
Dominique membuka matanya. Di hadapannya dengan jelas dia dapat melihat wajah Haiden yang masih tertidur sangat pulas. Wajahnya bagaikan dewa baginya. Perlahan dia menyentuh wajah yang selama dua tahun ini dia tinggalkan.
Tetap sama, saat dia tertidur seperti malaikat. Namun, senyumannya memudar saat dia merasakan ada tangan lain yang sedang memeluk erat punggungnya. Dia menyadari kehadiran lainnya. Tangan hangat Will yang sudah melindunginya selama dua tahun ini. Menjaganya dengan sangat baik tanpa dia tak kekurangan apa pun.
Entah itu satu keberuntungan atau kebalikannya. Sampai hari ini dia masih saja belum mengetahui. Yang dia rasakan saat ini adalah keberuntungannya. Dia merasa beruntung karena di hidupnya yang sangat sederhana dia bisa mengenal dua lelaki yang sangat hebat.
Mungkin akan terasa seperti dalam penjara. Namun, dapat di pastikan kedua lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu sangat menginginkan yang terbaik.
Dia perlahan meregangkan tubuhnya. Tanpa mengganggu keduanya. Mencoba duduk dan memandangi wajah lelakinya itu secara bergantian. Mata Will membuka lebih dulu, dia menarik perlahan tubuhnya ke dalam dekapan. Satu kecupan hangat ******* bibir mungilnya.
"Selamat pagi sayang," ucapnya mengakhiri dengan kecupan di kening.
"Pagi sayang," Dominique melepaskan pelukannnya.
"Mau aku buatkan apa untuk sarapan pagi-mu?" Will tersenyum hangat bak mentari pagi. Hangat senyumannya bahkan membuat hati Dominique begitu bersemangat.
"Salad buah dan segelas smothie strawberry dengan kiwi sepertinya sangat segar sayang," ucapnya.
"Boleh tapi kau harus mengisi perutmu dengan karbohidrat terlebih dulu," sahut Haiden. Dia sudah melingkarkan tanganya di pingang Dominique dan memberikan kecupan dipipinya.
Haiden sudah mendengar obrolan mereaka tentang sarapan pagi istri tercintanya.
"Uhm, sarapan bubur ayam di tempat kontrakan aku ya. Itu kan juga karbohidrat," tercetus ide gila pagi hari Dominique.
"Kau tahu aku tidak suka itu sayang. Apalagi melihatmu duduk berhadapan dengan laki laki lain. Membuatku sakit mata saja!"
"Will," dia tak mengidahkan jawaban Haiden, kembali meminta perlindungan dari Willy.
"Sayang untuk sekarang aku setuju dengannya. Ini demi kebaikan dirimu juga janin yang sedang kau kandung. Aku tidak ingin terjadi hal hal yang tak di inginkan," Willy tak menyetujui rajukannya. Demi kebaikannya, apapun yang keluar dari mulut Haiden selama masih masuk akal, dia akan memihaknya.
"Huh, kalian tidak asik," dia beranjak turun dari ranjangnya.
Dia membuka pintu kamarnya berjalan keluar ke kamar Sophie. Pagi ini dia sudah memutuskan untuk mengobrol dan mengajak Shopie untuk berjalan jalan.
__ADS_1
Ceklek
Dia berjalan mendekati ranjang Sophie. Dia tersenyum saat melihatnya masih tertidur pulas di balik selimutnya. Namun, sontak matanya memicing dengan tajam melihat sosok di sebalah Shopie yang sedang memeluk tubuh temannya itu dengan sangat erat.
Hal langka lain yang dia lihat dari sosok itu adalah senyum. Dia tersenyum dengan bahagia.
Dia mengucek matanya berkali kali. Walaupun semalam sempat terjadi pertengkaran tentang temannya itu dengan kedua asisten suaminya. Dia tidak menyangka. Pagi ini dengan kedua matanya dia dapat menyaksikan pertunjukan yang sangat langka.
Hohoho. Apa aku tidak salah lihat. Pria batu disamping suamiku yang tak pernah tersenyum itu sekarang bahkan dengan pulas dia tidur dipelukan temanku.
Bisa bisanya kau mencuri temanku. Lihat bagaimana aku memberikan-mu pelajaran, John.
Senyuman licik mengembang di wajahnya. Dia sebal melihat lelaki itu merebut temannya. Bahkan Shopie tidak menceritakan kedekatan mereka. Ups maksudnya, dia bahkan belum sempat bercerita karena terhalang drama terenovela kedua suaminya semalam.
"Tolonggg, kebakaran. Tolong tolong kebakaran!!"
