MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Lembaran Baru


__ADS_3

“Kau jangan gila, Dominique! Apa kami berdua masih belum cukup untukmu?” dengus Will. Kesal sang istri kesayangan melirik laki-laki lain.


“Habis kalian juga sih. Aku kelaparan masih dilarang makan. Mungkin ucapan grandma barusan aku akan memikirkan—“


“Tidak. Aku makan, makan. Mana yang harus aku makan?” Haiden meraih ayam siap saji yang akan masuk kemulutnya. Yes berhasil. Dia tersenyum ketika berhasil mengelabui kedua suaminya.


“Aku akan membersihkan diri, apa kalian mau membantu?” dia melirik para suami setelah mereka selesai makan.


“Biarkan aku yang membantu, oke?”Will maju lebih dulu. Dia merasa sang istri masih memiliki satu hutang dengannya.


“Stop!” Dia baru akan melihat satu suaminya akan membuka suara.


“Mulai hari ini aku tidak mau kalian bertengkar. Kalau kalian masih bertengkar aku akan ikut grandma dan mengikuti semua yang grandma inginkan,” ancamnya.


Sudah berani dia mengancamku. Haiden mendengus kesal.


Rupanya ada kemajuan istriku ini. Dia mulai menggunakan kekuasaannya.  Will tersenyum melihat tingkah lucu sang istri saat mengancam.


“Dom, kami mau ganti baju, kau mau ikut tidak?” Sophie yang sudah berjalan beriringan dengan Diana.


“Ah, ikut. Aku ikut kalian saja,” dia meninggalkan para suaminya yang melonggo. Kesal. Kesempatan mereka didepan mata menghilang.


Dia mempersiapkan diri secantik mungkin untuk menemui sang calon anaknya. Merias wajah agar tak terlihat pucat dan bersedih.


Semangat, Dom. Kau pasti bisa melakukannya.


Dia menyemangati diri sendiri. Berjalan perlahan memasuki kamar rawat Terry yang sudah dipindahkan.


Ceklek


Dia meminta semua orang untuk menunggunya diluar. Dia ingin memiliki waktu khusus dengan anak itu. Dia pun sudah mempersiapkan hatinya dengan tegar. Apabila sang anak menyalahkan dirinya, dia akan menerima semua dengan lapang dada. Perawat sedang membenarkan posisinya untuk bisa bersandar dengan nyaman di bangsalnya.


"Terima kasih banyak, Sus," saat perawat tadi memberikan senyumanmu padanya.


"Aunty, kemarilah," ucapnya. Tersenyum dan menyambut kedatangan Dominique dengan uluran tangannya.


Dominique berjalan perlahan. Langkah kakinya masih terasa sedikit berat. Namun, dia tak ingin menghindari apapun. Setulus hati dia mencoba menarik senyumnya.


“Sit right here, aunty,” tangan kecilnya memukul pelan ruang kosong disampingnya.


“Hai, Terry, apa masih terasa sakit?” dia bertanya sedikit ragu. Dadanya terus berdebar sambil menatap binar wajah anak itu.

__ADS_1


“No, aunty. Sekarang sudah tidak sakit lagi. Terima kasih banyak,


“Uhm, oke,” dia kesulitan berbicara dengan anak tersebut. Dia merasa bukan moment yang tepat jika mengungkit masalah kepergian sang ibu.


“Mom bilang, kalau aku sembuh berarti papa Gyan dan Aunty sudah memaafkan semua perbuatan mommy pada aunty,” lanjut sang anak bercerita. Membuat gemuruh dihati Dominique naik turun berdebar dengan cepat dan terasa panas. Dominique menarik wajah canggungnya. Menatap sang anak yang terus memegangi tangannya dengan jari mungilnya.


“Memangnya Mommy—mu cerita apa sayang?” dia mencoba memberanikan diri. Membuka obrolan yang mungkin akan membuatnya patah hati.


“Mom bilang, dia sangat menyesal dan ingin sekali say sorry dengan Aunty,” anak itu berbicara dengan polos khas anak-anak.


“Oya?”


“Really, Aunty. My Mom sad everyday. Mom bilang, apapun yang akan terjadi nanti asalkan Aunty memaafkan mommy, dia akan melakukan apa saja,” tambahnya lagi.


Kepolosan sang anak membuatnya meniktikan air mata, “Don’t be sad, Aunty. Aku sungguh tidak apa-apa,” ucapnya sambil mengusap air mata Dominique yang mengalir.


