MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Tamu Tak Di undang


__ADS_3

Haiden memarkirkan mobilnya di pelataran restoran dekat apartemennya. Ia membukakan pintu dan menggandeng Dominique masuk ke dalam restoran.


Dari kejauhan terlihat motor Justin pun terparkir di pelataran restoran, Justin yang hari ini libur sengaja mengunjungi restoran.


Pelayanan menghampiri meja, dan Haiden mulai memesankan makanan untuk Dominique,


"Iden, kenapa kau bawa kemari, aku kan sudah bilang, aku ingin makan ketoprak" Dominique yang masih kesal.


"Ini hukuman, karena kau telah membohongi_ku"


"Aku tidak berbohong, kau saja yang terlalu__"


"sstt, diam, atau kau ingin aku memakanmu disini"


"ish" Dominique berdiri dari duduknya,


"Kau mau kemana?" Haiden menarik tangan Dominique,


"Aku mau ke toilet, kenapa kau mau ikut?"


"Boleh" Haiden yang menggoda Dominique berdiri dari duduknya.


"Iden" Dominique mendelikkan matanya.


"Baiklah, baiklah, jangan lama-lama" Dominique meninggalkan Haiden.


Dominique keluar toilet, saat berjalan mulut Dominique ada yang membekap dan dia di tarik ke tangga darurat oleh seseorang.


"Kau, sedang apa disini?" Dominique panik ternyata Justin yang membekap mulutnya.


"Menurut_mu? " Justin mencengkam erat tangan Dominique.


"aw, sakit, lepas" Dominique merengek.


"inikah alasan_mu meninggalkanku, karena dia, hah"


"maaf, tapi ini bukan urusanmu, hubungan kita sudah berakhir" Dominique berusaha melepaskan cengkeraman kuat Justin, dia tidak ingin Haiden curiga.


"ow, karena harta, katakan berapa banyak yang kau inginkan, aku pun bisa memberikannya" Justin yang terdengar egois dengan ucapannya.


"Jaga bicaramu" Dominique berhasil melepaskan cengkeraman Justin dan akan menampar wajahnya, namun tangan Justin menangkapnya dengan kuat.


"Dengar Domi, aku tidak Terima, aku pastikan akan membalas_mu" Justin menatap Dominique penuh kebencian.


"Terserah, aku tidak perduli" ponsel di tas Dominique berbunyi. Justin mengambil tas Dominique dan melihat ponselnya.


"Hah, pacar tersayang_ku, ck, ck, luar biasa ternyata ini adalah sifat aslimu, berpura-pura polos, menipu lelaki dan menguras hartanya" Dominique bagai disambar petir mendengar tuduhan Justin, hatinya sedih.


"Kenapa kau diam, jawab" Justin menggenggam kembali tangan Dominique yang melingkar cincin berlian pemberian Haiden. Justin tersenyum sinis menatapnya, dan melihat Dominique yang tertunduk menahan diri dan sesak dalam dadanya.


"Dominique, kau dimana?" Haiden yang berteriak, Dominique tersadar dan mengambil tasnya dari tangan Justin, merapikan diri dan berlari menghampiri panggilan Haiden.

__ADS_1


"Kau dari mana?" Haiden yang langsung mencengkam erat tangan Dominique.


"aw, sakit Iden, aku dari Toilet" jawab Dominique.


"Toilet, kau pikir aku bodoh, mana ada toilet dekat tangga darurat, apa yang kau sembunyikan, hah" Haiden melirik dan dari pintu tangga darurat Justin muncul dengan tanpa rasa bersalah, "Ow, kau benar-benar berani yaa" Haiden murka karena melihat Justin berpura-pura mengelap bibirnya.


"Tidak, tidak, jangan salah paham, aku__" Dominique melirik Justin yang tersenyum puas.


Kau lihat, ini baru saja di mulai, aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Justin.


"Ayolah__Domi, bilang saja ke dia apa yang barusan kita lakukan" Justin memanas-manasi.


"Diam Justin, kau yaa__" Dominique mendelik, menahan amarahnya.


"DOMINIQUE!! " teriak Haiden.


"Tidak, sungguh iden, aku tidak berbuat apa-apa, dia berbohong" Dominique mulai panik karena Haiden mulai termakan omongan Justin.


