MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Menjadi Benalu


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Berjalan dengan tenang. Tak ada lagi peristiwa yang membuat mereka khawatir.


Terry sudah mulai bersekolah, tentu saja mendapatkan pengawalan dari perintah suaminya walaupun secara diam-diam. Di hari libur sekolahnya bahkan  dia menyempatkan diri untuk mendekor kamar untuk adik tersayang yang akan segera lahir. Dia sudah selayaknya kakak yang tak sabar menantikan adiknya lahir ke muka bumi. Penuh binar dan semangat.


Kedua ayah calon bayi tak diizinkan untuk membantu. Semua perlengkapan, baju, dekorasi, dia sendiri yang mengatur dan memilihkan. Ibunya hanya bisa tersenyum saat melihat tiga orang pria sedang berebut memerintah para pelayan untuk meletakkan dan mendekor ruangan. Ketika satu berkata ini, yang satu berkata itu, dan satu lagi berkata huh. Membuat para pelayan menggelengkan kepala saat melihat tingkah tuan besar dan tuan mudanya tidak mau saling mengalah.


“Kau tidak melupakan janji kita ‘kan?” suara di ujung telpon membuat senyuman istrinya melebar. Dengan bahagia sambil mengelus perutnya yang sudah benar-benar membuncit.


“Apa sekarang sudah saatnya? Kau sungguh mendadak memberitahuku.”


"Aku sengaja agar kau tak mencari alasan untuk menolaknya," suara penuh harap tak ingin dia menolak untuk ajakannya.


"Uhm, baiklah. Aku akan mencoba meminta izin suamiku. Kau tak akan keberatan kan, kalau tiba-tiba mereka memaksa untuk ikut bersamaku. Itu resiko terburuknya," ucapnya.


"Baik, aku paham. Apapun itu, asalkan kau datang itu sudah menjadi hadiah terindah untuku!" Setelah berkata seperti telpon ditutup olehnya. Saat menaikan wajah, kedua suaminya sudah melipat dada. Menyipit tajam padanya.


"Ada apa? Apa kalian sudah selesai mendekorasi ruangan?" mencoba tersenyum walaupun dia tahu bukan jawaban itu yang mereka mau.


"Siapa yang berbicara denganmu barusan?" ucap Haiden.


"Uhm, ah seperti itu salah tempat!" dia mengalihkan pembicaraan malah berkomentar pada tempat tidur bayi.


"Kau tahu kan, kami bukan sedang bertanya hal itu," dengus Will terdengar tak sabaran.


"Haiss, aku memang tak bisa menyembunyikan apapun dari kalian. Baiklah, aku bicara. Justin, besok siang mengundangku untuk datang pada pembukaan toko kuenya."


"Bukan hal penting, kau tak perlu datang," sahut Haiden.


"Tapi, aku sudah berjanji akan datang, Iden. Ayolah, kapan lagi aku bisa jalan-jalan atau keluar. Sebentar lagi anak kalian kan akan lahir," pinta Dominique. Bergelayut di lengan kedua suaminya.


"Huh, benar-benar menyebalkan. Apa harus kau datang!" Will menimpalinya dengan bersengut kesal.

__ADS_1


"Maaf, sayang. Justin mengundangnya mendadak."


"Alasan saja. Pintar sekali orang itu mencari alasan yang tak bisa kau tolak!"


"Iya, ya. Kali ini saja ya, sayang. Aku mohon," dia mengeluarkan semua upaya terbaiknya agar suaminya mengizinkan pergi.


"Kau tahu kan sayang. Aku sungguh mengemaskan kau pergi, apalagi kondisimu sekarang dengan perut yang besarnya melebihi semangat!" Will mewanti-wanti. Dia tak ingin peristiwa yang membuatnya waspada beberapa bulan lalu terulang. Dia tak ingin kecolongan ataupun sampai lengah dengan keselamatan istrinya.


"Aku janji tidak akan lama disana. Setelah sanbutan dan bertemu dengannya, aku akan langsung pamit. Aku akan ajak Terry bersama denganku. Atau jika perlu, kalian ikut saja denganku," tawarnya. Dia yakin keduanya pasti akan menolak.


"Tidak. Kau saja yang pergi," jawab Haiden.


"Memangnya aku sudi bertemu dengannya," dengus Will ikut-ikutan. 'Yes, berhasil!!'


"Baik, aku berangkat dengan Terry saja. Oke?" keduanya tak menjawab. Membuang muka mereka sembarangan kesegala arah. 'Cih, masih saja kalian kekanak-kanakan.'


"Terry!" panggil ibunya. Melihat anaknya yang sibuk menyusun beberapa boneka dan permainan untuk adiknya yang belum lahir.


