MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kau Tidak Berhak


__ADS_3

Baron masih saja mondar mandir di kamarnya. Menunggu wanita itu benar-benar bisa menenangkan hati, agar mereka bisa kembali pembicaraannya. Sebenarnya bukan berbicara, tapi Baron masih ingin meneruskan rasa penasarannya. Martha menghela nafasnya. Isak tangis terakhirnya sebelum dia benar-benar berhenti.


“Apa kita sudah bisa berbicara sekarang?” dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Daripada dia menemani wanita yang sedang menangis. Dia lebih baik memukuli seluruh pengawalnya hingga babak belur.


Huh, apa kata dunia, jika ada orang yang tahu aku mendengarkan seorang wanita menangis!


Baron meraup wajahnya dengan kasar. Sungguh dia pun tak menyangka bisa menemani wanita itu merajuk. Menangis terseduk selama satu jam. Martha menganggukkan kepalanya. Memberikan tanda, dia siap menerima introgasi dari laki-laki dihadapannya itu.


“Jadi, penjelasan apa yang ingin kau berikan padaku?” Baron masih menatapnya tajam.


Huh, dari dulu dia memang tak pernah mau mengalah. Padahal dia yang salah. Kenapa juga aku yang harus menjelaskannya. Mereka yang seperti anak remaja yang baru memulai untuk suatu hubungan. Sesekali saling memandang, sesekali saling melirik.


“Keluargaku bangkrut, papa tak kuasa menerima kenyataan. Dia frustasi dan bunuh diri. Paska kebangkrutan keluargaku, suami yang aku pili dulu. Yang aku yakini dia bisa membahagiakan dan bertanggung jawab atas diriku malah berubah. Dia tak menginginkan diriku. Dia hanya menginginkan status sosial dan saham dari keluargaku. Dia menceraikan diriku. Mengusirku tanpa harta seperserpun. Aku mencoba bangkit dari keterpurukan dengan bekerja serabutan. Sebisaku, kau pasti tahu, aku bukan tipe orang yang bisa mencari pekerjaan. Selama menjadi nona Belvina hidupku selalu terjamin. Perlahan, aku bisa melewati semua. Lima tahun belakangan ini aku berusaha bekerja di bidang yang aku sukai, merangkai bunga. Ya ..., kau sudah lihat sendiri kan tempatnya. Aku tinggal disana, dan semalam kau sudah menghancurkan tempatku!” Martha bercerita tentang kisah pilunya saat dia berpisah dengan Baron. Dia tak ingin menutupi apapun dari laki-laki itu. Dia tahu, Baron yang sedang dia hadapi sekarang bukanlah lagi laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh hati.


“Cih, jadi kau juga sungguh benar-benar menderita. Aku pikir hanya aku seorang yang tersiksa!” cibirnya.


Martha menautkan kedua alisnya. Dia sebenarnya tak mengerti dengan ucapan laki-laki itu. Dia merasa harusnya dia marah dan membencinya. Namun, dibanding apapun masih terselip rasa syukur, jika dia bersama dan membesarkan putranya, dia pasti akan ikut menderita dengannya. Dia masih bersyukur karena saat itu Baron menculik anaknya.


“Apa pemuda yang semalam kulihat adalah—,” ragu-ragu dia berkata sambil melihat reaksi laki-laki dihadapannya.


“Untuk apa kau bertanya? Kau tidak berhak bertanya apapun setelah kau berkhianat padaku!” dadanya terasa nyeri. Malu. Ya, dia memang harus mengakui, keberadaan cintanya dulu harus kalah oleh harta. Dia lebih menuruti semua kemauan keluarga agar perusahan mereka bisa menaiki persaingan dengan cepat.

__ADS_1


“Maaf!” dia menundukkan kepalanya. Tak berani lagi matanya beradu tatap. Dia memang mengakui kesalahannya. Kemudian dia beranjak dari duduknya. Dia tahu setelah introgasinya ini, dirinya sudah tak diperlukan lagi.


“Apa aku sudah mengizinkan kau pergi?” Baron berdiri. Membuat langkahnya terhenti. Martha membalikkan tubuhnya, menatap mantap laki-laki yang sudah berubah sifatnya. Menjadi arogan.


“Aku harus kembali ke toko. Hari ini ada beberapa pengantaran yang tak boleh telat aku mengantarnya!” dia tidak akan berani lagi mengungkit masalah putranya. Walau dia ingin dan sangat merindukannya. Dia ingin sekali memeluk putranya, walaupun hanya sekali dari sisa hidupnya.


