
"Kau boleh menawan dan memerintahkan apapun padaku, Pah, tapi jangan kau sentuh istri dan anakku. Aku akan melakukan apapun demi mereka. Aku bahkan tak perduli jika harus menentangmu! Aku bersedia menyerahkan nyawaku untuk mereka!” Willy memberikan penekanan dengan tegas pada ayahnya. Dia tak ingin seorang pun menyentuh atau melukai istrinya.
“Bedebah bodoh! Kau gila sampai berani memberontak denganku. Kau sudah tak mendengarkan apapun perintahku. Wanita itu sungguh telah membuatmu buta!” dia tak mau kalah berperang mulut dengan ayahnya.
“Bukan dia yang merubahku, Pah. Namun, aku sendiri yang sudah jatuh cinta dengannya. Aku tak pernah memiliki perasaan seperti ini sebelumnya kepada seorang wanita. Hanya melihatnya tersenyum sudah membuat seluruh hidup dan jiwaku bahagia. Aku mohon, Pah jangan usik apapun lagi. Sudah cukup aku menyakitinya!” pinta anaknya dengan wajah penuh permohonan kepada ayahnya.
"Ck, ck, kau memang benar-benar sudah diperdaya wanita itu. Dia sudah mencuci otakmu!" dia tetap bersikeras menyalahkan istri Willy.
"Aku mohon, Pah. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun denganmu. Aku hanya meminta sekali ini saja, terima dia, Pah. Bagaimanapun kau menolaknya dia tetap menantumu!" bujuk Will. Willy masih berharap ada sedikit harapan. Sedikit cahaya yang akan menerangi hati ayahnya dan membuatnya luluh dan berubah.
"Argh! Ss-hh, Will panggilkan Carlos. Cepat bawa kotak obatnya!" Dominique berteriak dari arah dapur saat jarinya teriris pisau ketika memotong sayuran. Sambil mengibaskan tangannya.
"Kau terluka?" Haiden menghampiri sambil meraih jarinya yang teriris pisau.
"Biarkan Will yang membantuku, Iden. Aku maunya dia yang mengobati lukaku!" ucapnya tanpa sadar.
“Sayang...,” Haiden berbicara dengan sangat lirih. Seolah mengetuk hatinya yang berkemelut.
“Ayolah, Iden jangan berdebat lagi dengan Will, biarkan dia yang mengobati lukaku. Will, cepat obati jariku-“ Dominique melirikkan wajahnya pada Haiden. Dia terpaku sesaat.
Astaga, apa yang aku lakukan? Aku masih menyebut namanya. Apakah hatiku masih terasa sulit untuk lepas dari semua jerat cintanya.
Dominique menitikan air matanya, dia sadar orang yang dia panggil sudah tak ada lagi disisinya. Dia yang sudah memintanya untuk pergi dan menjauh dari hidupnya.
“Huhuhu ... maafkan aku, Iden. Sungguh, maafkan aku...” dia kembali menangis dalam pelukan suaminya. Hatinya bertambah ngilu ketika tangisannya tetap tak berhenti walaupun dia sudah berusaha menenangkan dengan mengusap punggungnya.
“Aku memang tak berhak ikut campur sayang, tapi harapanku hanya satu, aku hanya ingin melihatmu kembali tersenyum,” ucap Haiden. Walau hatinya yang terluka tak mengapa asalkan istrinya bisa kembali seperti sediakala. Dia tidak seperti sekarang. Dia hidup, tapi seperti tak beraga.
Dia sangat tahu dan menyadari besarnya cinta sang istri untuk rivalnya. Dia sudah sangat pasrah dan rela. Saat ini yang dia inginkan hanya istrinya bisa bahagia di masa persalinannya yang semakin dekat.
“Aku tidak bisa memaafkan dia, Iden. Dia sudah membunuh adikku. Aku sungguh membenci diriku yang bodoh, aku malah mencintainya, aku benar-benar bodoh. Huhuhu...”
“Jangan terus memaksakan hatimu jika kau tak sanggup. Percayalah, yang lalu biarkan berlalu. Aku yakin dia sekarang pun sama tersiksanya dengan dirimu!” perkataan bijak Haiden membuat tangisnya makin meraung dengan keras. Dia memang masih belum bisa melepaskan semua cintanya.
“Aku benar-benar sudah terjebak, Iden. Hatiku sudah di penjara olehnya. Ingin rasanya aku membalas dendam untuk kematian adikku, ingin sekali aku membunuhnya juga dengan tanganku, huhuhu...” Haiden tak mampu berkata. Dia tak ingin menambah buruk keadaanya. Dia hanya bisa menenangkan kembali istrinya dalam pelukan.
__ADS_1
Ceklek
“Akhirnya kau datang. Seharian ini aku susah payah membujuknya. Dia hanya makan sedikit, jarinya sampai terluka karena memikirkanmu!” Haiden menepuk pundak rivalnya. Dia berjalan keluar kamar mereka. Haiden menghubungi Will saat Dominique sudah tertidur dengan pulas.
Dia berjalan mendekati ranjang dan melihat istrinya yang tertidur sambil mengerutkan dahi. Dia tahu istrinya pasti akan kesulitan untuk tidur jika tidak dalam pelukannya.
“Baru dua minggu aku pergi kau sudah seperti ini sayang, kau terlihat kurusan!” will mengusap wajah istrinya dan membelai rambutnya dengan lembut.
