
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini? Apa sungguh aku telah salah mengira dirinya?
Pikiran Baron bergemuruh. Hatinya tiba-tiba saja menjadi tak menentu. Dia bahkan tak tega melihat wanita itu berbaring lemah tak berdaya. Bagaimanapun, dia pernah menjadi salah satu bagian yang terpenting dalam hidupnya.
Dia berjalan perlahan menghampiri ranjangnya. Duduk tanpa bersuara, menatap wanita itu yang terlihat tidur dengan nyaman oleh obat yang habis dia minum. Rasa lelah yang dia rasakan seakan menghilang. Padahal tadi dia berencana akan pulang ke hotelnya untuk beristirahat.
Ah, hotel! Baron keluar dari kamar wanita itu. Mencari keberadaan Markus yang tengah memberikan perintah kepada anak buahnya untuk membersihkan kekacauan yang baru saja mereka buat.
“Carikan selimut yang tebal untukku dan segera bawakan untukku!” setengah tak percaya Markus mendengar permintaan Tuannya. Dia sedikit menaikan kedua alisnya saat mendengar tuannya berkata seperti itu.
“Cepat! Jangan banyak bertanya. Aku membutuhkannya sekarang juga!” deliknya. Menghentikan segala yang sedang ada dalam pikirannya. Baron bisa mengerti apa yang akan ditanyakan oleh Markus.
“Ba-baik, Tuan!” meninggalkan Tuannya. Jika dia memintanya langsung padanya. Iu adalah permintaan khusus dan dia sendiri yang harus mencarikannya.
“Kau sudah melihat anakmu?” Dominique yang berkata saat Willy sedang membantunya duduk di pinggir ranjang. Pagi ini dia meminta Carlos untuk mengeluarkannya dari rumah sakit.
“Uhm, dia sangat tampan. Mirip sekali denganku!” ucapnya. Tersenyum membanggakan putra yang menjadi hasil test DNA yang Carlos berikan.
“Cih, tentu saja masih cantik putriku. Dia akan menjadi purti Aramgyan yang paling cantik. Putri kesayanganku!” Haiden yang berkata. Dia tetap tidak mau kalah saing oleh Will. Dominique menghela nafasnya. Sedikit menyesal melontarlkan pertanyaan barusan. Huh, harusnya aku tidak bertanya. Keluhnya.
“Sudah siap sayang?” Marina yang masuk diantara mereka dengan Simon dan Terry yang mengekorinya dari belakang.
Dominique mengangguk, “Mereka sudah mengaturnya, Mah, dan anak-anakku sudah di bawa pengasuh lebih dulu!” jawabnya.
“Wah, aku telat dong, Mommy, padahal Aku ingin melihat adik-adikku!” Terry berkata. Selama Dominique di rumah sakit, Terry diajak oleh Marina. Tinggal bersama dengannya di hotel.
“Kita akan pulang sayang, kau bisa menemui mereka di rumah!” Dominique berdiri perlahan. Meraih tangan putranya dan mengandeng keluar dari kamar perawatan.
Kedua suami, Marina dan Baron mengikuti mereka. Karena sudah memiliki anak, Sophie dan Diana meminta izin keluar dari rumah Dominique. Mereka pun menginginkan prifasi untuk keluarga mereka. Dan tentu saja kedua suaminya mengizinkan.
__ADS_1
Terry bergelayut manja dipelukan Dominique. Membuat Haiden dan Will terus menatapnya dengan cemburu.
Cih, anak ini masih saja mencari perhatian istriku. Seharusnya dia memperhatikanku juga! Haiden berkata dalam hatinya.
Benar-benar merepotkan anak ini, aku bahkan belum sempat bermanja dengan istriku! Will mengerucutkan bibirnya. Masam seperti rasa susu fermentasi.
“Ehem!” Haiden berdeham. Memberikan kode pada istrinya. Dominique hanya memutarkan bola matanya.
“Sayang!” Will yang tak mau kalah seperti anak kecil. Mulai merajuk.
“Hih, apa sih! Papa dan Papi?” protes Terry. Dia yang melirikkan matanya tajam kepada dua orang itu secara bergantian.
“Kau ini kenapa tidak ikut di mobil grandma dan grandpa, sih?” keluh Haiden.
“Apa sih, Papa Gyan. Aku kan sudah lama tak bertemu dengan Mommy. Aku juga kangen tahu!” balasnya tak mau kalah oleh keduanya masalah perhatian dari Dominique. Mereka bertiga memang selalu bersaing. Will dan Haiden bahkan seperti anak kecil yang memperebutkan mainan jika bersaing mencari perhatian istrinya. Meraka tetap tak mau kalah oleh Terry.
Dominique hanya bisa menghela nafas panjangnya kembali melihat tingkah mereka yang memperebutkan dirinya.