“Maafkan, Aunty sayang karena Aunty tidak bisa menjaga mommy-mu dengan baik. Aunty sungguh meminta maaf sayang,”


“Tidak apa-apa, Aunty. Mommy tadi sempat datang kemimpiku, mommy bilang, mulai sekarang aku harus menurut apapun perkataan Aunty,” dia memekik. Menahan tangisnya yang terus mengalir. Anak sepolos Terry bahkan bisa memaafkan. Dia kembali merasa bersalah karena tidak sempat memberikannya kesempatan. Rasa egoisnya, membuatnya jahat dan mengusir Rebecca.


“Iya, sayang, mulai sekarang kamu bisa menganggap Aunty sebagai pengganti mommy-mu? Oke?” memeluknya dengan sangat erat. Dia sudah mengubur semua perlakuan buruknya. Dan memulai sebuah lembaran baru.


Ceklek


Hurf


Syukurlah. Aku bisa lega sekarang.


“Apa kau sudah siap pulang hari ini, Terry?” suara khas sang suami memecah suasana haru mereka.


“Papa Gyan? Papa juga ada disini?” dia tersenyum saat Haiden menghampirinya dan duduk disamping sang istri.


“Uhm? Kita akan pergi ke taman ria setelah kau benar-benar sembuh. Oke?”


“Wow, really? Aku sungguh menantikannya, Pah. Jangan ingkar janji, uhm?” dia mengulurkan jari kelingking untuk berkait janji.


“Apapun, asalkan kau segera pulih,” Haiden tersenyum dan mengacak rambut sang putra. Dia mencoba membuka hati dan menerima kehadiran Terry dalam hidupnya.


“Ehem,” sang ayah mertua berdehem. Dia seperti tak mau kalah dengan sang putranya.


“Kau tidak merindukanku, Boy?”

__ADS_1


“Grandpa? Wow ada Grandma juga, aku senang semua ada disini,” melebarkan kedua tangannya perlahan. Meminta pelukan dari sang kakek dan neneknya.


“Maukah malam ini kau menemaniku?” Mantan tunangan langsung menarik tangannya dan berbisik di telinga. Kedua mata sang suami membulat lebar. Menaikan rahang mereka dengan sangat kasar. Menatap geram dengan sikap seenaknya Richard.


“Lepaskan! Apa matamu buta, dia itu sudah bersuami,” geram Haiden.


“Ck, ck, ck, jangan terlalu emosi bro. Dia ini, kau tahulah sendiri harusnya milik siapa?” Richard melayangkan pandangannya. Membalas kasar tatapan kedua suami Dominique.


“Chard,” dia mencubit pinggang sang mantan tunangan.


“Uhm,”


“Jangan buat ulah,”


“Aku kangen sayang, tak bisakah mereka mengalah sedikit saja untukku. Mereka sudah setiap hari bersamamu. Aku hanya meminta kau menemaniku malam ini. Besok aku sudah harus kembali,” tak menerima ucapan sang  mantan tunangan.


“Temani dia malam ini, Dominique. Grandma dan Dhyson akan ada di hotel yang sama kok,” bela sang nenek.


“Kenapa harus ke hotel sih? Pulang ke rumah saja, Grandma,” sang cucu terlihat tak setuju dengan pilihan sang nenek untuk tinggal di hotel.


“Lain kali sayang. Grandma pun akan kembali besok, bersama dengannya,” menepuk pundak sang mantan tunangan yang selalu didukungnya.


“Cepat sekali sih, aku kan masih rindu,”


“Pulanglah ke rumah. Grandma selalu akan menunggu kedatanganmu,”


“No, no. Kita tidak sedang bahas ini ya. Ujung-ujungnya aku disuruh pulang juga,”


“Hahaha, ayo kita pergi,” dia sudah menarik lengan sang cucu.


“Grandmaa, ah, kau sungguh tak mengerti!” Kedua suami melangkah cepat. Memegangi kedua lengan tangan sang nenel. Mereka kembali kompak bersuara.


“Ck, ck, ck. Sungguh luar biasa suami-mu ini, Dominique. Mereka bahkan tak bisa memberikanmu sedikit nafas,” sindirnya.


“Sayang, malam ini aja ya, aku mohon. Oke? Kau tahu kan?” dia mengelus perutnya sambil tersenyum.


“Tidak!” tetap dengan satu suara mereka menolak. Sang nenek hanya bisa bergeleng kepala. Begitupun dengan sang mertua yang tak habis fikir melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil jika dihadapkan dengan seorang Dominique.


Hurf


“Sepertinya kau tidak seberuntung itu, Chard!” lirik sang nenek.

__ADS_1


__ADS_2