
"Selamat malam Tuan Besar Simon dan Nyonya Marina," sapa John memberi hormat saat melihat majikan besarnya tengah duduk di meja makan.
"Selamat malam juga John? Dari mana saja kau?" Marina langsung menyambut hangat sapanya.
"Saya menjemput istri dulu, Nyonya," liriknya pada Sophie.
"Istri? Wow kapan kau menikah? Kau bahkan tak mengundang kami pada acara pernikahan-mu?" Marina menatap Sophie yang terlihat canggung akan kehadiran mereka.
“Beliau Tuan dan Nyonya Besar Aramgyan, sapalah,” ucap John pada istrinya.
“Se-selamat malam, sa-ya, Sophie, Tuan, Nyonya,” kikuk Sophie dibuatnya. Dia membungkuk dan memberi hormat menyapa mereka.
“Tidak usah sungkan. Kemarilah, duduk bersama kami,” ucapnya hangat menyambut Sophie.
Dia berjalan mendekati meja makan. Diliriknya sang teman tak jauh beda dengannya. Syok dengan kedatangan mendadak mereka. Yang duduk hanya para wanita. Tentu saja. Para pria hanya menatap mereka, apalagi Haiden dan sang ayah mertua yang terus mengusap hidung saat mencium aroma hidangan dalam meja.
“Biarkan mereka, tidak usah kalian perdulikan. Ayo kita makan,” ucap sang ibu mertua yang mendengus kearah sang suami dan anaknya.
“Uhm, Will, kau tidak mau mencobanya?” liriknya. Will yang hanya terus tersenyum melihat istrinya.
“Apa itu benar bisa dimakan?” ucapnya sedikit meragu ketika para wanita mulai menyuap rendang jengkol ke mulut mereka.
“Ayo sini, cobalah,” dia melambaikan tangan pada suaminya.
“Apa benar dia istrimu? Bisa-bisanya kalian berbagi istri,” dengus sang ayah mertua setengah berguma saat melihat Will menghampiri Dominique.
“Dia memang istriku, Pah. Jangan bahas lagi. Asalkan Papa tahu, John pun berbagi istrinya!” ucap Haiden. Mata sang ayah seketika membulat lebar dan menggelengkan kepala.
“Ck, ck, cara berfikir kalian memang sangat sempit. Apa di negara ini sudah kurang popolasi wanita sehingga kalian berbagi,” sindir sang ayah.
__ADS_1
“Ayolah, buah tak jauh jatuhnya dari sang pohon,” Haiden balik menyindir sang ayah.
“Dasar anak kurang ajar. Aku denganmu itu berbeda. Berani sekali kau menyamakan cintaku pada istriku dengan cinta recehanmu itu,” sang ayah yang tak terima ketika putra yang sekarang tinggal satu-satunya mengungkit masa cintanya.
“Uhuk, uhuk, apa ini? Kenapa rasanya sangat menyengat di kepalaku,” Will menutup matanya saat rendang jengkol tadi lumer di dalam mulutnya. Dia sedikit terbatuk dan langsung menolak ketika istrinya akan menyuapinya lagi.
“Ayolah sekali lagi, a-“ Will tetap menggelengkan kepalanya.
“Pak Man,” panggil Willy.
“Ya, Tuan,” dia menghampiri dan memberi hormat.
“Apa kau sungguh hanya membuat hidangan yang istriku minta?” dia merasa perutnya pun tak bisa diajak kompromi. Lapar.
“Tidak Tuan, saya tetap membuat hidangan sesuai jadwal. Apa Tuan mau menghidangkannya sekarang?” dia tidak berkata dan segera memberikan kode dengan tangan untuk mengeluarkan hidangan lainnya.
Huh, untunglah malam ini aku tidak kelaparan. Will mengusap dadanya pelan.
Rasa sedih dalam hatinya sedikit terobati. Dia bahkan bisa melupakan sejenak rasa sakit yang dia rasakan tadi pagi saat kehadiran Rebecca. Ya ... Rebecca, wanita itu. Entah apa yang sedang dia rencanakan lagi. Hatinya masih sangat terganggu. Jujur dia ingin sekali bertanya atau menjambak rambutnya. Dia ingin sekali membalas semua rasa yang dia timbulka dua tahun lalu.
Tapi, untuk apa wanita itu datang lagi? Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia bahkan belum bisa menebaknya.
Dia ingin sekali bertanya dengan sang suami. Namun, rasa enggan dan benci masih sangat menyelimutinya. Dia bahkan tak ingin lagi melihat wajah wanita yang menurutnya sangatlah menyebalkan.
