " Willy yang sudah mengeratkan giginya karena emosi mendengar penyataan cinta Carlos, walaupun Willy tahu itu hanya bercanda namun tetap membuatnya tersulut emosi.
"Ahahaha... itu... kau mungkin salah dengan... iya kan Marissa... " Carlos yang meringgis meminta pertolongan Marissa agar terbebas dari jeratan kecemburuan Willy.
Marissa hanya tertawa geli melihat tingkah keduanya sambil menikmati minuman yang dibuat oleh Willy...
.
.
.
Marissa berdiri di beranda kamar nya sambil menghirup angin malam.
"Apa yang kau pikirkan" ucap Willy yang sudah memeluk Marissa dari belakang memberikan Marissa kehangatan dari suhu tubuh Willy.
"Entahlah" ucap Marissa bersandar di dada bidang Willy sambil menghela nafas panjang.
Willy duduk di sofa dan menarik Marissa ke pangkuannya,
"Katakan lah, apa yang sedang menggagu-mu" Willy yang sudah dapat membaca kegelisahan Marissa, karena dalam dua tahun ini sekalipun Willy tak pernah melihat Marissa seperti ini.
Marissa belum berbicara, ia kembali menyadarkan tubuhnya dan memeluk Willy dengan erat,
"Aku takut" ucap Marissa lirih.
__ADS_1
Willy tersentak, namun masih tak bergeming. Dia membiarkan Marissa yang berbicara lebih dulu mengutarakan perasaannya.
Marissa menatap sedih wajah Willy, setitik demi setitik airmatanya mengalir begitu saja, ada yang Marissa tak bisa ungkapan namun hatinya terasa begitu perih.
Marissa ingin mengutarakan semua perasaan tulus kepada Willy, namun disini lain dia tak ingin dirinya terluka karena dengan membuka suara hatinya, dia harus mempersiapkan hal yang terburuk.
"Ada apa sayang... katakanlah, aku siap mendengarnya, aku pun punya sesuatu yang ingin aku katakan padamu" ucap Willy setengah bergetar, bagaimana dia harus siap mengatakan kejujuran yang dia pendam selama ini.
"Apa kau akan menceraikan-ku kalau suatu hal yang kuketahui terungkap" ucap Marissa dengan nada yang begitu berat, hatinya sangat teriris saat berucap seperti tadi.
Willy yang menyadari sesuatu ia menatap dalam wajah istrinya yang masih berurai dengan airmata, kata hatinya ingin menolak namun dia pun tak ingin lebih jauh mendaki perasaannya jika dia tahu kenyataan yang sebenarnya.
"Apa yang sedang kau bicara Marissa, sayang... hah" ucap Willy dengan dadanya yang bergetar begitu hebat sambil mengusap perlahan pipi istri tersayangnya...
"A-a-aku bukan Marissa kan..., tapi Dominique... " ucap Marissa bergetar, hatinya makin tersayat ketika menyebutkan nama yang sudah menutupi indentitasnya selama dua tahun ini.
Willy diam sesaat, hening dan hembusan angin malam menjadi saksi mereka, dia tahu saat ini suatu hari akan tiba... cepat ataupun lambat.
"Sejak kapan kau mengetahui-nya, sayang..." Willy kembali bertanya meyakinkan perasaan nya yang takut kehilangan Marissa, masih dengan tangannya yang mengusap pipi Marissa.
"Sejak aku bertemu dengan sahabat-ku Sophie, kemarin... " ucap Marissa yang tak bisa berbohong lagi kalau sebenarnya dia ingin sekali memeluk sahabat nya itu, namun dia urungkan karena Marissa takut Haiden akan mengekang kebebasannya, dan memenjarakan dirinya dengan cinta yang sangat melukainya.
"Jadi kau sudah mengingat semua-nya, Domi... " akhirnya nama itu pun keluar dari mulut Willy, Dominique mengangguk dan kembali meneteskan airmatanya.
"A-ku takut Will, sungguh aku benar-benar takut... aku takut kehilangan dirimu" ucap Dominique dengan genangan airmatanya yang membasahi kembali seluruh pipi nya..
Jantung Willy berdebar kencang, rasa takut akan kehilangan Dominique mendadak sirna, dia sangat bahagia ketika mendengar pengakuan cinta dari Dominique.
"Syukur-lah sayang... kau sudah mengingat nya" rasa haru tak dapat Willy bendung, Willy mengecup kening Dominique untuk pertama kalinya setelah Dominique mengingat semua, dia bahagia bahkan airmatanya pun begitu saja keluar mengiringi kebahagiaannya.
Dominique menatap kembali wajah laki-laki yang di cintai nya dengan lembut, mengusap hangat airmata Willy yang mengalir.
"Maafkan aku..., tapi aku tak bisa menunggu nya terlalu lama,
aku ingin segera memberitahu, aku hanya tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara kita, Will... " ucap Dominique dengan nafasnya yang masih tersengal karena tangisnya.
__ADS_1
"Tidak sayang, kau tidak melakukan kesalahan. Aku yang paling bersalah dalam hal ini, karena aku sangat mencintaimu, Dominique, sangat." Ucap Willy menggenerat kedua tangan Dominique dan mengecupnya bergantian..