"Berbohong katamu, setelah kau menikmati semua barusan, hah, ayolah__Domi, kau jangan munafik, kita barusan sama-sama menikmatinya kan" Dominique menggelengkan kepalanya tidak menyangka Justin akan berbuat senekat itu.


Yaa__benar begitu, teruslah menyangkal, agar kalian bertengkar, berpisah dan kau kembali kepadaku. Justin.


Haiden menatap mata Dominique dalam, "Kau tahu apa hukumannya jika kau berbohong, hah" Haiden mencengangkan kedua tangan Dominique.


"Tidak iden, aku tidak melakukan_nya, aku__' Mata Dominique tiba-tiba memudar, kepalanya pusing, dan Dominique ambruk, pingsan dipelukan Haiden.


"Domi, Domi" Haiden memapah tubuh Dominique, Justin meminta satu ruangan istirahat.


"Kau__jangan sentuh dia" Hardik Haiden ketika melihat tangan Justin akan menyentuh pipi Dominique.


Justin tidak memperdulikan, ia malah sengaja merapikan rambut Dominique dan mengusap pipi Dominique.


Apa yang kau sembunyikan Domi, kau jelas-jelas tidak bahagia dengan laki-laki ini.


Justin.


"Ah, akhirnya kita bertemu secara pribadi Tuan, perkenalkan saya Justin pacar Dominique" Justin berdiri, mengulurkan tangannya kepada Haiden, menatap Haiden tajam, sedangkan Haiden hanya menatapnya geram.


"Ow, maaf, atau saya harus memanggil anda dengan sebutan Bapak Haiden Aramgyan, tapi maaf kita tidak sedang di cake shop dan saya status saya sekarang off duty, bukan sebagai Achef, saya memperkenalkan diri saya sebagai pacarnya Dominique" Justin kembali memancing Haiden.


"Kau pikir aku bodoh, kau bukan siapa-siapa dia, bahkan kau tidak tahu kan kalau dia__" Dominique terbatuk, menahan sesak di dadanya__.


"Air" suara Dominique parau dan keduanya menghilang lalu kembali dengan segelas air.


Haiden membantu Dominique duduk, "Kau tidak apa-apa" kata kedua pria tadi yang sedang bersitegang, mencair dan memasang wajah manis didepan Dominique.


"minumlah" Keduanya menyodorkan gelas, Dominique melirik kedua,


Kenapa lagi dengan kedua pria ini. Apa mereka sedang beradu akting.


Dominique meraih gelas Haiden dan meminumnya sedikit. Justin terlihat cemburu, Haiden menyeringai puas pada Justin.

__ADS_1


Kruyuk__perut Dominique berbunyi.


"Kau mau makan apa? Biar aku carikan" Justin yang berubah dari kasar menjadi lembut karena khawatir pada Dominique.


"Tidak perlu, kami sudah memesan makanan" jawab Haiden membantu berdiri dan menggandeng pinggang Dominique.


Sial, aku masih saja kalah saing. Pekik Justin yang mengikuti mereka sampai dimeja dan ikut duduk bersama.


Dasar, Tamu tak diundang, kurang ajar, kalau aku tidak khawatir dengan Dominique, kau pasti sudah kubunuh.


Dominique kaget saat melihat John sudah berada di lokasi dan langsung mengambil posisi di belakang Haiden.


duh__Kapan orang ini datang, bagaimana aku menyelesaikannya, dua orang ini saja sudah membuat kepalaku pecah, ditambah satu lagi, ahh__


Dominique mengunyah makanannya dengan kesal.


Dominique melirik John yang menatapnya dengan gelengan kepala.


Nona, Nona, kapan kau bisa membuatku tenang, ini bahkan belum lewat satu hari. pekik John.


Tuan_mu saja yang bodoh, pikirannya selalu dimakan cemburu, Dominique mendelikkan matanya kepada John.


Haiden dan Justin hanya menatap Dominique, Justin memanggil pelayanan dan membisikkan sesuatu, tidak lama pelayan kembali membawa sebuah piring.


"Coba yang ini juga" Justin menyodorkan sendok ke mulut Dominique yang berisi dessert coklat.


Dominique melirik Haiden, ia mengangguk. Dominique pun membuka mulutnya menerima suapan Justin.


"Bagaimana, enak" Dominique mengangguk natural dan tersenyum kepada Justin.


Ck, ck, aku hanya menyuruhmu menerima suapan, bukan tersenyum manis seperti itu.


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Silence


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca


__ADS_2