“Cobalah, ini sudah aku kupas. Makan selagi hangat.” Mereka kini sudah pindah lokasi di pekarangan belakang rumah. Membakar ubi.
“Uhm, harum sekali!” Dominique menerima ubi bakar pemberian dari Haiden. Mereka sudah duduk mengapit istrinya. Begitu juga dengan Sophie yang diapit kedua suaminya itu.
“Sayang apa kau masih marah padaku?” Haiden memberanikan diri memulai untuk membahasnya.
__ADS_1
“Uhm, sebenarnya aku masih sangat kesal. Marah. Benar-benar sangat marah padamu,” ucapnya sambil menikmati setiap gigitan manis dari ubi bakarnya. Will tidak ingin menyela berbicara. Kali ini dia hanya akan menjadi pendengar setia untuk istrinya.
“Kau belum mengatakan dengan jelas padaku. Dia datang untuk apa? Apa yang dia inginkan?” ucapnya. Dia menatap wajah sang suami yang terlihat meragu. Dia bahkan tak bisa menebak apa yang sedang suaminya fikirkan.
“Terry sakit!”
Deg
Dadanya terasa bergetar. Ada rasa iba timbul menyelimuti walaupun sang suami belum membicarakannya dengan jelas.
“Dia bilang, Terry sakit dan membutuhkan pertolonganku. Aku tidak ingin dia menganggu kehidupanku juga mengusikmu. Jadi, aku memintanya untuk pergi sejauh mungkin,”
Tes rasanya tersayat hatinya. Dia bahkan belum bisa memberikan buah hati untuk sang suami. Anak yang tumbuh dari donor ****** yang suaminya berikan, kini sedang membutuhkan bantuannya. Apa dia akan tega? Atau tetap menolong anak itu. Bagamana pun dia darah dagingnya, dia tidak boleh bersikap kejam seperti itu. Hatinya belum cukup kejam untuk melihat anak yang tak berdosa menjadi korban.
“Lalu?” ucap sang istrinya dengan suara yang tertahan di tenggorokannya. Dia seperti tercekik dan kehabisan udara.
“Sudah aku putuskan. Aku tidak akan menolongnya. Aku tidak ingin, di masa depan dia menjadi batu sandungan untuk keluarga kita. Aku tidak ingin membuat kau terluka ataupun menangis lagi,” ucapnya benar-benar membuat tubuhnya bergetar. Tanpa dia rasakan air matanya mengalir begitu saja.
“Ada apa? Jangan menangis, aku mohon. Maafkan aku,” dia mengapus air mata sang istrinya yang terus mengalir dengan sangat deras.
“Apa kau harus sekejam itu terhadap seorang anak yang tidak bersalah. Dia tidak berdo-sa-“
“Ssstt, sudah aku katakan. Apapun itu, aku tidak ingin membuat kau menangis lagi. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku sangat mencintaimu, Dominique!” Dia menarik tubuh sang istri yang menangis kedalam pelukannya. Dia tahu istrinya itu selembut kapas. Dia tak mungkin bisa bersikap kejam kepada siapapun.
Dua pasang mata yang terus memperhatikan dan mendengar dengan jelas pembicaraan mereka turut terhanyut dengan suasana. Mereka pun tahu selama ini bukanlah sang wanita yang membuat anaknya menentang. Tapi, sang putra kesayangan merekalah yang sudah tergila-gila dengannya.
“Hurf, sepertinya aku harus rela melepaskan keturunan lelaki pertamaku!” guma sang ayah.
“Ini semua salahmu, Simon. Kau terlalu memaksakan kehendakmu. Albert, sudah menjadi korban. Apa kau sungguh tak menginginkan penerus untuk keluarga kita? Jika sekarang kau tetap memaksanya!”
__ADS_1
“Sudah cukup kau membuatku menangis karena kehilangan satu putra, Simon. Aku mohon, hentikanlah. Biarkan mereka berbahagia, apapun pilihan dan yang sedang putra kita jalani sekarang. Sebagai orangtua, kita hanya bisa memberikan dukungan.” Marina menangis lirih tertahan. Memohon pada sang suami untuk merelakan kebahagian sang putra satu-satunya mereka sekarang. Dia bahkan sudah bersiap akan bercerai dengan suaminya apabila permintaannya sekarang tidak terpenuhi.
“Jangan menangis sayang. Kau menang. Aku akan menurut padamu, asalkan kau batalkan perceraian kita. Aku tidak ingin bercerai denganmu. Aku sangat mencintaimu, Marina!” Dia merengkuh tubuh sang istri yang menangis lirih. Mengusap punggungnya. Menenangkan hati sang istri.