
"Aku sarapan dulu"
Dominique beranjak meninggalkan Haidan dan Willy yang masih saling menatap dengan tajam.
Dominique mengeluarkan ponselnya setelah dia melihat ada satu panggilan tak terjawab,
Dominique mengirimkan chat,
📱Dominique : Siapa?
tak berapa lama satu balasan masuk,
📱Nomor tak dikenal : Jus Mentimun.
📱Dominique : Aku akan segera makan ketoprak.
📱Nomor tak dikenal: Baik.
Dominique hanya makan beberapa suap, dia masih tak selera makan. Haiden dan Willy hanya terus menatap kearah Dominique.
"Maaf Nyonya, ada yang mencari anda dan mereka sudah menunggu di ruang tamu"
salah satu pelayan memberitahu.
"Baik aku akan segera kesana, Terima kasih"
Dominique beranjak dari duduknya yang diikuti kedua bodyguard setia Dominique.
"Selamat pagi grandma, "
sapa Dominique langsung melompat kepelukan grandma Rose.
"Pagi juga sayang, bagaimana kabarmu hari ini dan cicit grandma,"
ucap grandma Rose sambil mengecup kening Dominique dan mengusap perut Dominique.
"Dia sehat grandma. Aku naik mobil grandma saja ya,"
Dominique yang sudah menggandeng tangan grandma Rose.
"Baik, baik. Asalkan kamu senang! "
__ADS_1
Grandma Rose langsung menggandeng lengan Dominique masuk ke mobilnya.
"Selamat pagi, kakakku yang cantik" sapa Dhyson melambaikan tangannya dari jok depan.
"Sayang ...," Willy berusaha mencegah Dominique masuk ke mobil Gradma Rose.
"Apa lagi, Will!" sahut Dominique ketus.
"Semalam kau sudah bersama Aramgyan, pagi ini kau cuek padaku dan sekarang kau malah bersama mobil grandma, " protes Willy seperti anak kecil yang meminta bagian kuenya.
Hurf.
Grandma tersenyum,
"Pergilah di mobil Willy, sayang. Lihat wajah sudah kusut seperti itu, "
Grandma Rose mendorong perlahan tubuh Dominique pada Willy.
"Terima kasih atas pengertian-nya Grandma"
Willy yang di atas angin seperti mendapat bala bantuan langsung menarik tangan Dominique masuk ke mobil hitam nya.
BRUKK. CEKLEK. SREK.
Willy menutup, mengunci dan menekan tombol ke kursi depan. Menarik tubuh Dominique ke pangkuannya.
"Sayang ...," Willy menempelkan keningnya di kening Dominique.
"Uhm"
"Kau marah padaku!"
"Tidak sayang," Dominique memalingkan wajahnya dari Willy.
"Bohong!"
"Untuk apa aku berbohong. Sungguh aku tidak marah"
"Tatap mataku,"
"Apa sih, Will. Sudahlah, biarkan aku turun!"
__ADS_1
"Tidak sebelum kau memberikan ku jatah makan-ku"
Dominique tahu dia tidak akan begitu saja bisa lepas dari Willy.
"Will, aku masih sangat lelah" Dominique beralasan.
Namun semakin Dominique menolak Willy tangan Willy sudah merobek kain segitiga milik Dominique.
"Will, ah."
"Aku akan lembut sayang, kau tahu kan aku tak akan pernah bisa jauh yang satu ini, kita sudah setiap hari melakukan" Willy yang berbisik lirih di telinga Dominique.
Willy mengangkat perlahan tubuh Dominique, menurunkan celananya hingga lutut dan menaruh kembali Willy dalam pangkuannya.
"Dua jam sayang. Perjalanan kita akan menempuh waktu dua jam"
"Ah, Will"
suara Dominique sudah berubah ketika tubuhnya di angkat Willy lagi dan Willy memasukkan pada bagian yang sudah mengeras.
Willy menekan tombol lain dan tombol tadi mengeluarkan musik orkestra dengan keras. Willy tidak ingin siapapun mendengar suara Dominique yang menggemaskan.
Willy membuka dua milik Dominique, masih terlihat jelas bekas stempel yang di tinggalkan oleh Haiden.
"Will, jangan dua jam ya"
Ucap Dominique yang merasakan dua tangan Willy sedang memutar dua miliknya.
"Uhm, aku mengerti, diam dan biarkan aku yang lakukan agar kau tak terlalu lelah"
Willy membalikkan dan merebahkan tubuh Dominique perlahan, memulai olahraga paginya yang sempat tertunda tadi.
Setelah mereka sama-sama melakukan pelepasan, dan mereka merapikan diri. Willy terus memeluk Dominique.
Haiden tak sabar segera menghampiri mobil Willy saat mobil berhenti di area pemakaman.
Grandma Rose turun di tuntun oleh Dhyson. Sedangkan Dominique sudah di apit kembali oleh dua bodyguard nya.
Grandma Rose bersujud di makan Marissa sambil meletakkan karangan bunga yang sudah di bawa-nya.
"Sayang ..., cucu grandma, maafkan grandma sayang. Grandma baru bisa menemuimu sekarang. Grandma harap kau sudah bahagia di sana... " airmata mengalir dan membawa pipi grandma, rasa haru masih membuat Dominique ikutan menangis agi.
__ADS_1