MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Aku Ingin Makan Keroprak


__ADS_3

Haiden menurunkan Dominique saat di dalam kamar mandi, ia memepet tubuh Dominique hingga ke tembok, tangan Haiden menyalahkan shower hingga tubuh mereka berdua basah.


"akh, ideen, sudah cukup iden, aku sungguh lelah" Dominique menolak Haiden yang sudah mulai menggigil dan merinding.


Kedua tangan Dominique di cengkraman erat oleh Haiden di tembok, dengan ganas Haiden mencium bibir Dominique. Dominique yang kewalahan tergagap kehabisan nafas.


"Bernafas bodoh" Haiden melepaskan ciumannya yang mendengar nafas Dominique menderu keras, "sudah iden, apa semalam kau belum puas" suara Dominique bergetar, mengiba agar dikasihani Haiden.


"Aku tidak akan pernah puas dan cukup bila menyangkut yang seperti ini,


patuhlah dan kau hanya perlu mengikuti semua permainan dan arahanku" bisik Haiden di telinga Dominique, sementara tangannya memegangi wajah Dominique, dan Haiden memulai kembali ciumannya, kali ini berbeda, dengan lembut Haiden mencium bibir Dominique, dan Dominique tidak bisa menolak lagi, tubuhnya seakan mengikuti semua permainan Haiden, yang terdengar hanya desahan dan gerakan mengikuti ritme Haiden.


Mulutmu menolak, tapi tubuhmu saja lebih jujur. Seringgai Haiden.


"Ini baru gadisku" ucap Haiden melanjutkan permainnya di setiap tubuh Dominique.


Hampir Dua jam Dominique menuruti semua permainan Haiden dengan berbagai gaya. Haiden membopong tubuh Dominique keluar kamar mandi yang kelelahan dan meletakkan tubuh Dominique diatas kasur.


Suara siulan terdengar dari mulut Haiden saat ia mencari baju, dan senyum puas terus terlihat jelas di wajahnya.


Haiden menghampiri Dominique yang memunggungi tubuhnya, "ayo bangun sayang, atau kau masih mau aku memakanmu lagi sekarang" goda Haiden berbisik ditelinga Dominique, membuat Dominique terbangun dan duduk.


"idenn"


"hemm"


"aku sungguh lelah, tak bisakah__"


"iya aku tahu, cepat berpakaian" Haiden meletakkan paper bag yang di bawa John.


Dominique turun kasur dan akan ke kamar mandi, "Mau kemana?" Haiden menarik tangan Dominique mencegahnya pergi.


"Ke kamar mandi, ganti baju" saut Dominique.


"pakai disini, aku ingin melihatnya lagi" perintah Haiden membuat Dominique tertunduk malu.


"Iden"


Haiden mendelikkan matanya, tidak ingin penolakan dari Dominique.


Akhirnya Dominique pasrah, ia mulai membuka paper bag tadi, tangannya masih mengapit handuk saat Dominique akan mengenakan baju dalam, Haiden menarik dan melemparkan handuk yang Dominique pakai.


"untuk apa kau tutupi, aku sudah tahu dan hafal semuanya, hah" seringai Haiden menatap setiap lekuk bentuk tubuh Dominique lagi.


Dominique tidak menjawabnya, hanya bergegas memakai baju.


"kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi yaa" rangkul Haiden saat Dominique menyisir rambutnya.


"iden" Dominique mengecutkan bibirnya.


"Kenapa? kau tidak suka, hah?" Haiden mulai naik pitam.


aish, Domi, jangan buat dia marah.

__ADS_1


Dominique berbalik, memeluk balik Haiden, "bukan begitu, aku sungguh lelah iden, kau itu terlalu kuat__" ucap Dominique lirih menyembunyikan wajahnya dipelukan Haiden karena malu mengucapkannya.


ah, sial dia begitu menggemaskan, bagaimana aku bisa menahannya.


Haiden menarik wajah Dominique dan mencium lagi Dominique dengan lembut, Dominique hanya pasrah mengikuti kemauan gila Haiden yang sudah berstatus sebagai suaminya.


Haiden melepaskan ciumannya, menatap lembut Dominique, "hari ini izinkan aku pulang yaa" Haiden menatap Dominique dan menaitkan kedua alisnya, "aku mau mengambil pakaian dan barang-barangku" pinta Dominique.


"Aku sudah menyuruh John untuk membuang semuanya"


"iden" Dominique melepaskan pelukan Haiden.


"kenapa kau tidak suka, aku bahkan bisa membelikanmu seribu kali lebih baik dari itu"


"idenn, aku mohon, tolong hargai sedikit tentangku, bagaimanapun barang yang aku beli adalah hasil jerih payahku, aku menabung dan berhemat untuk membeli_nya, aku tidak pernah meminta apapun darimu, semua perlakuan dan sikap seenakmu, aku bisa Terima, tapi tolonglah__beri aku sedikit ruang"


Dominique menatap wajah Haiden yang tertegun atas ucapannya.


