
"Tidak Iden, Will, aku mohon padamu. Aku mohon pada kalian jangan sentuh aku malam ini, huhuhu," Dominique mode on pura pura menangis di pinggir ranjang saat sudah melihat kedua suaminya mulai melucuti satu demi satu pakaian yang mereka kenakan. Entah kenapa kedua suaminya malam ini kompak. Mereka bahkan tak mau digilir.
"Dengarkan aku. Kau diam saja. Aku akan di sebalah atas dan dia di bagian bawah. Kami akan bergantian memanjakan-mu, oke?" bisik Haiden membuatnya bergidik ketakutan. Dia bahkan tak berani membayangkan kedua suaminya mulai gila mengajarkannya melakukan bersama sama.
"Kalian jangan gila. Aku ini wanita hamil dan normal. Aku tidak suka bersama-sama. Tolonglah, jika kalian menginginkan, satu persatu. Aku ini tidak akan sanggup melayani hasrat kalian yang gila itu," dia mencoba bernegosiasi dengan kedua suaminya yang hampir gila. Dia menutupi semua tubuhnya. Menjauh dari kedua suaminya yang sudah sangat terlihat terbakar.
"Kalau kau yang meminta kami. Aku yang duluan. Dia itu sudah terlalu lama dengan-mu," Haiden yang tidak mau mengalah, meminta posisinya tetap yang pertama.
"Pergi. Aku tidak mau. Argghh," kali ini Dominique berteriak, dia merasakan kejang pada perutnya.
"Arghh. Sakit sekali perutku. Perutku sakit," Dominique meronta memegangi perutnya. Kedua suaminya terhenti. Melihat Dominique berguling kesakitan di ranjang mereka.
"Carlos!" teriakan Will menggema saat dia membuka pintu. Membuat seisi ruangan keluar. Carlos dan Diana keluar. Juga John, Sophie dan Ramon ikutan keluar saat mendengar teriakan Will.
"Ada apa Will?" Carlos menghampirinya yang terlihat panik.
"Ambil perlengkapan-mu. Cek kondisi istriku, sekarang!" wajah panik Will terlihat jelas. Bahkan dia sudah menghilangkan rasa panas yang membakarnya beberapa menit lalu. Haiden di pinggir ranjang mengelap keringat yang terus keluar dari keningnya. Dia pun sama paniknya.
Carlos menghampiri dan segera memeriksa kondisinya. Setelah semua lebih baik dan terkendali.
"Huh, kalian tetap memaksanya? Aku kan sudah bilang jangan memaksanya. Dia, kalau terus seperti ini yang ada dia akan gila. Apa kalian mau melihatnya gila?" Carlos berkacak pinggang. Memarahi mereka seperti seorang guru yang kesal terhadap muridnya yang nakal.
Sophie mendelik tajam. Dia bahkan tak berani membayangkan hal sedemikian itu terjadi padanya.
Ah, aku mau pulang. Aku benar-benar menyesal hari ini bisa bertemu denganmu, Domi. pekik Sophie terlihat gundah.
"Kami hanya menggodanya, Carlos. Bukan begitu Aramgyan!" Will mencari dukungan.
"Benar kami tak sungguh-sungguh. Hanya menggodanya saja," Haiden berkilah tak mau di salahkan juga.
"Cih kalau sudah seperti ini saja kalian menghindar dan saling menyalahkan," cibir Carlos.
Dominique hanya berbaring lemas di ranjang. Sophie berjalan menghampiri.
"Dom, aku pulang saja ya. Sebaiknya kau istirahat," Sophie meminta izin agar dia tak menjadi incaran kedua pria yang terus menatap setiap gerak geriknya.
__ADS_1
"Jangan dong Sop, kau kan sudah janji mau menginap. Ada banyak yang ingin kuceritakan padamu," suaranya terdengar lirih menyentuh tangan Sophie.
Sophie tak tega, "Tapi Dom?" dia terlihat ragu ragu.
"Iden," yang di panggil segera menghampiri.
"Ada apa sayang? Kau butuh sesuatu?"
"Aku mau Sophie tetap di sini. Aku tidak mau dia pulang," wajahnya memelas sambil berurai air mata. Melihatnya seperti itu mana tega seorang Haiden membiarkan keinginan istrinya terlewat begitu saja.
"Kau tenang saja, John sudah mengurusnya. Dia akan cuti sampai kau merasa tidak sendirian, oke!" Haiden mengusap punggung tangannya. Meyakinkan semua kecemasannya.
