
John meraih sakunya dan memberikan sebuah amplop coklat kepada Haiden.
John kembali melihat sekitar,
"Anda tidak menyakiti, Nyonya kan Tuan" Seloroh pertanyaan penasaran keluar dari mulut John.
Haiden menendang kaki John, melemparkan amplop coklat tadi keatas mejanya.
"Kau fikir aku pembunuh berdarah dingin yang akan memukuli istriku sendiri" cibir Haiden yang kesal atas ucapan John.
"Aish, mungkin saja Tuan, andakan biasanya tak bisa menahan emosi" Celetuk John.
"Jaga mulutmu" bentak Haiden.
"Cih..., kali ini saya bicara sebagai sahabat-mu" Dengus John kesal.
"Thanks John. Aku tidak sebodoh yang kau fikir, dia hanya kelelahan menahan serangan yang sudah kutahan selama dua tahun ini, makanya kau juga cepat menikah, agar kau bisa tahu seperti apa rasanya" Cibir Haiden yang merasa lebih unggul dari sahabat dan juga pendamping sejatinya, john.
John memalingkan wajah dan segera menghampiri dokter yang sedang mengganti perban Dominique.
"Ambil darahnya sekalian" Perintah Haiden.
"Kau yakin" Dengus John hampir tak percaya.
"Aku sudah memepersiapkan semua termasuk hatiku. Aku tidak akan berubah dengan apapun laporan yang kau berikan" Sahut Haiden penuh percaya diri yang sudah duduk di pinngir ranjang dan mengusap pipi dominique.
John mengangguk. Dia bahkan salut atas ketegaran yang dilakukan sahabat yang juga Tuannya itu.
"Kapan aku bisa menerima hasilnya" Tanya Haiden menatap wajah dokter yang telah selesai menangani Dominique.
"Besok siang sudah bisa keluar hasilnya tuan, apa Tuan menginginkan nya lebih cepat" Dokter tadi sedikit bergetar ketika melihat wajah garang Haiden.
"Tidak perlu atur saja sesuai rencana"
"Baik Tuan" John mengantarkan dokter tadi keluar kamar Haiden.
Haiden duduk dekat sofa dan meraih kembali amplop coklat yang diberikan John, membuka dan melihjat informasi yang tertera di dalamnya.
"Kurang ajar" Senggit Haiden meremas laporan yang diberikan John tadi.
Aku harus lebih berhati-hati, akan sangat sulit untuk Dominique kalau dia aku biarkan di dekat Bunarco. Batin Haiden.
"Bagaimana dengan Rose?" tanya Haiden lagi.
"Aku sudah menyelidiki-nya. Sepertinya dia memang benar nenek kandung dari Nyonya, namun satu masalah yang mengganjal, Tuan..." Ucap John ragu menatap wajah Haiden.
Haiden menaikkan rahang nya dengan kasar,
"Nyonya sudah memiliki tunangan yang bernama Richard" Seloroh John.
__ADS_1
"Cih..., banyak sekali laki-laki yang harus aku singkirkan. Mereka mengincar istriku yang manis dan imut. Dulu koki brengsek, lalu Bunarco saja belum selesai, sekarang malah dia sudah memiliki tunangan. Apa aku harus pasang label di kening istriku" Senggit Haiden tidak menerima istrinya memiliki banyak penggemar.
.
.
.
"Brengsek!" Willy menghancurkan semua barang yang dilihat dan di sentuhnya.
"Tenangkan dirimu, Will" Carlos yang mencoba menanangkan emosi Willy.
"Kita akan jemput istriku besok pagi, siapkan segalanya" Perintah Willy pada Ramon.
Ramon mengangguk dan meninggalkan Willy dan Carlos yang masih dalam suasana tegang.
"Kau sungguh akan menjemput-nya" Willy melirik kan mata tajamnya kearah Carlos.
"Dia istriku, aku akan mempertahankan nya" Senggit Willy yang tak ingin kehilangan Dominique lagi.
"Tidak-kah akan lebih baik jika biarkan dia. Dia sudah cukup menderita selama ini" Carlos berusaha membujuk keras kepala Willy.