Dia terus mengecup tangan istrinya, membelai perut istrinya yang sudah makin membesar. Dia benar-benar sangat merindukan istrinya. Membelai lembut bibir istrinya, mengecupnya perlahan dengan tangisan yang mengalir dari matanya tanpa ada sedikit pun suara.
“Maafkan aku, sayang ... aku sungguh merindukanmu. Aku benar-benar tak bisa jauh darimu!” satu kecupan di keningnya sebelum dia beranjak dari ranjang istrinya dan pergi.
Blam
Mata Dominique perlahan terbuka. Menatap bayang punggung suaminya yang sudah pergi. Dia menangis dalam diam. Menahan semua nyeri yang menghujam seluruh dadanya. Menyayatnya berkali-kali, sayatan yang penuh dengan luka. Namun, tidak berdarah. Dia membekap mulutnya. Dia tak ingin suara tangisnya mendatangkan suaminya.
“Dia terus saja menyebut namamu. Aku akan membujuknya lagi, tapi aku tak bisa menjanjikan apapun!” Haiden berkata menatap wajah rivalnya yang sudah terlihat frustasi saat melihat kondisi istrinya.
“Tidak, jangan paksa lagi. Aku tidak ingin dia memaafkanku karena terpaksa. Aku ingin dia yang membuka hatinya sendiri.”
“Aku tahu. Aku mohon penjagaan dirinya di perketat. Jangan sampai kau lengah sedikitpun!”
“Ada apa? Kau datang hanya untuk memberitahukan itu, hah? Kau masih saja tak percaya dengan semua orang-orangku?” Haiden setengah tersindir karena ucapan rivalnya.
“Aku tahu kau pasti menjaganya dengan sangat baik. Namun, jika orang-orang dari jaringan hitan yang bergerak. Aku yakin kau pun pasti tidak akan menyadarinya.” Will berpesan dan mewanti rivalnya untuk keselamatan istrinya.
“Baik, terima kasih kau sudah memberikanku peringatan. Aku akan lebih waspada!” Haiden mengerti dengan peringatan yang rivalnya tujukan berhubungan dengan tindakan ayahnya.
“Aku tahu besok dia akan mengunjungi dokter untuk pemeriksaan terakhir. Aku mohon, jaga dia dengan baik. Apapun resikonya, aku akan menjaga dirinya dengan baik. Aku sudah mempersiapkan nyawaku ini sebagai taruhannya!” tegas Will penuh penekanan.
“Kau tak ingin memberikan dukungan terakhirmu dan menengok anakmu?” Haiden memberikan kode jatah untuk rivalnya sambil menaikan satu alisnya.
“Hah, kau gila! Dia pasti terbangun jika aku menyentuhnya!” bukan Will tak menginginkannya. Hasratnya lebih besar daripada yang dikatakan rivalnya. Rasanya dia sudah tak sanggup menahan saat bibirnya tadi bersentuhan dengan bibir istrinya.
“Masuklah, dia sudah tidur dengan pulas. Aku yakin dua tidak akan terbangun!” Haiden yang tiba-tiba entah dia iba atau kasihan dengan rivalnya itu. Membuka kembali pintu kamar mereka.
__ADS_1
“Aramgyan, kau!” deliknya.
“Sudahlah terima saja, kapan lagi aku berbaik hati denganmu. Bukankah kau juga sangat menginginkannya!” dia mendorong tubuh rivalnya hingga mendekati kembali ranjang istrinya.
“Jangan terlalu bersemengat dan membangunkannya!” pesan rivalnya sebelum dia pergi dan menutup kembali pintu kamar mereka.
Haiden menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Membuang nafasnya dengan kasar. Mengepal kedua tangannya dengan sangat erat ....
“Uuughh. Ah. Pe-pelan sedikit, Ra-mon!” Sophie meremas kedua tangannya. Dia meremas erat selimutnya. Di bokongnya sudah ada penyangga untuk membuat posisinya mudah saat Ramon mengoyangkan pinggangnya memasuki ruang nikmatnya.
“Ma-maaf, sayang, aku sungguh merindukanmu. Jadi, tahan sebentar lagi, ya!” pinta Ramon ketika mempercepat ritme gerakannya. Sophie tak menjawabnya hanya suara yang keluar dan lengguhan dari keduanya.
Cuuppp
“Apa kau akan pergi lagi?” Sophie memeluk erat tubuh suaminya. Dia tak ingin di tinggalkan lagi oleh Ramon.
“Uhm. Tugasku belum selesai. Aku kembali karena dalam misi!” ucapnya.
“Misi?”
“Uhm.”
“Apa itu?”
“Sssttt, rahasia!” Ramon menempelkan satu jarinya di bibir istrinya.
“Cih, kau masih saja main rahasia-rahasiaan denganku!” cibirnya.
“Suatu saat, aku janji. Aku akan menceritakan semuanya. Namun, setelah kau tahu segalanya. Aku hanya meminta kau tetap percaya denganku!” pinta Ramon menatap wajah istrinya.
John masuk dan memungut baju istrinya yang tergolek di lantai, “Mau kau pakai sekarang atau kau juga ingin memberikan aku jatah juga,” senyumnya.
“Tidak. Cukup. Kau besok saja, lagian kan aku baru bertemu dengan Ramon,” ucapnya meraih baju yang diberikan John padanya.
“Istirahatlah, kau pasti lelah. Aku ada urusan yang akan di bicarakan dengan suamimu yang satu ini!” pinta John menatap Ramon dengan kode yang hanya mereka berdua tahu.
__ADS_1