MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Makan mie ayam


__ADS_3

Di tempat lain,


"John, bagaimana dengan orang suruhanmu,?"


"Seperti perintah Tuan, dia selalu menjaga Nyonya dan laporan nya akan Tuan terima saat kita sampai"


"Bagus, aku sudah tak sabar ingin segera pulang dan memberikan nya kejutan," Haiden yang masih berkutat dengan pekerjaan, berencana pulang malam ini.


"Lalu bagaimana dengan mereka Tuan?," Haiden tampak menerawang jauh.


"Aku akan segera cari caraa, tidak mungkin aku mengorbankan Dominique,"


***


Dominique tampak gelisah, melirik jam dan ponselnya.


"Apa kau sedang menunggu telpon seseorang," Willy yang menyadari kegelisahan Dominique dan merasa terusik.


"Emm ..., sebenarnya aku ingin pulang, aku tidak suka pergi ke tempat seperti itu," masih tetap menolak ajakan Willy.


"Ini acara penting, apa kau tahu, nanti malam adalah pesta ulang tahun ku," tatap Willy penuh harap pada Dominique.


"Ulang tahun?. Kau!," Willy mengangguk seperti anak kucing.


Ya ampun, orang ini ... ternyata bisa juga lucu. Dominique yang merona melihat tingkah Willy.


Aisshh, sadar Dominique, sadar ..., jangan buat onar lagi, focus!!! Ingat Haiden, Dominique ....


"Hei,"


"Ah, iya, kenapa," tersadar karena malu.


"Aku pasti meminta kado dari kamu loh," ledek Willy.


"Astaga, kau mau minta apa lagi, kau ini katanya sudah kaya, sukses ...," cibir Dominique.


"Yang pasti itu bukan yang aku pinta,"


"Lalu," Willy menatap Dominique penuh arti.


"Kau janji dulu," menarik lengan Dominique dan menciumnya.


"Apa, kalau hadiah mahal aku tidak punya uang untuk membeli nya,"


"Hahaha," tawa Willy bergema, sampai Ramon dan sopir melirik kaca spion, hal langka bagi mereka melihat Tuannya bisa tersenyum dan tertawa seperti itu, apalagi sampai bersikap lembut, membuat bulu kuduk mereka merinding.


"Tidak sulit, asalkan kau janji, kau akan kabulkan permintaan ku,"


"Oke, asalkan tidak melanggar hukum," Dominique mengaitkan jari kelingking nya pada Willy.


"Jadi kita mau makan di mana?," Willy bertanya sekali lagi.


"Pokoknya aku nggak mau makan di restoran mahal, aku nggak nyaman di sana,"


"Baiklah ..., tuan Putri ..., kamu yang pilih tempat nya, "


"Benar, boleh aku yang memilhnya," Willy mengangguk dan tersenyum.


"Kalau gitu itu kita makan di situ saja," tunjuk Dominique ke salah satu warung tenda yang berjejer.

__ADS_1


Willy memberi perintah menghentikan mobil di tempat yang di tunjuk Dominique.


Orang ini sungguh membiarkan ku memilih tempat, atau hanya ...


"Ayo," membukakan pintu untuk Dominique.


"Kau seriuss, aku boleh makan di sini," tunjuk warung mie ayam.


"Apa pun, asalkan kau suka dan senang," Willy mengembangkan senyum mempesonanya.


Apa itu, apa aku tidak salah lihat, senyum malaikat barusan. Dominique tepuk jidatnya.


"Kau mau aku pesan kan?," Dominique menghampiri Willy sambil memegang pundak Willy.


"Kau dulu saja, aku akan makan kalau kau suapi,"


"Heleh, heleh ..., gayamu rambo tapi hati mu rinto," ledek Dominique.


"Kau mau pakai apa?," Dominique mengalihkan pandangan pada Ramon.


Ramon melirik Tuannya, "Kalau kau mau makan, pesan saja ... "


"Saya, lengkap Nona ..."


"Oke," mengedipkan mata, membuat Ramon tersipu malu, Willy yang melirik langsung menyikutnya.


"Kau sudah bosan hidup," menatap tajam Ramon.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja,"


Dominique kembali dengan satu nampan dan berisi empat mangkok mie ayam, menaruh di meja lalu kembali lagi mengambil satu nampan. Menyuruh para pengawal yang mengikuti duduk termasuk Ramon dan membagikan semua mie ayam pada mereka.