"Kau sudah dengar apa yang suamiku bilang kan? Dia menyuruhmu cuti. Kau tinggal denganku saja disini sementara waktu," Dominique tersenyum saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya.
"Ba-bagaimana bisa Dom? Aku pasti akan di semprot oleh bu Nat dan bu Ririn cuti dadakan seperti ini," ucap Sophie.
"Oh jadi kau meragukan posisiku hah? Kalau begitu, John buat dia resign hari ini juga!" sahut Haiden seenaknya.
John hanya menganggukan kepala saat mendengar perintah tuannya.
John menatap tajam mata gadis itu seolah dia berkata, "Apa aku terlalu miskin untuk mencukupi semua kebutuhan-mu," bibir John terangakat meremehkan tatapan Sophie.
"Buatkan satu surat pengunduran diri atas nama Sophie Amanda, sekarang juga!" perintah John dari ponsel yang dia tempelkan di telinganya.
Dia bahkan tahu nama lengkapku. Padahal aku tak pernah dengan jelas memperkenalkan diriku.
Ramon hanya bisa tersenyum saat mendengar kata pengunduran diri dari mulut rivalnya. Dia sudah sangat yakin akan melancarkan serangannya setelah semua sedikit mereda.
"Bawa dia keluar John. Biarkan istriku istirahat," perintah Haiden. John melangkahkan kakinya mendekati Sophie.
"Do-dom, a-"
"Pergilah istirahat, Sop. Besok pagi kita baru bicara," John sudah mencengkram tangannya dengan erat. Menyeret Sophie keluar di ikuti dengan yang lainnya.
Brukk
__ADS_1
Tubuhnya sudah di hempaskan pada lantai dingin kamarnya.
"Jangan ganggu dia malam ini. Biarkan dia istirahat," Ramon membantu tubuh Sophie berdiri. Berkata sambil menatap tajam rivalnya.
"Kau saja yang beristirahat. Aku ada urusan dengannya yang masih belum aku selesaikan!" dengus John kesal saat menatap Sophie berada dalam pelukan Ramon. Bahkan Sophie memeluknya erat. Meminta perlindungan darinya.
"Tidak jangan tinggalkan aku dengannya. Aku takut," dia bersuara sangat lirih hingga membuat jantung Ramon berdebar dengan cepat ssat mendengar gadis itu meminta perlindungan darinya.
"Sophie Amanda, kau dengar perkataan-ku tidak. Cepat kemari!" John menggeratkan giginya. Menatap gadis itu yang mengelengkan kepala di dada Ramon. Membuat John benar benar terbakar api cemburu.
"Aku tidak mau. Tidak mau. Huhuhu," tambah erat gadis itu memeluk Ramon. Membuat John geram.
"Kau jangan memaksanya. Sebaiknya kau keluar. Dia tidak mau di ganggu oleh-mu," lagi Ramon membakar hatinya makin cemburu.
Bugh Bugh
John menarik paksa tubuh Shopie dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah Ramon. Gadis itu memekik. Menutup mulutnya untuk berteriak. Pria macannya benar benar hilang kendali.
John sudah berada di atas tubuh Ramon. Menghujamkan pukulan tajam berkali kali.
"Sudah, sudah. Iya aku-" Sophie mencegah tangan John untuk terus memukuli Ramon. Dia tak tega melihatnya.
"Maafkan aku. Kau keluar saja ya. Biarkan aku bersamanya," akhirnya gadis itu mengalah. Dia tak ingin ada perkelahian atau pertumpahan darah karenanya,"
Ramon tersentak. Dia tak menyangka gadis itu akan mengambil keputusan secepat itu. Dia masih berfikir akan meluluhkan hati gadis itu.
John berdiri dari tubuhnya. Tangannya tetap menggengam erat gadis itu. Dia mengikuti Ramon yang terpaksa keluar dari kamar Sophie.
Blam
Tanpa ragu setelah pintu tertutup. John mendorong kasar tubuh gadis itu ke tembok. Menghimpit kasar tubuh gadis itu. Senyuman smirk penuh kemenangan muncul di wajahnya.
"Berani sekali kau menggoda pria lain di hadapanku. Sudah aku bilang, aku pasti akan menghukum-mu berkali lipat," John mencengkram kasar mulut gadis itu penuh dengan kemarahan.
"Ma-afkan aku. Huhuhu, aku tidak pernah berfikir seperti itu, sungguh!" air mata gadis itu terus mengalir dengan deras. Dia tak menyangka hidupnya akan berubah sejak pria macan itu masuk di kehidupannya.
__ADS_1