MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Digrebek Macan Kelaparan


__ADS_3

“Se-selamat siang, Pak John,” Bu Ririn setengah berlari dari cake shop setelah melihat John menerobos masuk. Dia menatap istrinya dengan tatapan tajam. Menghujam langusng kedasar jantungnya. Membuat kakinya bergetar lemas.


Dia hampir saja limbung jika tangannya tak memegang orang disebelahnya. Namun, kemurkaan terpancar oleh macan yang sedang kelaparan itu. Dia melotot dengan sangat menakutkan. John yang selalu terlihat ramah pada saat kedatangan ke toko, sekarang berubah menjadi seperti gemuruh awan yang menghitam di atas kepalanya.


“Kau masih saja tidak kemari?” tunjuknya pada Sophie. Membuat gadis itu bergetar ketakutan. Dia melangkah perlahan menghampiri sang suami yang sudah terlihat murka.


“Se-selamat siang, Pak John. Apa ada hal urgent sampai anda datang?” Bu Ririn maju kembali. Dia merasa lalai. Karena saat atasannya masuk dia sedang sibuk dengan display barang.


“Kau kembalilah bekerja. Aku sedang ada urusan dengannya,” ucapnya. Bahkan tidak menoleh. Dia terus menatap wajah Sophie yang sudah pucat pasi.


“Sophie? Apa kau membuat masalah?” selidik Bu Ririn.


“Ti-tidak, Bu. Mungkin Pak John datang ingin mengambil pesanan bu Dominique,” byar ucapnya. Dia kebingugan mencari alasan. Tidak mungkin kalau dia bilang kalau suaminya sengaja datang mencarinya.


“Pe-pesanan Bu Dominique? Dia pesan apa, Sophie? Kenapa kamu baru bilang sekarang?” hardiknya. Terbawa emosi. Dia takut terkena imbas disemprot oleh atasannya. John menaikkan satu sudut bibirnya. *P*intar sekali istriku mencari alasanan. Aku tebak, dia pasti menyembunyikan statusnya.


“Ka-kalau begitu kami siapkan dulu, Pak John. Mohon kesediaan anda untuk menunggu,” bu Ririn baru saja akan menarik lengan istrinya. Akan mendiskusikan pesanan atasannya itu.


“Biarkan dia disini. Kau saja yang mempersiapkannya,” tak senang sekali John menatap istrinya yang akan diseret pergi. Dia melayangkan delikannya membuat bu Ririn menciut dan pergi.


“Ikut aku!” dia membalikkan badan. Sophie menatap punggung suaminya.


“Kenapa kau datang sih? Kau kan bilang, akan datang saat menjemputku,” dia yang baru akan berencana menghubungi suaminya setelah selesai makan siang.


“Apa kau lupa dengan ucapanku semalam?” sesaat dia berfikir. Diam saja. Ah, jadi ini maksud dari tidak boleh menolak apapun yang dia inginkan.


“Tapi, kau bilang kan kalau sudah dirumah. Ini kan masih di tempat kerja,” gerutunya.


“Apa kau bilang?”


“Tidak. Tidak. Ayolah, berbaik hati sedikit saja denganku. Aku ini belum makan siang loh dan aku ingin sekali tidur sebentar di loker,” ucapnya. Merembet seperti kembang api.


“Tidur? Di loker?” dia mengerutkan dahi.


“Iya, itu waktu yang berharga tahu. Kita tidur bersama di atas kardus, berjejer seperti ikan bandeng, heheheh,” dia terkekeh sendiri saat bercerita.


“Begitu saja di banggakan. Apa istimewanya. Apa jangan-jangan kalian tidur bersama dengan para lelaki dapur itu?”


“Uhm, iyalah. Kan bergantian, loker kita pun tak terlalu besar. Jadi, dimana ada tempat untuk tidur walau berdesakan kayak ikan teri. Kami pasti memperebutkan tempat itu mati-matian,” dia bercerita seolah sedang memperjuangkan negara secara heroik dari para penjajah bangsa.


“Apa? Kau bilang apa barusan?” Mata suaminya kembali membulat. Dia mencengkram kasar lengan istrinya.


“A-aw, sakit tahu!”

__ADS_1


“Berani sekali lagi kau banggakan hal seperti ini. Aku tidak akan segan membuat mulutmu bisu!


Deg


Apa aku salah bicara? Kenapa macan angkuh ini marah padaku? Benar-benar seperti sedang digerbak macan kelaparan.


“Iya, ya, nggak berani. Maaf. Aku tidak akan mengulangi,” dia segera meminta maaf  daripada urusannya akan berdampak panjang.


Dddrrzztt dddrrzztt


Dia melirik layar ponselnya. Melirik suaminya. Dan dia melepaskan cengkraman lengannya.


“Iya bu,”


“Bu Dominique pesan apa, Sop?” suara bu Ririn yang terdengar kebinggungan. Dia tersenyum.


