MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Ceraikan Aku


__ADS_3

Satu jam berlalu,


Marissa yang gelisah menanti hanya mondar mandir di ruangan. Haiden terus berdiri menatap Marissa tanpa berkedip, sedangkan Willy tampak sibuk di meja makan menyiapkan makan siang untuk Marissa.


"Sayang" ucap Willy yang membuyarkan lamunan Marissa, memeluknya dari belakang.


Marissa menoleh, "Makan dulu ya, kau belum makan siang kan..." ucap Willy menarik pinggang Marissa ke meja makan.


Haiden mengikuti, "Kita makan siang bersama Tuan Aramgyan" ucap Willy tetap berusaha sopan dan Willy menarik kursi untuk duduk Marissa.


Haiden yang tidak ingin berjauhan dengan Marissa duduk di sebelahnya, sambil terus menatap Marissa.


"Kau makan yang mana dulu sayang, aku ambilkan" ucap Willy yang memang selalu bersikap lembut saat berbicara dengan Marissa.


Marissa memegangi sendok dan garpunya matanya tertuju pada makanan di meja,


"Aku mau itu" Marissa yang menunjuk salah buah, Willy mengangkat piring Marissa dan menaruhnya di piring Marissa.


Marissa makan dengan lahap tanpa memperdulikan kedua laki-laki di hadapannya yang menatap Marissa dengan kelaparan.


"Kalian tidak makan" Marissa melirik keduanya.


"Aku akan memakan mu kalau kau sudah kenyang" ucap kedua laki-laki tadi serempak tanpa mereka sadari, memang selalu jadi kebiasaan mereka.


Uhuk. Uhuk.


Marissa terbatuk dan segera meminum air. Willy dan Haiden langsung memalingkan wajah mereka.


Tak lama Haiden melirik John sudah datang bersama dengan seseorang. Haiden segera berdiri dan menghampiri Willy. Marissa yang penasaran segera meletakan garpunya, ia berdiri dan mengikuti Haiden.


Willy mengikutinya dari belakang.


"Tuan" sapa John menyerahkan satu kotak kepada Haiden.


Marissa menatap lekat kotak yang diberikan John pada Haiden, hingga seseorang memanggilnya...


"Dominique... sungguh kah kau Dominique... " suara tadi mengalihkan pandangan Marissa dan menatapnya.

__ADS_1


Marissa menatap lekat orang tadi, sejenak Marissa terdiam bayangan dejavu di kepalanya mulai bermunculan, Marissa memegangi kepalanya, dia hampir terhuyung untung Willy memegangi nya.


Haiden seperti sedang menantikan sesuatu terjadi dengan kehadiran orang tersebut.


"Apa kau juga melupakannya?" ucap Haiden yang penasaran dengan ingatan Marissa.


"Will... kepalaku sakit sekali" ucap Marissa, Willy segera memapah nya duduk, Haiden pun duduk di sebelah Marissa.


"Carlos" teriak Willy, Carlos segera menghampiri dan memeriksa kondisi Marissa.


"Dia tidak apa-apa, kau tenanglah" ucap Carlos.


Marissa menarik nafasnya dalam-dalam melirik lagi kearah orang yang di bawa John tadi.


"Domi... kau sungguh tak mengenal ku, apa kau benar-benar melupakan aku?" orang tadi berusaha menghampiri Marissa.


Willy terus memperhatikan semua dengan tenang, tak ada rasa sedikit pun terancam.


"Domi... lihatlah" orang tadi menunjukkan lagi ponsel miliknya dan menunjukkan beberapa foto pada Marissa. Di dalam ponsel tadi Marissa melihat dirinya dan orang tadi sedang berfoto bersama, beberapa moment di tampilkan dalam foto tersebut.


Orang tadi menatap Marissa penuh harap, namun Marissa tetap menggelengkan kepala, Haiden memberi isyarat mundur kepada orang tadi.


Marissa menatap sesaat kotak tadi, "Bukalah" ucap Haiden lagi, Willy dan Haiden terus menatap reaksi yang keluar dari wajah Marissa.


Marissa membuka perlahan kotaknya, dia melihat buku nikah, Marissa membukanya dan ia melihat isi di dalam buku nikah tersebut terpampang wajahnya dan Haiden. Marissa langsung melemparkan buku nikah tadi.


