
"Pulang, pulang daritadi kau bilang pulang terus, apakah kau tidak merindukanku, hah" teriak Haiden melupakan emosi dan kemarahannya yang dia pendam.
Marissa tersentak, bergetar ketakutan, "Kau kenapa? Apa sedang ada masalah dengan pekerjaan-mu" Marissa menarik diri dan segera bangkit dari duduknya.
"Dimana pintu keluar nya" tanya Marissa yang kebingungan mencari pintu di sekeliling ruangan.
"Hahahaha" tawa Haiden menggelegar, Marissa bergetar tambah ketakutan.
"Cepat buka, aku ingin keluar" teriak Marissa tak kalah histeris.
"Marissa, hah... benarkah namamu Marissa, dimana kau bersembunyi selama ini hah, kau pergi meninggalkanku hanya untuk menjadi seperti ini" Haiden yang mencengangkan kedua tangan Marissa dengan paksa dan kasar.
"Lepaskan, jangan sampai aku berbuat kasar" Marissa mendelik kasar membalas tatapan Haiden.
"Hahahaha... hahahaha" tawa Haiden kembali bergema di ruangan, "Katakan... katakan padaku, siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini terhadap ku" mata Haiden melotot sejadi-jadinya, marah melihat sikap penolakan Marissa yang kasar.
"Akhh" Marissa menendang perut Haiden dengan lutut kakinya, Haiden mengerang menahan sakit.
"Diana, Diana... Diana, di mana kau, tolong aku" teriak Marissa histeris memukuli semua tempat meminta bantuan.
Haiden berjalan mendekati Marissa kedua tangannya menahan tubuh Marissa,
"Maaf, maafkan aku sayang... " ucap Haiden melemah terdengar gila di telinga Marissa, tangan Haiden menekan tombol dan dinding pun terbuka.
Dinding terbuka, Marissa langsung melompat keluar dan lari mencari pintu,
"Diana, Diana... " Marissa membuka pintu dan saat melihat Diana langsung memeluk Diana.
"Kau tidak apa-apa Marissa" tubuh Marissa bergetar ketakutan, Haiden keluar melihat kondisi Marissa.
"Marissa, maaf"
"Tidak, aku tidak ingin makan siang denganmu!! Diana... ayo kita pulang" Marissa menarik tangan Diana meninggalkan Haiden yang tampak menyesali perbuatannya barusan.
"Marissa dengar, tunggu" Haiden mengejar Marissa, menarik tangannya.
"Lepas, pergi, aku tidak mau..." teriak Marissa menghempas kasar tangan Haiden. John mengikuti dari belakang.
"Dengar, maafkan aku, aku salah, aku janji tidak akan berteriak lagi, tapi aku mohon kita makan siang yaa... " Haiden berusaha memohon karena tidak ingin kehilangan Marissa lagi.
"Tidak, aku ingin pergi, aku tidak ingin di sini lagi" Marissa tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Aku mohon maafkan aku, aku mohon... " Haiden yang seketika berlutut memegang tangan Marissa.
"Nona, tolong maafkan Tuan, dia bersikap seperti ini hanya karena dia merindukan seseorang yang di cintainya" ucap John mencoba meyakinkan dan membujuk. Marissa menoleh melihat wajah putus asa Haiden yang terus memegangi tangannya.
Ah, Tuan dimana harga dirimu, kau selalu saja tidak bisa berfikir rasional jika bertemu dengan Nyonya Dominique.
__ADS_1
"Sudahlah Marissa, anggaplah kau membahagiakan hati penggemar-mu" bujuk Diana yang ikutan tidak tega.
Marissa menghela nafasnya, "Baiklah, kita makan siang, tapi aku tidak ingin kejadian tadi terulang" ucap Marissa ketus.
"Baik aku janji" ucap Haiden menuruti kemauan Marissa.
"Lepaskan tanganku" bentak Marissa. John menepuk pundak Haiden, perlahan Haiden melepaskan pegangannya.
Haiden di bantu berdiri John, mereka mengikuti Marissa.
"Diana apa mobil kita sudah kembali" ucap Marissa yang celingak celinguk di depang gedung kantor Haiden.
"Belum Marissa, akan ku telpon" Diana akan mengeluarkan telponnya,
"Bisakah kita berangkat satu mobil" Haiden yang sudah membuka pintu mobil, sekarang dia berusaha bersikap tenang menahan gejolak nya, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti tadi.
