
Dominique berhenti di stand obral baju murah, tangannya mulai memilih beberapa baju yang cocok dengan gayanya.
Dominique membeli beberapa baju, celana dengan model kasual, saat Dominique sedang memilih ke pakaian dalam, seseorang sepertinya menguntit Dominique, Dominique merasakannya, ketika tangan orang itu tengah merogoh tas Dominique, Dominique berhenti, pria tadi yang melihat memberi isyarat anak buahnya untuk membereskan orang yang menguntit Dominique,
namun tangan Dominique memegang tangan penguntit yang ternyata copet, Dominique memalingkan wajahnya, mencengkram erat tangan pencopet tadi, memintalnya kebelakang dan Dominique melakukan tendangan maut pada pencopet tersebut.
Pria tadi, tersentak, kaget, melihat tingkat Dominique yang menedang dan mengijak-injak tangan pencopet tadi,
"Dasar copet, rasakan, kau pikir aku takut, hah" suara Dominique yang terdengar ngos-ngosan saat melakukan pembelaan diri.
"Ahhh, ampuuuunn" teriak pencopet tadi ketakutan, mengundang beberapa orang, dan dua orang satpam berlari, segera mengamankan situasi dan membawa pencopet tadi ke pos keamana.
Dominique terduduk lemas, memegangi dadanya yang masih berdegup dengan kencan, rasanya mau copot, kakinya lemas tak beraturan.
ternyata aku tidak salah, dia memang wanitaku.
Pria tadi menghampiri Dominique, duduk jongkok di hadapan Dominique dan memberikan Dominique sebotol air untuk menenangkannya.
"Kau tidak apa-apa" Dominique menarik kepalanya kearah suara.
"Ah, Tuan, sedang apa kau disini" Dominique mencoba berdiri, pria tadi membantu Dominique berdiri, yang masih dia rasakan tubuh Dominique bergetar ketakutan.
lucunya, tubuhnya masih bergetar hebat, tapi berlagak kuat.
"Terima kasih" Dominique menghempaskan tangan pria tadi, berbalik ke stand pakaian murah, membayar belanjaan yang sudah dia pilih tadi, lalu pergi meninggalkan pria tadi.
Sial, aku sudah ditolak dua kali.
Ponsel Dominique berdering, ia melihat, Justin menelpon,
"Kau dimana?" suara dari sebrang telpon.
"Aku di pasar malam"
"Jangan pulang dulu, tunggu aku di pinggir jalan pasar malam, 5 menit" telpon pun mati.
haiss, aku hanya ingin tenang, ternyata masih ada dia, aku lupa, aku harus membereskan hatiku, aku sudah berjanji pada Justin, untuk memberikan dia kesempatan.
Dominique baru melangkah, tangannya di tarik,
"Aku antar Nona" Pria tadi yang masih mengikuti Dominique.
ah, dia lagi, tidak bosan apa. Astaga aku baru sadar, dia diikuti banyak bodyguard.
"Maaf Tuan, Terima kasih, aku sudah ada yang jemput"
"Jangan berbohong, kau_" ponsel Dominique berdering, Dominique memperluas ponselnya, "Aku tidak bohong Tuan, maaf saya tinggal dulu" Lagi-lagi Dominique menghempaskan tangan pria tadi.
__ADS_1
Pria tadi yang penasaran, terus mengikuti Dominique, Dominique yang risih, beberapa kali menengok ke belakang,
Motor Justin, tepat di hadapan Dominique, Dominique mempercepat langkahnya, dan segera menaikan motor Justin,
"Antarkan aku ke kontrakan saja" Justin mengangguk dan menjalankan motornya.
Seorang pria, hemm, kau pikir bisa menghalangi, Nona manis kau meremehkan_ku.
Motor Justin berhenti di kontrakan, mobil orang tadi mengikuti motor Justin, karena mobil tidak memiliki akses, pria tadi mengutus seseorang untuk mengikuti motor Justin.
Orang yang diutus tadi, memberikan laporan foto dimana Dominique tinggal.
Justin membuka helmnya, Dominique kaget melihat wajah Justin yang membiru.
"wajahmu?"
"Aku tidak apa-apa, bagaimana kabarmu hari ini" Justin yang terlihat mencemaskan kondisi Dominique.
"emm, aku baik-baik saja, hanya tadi siang ada sedikit insiden di Toko, ada seorang wanita yang berulah__" Dominique malas melanjutkan cerita naasnya tadi siang.
