
Haiden yang tidak sabar, langsung menghampiri mereka,
"Kau tuli, Domi" Mata Haiden mendelik tajam kepada Dominique.
"Bu_bukan begitu iden__" Mata Haiden tambah membulat lebar.
"Dia mau makan siang dengan_ku, sebaiknya kau pergi" Justin yang langsung mengusir Haiden.
"Apa hak_mu, dia__"
"Dia pacar_ku" Justin yang langsung memotong ucapan Haiden secara terang-terangan, dia tidak mau kalah lagi oleh Haiden.
"Kau__" Haiden tambah bertanduk dua.
"Kau, yang mencurinya dariku, jadi jangan salahkan aku, dia seharusnya bersamaku" Justin yang tegas menjawab, menantang emosi Haiden yang seperti ingin membunuh orang.
"Stop!" Dominique yang sudah berada ditengah-tengah mereka, "Aku lapar, kalau kalian masih mau bertengkar jangan libatkan aku" Dominique yang mulai kesal dengan tingkah kedua lelaki dihadapannya.
Justin melepaskan perlahan gengaman tangannya, Dominique segera pergi dari hadapan mereka mengikuti intruksi perutnya yang sudah tidak tertahan.
*Andai aku bisa melarikan diri dari mereka, aku lelah. Batin Dominique berteriak.
Dominique* memasuki salah satu tenda ayam geprek.
"Bang, satu, level 10 ya" Dominique yang memesan level super pedas dan duduk di salah satu meja, yang diikuti Haiden dan Justin.
"Domi" Justin yang mencoba bicara, "jangan ganggu, aku lapar" Dominique menjawab ketus, dan di seringai puas oleh Haiden.
Haiden dan Justin pun ikut memesan, tapi mereka tak berani pedas.
"Kau jangan terus makan makanan seperti ini" gerutu Haiden.
Dominique tidak memperdulikan keduanya, hanya fokus dengan makanan dan pedas sambalnya.
Setelah selesai makan,
"Kau jangan menghukum_ku, aku tidak bersalah ya" Ucap Dominique yang merasa terancam dengan tatapan Haiden.
"Kalau kau dihukum, pintu apartement_ku selalu terbuka" saut Justin.
"Dasar pria brengsek, tidak tahu malu" Haiden tidak mau kalah.
Kepala Dominique terasa mau pecah mendengar pertengkaran mereka yang seperti anak kecil.
"Please, Justin, jangan ribut lagi, aku lelah mendengarkan nya"
"Aku tidak ribut, aku cuma mau kau" jawab Justin.
"Dia milikku"
Dominique menggebrak meja, berdiri dan membayar pesanan tiga orang lalu meninggalkan mereka.
Haiden dan Justin segera mengekori.
Dominique membuka pintu mobil Haiden dan menarik Haiden masuk kedalam mobil.
Dominique menarik wajah Haiden, dan menciumnya dengan mesra,
"Aku kembali kerja, kau pulang ya, jangan ribut lagi, aku sayang kamu" Dominique melepaskan ciumannya, membuat Haiden yang tidak percaya, bengong seperti sapi ompong, sampai terdengar suara dehaman dari John membuat Haiden tersadar dan Dominique sudah tidak ada lagi dihadapannya.
__ADS_1
"John"
"Ya, Tuan"
"Kembali ke apartement, lalu setelah itu kau kembali ke kantor" perintah Haiden.
"Baik Tuan" John pun melajukan mobilnya mengikuti intruksi perintah Tuannya.
. . . .
Dominique bergegas menyelesaikan hitungannya, dia tidak ingin berlama dengan Justin dan menambah masalah. Karena buatnya, bagaimanapun Haiden adalah suami_nya.
Dominique menghampiri pintu, "Aku sudah selesai, tolong buka pintunya" ucap Dominique.
Justin menghampiri pintu, dan menarik tubuh Dominique ke sudut tembok,
"Kau mau apa? Aku bilang buka pintunya" Wajah Dominique terlihat panik melihat gelagat Justin yang berapi-api menatapnya.
"Berikan aku satu ciuman, baru kau bisa keluar" desak Justin membuat Dominique merasa dilecehkan.
"Kau gila, aku teriak nih" Dominique yang mencoba menggertak.
"Teriak saja, malah lebih bagus, biar tambah seru" tantang Justin.