“Oke, Mommy! Tenang saja, aku pasti akan menjadi kakak yang sangat baik untuk mereka. Aku akan melindungi mereka dengan seluruh jiwaku!” Terry berkata dengan sangat lantang sambil menepuk-nepuk dadanya. Membuat suasana menjadi gelak tawa akan tingkahnya.
“Jadi, adik-adikku itu, mereka siapa saja namanya, Mom?” Terry bertanya kemudian setelah semangat empat limanya yang menggebu barusan.
“Hohoho, dia, Jessyana Aramgyan Estimo dan Jonathan Bunarco Estimo!” cetusnya. Membuat kedua suaminya saling menatap. Mereka bahkan belum sempat mengungkapkan keinginan mereka memberikan nama pada anak-anaknya sudah didahului oleh istrinya.
“Kenapa? Kalian tidak setuju dengan pilihan namaku?” dengusnya. Mengecutkan bibir. Menatap mereka satu persatu. Namun, tidak ingin dari keduanya menentang keinginannya.
“Ti-tidak! Aku setuju kok!” mereka berdua kompak.
“Nah, begitu baru enak di dengar. Aku kan tidak harus adu mulut terus bersama kalian!” cibirnya menaikan satu ujung bibir.
__ADS_1
Astaga, istriku sudah mulai menunjukkan cakarnya!’Haiden melirik Will.
Wah, wah, aku harus lebih hati-hati. Istriku sekarang semakin garang setelah melahirkan! pekiknya di hati.
Martha membuka matanya. Dia merasa asing dengan tempat yang sedang dia lihat sekarang. Ranjang yang empuk dan hangat. Selimut tebal yang menghangatkan dirinya. Tirai berwarna putih menyambutnya dengan sinar mentari yang hampir menembusnya. Dia sudah lama sekali meninggalkan kesan seperti ini.
“Kau sudah bangun?” suara Bariton dari sudut ruangan menghamburkan semua pikirannya. Dia tertegun sesaat, bukan karena tak mengenali suara itu. Dia hanya saja heran mengapa masih mendengar suara itu. ‘Ah, rupanya semalam bukan mimpi.’ Dia menyadari sesuatu hal yang tak mengenakkan hati. Dadanya kembali berdenyut ngilu.
Suara ketukan pintu membuat suara dari orang itu berdiri. Baron membuka pintu kamarnya. Markus masuk dengan beberapa pelayan yang membawakan kereta dorong.
“Sarapan anda, Tuan, Nyonya!” ucapnya. Kemudian Markus pergi begitu saja setalah mengatakan hal yang diluar dugaannya. Martha memicingkan matanya. Menatap Baron.
Apakah dia tak pernah berpikir dari sisi aku? Apakah dia tak pernah berusaha meminta maaf dariku. Dia yang menculik anakku. Kenapa sekarang dia malah memperlakukanku seperti aku pelaku kejahatan! Wanita itu terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak akan menyangka, pertemuan tak sengajanya mengubah tenang dalam kehidupannya.
“Bangunlah, sarapan dulu, Sandra!” ucapnya tiba-tiba melembut. Wanita itu tak mampu berkata. Gerakan tubuhnya seolah menuruti perintahnya. Dia tak ingin kejadian semalam yang dia lihat akan terulang lagi. Dia betapa tahu, begitu mengerikan orang yang dihadapanya kini. Dia susah banyak sekali berubah, bukan seperti dulu.
Terpaksa dia duduk berhadapan dengan laki-laki itu yang sedetikpun tak memalingkan pandangannya darinya. Matanya membulat saat melihat sarapan yang tersaji di meja itu. Sandwich keju dengan segelas susu coklat hangat. Dia menitikan air matanya. Tak mampu lagi dia membendung dan membohongi orang dihadapannya.
“Maaf!” satu gigitan dengan rasa pahit di lehernya seolah mencekiknya dengan keras.
“Mengapa kau harus meminta maaf? Apa kau sekarang sudah tak pura-pura lupa denganku lagi, Sandra?”
Dia tak menjawab. Hanya melanjutkan makannya dengan terisak. Dia ingin menangis sekerasnya, melampiaskan semua rasa yang dia pendam dalam dada.
“Ma-maaf, maafkan Aku, Baron. Maafkan aku!” pekiknya. Meletakan sandwich yang sedang dia makan. Dia menangis. Meremas bajunya. Mengeluarkan semua penat yang dirasakan. Baron tak mengeluarkan cercaannya lagi. Dia hanya menatap pilu wanita dihadapannya. Wanita yang pernah dengan segenap hati dia mengorbarkan seluruh jiwa dan raganya. Wanita yang paling sangat dibencinya karena telah memilih laki-laki lain bukan dirinya. Wanita yang sudah memberikannya satu putra, Willy.
***
Hallo semuanya, Aku, Aleena. Terima kasih banyak sudah selalu membaca novel-ku.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya di novel terbaru-ku yang berjudul "Mr. Arrogant's Baby", ceritanya nggak kalah seru loh...