"Ada apa, kau tidak apa-apa, apa ada yang terluka" seolah Justin tahu apa yang terjadi pada Dominique,
"Aku baik-baik saja, hanya tadi aku disiram minuman oleh wanita yang tak dikenal, dan dia memakiku wanita jalang juga memperingati_ku untuk menjauhi seseorang yang aku sendiri tidak faham maksudnya__" Justin semakin yakin setelah mendengar cerita Dominique.
Karena setelah pertengkarannya dengan Papanya, Jack Asistennya memberitahu Justin tentang kondisi kesehatan Mamanya, tidak mungkin Justin akan melakukan hal yang bertentangan dengan hatinya ini__
Justin terdiam sesaat, "Papa dan Mamaku pulang__"
"wah, kamu pasti senang dong bisa bertemu mereka" Dominique yang menjawab antusias.
"Mereka pulang, ingin membawa-ku bersamanya dan__" Justin tampak berat mengucapkannya__
"Dan, dan apa__? "
"Mereka sudah menjodohkanku dengan seseorang, dan pernikahan bisnis ku sudah mereka atur, aku harus aku jalani semua__" ucap Justin terdengar getir.
Dada Dominique bergetar hebat, rasanya sakit, ia menahan getir dan airmatanya yang akan keluar,
dia pun menyadari tidak mungkin baginya untuk mencegah, karena dia sendiri sadar dengan kondisinya, Dominique sudah menjadi istri seseorang.
"Lalu, apa kau akan pergi?" suara Dominique bergetar lirih.
"Jujur aku ingin menolak, namun kondisi kesehatan Mamaku tidak mungkin aku bisa menolaknya,
aku sangat menyayanginya Mama__, disisi lain aku tidak ingin menjadi anak durhaka, namun aku terlalu lemah untuk memperjuangkan cintaku" Justin tertunduk, meluapkan segala kesedihannya, untuk pertama kalinya Dominique melihat Justin menangis,
Dominique melihat orang yang biasanya bersikap ceria, tegar, sekarang terlihat rapuh dan tak berdaya, airmata Dominique pun tak terbendung, ia pun menitikan airmata,
__ADS_1
ia harus berusaha tegar, melepaskan semua cintanya, cinta yang dia impikan yang tak mungkin dia miliki__ dan dia pun sudah berjanji kepada Haiden untuk menyelesaikan perasaannya kepada Justin,
"Aku mengerti, jadilah anak yang berbakti, selagi kamu masih memiliki kesempatan, jangan pernah kecewakan mereka, walaupun terkadang pahit dan bertentangan dengan hatimu, pergilah, aku pun harus belajar ikhlas dan menerima semua,
karena kau juga pun tahu, posisiku saat ini__" suara Dominique bergetar hebat,
"Aku sungguh mencintaimu Domi, Aku__" isak Justin terdengar sambil menggenggam erat kedua tangan Dominique.
"Aku tahu, aku tahu" Dominique memeluk erat, melepaskan kepergian Justin,
"Sudah malam, sebaiknya kau pulang, aku juga mau istirahat dan hari ini sangat lelah" Dominique mengelus punggung Justin, mengusir halus Justin, ia pun tidak Ingin berlama melihat penderitaan orang yang dicintai tersiksa.
"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, besok aku berangkat, aku sungguh berharap kau benar-benar bisa berbahagia Domi__,
semoga suatu hari nanti kita masih bisa bertemu kembali dengan kesempatan yang berbeda" Dominique mengangguk, menahan airmatanya yang terus keluar,
Justin memakai helmnya, setelah melakukan salam perpisahan dengan Dominique, walaupun hati tidak rela,
dia tak bisa menyakiti hati wanita yang telah melahirkan_nya.
Justin memutuskan untuk merelakan cintanya, bukan karena dia lemah, namun ini sebagai tanda baktinya terhadap kedua orangtua.
Dominique membawa masuk belanjaan, menutup pintunya rapat, menyandarkan tubuhnya dibalik pintu, merasakan sesak dalam dadanya yang terus bergejolak, Dominique menangis sekencengnya, meluapkan emosi dan amarahnya,
benar-benar merelakan kepergian Justin, dan tangisnya menyapu bersih semua kenangan indahnya bersama Justin__
πΌπΌπΌ
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena,
baca cerita lainku ya yang berjudul :
β Elegi Cinta Yuki
β Dua Hati
β Silence
β Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terima kasih dan selamat membaca ππ
__ADS_1