MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Naik Banding


__ADS_3

"Kau, jaga ucapanmu. Kalau pertanyaan itu sangat mudah bagimu, baiknya kau yang lakukan dan lepaskan dia," Ramon murka menarik kerah baju John. Emosinya membuncah ketika John membandingkan Sophie dengan wanita murahan.


"Kau fikir aku sudi berbagi istriku denganmu," cibirnya.


"Hah, dia itu belum menikah denganmu. Jadi dia belum resmi menjadi istrimu. Aku pun masih berhak untuk menjadi calon suaminya," Ramon tak mau kalah.


"Ck, ck, ck. Sudah menyerah saja. Walaupun dia belum resmi menjadi istriku. Aku sudah lebih dulu menyentuhnya. Kau juga tidak akan suka 'kan kalau barang yang kau sukai sudah di sentuh oleh orang lain,"  kembali John mengungkit agar rivalnya menyerah secara totol.


"Kau-" Ramon bersiap melayangkan satu pukulan di saat pintu kamar di buka oleh Sophie.


Gadis itu baru saja membuka pintu saat pertengkaran mereka makin menegang.


"Kalian berdua sedang apa?" Ramon menurunkan tangannya, mengengamnya dengan erat saat melirik Sophie sudah berada di hadapannya.


"Tidak ada hal yang penting. Kau sudah siap, kita sarapan dulu," sahut John mengacuhkan keberadaan Ramon.


"Kau belum resmi menikah dengannya 'kan? Aku ingin naik banding. Aku ingin kau mempertimbangkanku sebagai calon suami juga!" Ramon berkata lugas dan tegas.


Naik banding? Apa dia pikir aku seorang penjahat yang bersiap menerima vonis hukuman mati? Pikiran mereka benar benar di luar nalarku.


Lagi gadis itu menyentuh dahinya. Pusing mendengarkan pertengkaran mereka.


Huh, jangan jangan ini yang dirasakan Domi setiap hari. Bertemu suami suami posesifnya. Benar benar membuat sakit kepala.


"Ayolah ini masih terlalu pagi untuk membicarakan hal ini. Kepalaku sangat sakit mendengarnya. Dan aku pun sudah memutuskan untuk menikah dengannya, jadi aku mohon jangan bertengkar lagi," gadis itu menunjukan John sebagai calon suaminya. Membuat lelaki tadi tersenyum smirk penuh kemenangan.


"Aku tidak perduli. Yang aku mau kau. Kau menjadi istriku," Ramon tetap bersikeras.


"Apa kau tuli? Dia bahkan sudah mengatakannya dengan sangat jelas. Dia hanya akan menikah denganku!" dengus John.


"Ck, ck, ck. Kalian masih saja belum mendapatkan keputusan. Hei kau, Sophie, istriku tidak mau sarapan. Dia menunggumu di meja makan," suara barito nan keras menyapa pertengkaran mereka. Membuat mereka semua teralihkan. Suara Haiden.

__ADS_1


"Cih, dari semalam masih saja belum dapat kepastian. Kalian sebaiknya menikah di luar. Kau bisa menggunakan heli pribadi kita Ramon untuk mendaftarkan pernikahan kalian bertiga," celetuk Will menambahkan sambil melipat kedua tangannya di dada. Kesal saat membujuk Dominique tidak mau sarapan kalau belum ada Sophie di meja makan.


Sophie menarik ujung kemeja John. Menggeleng dengan pasti ucapan yang di lontarkan oleh Willy.


"Sop, ayo sarapan!" kini Dominique muncul di hadapan mereka. Menatap wajah temannya yang menciut seperti habis mendapatkan tekanan yang begitu tajam.


Plak Pluk


Suara tepukan nyaring terdengar di kedua lengan suaminya. Dia menatap bergantian suaminya dengan tajam. Mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Sudah aku bilang jangan menindas temanku. Ayo Sop, kita sarapan," dia menarik tangan gadis itu yang masih diam mematung.


"Aku tidak menindasnya. Aku hanya menyuruhnya untuk menemanimu sarapan. Kalau kau tak percaya tanyakan saja dengan orangnya," sahut Haiden tidak ingin istrinya salah faham.


