MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Bertemu Martha


__ADS_3

Martha masih belum sanggup menatap wajah Will, dia hanya terus tertunduk ketika suaminya berkata seolah ada satu pedang yang langung menancap di dadanya. Will dengan perasaan yang tak bisa dia gambarkan hanya bisa menghela nafasnya. Bingung.


“Kau tidak sedang bergurau denganku kan, Pah?” Will  masih  setengah tak percaya. Tubuhnya bahkan terasa bergetar, masih  belum mempercayai semua ucapan ayahnya


“Kau bisa bertanya langsung dengannya, apa aku sekarang sedang berbohong padamu atau tidak?” tanpa banyak berkata apapun Baron membalikkan tubuhnya. Jantung Martha benar-benar akan copot di tatap putranya. Meminta penjelasan tentang kehadirannya.


“Huh, baiklah, ayo kita masuk, Nyonya. Sepertinya akan banyak  hal yang akan kita bicarakan!” kali ini Martha terkejut saat mendengar ucapannya. Datar dan dingin. Berbeda saat pertama kali mereka tak sengaja bertemu.


Langkah kakinya mengekori Will masuk ke ruang bacanya. Dia sudah duduk di sofa sambil terus memperhatikan wanita yang bernama Martha itu. Wanita yang tiba-tiba dibawa oleh ayahnya, yang di claim sebagai orang yang paling penting dihidupnya. Ibu kandungnya.


“Jadi, apa yang ingin kau jelaskan padaku, Nyonya!” ucap Will datar. Benar-benar seperti orang asing, tapi tatapan matanya terus menusuk jantungnya berkali-kali. Will masih melipat kedua tangannya di dada. Menatap wanita itu yang tak bergerak ataupun bergeming oleh pertanyaannya.


“Ma-maaf!” sedetik kemudian kata itu meluncur dari mulutnya. Dia hampir tercekik saat mengucapkannya. Bahkan bibirnya masih terasa bergetar, seolah ada empedu di dalam mulutnya.


“Maaf? Untuk apa? Kenapa aku harus memaafkanmu!” dia masih diburu pertanyaan yang menghujam jantungnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya. Apakah dia harus bilang kalau dia memang sengaja membiarkan ayahnya menculik dirinya sewaktu bayi. Karena tidak ada sedikitpun usaha darinya untuk mencari atau menemukan keberadaan Willy.


“Maaf karena aku sebenarnya sudah meninggalkanmu!” tercetus juga dari mulutnya. Dada Will langsung terasa ngilu saat mendengar pengakuan dari orang yang selama ini sangat ingin dia temui. Namun, sedetik kemudian dia menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


“Lalu untuk apa kau kembali? Kenapa kau tidak mati saja dan tak menunjukkan wajah menyebalkanmu itu!” cetus Willy tak kalah kejam. Lidahnya bahkan lebih tajam dari pisau. Tubuhnya menggigil saat mendengar penolakan kejam dari anaknya. Bukan hal seperti ini yang dia harapkan. Dia hanya ingin, sekali saja di dalam hidupnya dapat memeluk anaknya. Dia ingin sekali meminta maaf dengannya dan berharap anaknya sedikit berbaik hati padanya untuk memberikan pengampunan.


Martha tak mampu menjawab, dia hanya terus terisak. Air matanya terus bercucuran, dia sudah tak bisa membendungnya. Will mengepalkan kedua tangannya, jika memungkinkan dihadapannya kini seorang laki-laki sudah pasti dia akan menghajar orang itu hingga mati


Eratan giginya tak bisa dia hindari. Dia sangat membenci wanita di hadapannya itu. Selain istrinya yang menangis dihadapannya, dia tak akan bisa di luluhkan oleh apapun. Hatinya sekeras besi baja.


“Pergilah!” ucap Will sakras. Dia merasa tak membutuhkannya, bangkit dari duduknya tanpa sedikitpun menoleh kearah wanita itu. Tangan wanita itu hanya bisa terulur mencegah kepergian anaknya. Namun, dia tak akan mampu untuk mengejarnya.


