
"Sudah sayang jangan bahas lagi, lebih baik sekarang kita diskusikan rencana kita yang tertunda" Haiden mengelus perut Dominique.
"Rencana apa, aku sedang tidak mood, jadi kau jangan ganggu aku malam ini, aku mau tidur sen-... " Haiden langsung menyerang bibir Dominique dengan lembut, Dominique berontak namun semakin Dominique bergerak, semakin membuat Haiden membara.
"Ayo ... sayang, aku sudah tidak tahan" Haiden yang melepaskan ciumannya, merebankan tubuh Dominique perlahan di tempat tidur dan mulai melakukan olahraga malamnya yang bergelora.
Haiden memeluk tubuh Dominique, "Istirahatlah sebentar, satu jam lagi kita mulai pemanasan lagi ya," bisik Haiden mersa di telinga Dominique.
"Idenn, bisakah"
"No, istirahat sayang, kalau tidak aku akan mulai memakanmu lagi" mengusap rambut Dominique penuh kasih sayang.
Haiden benar-benar tak melewatkan kesempatan untuk bercengkrama dengan Dominique, malam ini dia makan Dominique tiga kali, Dominique benar-benar kewalahan menerima semua serangan dari Haiden. Dominique benar-benar kelelahan sampai dia tertidur pulas oleh Haiden.
.
.
.
Pagi hari,
Deringan ponsel dari tas Dominique membuatnya terbangun. Dominique membuka mata perlahan, "Akh, badan dan pinggangku sakit semua, dia benar-benar seperti serigala lapar kalau sudah di ranjang" umpat Dominique menggapai tasnya di lantai. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Dominique segera mengangkatnya sambil celingak celinguk mencari keberadaan Haiden, "Halo ada apa?" suara Dominique berbisik.
"Aku kangen, kau tidak kangen aku" suara Willy dari sebrang sana, membuat Dominique kalang kabut di buatnya.
"Will, please... jaga bicaramu, jangan bicara sembarangan kalau orang tidak tahu akan salah faham" Dominique menegaskan.
"Apanya yang bicara sembarangan, aku memang kangen kamu kok" bicara tanpa memperdulikan Dominique yang suaranya sudah kebakaran jenggot.
"Dominique, sayang... kamu sudah bangun" teriak Haiden dari dapur.
"Ada yang ingin aku bicara tapi tidak sekarang, " Dominique menutup telpon, melemparkannya ke ranjang dan segera berlari ke kamar mandi.
Setengah jam dia keluar kamar mandi, ia melihat Haiden yang sedang merapikan diri di depan kaca.
"Kau sudah mulai bekerja" tanya Dominique, Haiden menoleh, "Kenapa? Kau tidak rela aku berangkat bekerja" tangannya mengambil dasi dan memberikannya pada Dominique.
"Ti-tidak, aku hanya bertanya saja" mulai memasang dasi di leher Haiden, kedua tangan Haiden bergelayutan di pinggang Dominique.
"Jadi apa rencanamu hari ini?" ucap Haiden sambil mengusap punggung Dominique.
__ADS_1
"Entahlah, masih belum di rencanakan" menarik ikatan terakhir dasi dan merapikan nya.
"Bagaimana kalau kau ikut denganku ke kantor" sambil mengenakan jasnya, Dominique meraih satu dress dan memakainya.
"Lain kali saja, aku sepertinya baru terpikir akan ke tempat Sophie, aku mau minta maaf soal kemarin" Haiden menatap Dominique curiga.
"Eh... maksudnya aku mau main ke toko ketemu Sophie, lagipula aku sudah lama tidak kesana setelah kau memutuskan secara sepihak pemberhentian kerjaku" sahut Dominique ketus.
"Sungguh"
"Iya" berjalan keluar kamar menghampiri meja makan.
"Kau tidak berpikiran mengkhianati ku lagi kan," masih tidak mempercayai Dominique. Dominique mengacuhkan, dia duduk dan mulai memakan sarapan buatan Haiden, mata Dominique berkeliling, suasana sepi.
Ah, kemana wanita biang kerok itu, mungkinkah dia sudah pergi. Batin Dominique.
"Aku menyuruh John membawanya ke hotel" pertanyaan hati Dominique langsung terjawab.
"Oh, baguslah" sahut Dominique.
"Kau dengan Bunarco bagaimana kau bisa mengenalnya" akhirnya interogasi langsung terucap dari Haiden.
"Aku, dengan siapa tadi"
"Siapa?" Dominique mengingat ingat, "Oh, maksudnya Will?"