"Temani Mom nanti malam. Oke?"


"Oke, Mom!"


"Bawa berberapa pengawal untuk ikut, sayang," Will berkata sambil menutupi pundak istrinya dengan mantel bulu.


"Iya, sayang." Suaminya mengecup kening istrinya bergantian.


"Kalian yakin tidak akan ikut denganku?" Dominique menawarkan kembali sebelum benar-benar mereka berangkat.


Tak seorangpun dari mereka menjawab. Hanya palingan wajah dari keduanya.


"Aku berangkat!" Dominique tersenyum sangat bahagia. Kegembiraan yang tak pernah mereka lihat beberapa bulan belakangan ini.

__ADS_1


"Cih, wajahnya tak pernah berubah sedikitpun bila bertemu dengannya. Membuatku makin kesal saja!" Haiden berkomentar tajam setelah kepergian istrinya.


"Aku akan membereskan laki-laki itu. Asalkan, kau menyetujuinya!"


"Tidak, jangan lakukan. Aku sudah berjanji akan selalu membuatnya bahagia. Aku tidak ingin dia terluka atau menangis lagi. Karena tangisnnya itu membuatku jauh lebih menderita. Ya. Haiden tak bisa menutupi rasa cemburunya terhadap pria itu. Pria yang mungkin saja adalah cinta pertama istrinya. Bagaimanapun, dia ingin tetap menjaganya walau hatinya terluka dalam. Rival seperjuangan cinta hanya bisa menatap. Dia tahu kebersamaan dengan istrinya akan segera berakhir.


"Terima kasih. Aku tenang meninggalkannya nanti bersama denganmu. Setidaknya kau bisa menjaga dirinya lebih baik lagi dariku!"


"Cih, masih menyombongkan diri saja kau, aku tak perlu kau suruh pun, dia akan kujaga dengan sangat baik. Kau saja yang terlalu lama menjadi benalu di kehidupan rumah tanggaku," dia hanya melayangkan pandangannya sesaat. Apapun yang keluar dari mulut rivalnya adalah benar. Dia tak bisa memungkirinya.


"Aku hanya memohon padamu, jangan terlalu dalam meninggalkan luka padanya. Dia teramat mencintaimu. Luka yang kau tinggalkan nanti mungkin saja akan menjadi racun dalam sisa di hidupnya!"


"Aku tahu. Terima kasih!" Setelah permintaan dan percakapan tadi berjalan lancar seperti mereka sedang melakukan transaksi bisnis. Willy memilih meninggalkan kamar mereka. Dia pun butuh sesuatu yang menenangkan hatinya.


Tuhan ... jaga dia untukku. Aku benar-benar mencintainya. Sungguh, seluruh jiwaku ini hanya penuh dengan dirinya. Aku tidak akan mungkin bisa lepas ataupun bernafas tanpa kehadirannya. Dia sudah menjadi rantai yang membelenggu seluruh jiwaku. Jiwaku akan mati jika lepas dari kekangannya.


Willy membuang gelembung asap rokoknya dalam beranda ruang kerjanya. Membuang semua gelisah yang kian hari makin merenggut segenap jiwanya. Dia perlahan akan mati karena racun yang dia tanamkan sendiri.


Maafkan semua kesalahanku, sayang. Aku berharap kau bisa memafkan semua  kesalahanku.


"Iya, aku sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Lima menit lagi aku sampai," Dominique yang menjawab telpon dari Justin ketika dia akan berbelok pada salah ruko tempat acara pembukaan toko kue Justin.


"Aku tunggu di depan ruko ya," suara penuh tak sabar saat tahu orang yang paling dia tunggu tinggal beberpa saat lagi dia temui.


Dari kaca mobilnya dia dapat melihat sosok lelaki yang pernah menjadi pujaan hatinya. Dia tengan berdiri celingak celinguk memandangi beberapa mobil yang terparkir satu demi satu memenuhi undangannya. Dia terlihat begitu tampan dengan tukedo putih dan dasi kupu-kupu yang sedang dia pakai. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Seperti pangeran yang sedang menunggu kedatangan sang putri.


Dominique keluar dari mobilnya mengandeng tangan anaknya. Di tangan satunya dia sudah membawa satu buket karangan bunga yang sangat cantik. Buket bunga lily putih sangat serasi dengan pakaian yang sedang dia kenakan. Dia melangkah perlahan, tersenyum dengan lebar. Menyambut sang pangeran yang lebih dahulu menyadari kedatangannya.


Bugh


Seseorang menabrak tubuhnya. Seberkas senyuman tadi langusng menghilang. Buket bunga yang dibawanya jatuh berserakan. Dalam sekejab dia menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2