Marissa menoleh Diana, Diana pun sudah di bukakan pintu di kursi di depan oleh John.
"Bukankah kau ingin segera pulang dan menelpon suamimu" ucap Diana meyakinkan Marissa agar kegiatan mereka hari ini cepat selesai.
DEGG!!!
Suami, apa aku tidak salah mendengar. Berani sekali dia menjadikan istriku sebagai istrinya. Haiden mengepal tangannya, menahan emosi.
Marissa menurut dan segera masuk, ponsel Marissa berbunyi, Diana memberikan ponselnya,
Cih, bahkan dia berani menerima telpon dihadapanku dengan suaranya yang menggoda. Haiden.
"Ada masalah sayang, apa kau baik-baik saja" suara Willy dari sebrang yang sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, tanda tangannya pun berjalan lancar"
"Oh, bagaimana dengan keadaan di sana" ucap Willy sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Semua lancar sayang, aku akan makan siang dulu, barang-barang ku sudah di antar supir"
"Makan siang? Bersama Dianakah?" ucap Willy menyelidik.
"Iya, juga dengan pihak tanda tangan kontrak sayang... " Marissa melirik kembali Haiden yang menatapnya tanpa berkedip.
"Baiklah, telpon aku kalau semua sudah beres"
"Iya sayang... I love you, muahhhh" Marissa menutup perlahan telponnya, melirik sekali lagi Haiden yang masih dengan sikap samanya.
"Kenapa kau menatapku" sewot Marissa terus di lihat seperti makanan yang akan di santap sampai habis.
"Suami-mu"
__ADS_1
"Iya, dia suamiku, suami terbaik yang pernah kumiliki, aku sangat beruntung karena dia sangat mencintaiku" ucap Marissa dengan tatapan matanya yang berbinar, tersenyum penuh kebahagiaan.
Hati Haiden tersayat, dia sangat menyakini bahwa wanita yang di hadapannya adalah Dominique yang selama ini dia cintai. Bahkan tatapan hangat penuh cinta seperti yang dia lihat sekarang, dia belum pernah mendapatkannya dari Dominique.
Makan siang berlangsung cepat, karena Marissa risih terus di pandangi oleh tatapan Haiden. Perasaan Marissa seperti dalam penjara.
"Baiklah, terima kasih untuk makan siangnya Tuan Haiden" Marissa mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, Haiden menerima uluran tangan Marissa yang menatap asing dirinya.
"Kami pamit Tuan" Marissa segera melepaskan jabatan tangannya.
"Aku antarkan pulang, aku ingin memastikan kau selamat sampai di tempat" Haiden yang tetap tidak membiarkan celah sedikit saja.
"Tidak perlu, aku sudah menyuruh supirku menjemput" Diana melambaikan tangan sebagai tanda supir meraka telah sampai, Marissa melenggang meninggalkan Haiden.
"John"
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk mencari informasi detail tentang Nona Marissa, Tuan" lapor John, dia sangat paham dengan keinginan Tuannya.
"Bodoh, bahkan kau masih bisa meloloskan informasinya selama dua tahun"
"Tidak Tuan, informasinya tidak dapat terekspos, hanya setahun terakhir ini kegiatannya muncul di semua media, seperti memang sudah di rencanakan"
"Kau sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu di mana dia tinggal"
"Sudah, kita akan segera mengetahuinya"
"Aku akan buat perhitungan jika memang bajingan itu yang menyembunyikan istriku selama ini, bisa-bisanya dia membuat Domi-ku menjadi seperti ini, sungguh kurang ajar!!" Haiden mengeratkan giginya.
.
.
.
Di tempat Willy,
"Jadi kau akan tetap di sini walaupun tahu istrimu bertemu dengannya" tanya Carlos yang melihat wajah bimbang Willy saat mereka menikmati teh di sore hari.
"Entahlah" ucap Willy yang terlihat pasrah.
"Kau ini sungguh Willy berdarah dingin yang selama ini kukenal, atau hanya laki-laki lemah budak cinta, hah" ucap Carlos menepuk pundak Willy.
"Diam Carlos! Kalau kau masih sayang dengan lidahmu" ancam Willy kesal meninggal kan Carlos yang tersentak membisu karena ancamannya.
"Sial, bisa-bisanya dia mengancammu, hei... laki-laki budak cinta pergilah susul dia kalau kau merindukannya" umpat Carlos berteriak, seketika...
PRANGG!! PRANGG!!
__ADS_1
Suara barang-barang hancur di ruangan lain.