"Apa, Will katamu, bahkan kau sudah punya panggilan mesra terhadapnya"
"Bukan seperti itu, kami tak sengaja bertemu dan aku hanya menganggap-nya sebagai teman"
"Hei, kau jangan membodohiku, kau pikir mataku buta tidak bisa melihat keakraban kalian“ Dominique diam tak menjawab.
" Ambil tasmu, lebih kau ikut denganku ke kantor " perintah Haiden. Dominique menggeleng.
"Kau mulai membantah" bangkit dari kursi dan mencengkram dagu Dominique dengan kasar.
"Aw," menghampaskan tangan Haiden, "Aku bilang aku mau ketemu Sophie, Iden. Aku ingin mentraktir anak-anak makan. Bisakah kau mempercayaiku sedikit saja... " gerutu Dominique.
"Baiklah, tapi... " Haiden menunjuk bibirnya kepada Dominique.
Cih, dasar serigala yang tidak pernah puas. Dominique.
"Kau memang tidak pernah puas" Dominique bangkit dari duduknya, berjinjit, menggalungkan kedua tangannya di leher Haiden, memberikan kecupan yang Haiden inginkan.
__ADS_1
"Sudah ya, kau antar aku ya" Dominique yang bergelayutan manja di lengan Haiden. Haiden tersenyum bahagia, pertama kalinya dia melihat tingkah manja Dominique.
.
.
.
"Sayang, sekali lagi" Haiden yang meminta kecupan di bibir sebelum Dominique benar-benar turun dari mobil.
"Sudah, cukup Iden, aku sudah kepanasan di mobilmu yang ber-AC nih, semua karena ulahmu" Dominique sedang merapikan bajunya.
"Apa masalahnya, kau istriku, kau hakku, memang siapa yang berani melarangku" sewot Haiden ketika Dominique tidak menuruti keinginannya.
"Iya, ya... Ayo buka pintunya, aku mau keluar" Haiden menurut, membuka pintu dan menarik tangan Dominique keluar perlahan.
"Hubungi aku kalau kau perlu apa-apa, aku sudah mentransfer uang ke rekening-mu, selamat bersenang-senang" Haiden mengecup tangan Dominique , Dominique manggut-manggut, "Mau di jemput jam berapa nanti?" ucap Haiden.
"Aku pulang pakai ojek aja ya, kau tidak udah jemput" pinta Dominique.
"Jangan buat yang aneh-aneh ya" pesan Haiden dan mobil pun menghilang dari pandangan mata Dominique.
Willy yang mengikuti dari kejauhan hanya memandang dengan perasaan geram.
"Apa kita ke dalam Tuan" tanya Ramon yang melihat Dominique berjalan masuk ke dalam ruko bekas tempat bekerjanya, namun Willy melihat tangan Dominique di tarik seseorang.
"Kau sedang apa di sini?" ucap Dominique yang terkejut Rebecca sudah berada di hadapannya.
"Kita harus bicara" ucap Rebecca serius.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan, aku sudah tahu semuanya" sahut Dominique ketus tidak bersahabat.
"Semua, benarkah? Hah... Gyan benar-benar sudah menceritakan semua-nya, menceritakan padamu kalau Terry adalah anaknya... " ucap Rebecca menyilangkan kedua tangannya.
JEGERR!! Dominique tersentak, tubuhnya bergetar hebat, dadanya menyempit seakan dia kehabisan udara.
"Tidak, Iden bilang, Terry bukan anaknya, kau pasti sengaja mengada-ada, atau kau sedang membuatku cemburu" bibir Dominique bergetar, pikiran dan hatinya sedang tak berjalan bersama.
"Kau masih tidak percaya, ini buktinya" Rebecca mengeluarkan secarik kertas yang berisi tes DNA Haiden dan Terry. Menatap Dominique tajam dan hasil tes setelah Dominique membacanya menyatakan bahwa 100% Terry adalah anaknya Haiden.
Kaki Dominique bergetar, rasanya lemas sampai ke ubun-ubun, dia bahkan tak bisa membalas semua ucapan Rebecca.
"Orangtua kami... sejak kecil telah menjodohkan kami, aku adalah satu-satunya wanita yang pantas untuk Gyan, status kami sama, aku pun sudah memiliki anak dari Gyan, lalu apa lagi yang harus aku bandingkan. Kau tidak pantas bersaing denganku, sadarlah, sebelum aku berbuat terlalu jauh lebih baik kau tinggalkan dan pergilah sejauh mungkin dari Gyan" Rebecca mengeluarkan cakarnya menyerang titik lemah Dominique.
__ADS_1
Tidak, tidak. Tidak mungkin ini pasti bohong, Iden tidak mungkin membohongi ku...