Kini pandangannya beralih pada Will,  "Aku hanya menyuruh mereka menikah di luar. Dan masalah segera teratasi. Aku tidak ingin kau ikutan stress memikirkan hal itu dan akan berpengaruh pada kandungan-mu!" Will tidak mau kalah.


"Huh, kalian paling pintar mencari alasan!" gerutunya. Meninggalkan mereka ke meja makan.


"Ada apa? Kenapa dengan wajahmu itu?"


Deg


Perkataan Haiden menghamburkan lamunannya. Dia tahu suaminya yang itu sangat peka dan sensitive untuk hal-hal yang mencurigakan.


Aku harus mencari cara bertemu mereka. Tapi, bagaimana meloloskan diri dari para lelakiku. Mereka pasti curiga dan tidak akan melepaskan-ku. Kecuali-


Otaknya melayang sambil tersenyum melihat keduanya secara bergantian.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" kini Will yang bertanya. Dia masih penasaran dengan pesan yang di baca istrinya. Apalagi membuatnya bersemu.


Sophie melirikkan wajahnya kepada Dominique, "Ah, aku ingin sekali keluar bersama dengan Sophie. Benarkan Sop?" Dominique memberikan kode dengan satu kedipan di matanya. Gadis itu tersentak menerima kode dari Dominique.

__ADS_1


"Ah i-iya, kami sudah janji mau keluar bersama," jawabnya terbata.


"Kau berani berbohong padaku Domi? Kau pasti tahu konsekwensinya? Aku tidak akan berlapang dada dan memaafkan lagi dengan yang lainnya," ucap Haiden. Tatapan matanya memburunya dengan tajam.


"Cih, memang sangat susah bernegosiasi dengan suami satu-ku ini." Dominique beranjak dari duduknya menghampiri Haiden.


"Sop, sepertinya jalan jalan kita aku tertunda beberapa jam. Kau bisa tunggu di taman. Atau lebih tepatnya kau bernegosiasi-lah dengan dua calon suamimu yang terus menatapmu tak berkedip itu," seraya memberitahu Sophie dan melirik kepada dua lelaki Sophie yang berdiri di belakang tempat duduknya.


"Ayo kita bicarakan di kamar!" Dominique menarik tangan Haiden.


Haiden menatapnya senyuman cerah langsung terpancar. Dia mengerti kode yang di berikan istrinya.


"Hei, tunggu. Kalian mau kemana? Apa kau tak melihat-ku?" protes Will. Dia pun tak mau ketinggalan.


"Will, kau nanti malam saja ya. Oke?" Dominique melirik suami satunya. Memberikan kedipan satu mata jahilnya.


"Tidak. Aku tidak mau. Pokoknya aku mau juga sekarang! Ayolah kita coba sesekali bersama," Will mengusulkan hal gila. Membuat mata Dominique membulat tak percaya hal semacam itu akan keluar dari mulut Will.


Sophie menutup telinganya saat mendengar obrolan absurd dari mereka. Dia tak mau pikirannya ikut terkontaminasi.


"Dom, sebaiknya aku pulang saja. Aku tidak ingin menggangu kalian," baru saja akan beranjak dari duduknya gadis itu. Kedua pundaknya sudah di tekan kembali duduk oleh kedua pria di sampingnya.


"Aw," pekik gadis itu meringis menahan sakit di kedua pundaknya.


"Nah nah. Aku kan sudah bilang baruan. Sebaiknya kau juga bernegosiasi," ucap Dominique yang menolehkan kepalanya. Kemudian dia kembali lagi pada suaminya yang sudah terlihat tak sabar. Tangannya sudah melingkar di pinggang Dominique.


"Sayang," Will sudah beranjak dari duduknya ketika Haiden sudah mengangkat tubuhnya bersiap masuk ke kamar.


"Tunggu sebentar ya sayang, aku akan bernegosiasi dulu dengannya-" Haiden tak memperdulikan ucapan Will. Segera membawa gadis itu masuk kamar, menutup pintu dan menguncinya.


"Jadi apa yang ingin kau negosiasi kan padaku sayang?" tangan suaminya sudah mulai berjelajah membuka satu demi satu pakaian yang dikenakan-nya.

__ADS_1


__ADS_2