MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dimana Istriku?


__ADS_3

"Jadi apa kau menginginkan sesuatu untuk makan malam nanti?" ucapnya. Matanya sedang fokus mencari ikan asin.


"Aku ingin memakan dirimu sampai puas malam ini. Dan jangan ada gangguan dari pihak ketiga," lagi Will berbisik lirih di telinga istrinya.


"Will," Dominique setengah berteriak.


"Iya sayang,"


"Kau!"


"Uhm, memangnya kau tidak merindukan saat-saat kita hanya bedua?"


"Ssst, ayo Di, kita bayar ke kasir." Diana mendorong troli belanjanya yang sudah penuh.


"Jangan biarkan dia menyentuh dapur sedikit pun. Biarkan koki yang mengerjakan semua!" perintah sang suami.


"Will,"


"No. Walaupun aku suka melihat kau membuat masakan. Tapi, tidak untuk sekarang," dengus sang suami.


“Ck, ck dasar suami posesif” sahutnya tak mau kalah dengan sang suami.


“Bagaimana?” Haiden menatap kedua orang di hadapannya yang akan memberikan hasil kerjanya.


“Maaf Tuan, saya tidak tega mengusirnya,” ucap John menatap sang tuan. Matanya mulai membelelak karena marah.


“Apa kau bilang? Apa telinga kalian sudah rusak dan tak mendengar perintah dari kami!” dia mengujam keduannya dengan penuh amarah. Mereka hanya tertunduk saat tuannya mulai mengintrogasi pekerjaannya.


“Anaknya memang benar-benar di rumah sakit, Tuan. Dan seperti yang dia katakan, anak itu sangat membutuhkan bantuan dari Tuan,” selak Ramon, membantu John berbicara menyelesaikan laporannya.


“Ow, jadi kalian sekarang menjadi malaikat. Membantunya dan tak mendengarkan perintahku!”


Bugh Bugh


Kesal Haiden melampiaskan segala kekesalannya dengan menendang kaki mereka secara bergantian.


“Terry dalam kondisi sangat membutuhkan bantuanmu, Tuan. Jadi saya mohon anda melihat anak itu. Dia anak tak berdosa, tak harus menangung semua yang orangtuanya lakukan. Bagaimana pun dia adalah darah daging anda, Tuan!" John kembali berbicara memberikan penjelasan pada tuannya. Berharap, dia mengerti dan memahami kondisi Terry saat ini.


“Darah daging katamu? Yang benar saja. Huh, dia hanya donor ****** yang kuberikan padanya. Tidak lebih!” Haiden dengan segala keangkuhan dan keras kepalanya.


“Dia sepertinya sudah menyesali semua perbuatannya Tuan. Anggap saja sekarang dia sedang mendapatkan karma akibat perbuatannya pada anda dan nyonya,” kembali John dengan suara sangat pelan mencoba mengerakkan hati batu Haiden.


“Cih, aku tidak perduli. Kalau anak itu tidak ada, aku tidak akan kesulitan lagi. Anggap juga aku buang sial,” Haiden dengan segala keputusannya yang tak akan mungkin dapat di rubah oleh siapa pun.

__ADS_1


“Ta-pi, Tuan-“


“Ada denganmu John? Apa kau sedang kesurupan? Atau wanita menyebalkan itu membayarmu untuk mengoyahkan hatiku?” tuding Haiden menatap orang terpercayanya berubah seratus delapan puluh derajat.


“Tidak ada Tuan. Saya hanya merasa kasihan saja dengannya. Apalagi saya sekarang sudah memiliki seorang istri. Saya pun tak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri saya, Tuan.” Perkataan John membuatnya sedikit tertampar. Dia menyunggingkan senyum smirknya pada John.


“Apa ini? Perkataanmu itu? Apa kau sedang mengguruiku?”


“Tidak berani Tuan. Hanya saja, saya sebagai bawahan anda sedang mengingatkan Tuan. Nyonya sedang hamil muda, anda pasti tidak akan ingin jika yang sedang dia rasakan sekarang malah menimpa nyonya-“


Brakk


Haiden menendang satu vas bunga di hadapannya saat mendengar ucapan yang keluar lagi dari mulut John. Meluapkan segala emosinya.


“Jaga ucapanmu John. Kau boleh berbicara. Tapi, tidak melewati batasnya,” matanya memerah. Eratan gigi dan cengkraman erat di kedua tangannya terdengar dengan sangat jelas di kedua telinga mereka. Siapa pun jika sedang di hadapkan dengan kemurkaan Haiden akan merinding ketakutan.


“Maaf Tuan!” John tak berani berbicara lagi. Dia mengerti segala resah dan kemarahan tuannya. Semakin dia bersikeras mengungkapkan yang dia inginkan pasti tuannya akan menolak.


Hurf


“Pergilah. Jangan menganggu lagi. Biarkan aku sendiri,” ucapnya. Lalu kedua orang di hadapannya menunduk dan mengangguk.


“Oh ya-“ Haiden menaikan wajah dan rahangnya dengan kasar saat John mulai memuka suaranya lagi.


“Apa Tuan melihat istriku? Atau dia sedang pergi bersama dengan nyonya?” kedua orang itu celingak celinguk mencari keberadaan Sophie.


“Cih, mana kutahu. Memangnya dia isrtiku yang harus selalu aku pantau keberadaannya,” dengusnya kesal.