"Aku tidak perduli" saut Haiden ketus menyilangkan kedua tangannya.


"oh" Dominique mengehela nafas panjang, "kalau begitu aku minta satu hal, tolong kamu penuhi"


Haiden menatap Dominique, "jangan bicara apapun atau mengungkit masalah pernikahan ini, aku tidak ingin semua orang tahu" ucap Dominique yang terdengar sakras.


"kau malu menikah dengan_ku, apa kekuranganku? Atau kau masih ingin bermain mata dengan lelaki brengsek itu, hah" Haiden mencengkam dagu Dominique dengan kasar.


"Stop iden! Bisakah kau berpikir jernih, jangan mencampur adukkan masalah ini dengan Justin,


"ow, kau bahkan masih fasih menyebutkan namanya, hah, katakan kau masih berhubungan dengan dia kan, jawab! " Haiden membentak Dominique. Dominique menghempaskan tangan dan mendorong tubuh Haiden.


"Aku muak, aku muak selalu dituduh olehmu, aku benci sikap otoriter_mu iden, tolong berubahlah" Dominique memelas.


"Berubah, hah, kau pikir kau siapa, seenaknya kau memerintah ku" Haiden mengambil kotak kecil yang dia taruh diatas meja, membuka dan mengambil isinya, "pakai ini, biar dia bisa melihat dengan jelas kalau kau sudah ada yang memiliki" Haiden memasangkan sebuah cincin berlian bermata satu di jari manis Dominique, Dominique akan melepaskan, "berani kau lepaskan, aku jamin kau tidak akan bisa keluar dari sini, aku akan memakanmu habis-habisan tanpa berhenti" Haiden mengancam Dominique, Dominique mengurungkan niatnya dan berjalan ke sofa, lelah menghadapi sikap diktator Haiden.


ah, sial, aku malah membuatnya marah. Haiden menyesali semua ucapannya.


Haiden mengikuti Dominique dan duduk di sofa di samping Dominique.


"Ayo, kita keluar, kau lapar kan?" Haiden mencoba membujuk Dominique yang masih merajuk.


Dominique masih diam tidak menjawab apapun, Haiden beringsut, memepetkan tubuhnya pada Dominique, tangan Haiden menarik Dominique ke pelukannya, hidungnya mulai mendengus dan menciumi leher Dominique__


*kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan. Haiden.


akhhh*


Dominique menutup mulutnya yang mengeluarkan suara karena geli, apalagi tangan Haiden tidak berhenti disitu, terus berjalan menyusuri area bawah Dominique.


ah, sial.


Dominique menyikut Haiden dan segera bangun dari duduknya, terlihat Haiden tersenyum penuh kemenangan.


"makan, ya makan" Dominique meraih tasnya yang ada di meja.

__ADS_1


Haiden berdiri, dan mengikuti Dominique yang berjalan mendekati pintu,


"sayang" Haiden mencegah Dominique membuka pintu,


"apalagi, hah_" Dominique berbalik dan saat berbalik secepat kilat Haiden mencium Dominique lagi. "Idennnn" Dominique mendorong tubuh Haiden, "habis aku gemas, tidak tahan kalau melihatmu marah seperti tadi" Haiden yang menghapus bibir Dominique yang basah karena ciumannya tadi.


"Kita makan di restoran sebrang apartement ya"


"tidak, aku ingin makan ketoprak"


saut Dominique menolak ajakan Haiden.


"Ketoprak? Apa itu?"


"Ketoprak itu sejenis lawakan yang menghibur, bisa membuat perut kenyang" Dominique menjawab puas dengan menautkan kedua alisnya.


"Apa itu bisa dimakan?"


"Tentu saja, kalau kau tidak percaya, telpon John, atau__ah, kau gugling saja__" Seringai Dominique.


"Benarkah?" Haiden mengeluarkan ponselnya tampak mencari sesuatu di mbah gugel menuruti semua ucapan Dominique.


ah, ternyata suami_ku masih bisa kubodohi.


Dominique yang menyipitkan kedua matanya, melihat Haiden yang serius mencari pencarian di gugel.


"Sudah ketemu" goda Dominique, Haiden yang menyadari telah dibodohi Dominique, "Kaaauuuu___!!! "


"Hahaha" Dominique tertawa puas,


berlari menghidari kemarahan Haiden.


🌼🌼🌼


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


βœ” Dua Hati


βœ” Silence


βœ” Elegi Cinta Yuki


βœ” Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca

__ADS_1


__ADS_2