Will membanting kasar pintu ruang bacanya. Wajahnya berubah merah saat dia keluar dari pintu itu. Baron hanya menatap waja anaknya yang penuh amarah, tapi belum berani menegurnya. Dominique memberikan bayi kepada salah satu pengasuh dan mengikuti suaminya  yang masuk ke kamar mereka tanpa menoleh kearahnya. Haiden tak mau ikut campur, dia tahu batasan mana yang boleh dan tidak.


“Ada apa sayang?” Dominique merengkuh tubuh suaminya dari belakang. Memeluknya dengan sangat erat. Dia melihat suaminya begitu tertekan saat keluar dari ruang baca.


Dia melepaskan pagutannya, Dominique yang terbakar gelora. Malu dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


“Aku mau sekarang, sayang!” bisiknya lirih di telinga istrinya. Membuat desiran yang beberapa detik lalu menghilang, muncul kembali.


“Will, masih siang dan lagipula kita kan sedang kedatangangan—,” Will sudah mengangkat tubuh istrinya dan merebahkan di ranjang mereka. Will berlutut dan menyingkap sesuatu dari balik dress yang istrinya, menurunkannya perlahan. Dia tak mengindahkan semua ucapan istrinya, kembali memainkan serangan dengan lidahnya dan bermain di area sana.

__ADS_1


“Wi-will!” Dominique meremas kepala suaminya dengan kasar. Entah apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Siang itu, dia benar-benar membuat Dominique bermandi keringat dan kelelahan. Setelah dia merasa cukup tenang, dia menatap wajah suaminya yang berbaring disampingnya. Tubuhnya memang berada disisinya. Namun, entah kenapa Dominique merasa ada yang sedang suaminya risaukan.


“Ada apa sayang?” kembali dia bertanya pada suaminya. Kali ini tangannya menyentuh kedua wajah suaminya dengan lembut. Menatapnya dengan sangat lekat. Dia sendiri bahkan tak bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya.


Dia hanya mengecup tangan istrinya. Membelai lembut istrinya, memandanginya lebih dalam lagi, “Ih, ada apa sih? Jangan buat aku penasaran!” Domininique mulai merajuk. Menghempaskan tangan suaminya yang sedang bermain di rambutnya.


“Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku!” ucapnya lirih. Sedetik kemudian air mata suaminya mengalir. Ini kali ketiga dia melihat suaminya menangis seperti itu. Yang pertama saat dia berkata tentang kebenaran soal amesia istrinya. Kedua kalinya saat dia meminta maaf perkara dirinya yang bersungguh-sungguh meminta maaf  soal kematian Marissa, dan hari ini dia kembali menyaksikan wajah terluka dari suaminya.


“Aku bahkan sudah memaafkan dirimu soal Marissa, mana mungkin aku meninggalkanmu!” tegasnya menghapus air mata yang mengalir di pipi suminya. Will tak pernah sekelipun menunjukkan wajah tak berdayanya yang seperti itu. Dihadapan istrinya segalanya terbuka. Bahkan jika Dominique menghukum dirinya dengan kematian atas perbuatannya di masa lalu, Willy rela melakukannya.


“Aku benar-benar berterima kasih sayang, kau sudah memaafkan kesalahanku!” ucapnya dengan bibir masih bergetar dan dadanya terasa nyeri. Dia merasa masih belum bisa bersikap seperti istrinya. Berhati lapang dan memaafkan kesalahan seseorang.


“Jawab dengan jujur, siapa dia?” kini walaupun Dominique telat menangkap situsi. Namun, perlahan dia mengerti sikap suaminya berubah sejak kedatangan wanita itu.


“Entahlah, aku malas membahasnya!” dia malah merekatkan pelukannya. Mendekap tubuh istrinya dengan sangat erat.


“Ah, lepas! Sebelum kau katakan apa yang sebenarnya terjadi, kau jangan menyentuhku lagi!” dengusnya kesal. Will masih saja bungkam. Dia masih belum mau bercerita.

__ADS_1


***


Haloo semuanya, aku, Aleena. Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa mampir ke novel terbaruku yang berjudul, "Mr. Arrogant Baby". Ceritanya nggak kalah seru loh...


__ADS_2