“Baiklah, terima kasih Tuan!” John memegangi tengkuknya. Serba salah dengan ucapannya dan pergi meninggalkan Haiden dengan segala keruwetan dalam hatinya.


Ramon mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya. Tidak ada  nada. Bahkan dia hanya dapat suara balasan merdu dari operator kalau nomor telpon istrinya sedang berada di luar jangkauan.


“Kemana dia?” dia bertanya karena tak dapat balasan dari panggilannya.


“Cih, kau masih saja bertanya denganku,” dengus John. Tak berapa lama meraka mendengar suara beberapa mobil masuk ke pekarangan. Mereka bergegas berlari. Menyambut kedatangan istri mereka.


Kedua orang itu berdiri menengok kesana kemari. Melihat satu demi satu pintu mobil yang sudah terbuka. Mereka hanya melihat Diana sedang memberi perintah kepada para pengawal untuk membawa masuk semua belanjaan yang baru saja mereka beli.


“Di mana istriku?” kompak mereka bertanya saat Dominique dan Will akan melewati mereka. Dominique menautkan alisnya, “Loh? Aku fikir dia bersama dengan kalian? Menghabiskan waktu di kamar dan ehem ehem,” sahut Dominique.


“Jadi istriku tidak bersama Nyonya?” kembali mereka bertanya dengan kompak. Tanpa memperdulikan pertanyaan yang terlontar dari mulut Dominique.


“Ihh, apa sih kalian? Jangan bilang dia pergi dan meninggalkan kalian. Bagaimana sih? Dua orang tidak bisa menjaga satu istrinya dengan baik,” ocehan meluncur dari mulutnya.

__ADS_1


Apa aku tak menyadari Sophie pergi ya? Kapan? Apa saat aku? fikirannya terhenti sesaat.


“Sudah jangan kau fikirkan. Ayo kita masuk. Biarkan mereka yang mencarinya!” delik Will pada dua bawahannya. Menggandeng pingang istrinya kedalam.


Cup


Haiden mengecup kening istrinya, “Kau sudah selesai?”


“Uhm,” matanya berkeliling dan melihat beberapa dua pelayan sedang membereskan pecahan vas yang berserakan di lantai.


“Ada apa? Apa kau sedang datang bulan?” sindir Will. Terkekeh meledek Haiden yang berwajah suram.


“Jadi kau berbelanja apa saja sayang?”’ dia mengacuhkan Will.


“Ck, ck, ck,” sahut Will merasa tak dianggap.


“Uhm, sesuatu yang spesial. Pokoknya aku jamin kau pasti akan sangat menyukainya.” Dominique tersenyum sumringah ketika mendapat pertanyaan dari suaminya.


“Aku tunggu. Aku ke kamar dulu,” ucapnya terasa dingin dan meninggalkan mereka. Masuk ke kamarnya.


“Tumben? Apa benar dia sedang datang bulan?” Will kembali berkomentar.


“Aw, sakit sayang!” Will meringis saat satu cubitan melayang di pinggangnya.


“Jangan menggodanya lagi. Biarkan. Nanti setelah selesai kita baru panggil dia untuk makan malam,”


“Hohoho, rupanya istriku sedang membelanya sekarang? Aku jadi cemburu nih?” Will menunjukkan wajah cemberutnya ada Dominique. Dia mengacuhkan ucapan suaminya. Berjalan menuju kitchen. Terlihat Diana dan beberapa koki sedang membongkar belanjaan yang Dominique beli.


“Pak Man,” panggilnya kepada kepala koki. Pria itu berjalan menghampiri Dominique. Siap menerima perintah dari sang nyonya rumah.


“Apa ada sesuatu yang spesial yang harus saya buat, Nyonya?”


“Uhm, Pak Man, tolong buatkan aku rendang jengkol. Rebus jengkolnya sampai empuk ya Pak. Aku mau bumbunya yang pedas dan kental ya. Lalu, buatkan aku pepes tahu pakai daun kemangi dan taruh ikan asin peda di dalamnya ya, Pak. Uhm, lalu buatkan sambal terasi dan cuci lalapan yang sudah aku beli dengan bersih ya, Pak!” ucap Dominique memberi perintah. Pak Man sedikit terkejut dengan permintaan nyonya rumahnya. Dia bahkan tak menyangka sang tuan rumah akan meminta masakan di luar ekspetasi mereka.


“Oh aku lupa. Tumis kangkung juga ya, Pak Man. Lalu, suruh beberapa bawahanmu untuk menyiapkan tungku bakar di halaman. Aku sangat ingin makan ubi bakar malam ini,” lanjutnya membuatnya tambah menaikkan alis dengan heran.


Apa nyonya tidak salah memintaku melakukan ini? dia melirik wajah Will. Setelah mendapat anggukan dari tuannya dia baru mengangguk pada nyonyanya.


“Baiklah. Aku mau semuanya siap pukul tujuh malam ini. Dan tolong suruh orang untuk mencuci dan memotong buah yang aku beli. Aku tunggu di ruang keluarga. Oke!” Dominique meninggalkan mereka dan memberi kode pada Diana untuk ikut dengannya.


“Sepertinya akan makan besar kita malam ini, Marissa?” ucap Diana sambil mengandeng tangannya.


“Uhm, pokoknya kau jangan melewatlkannya.” Dia tersenyum penuh semangat saat membayangkan makan malam nanti.

__ADS_1


Aku benar-benar menunggu makan malam ini. Hahaha ....


__ADS_2