“Untuk apa kembali. Aku sudah menghancurkan tokomu itu. Aku sudah buat toko itu menjadi rata dengan tanah!” cetusnya. Martha mendelikan matanya. Dia hampir saja tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Toko itu adalah jerih payahnya.  Hasil kerja kerasnya selama ini.


Dia memegangi dadanya kembali. Rasa ngilu menyergap kembali. Hampir saja dia terjatuh jika Baron tak langusung menangkapnya.


“Apa ini? Kau sedang berbohong lagi?” Baron menanyakan kondisi tubuhnya. Dengan delikan masih menanti jawaban darinya.


“Biarkan aku kembali, aku akan melihat dengan mata kepalaku sendiri. Toko itu bukan hanya tempatku menggantungkan hidup, tapi kedua pegawaiku itu. Mereka menggantungkan hidupnya disana. Jadi, walaupun sulit aku akan membangunnya kembali!” dia sudah tak perduli lagi soal keinginan keras Baron. Dia tahu, Baron yang sekarang akan menghalalkan segara cara untuk mendapatkan sesuatu.


“Mereka berdua sudah kupecat!” jawabnya seenaknya. Martha menghela nafas kembali. Dia saat ini tak ingin terpacing oleh semua ucapan orang di hadapannya. Semakin dia mencoba melawan pasti akan semakin menjadi. Dia tak ingin melampaui batasannya.


“Baiklah, baiklah. Jadi, apa maumu sekarang? Katakanlah. Jangan membuatku sulit, aku mohon,” dia duduk kembali. Menatap wajah Baron. Mencoba bernegosiasi dengannya.


“Apa kau sungguh tidak tahu yang aku mau? Apa perlu kau bertanya hal yang membosankan itu?” hah, rasanya Martha sudah muak dengan ucapan Baron yang berputar-putar.


“Aku bukan paranormal yang bisa menebak apa isi otak dan pikiranmu itu. Katakanlah, kita ini bukan lagi anak remaja yang main kejar tangkap!” cetusnya akhirnya. Dia pun kesal, tak ingin lagi menahan keluhan dihatinya yang sudah akan meledak.

__ADS_1


“Kembalilah kesisiku. Aku akan menjamin semuanya. Kau tidak akan kesulitan soal apapun lagi!” dia meminta dengan angkuhnya. Membuat Martha menggelengkan kepalanya secara spontan.


“Tidak, kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi lagi. Kita sudah lama bercerai, aku pun sudah tak ingin menjalin hubungan apapun lagi. Aku hanya ingin hidupku tenang, di hari tuaku!” dia menolaknya dengan sangat tegas. Dia bukan lagi anak ABG. Mencari perhatian dan menebarkan pesona.


“Kau tahu, aku sekarang adalah Baron Bunarco. Bukan lagi Baron yang miskin dan melarat. Apapun yang kuinginkan pasti akan kumiliki. Jika kau terus menolaknya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Dulu, kau sudah mati buatku. Apalah artinya jika kau benar-benar harus sekali lagi mati. Dan kematianmu yang sekarang, aku sendiri yang akan melakukannya!” ancamnya. Mencengkram erat kedua lengan Martha.


Wanita itu tersentak. Dia bahkan tahu ancaman yang sedang dia dengar bukan main-main. Laki-laki itu bersungguh-sungguh atas ucapannya.


“Lepaskan tanganmu, Baron. Itu sangat menyakitkan, uhuk, uhuk!” reflek dia melepaskan cengkramannya saat dia melihat kembali wanita itu memegangi dadanya.


“Ikut aku!” dia menarik paksa wanita itu keluar dari kamarnya.


“Markus, kita ke rumah sakit, sekarang!” perintah saat dia membuka pintu dan menyeret wanita itu.


“Tidak, aku tidak mau pergi. Aku baik-baik saja!” Martha tetap bersikeras. Bagaimanapun dia sendirilah yang tahu tentang kondisi tubuhnya.


“Cih, apa aku terlalu bisa kau bodohi. Kebohonganmu itu sungguh menyebalkan!” gerutunya.


***


Haloo semuanya, aku, Aleena. Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa mampir ke novel terbaruku yang berjudul, "Mr. Arrogant Baby". Ceritanya nggak kalah seru loh...

__ADS_1


__ADS_2