Dominique berteriak histeris menggema di seluruh kamar dan luar kamar. Membuat semua penghuni berdatangan. Termasuk Ramon yang trlihat sangat kecewa dan patah hati ketika melihat wanita yang di idamkannya bersama dengan rivalnya beradegan mesra di ranjang.
Sontak John dan Sophie membuka mata. Kepala Sophie terasa pening saat dia mencoba mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang. Menetralisir kondisi, dan melihat Dominique sudag berkacak pinggang menatapnya dengan murka.
Ramon Ramon. Kau sudah kalah langkah. Kau kalah dengan pria robot itu. Will melipat kedua tangannya di dada sambil memicingkan matanya menatap kearah Ramon
Maaf tuan, dia menolakku, semalam. jerit tangis Ramon yang tak dapat dia tunjukkan.
"Berisik sekali anda , Nyonya. Anda berteriak hanya menbangunkan istriku," celetuk John membuat mata Dominique membulat lebar. Telinganya mendadak gatal. Dia merasa salah mendengar.
"I-istri? Sejak kapan dia menjadi istri-mu, hah?" dia masih tidak terima. Berkacak pinggang di hadapan keduanya.
"Sejak semalam dia istriku. Hari ini aku tinggal mengambil buku nikah kami di catatan sipil," John berkata penuh percaya diri. Sedangkan Sophie hanya diam seribu bahasa.
"Katakan padaku, apakah dia sudah memaksamu? Apa yang pria batu itu lakukan padamu, Sop? Ayo bicara, Sop. Jangan diam saja," dia menguncang tubuh temannya yang tak bergeming sedikitpun. Dia masih saja belum mau bicara.
Saat mulut John akan berbicara, "Stop! Jangan bicara lagi. Kalian semua keluar," hardiknya sambil melotot dan berkacak pinggang. Mengusir semua keluar dari kamar Sophie.
__ADS_1
Blam
"Shop," gadis itu tak menjawab hanya memeluk tubuhnya dengan erat.
"Kau sungguh akan menikahi John?" dia hanya mengangguk pelan dipelukannya.
"Kau di paksa? Apa yang sudah dilakukan dengan-mu? Apa dia sudah-?" pertanyaan abigu kembali membuat dia menganggukan kepala.
"Ya ampun, Sop? Kapan? Dasar pria batu kurang ajar,"
"Semalam Dom. Kami tidak jadi ke tempat kencan buta. Dia marah dan membawaku, ah, entahlah dimana itu. Aku juga tidak tahu," suara Shopie lirih sambil menundukkan kepala.
"Ma-marah? Maksudmu? Kau dan dia sudah berhubungan?" gadis itu mengangguk pelan,
"Sebenarnya tidak di bilang berhubungan juga sih. Aku bertemu dengannya tak sengaja saat dulu dia mencari keberdaanmu yang sedang hilang. Dia mencari-mu sampai ke tempat tinggal-ku beberapa kali. Lalu pertemuan selanjutnya saat dia membawaku untuk menemui-mu ketika kau kehilangan ingatan. Dan kemarin aku tanpa sengaja ketemu dia, saat mobilnya tak sengaja menyerempetku," jelas Shopie sedikit menceritakan tentang kisah dia dengan John.
"Jadi dia cemburu denganmu saat tahu kau akan kencan buta?"
"Kurang lebih seperti itu Dom. Aku juga tak menyangka bisa berurusan dengan pria macan dan kasar seperti dia," keluh Shopie.
"Dasar pria batu. Seenaknya dia bersikap kasar terhadapmu. Aku akan buat perhitungan dengan-nya," dengus Dominique kesal sendiri.
"Sudah Dom. Jangan buat perhitungan apa apa dengannya. Aku takut dia akan melukaimu," ucap Shopie.
"Melukaiku? Dia sudah bosan hidup. Suamiku pasti lebih dulu membunuhnya," cibir Dominique.
"Jangan bunuh Dom, kasihan!" kalah telak Dominique ketika mendengar temannya membela John.
"Kau sungguh jatuh cinta dengan-nya?"
"Mau bagaimana lagi, Dom. Dia sudah menyentuhku. Aku tidak mungkin mengabaikan begitu saja,"
"Cih, cinta pun sudah membuatmu buta Sop. Huh. Sudahlah, aku harap kau bisa berbahagia dengan dirinya. Aku rasa dia pun tak seburuk dengan penampilannya yang kaku itu," Sophie kembali manggut-manggut saat mendengar Dominique berbicara.
__ADS_1
Dia sangat lembut Dom. Apalagi saat diranjang. Huhuhu. Apa sih Sop? Pikiran macam apa itu? Kau bahkan sudah mulai tergila gila dengannya.
Sophie memaki dirinya sendiri di hati. Merutuki kebodohannya tentang cinta butanya.