"Karena aku tahu dia sangat menderita, sudah seharusnya aku sebagai suaminya melindungi" Willy yang keras kepala.
"Ingat Will, kau masih punya satu hutang, jika dia mengetahui apa kau yakin dia masih bisa menerimamu" Carlos mengingat kan Willy akan satu hal.
"Aku tidak perduli"
"Kau yakin dengan keputusan-mu"
"Aku tak pernah merasa seyakin ini, bagiku Dominique segalanya. Mungkin aku tak akan bisa hidup tanpa diri-nya." Willy yang terlihat berkobar penuh amarah namun hatinya berkecamuk tak menentu...
.
.
.
Pukul 7 pagi.
Dominique meraih kemeja Haiden yang tergeletak di pinggir ranjang. Memakai nya karena dia melihat bajunya sudah tidak ada. Mata Dominique melihat sekitar, ia tidak melihat Haiden dimana pun,
"Apa aku pergi sekarang saja ya, tapi bagaimana kalau Haiden mengamuk" ucap Dominique mengacak rambutnya sendiri sambil duduk di tepi ranjang.
Dominique berjalan mendekati lemari dan membukanya.
"Hanya ada bajunya, dimana bajuku" Dominique terus berkeliling dan saat dia akan membuka pintu, pintu terbuka dengan Haiden yang membawa satu paper bag.
"Pakai-lah dan kita akan sarapan di bawah" Perintah Haiden, Dominique meraih paper bag yang di berikan Haiden dan segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
Haiden menggandeng Dominique keluar kamar dan membawa Dominique turun untuk sarapan.
"Pilihlah makanan yang kau suka" Ucap Haiden dan dia duduk menunggu Dominique di salah satu meja dan sibuk dengan John yang mendampingi memberikan Haiden laporan perusahaan.
Dominique mengambil satu piring dan mulai mengitari meja makanan memilih menu untuk sarapannya.
GREP.
Tangan Dominique dan seseorang menyentuh makanan yang hanya tertinggal satu buah.
Dominique menoleh kearah orang tadi, seorang pria dengan rambut pirang dan bermata biru.
"Ambilah..., untukmu saja" Ucap laki-laki dihadapan Dominique yang menatapnya dengan lembut.
"Tidak usah, saya akan cari menu lain" Dominique menolak karena mereka tidak enak.
Pria tadi mengambil piring Dominique dan meletakkan makanan yang di pilihnya bersama tadi ke piring Dominique.
"Ladies first" Ucapnya sambil mengembangkan senyuman.
"Terima kasih" Sahut Dominique sebagai tatakrama.
Haiden yang di sudut meja terus memperhatikan cara memandang pria tadi kepada Dominique yang sangat terlihat pria tadi terpesona dengan keimutan Dominique.
Pagi-pagi sudah membuat mataku sakit saja. Dengus Haiden yang kesal. Saat melihat pemandangan Dominique berbicara dengan laki-laki lain.
Dominique membawa piringnya dan segelas coklat panas ke meja Haiden.
"Kau sudah sarapan" Tanya Dominique yang menatap nya dengan ketus.
Ada apa lagi sih, sedikit sedikit marah. Umpat Dominique.
"Aku sudah kenyang melihatmu barusan" Cibir Haiden.
Dominique menautkan alisnya mencoba membaca situasi dengan kecemburuan Haiden yang tak jelas.
"Jangan aneh-aneh deh" Seloroh Dominique sambil menyuapkan makanannya.
Dan dari sudut meja lain pria berambut pirang dan bermata biru membuka ponselnya, membuka kembali satu pesan dan melihat gambar yang di kirim oleh seseorang.
"Kau sungguh manis seperti di foto" Ucap pria tadi menatap gambar dalam ponselnya.
"Dominique" suara Willy sudah ada di belakang nya.
Dominique menoleh, Haiden langsung menatap tajam Willy yang bersiap dengan beberapa orang pengawal saat menghampiri meja Dominique.
"Ayo kita pulang" Willy menarik tangan Dominique yang masih mengunyah makanan.
"Dia masih sarapan, Bunarco" Haiden yang segera berdiri menghadang niat Willy.
__ADS_1