"Kau jangan seperti ini, aku mohon Just__" Justin yang tidak sabar langsung mencengkram pinggang Dominique, dan mencium Dominique dengan paksa, Dominique berusaha melepaskan ciuman Justin dengan memukuli bahunya, namun tetap saja Dominique kalah dengan ambisi besar ciuman Justin hingga akhirnya Dominique pasrah menerima ciuman dari Justin. Ciuman kasar Justin berubah menjadi lembut ketika Dominique memasrahkan dirinya, tanpa Dominique sadari dia terbuai oleh ciuman Justin.
Justin tersenyum melepaskan ciumannya, dan langsung memeluk Dominique. Justin tahu dari ciumannya tadi menjawab semua pertanyaan dihatinya. Justin mengecup kening Dominique yang pasrah menerima semua perlakuan manisnya.
"Aku sayang padamu, Domi" satu kecupan terakhir mendarat di kening Dominique, dan Justin membukakan pintu untuk Dominique.
Ya__ampun Domi, kau gila, apa yang baru saja kau lakukan, kenapa kau begitu bodoh. Kau menggali lubang_mu sendiri.
Dominique langsung ke loker,
"Aku antar pulang" Justin yang sudah berdiri di hadapan Dominique setelah menyerahkan Form cookies tadi.
"Terima kasih, aku sudah pesan ojek online"
"Batalkan"
"Tidak bisa, ojek online nya sudah menunggu" Dominique melewati tubuh Justin.
Justin tetap mengekori Dominique, saat Dominique akan menaiki ojek online, tangannya ditarik Justin, "Pak ini ongkosnya, bapak selesaikan saja perjalanannya" Justin yang memberikan selembar uang ratusan, dan diterima driver ojek online dengan senang hati.
"Ayo, pulang" Justin menarik tangan Dominique menghampiri motor Justin.
Ternyata Justin sama gilanya dengan Haiden, argghhh. pekik Dominique kesal.
Aku akan pastikan kau bercerai dengan suami_mu Dominique, tunggu saja. Justin.
"Aku antar ke mana?" tanya Justin saat diperjalanan, yang Dominique terpaksa naik daripada berlarut malam di toko.
Dominique menyebutkan apartement tempat tinggal Haiden, yang bahkan Justin tidak menyangka ternyata mereka tinggal di tempat yang sama, hanya beda lantai.
Bel pintu apartement Haiden ditekan, Haiden bergegas membuka pintu, tangannya langsung dilipat didepan dada ketika melihat Justin berada dibelakang Dominique.
"Oh, kau punya bodyguard baru sayang" Haiden yang sengaja langsung merangkul Dominique dan mencium kening Dominique.
"Aku pulang dulu Domi, besok aku jemput" seringai Justin memanasi Haiden.
__ADS_1
Apalagi sih Justin ini, aku sudah seperti buah simalakama. Begini salah, begitu juga salah, hah!!
Dominique tidak menjawab, segera masuk, dan menutup pintu.
Dominique bergegas masuk kamar mandi, berbersih diri,
"Mau makan dimeja atau aku bawakan ke kamar sayang" Haiden yang memeluk Dominique dari belakang saat keluar dari kamar mandi.
"Di meja saja"
"Baiklah, aku tunggu" Haiden melepaskan pelukannya, menunggu Dominique dimeja makan.
Haiden menatap terus Dominique tanpa berkedip saat makan,
"Kau tidak makan" Dominique melihat Haiden yang terus menatapnya.
"Aku akan makan setelah kau kenyang" saut Haiden.
ah, lupa, kenapa aku bertanya, Domi, Domi.
"Aku lelah iden, bisakah?"
Haiden langsung menggelengkan kepalanya.
Dominique melanjutkan makan malamnya, sebelum dia di makan lahap oleh Haiden.
. . . .
Pagi hari,
Dominique terbangun dalam pelukan Haiden, sesekali Dominique memandangi wajah Haiden yang masih tertidur, menyentuh mata, hidung dan bibir Haiden__
"Sudah puas" Haiden yang membuka matanya, Dominique yang kepergok jadi salah tingkah sendiri.
"Aku mau mandi" Dominique memalingkan wajahnya, Haiden menarik Dominique ke dalam pelukannya, "kalau belum puas, kau ku izinkan untuk terus memandanginya" Haiden yang membuat Dominique semakin salah tingkah.
"Apa sih" Dominique yang malu-malu.
"Kenapa malu, ingat aku ini suami_mu, aku milikmu" tatapan tajam Haiden menusuk hati Dominique.
ahhh, gila, aku sudah gila, kenapa bisa ketahuan dia. Dasar Domi bodoh!!!!!
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena,
baca cerita lainku ya yang berjudul :
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Dua Hati
✔ Silence
✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