"Kau sudah percaya kan... aku sungguh tidak berbohong" Haiden mencoba menyentuh tangan Marissa namun Marissa menghempaskan tangannya dan berdiri,


"Ceraikan aku!!" ucap Marissa.


JGERR.


Haiden bagai tersambar petir di siang bolong, "Apa kau bilang, apa aku tidak salah dengar" ucap Haiden tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Marissa.


Willy hanya tersenyum penuh kemenangan menyaksikan penolakan yang di lontarkan oleh Marissa.


"Domi, sadarlah, Aku Haiden suamimu, kau tak bisa mengingkari nya" Haiden mencengkram kasar kedua lengan Marissa.

__ADS_1


"Aw... sakit" ucap Marissa meringis karena lukanya tertekan oleh Haiden, Willy bangkit dan menatap marah atas perlakuan kasar Haiden.


"Hei, lepaskan dian Aramgyan, menyerahlah dan segera kabulkan permintaan Marissa barusan" ucap Willy kesal dan menghempaskan tangan Haiden yang mencengkram tangan kanan Marissa yang terluka.


Haiden tersadar, ia masih saja lupa untuk tidak bersikap kasar terhadap Marissa.


Ah, sial aku masih terpancing emosi. Haiden.


"Aku tidak akan menyerah, dia istriku dan kau hanya suami palsunya saja selama ini" hardik Haiden membulatkan matanya dengan kasar.


"Palsu, hah... kau jangan menuduh sembarangan, dia ini istriku, istri sahku dan namanya Marissa, kau paham" ucap Willy tak mahu kalah adu mulut dengan Haiden.


"Kau jangan gila Bunarco, kau kan sudah lihat barusan, aku sudah punya buku nikah nya" sahut Haiden yang tetap kukuh dengan pendapatnya.


"Hahahaha, aku gila katamu, benarkah. Ramon ambilkan barangnya" perintah Willy.


Ramon menghilang sesaat dan membawa satu amplop coklat,


"Lihat dengan jelas sendiri" Willy melemparkan amplop coklat tadi ke meja, John mengambilkan dan memberikannya kepada Haiden.


Haiden membuka amplop coklat tadi, ia melihat buku nikah yang sama, dengan foto Marissa di dalamnya, identitas Marissa dan juga laporan DNA Marissa yang semuanya cocok dan akurat. Willy tidak berbohong bahawa wanita yang di hadapannya benar-benar Marissa bukan Dominique yang sedang dia ributkan.


"Hah, trik licik apa yang sedang kau mainkan" Haiden melemparkan amplop tadi dan Marissa mengambil lalu melihat isinya.


Marissa terkejut dengan apa yang dia lihat, dia melihat menurut data yang tercatat dirinya adalah Marissa bukan Dominique.


"Kalau kau masih saja tidak percaya, lakukan test untuk membuktikan, aku tidak keberatan" ucap Willy santai dengan ucapannya.


"Tidak, aku tidak mau test. Aku bukan barang yang harus untuk membuktikan sesuatu" ucap Marissa tegas menolak usulan Willy.


Willy menatap wajah Marissa, "Sayang biarkan dia menjalankan test, kalau dia sudah yakin kau bukan Dominique, kau bisa bebas dan kita bisa segera pulang... " ucap Willy menyakinkan Marissa.


Haiden menatap bimbang, andaikan dia jalankan test dan ternyata hasilnya benar wanita yang di hadapannya bukanlah Dominique istrinya, dia akan langsung kehilangan Dominique selamanya, lalu kalau pun hasilnya menunjukkan dia adalah istrinya posisinya sekarang sangat lah sulit mendekati Dominique tanpa perantara Willy.


Sial. Bunarco sialan... apa yang telah dia lakukan untuk memanipulasi data ini. Aku sendiri bahkan tak bisa membedakan dia adalah Dominique atau bukan.


"Bagaimana masih mau kau lanjutkan?" tantang Willy, Marissa menanti keputusan dengan cemas.

__ADS_1


"Kau gila Bunarco, apa yang telah kau lakukan pada istriku" ucap Haiden geram menatap marah kepada Willy.


"Sudah aku bilang, aku tidak melakukan apapun, dia, wanita di hadapanmu adalah Marissa. Namanya Marissa" ucap Willy tegas sambil melingkar kan tangannya di pinggang Marissa.


__ADS_2