"Ayo makan semuanya," mengaduk mie ayam dengan cepat dan mulai memakannya, Dominique melirik belum ada satu pun yang makan mie ayam dari nya.


Aneh, apa pun makanan yang di berikan wanita ini kenapa terasa enak, padahal aku sama sekali tidak suka makan di pinggir jalan seperti ini.


Dan akhirnya Dominique hanya makan beberapa suap, karena yang makan lebih banyak Willy.


"Bang, satu lagi," teriak Dominique memesan mie ayam.


Setelah selesai makan mie ayam, Dominique melirik tukang somay dan berlari kecil menghampiri ....


"Kalian semua mau kan?," Dominique melirik tak seorang pun menjawab.


"Hiss, bang pesan 10, 5 ribuan yaa," lalu memeberikan selembar uang seratus ribuan.


Dominique membawa bungkusan plastik kecil-kecil dan membagikan semua orang termasuk Willy.


Willy menatap bungkusan tadi, "Begini cara makannya," memperagakan cara makan somay dari bungkusan plastik.


"Enak kan, ayo coba, nih," lagi-lagi Dominique menyuapi makan somay pada Willy.


Wanita ini, benar-benar membuatku kehabisan kata.


Ponsel Dominique berdering, Willy melirik layar ponsel Dominique,


Ah, ternyata baru seorang pacar, jadi masih ada kesempatan untuk merebutnya, andai pun hubungan mereka lebih dari sekedar pacar, aku tidak akan mundur. Batin Willy.


"Ya," saut Dominique, memberi kode diam pada Willy.

__ADS_1


"Sedang apa sayang," Willy menarik Dominique ke pelukannya, mencari kesempatan mendekatkan wajahnya, menciumi rambut Dominique. Dominique bergidik, mencoba melepaskan pelukannya, namun Willy makin mempererat pelukannya.


"A-aku habis makan siang,"


"Kau di mana sayang?," Dominique memutar otak, gelagapan.


"A-aku libur, emm ..., makan mie ayam di luar,"


"Kau, sudah ku bilang berapa kali jangan makan makanan sampah seperti itu, apa kau tuli, hah", Haiden yang berteriak kerasa, Dominique segera menjauhkan ponselnya.


" I-iya ..., ya, maaf, aku tidak akan ulangi," Dominique menghela nafas panjang, karena telpon Haiden langsung mati.


Tanpa komando Willy langsung menarik Dominique masuk mobil,


"Jadi siapa dia, kau tidak mau cerita tentang nya padaku?," melihat Dominique yang kehilangan moodnya.


"Dia," ragu-ragu Dominique bercerita, "Jangan cerita, kalau kau mau belum siap, aku tidak apa-apa," menyakinkan Dominique, mengusap rambut Dominique.


Dominique membuang jauh wajahnya ke luar jendela, pikiran nya tertuju pada Haiden.


"Dia ... suamiku," gemuruh di dada Willy membuncah, tidak menyanka Dominique akan berkata jujur.


Wanita ini, lagi-lagi menolak ku. Aramgyan, Aramgyan, kau sungguh laki-laki beruntung bisa mendapatkan wanita seperti ini.


"Oya, kau tidak sedang berusaha membohongi dan menghindari ku kan?," tatap Willy penuh amarah.


"Untuk apa aku berbohong, aku memang sudah menikah," sambil menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


"Hahahaha," tawa pedih bergema di mobil.


Dominique mengerutkan dahinya, "Tapi, kalau kita berteman, kau tidak keberatan kan?," seringai tak mau kehilangan Dominique.


"Tentu saja, kita berteman," Dominique mengaitkan lagi jari kelingking sambil tersenyum.


Andai saja, aku yang lebih dulu bertemu dengan mu. Aku pasti bahagia ..., tapi, apa pun halangan tidak akan membuatku mundur sedikit pun.


Mobil berhenti di sebuah butik terkenal, "Kau coba dulu ya, aku mau lihat ...," Willy memilihkan satu gaun hitam nan sensual, seketika menatap Dominique tanpa berkedip, dan segera menyuruh tata rias untuk merias wajah Dominique.


Benar-benar cantik, manis dan imut. Dominique, Dominique, kau sungguh membuatku gila. Willy.


***


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena,


baca cerita lainku ya yang berjudul :


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Dua Hati


✔ Silence


✔ Mr. Billionaire's Love Prison


✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2