“Buatkan  cake ukuran kecil saja bu untuk blueberry chesee. Lalu, aku pesan seluruh bread di counter ya. Pembayaran setelah break saja, bu!”


“Oke. Sop, kamu sedang dimana?” Sophie melirik sang suami yang sedang memainkan rambutnya.


“Saya menemani pak John makan siang dulu, bu. Mungkin akan sedikit terlambat kembali ke outlet,”


“Nggak apa-apa, Sop. Yang penting dia senang dan tidak marah seperti tadi. Seperti akan memakan orang hidup-hidup.”


“Hahahah, ibu bisa saja. Ya sudah, bu, saya tutup dulu,”


“Kau sungguh datang seorang diri?”


“Kenapa? Apa kau perlu pengawal?” dia menggeleng.


“Kita makan disini ya,” ucapnya. Menghentikan mobil di sebuah hotel.


“Loh, loh, kok kesini?”


“Habis makan katanya kau mau tidur. Sebaiknya buka satu kamar saja disini. Toh ini hotel tuan Haiden,” dia membukakan pintu untuk sang istri. John menggadeng pinggang istrinya masuk.


“Selamat datang, Tuan John,” beberapa staff  langsung menghampiri dan memberi hormat.


Apa-apaan ini? Dia kan Cuma bawahan. Mengapa bisa diperlakukan sama seperti suami Dominique.


“Aku mau buka satu kamar. Tolong siapkan beberapa hidangan dan antarkan,” dia langsung menerima satu kunci saat tangannya menengadah. Dibimbing menuju salah satu lif.


“Apa ada request untuk hidangannya, Tuan?”

__ADS_1


“Berikan yang paling terbaik disini. Jangan lama-lama,” pesannya sebelum pintu lift tertutup.


Brakk


“Uugghh,” Sophie tersentak saat pintu tertutup. Tubuhnya langsung dihimpit ditembok. John menyerangnya buas dibibirnya.


“Ah!”


“Kau gila,” saat John melepaskan pagutannya. Sang istri yang masih syok mendorong tubuhnya dengan kasar.


“Maaf, sayang, aku sudah tidak tahan dari semalam. Kau sungguh tega tidak memberiku jatah,” dia berjalan kearah ranjang dan memberi isyarat dengan tangan menepuk-nepuk ranjangnya.


“Aku kelaparan, tidak mau!” Sophie menolak, dia malah duduk di salah satu sofa. Terdengar bel di pintu. John menekan tombol, tak lama beberapa pelayan masuk membawa kereta dorong makan.


“Terima kasih, kalian boleh keluar,” setelah menatanya di meja dan John memberikan satu gepok uang pada pelayan tadi.


“Pergilah dan bagi rata dengan teman-teman kalian,” ucapnya. Membuat para pelayan terperangah. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan tips yang begitu besar. Apalagi, sang pemilik hotel yang memberikannya.


“Cih, kau sedang pamer padaku,” cibir sang istri.


“Apa sih sayang? Memang kartu yang kuberikan padamu masih kurang?” dia menarik hidung sang istri karena gemas.


“Sakit tahu!”


“Habis aku gemas banget. Makan cepat, habis itu temani aku bermain sebentar, sebelum aku kembali ke kantor,” ucapnya langsung bergelayut manja di pundak istrinya.


“Ah aku nggak mau. Habis makan perutku pasti penuh,” dia yang menghempaskan pelan tubuh suaminya.


“Aku tidak akan lama sayang,”


“Tidak mau.”


“Sayang, kau sungguh tega? Aku tidak akan lama, sungguh.” Sang istri tidak mendengarkan kemauan sang suami. Dia memulai memakai hidangan yang disajikan.


“Wuah, kenyang sekali. Sayang, tolong panggil pelayan untuk bungkus saja.” Ucapnya


Brukk


Kembali sang suami menindih tubuhnya. Bergerak membuka sangkar yang sudah tak bisa dia tahan lagi. Dan tangannya dengan sangat cepat membuka milik sang istri, “Aku tidak akan lama, sayang,” ucapnya. Sudah bergerak memaksa masuk membuat sang istri sedikit menjerit dan mencengkram ujung sofa.


“Sa-sa-kit tahu, pelan sedi-kit,” dia mengigit bibirnya. Menahan sedikit demi sedikit semua serangan yang sedang dilakukan oleh suaminya. Pinggangnya sudah bergerak naik dan turun. Dengan ritme pelan hingga dia mempercepat saat dia merasakan sudah tak bisa lagi menahannya.


Cuuppp

__ADS_1


“Maaf, aku sedkit kasar. Aku harus segera kembali ke kantor. Kau bisa beristirahat dulu disini,” kecupan dikening sang istri sebagai permintan maafnya.


“Tidak mau. Aku balik outlet saja,” dia bergegas mengikuti sang suami yang sudah bersiap akan pergi.


__ADS_2