MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dominique kecelakaan


__ADS_3

Dominique meremas hasil tes DNA yang di berikan Rebecca. Hatinya masih tidak bisa menerima dengan apa yang dia baca.


"Tinggalkan dia, pergilah diam-diam, jangan ganggu hubungan kami" Rebecca meninggalkan Dominique yang tak bisa berkata.


Seketika tubuh Dominique terhuyung, niatnya akan bersenang-senang lenyap. Ia berjalan, berbalik tanpa arah. Willy terus mengikutinya.


Tangis Dominique pecah, hatinya benar-benar terluka setelah mendengar ucapan Rebecca, baru saja dia mulai mempercayai Haiden, namun kenyataan yang dia terima berbeda. Dominique jongkok di tepi jalan, berteriak keras, menangis sekuatnya bahkan siang itu, tiba-tiba awan mendung menyelimuti seperti hati Dominique yang terkoyak. Tangisnya seperti hujan yang turun membasahi bumi, dia bahkan tak bisa mendengar ketika suara guntur yang bergema. Dominique menangis sejadi-jadinya.


Berulang kali Willy menelpon ponsel Dominique namun dia tak menggubris nya, Willy yang terkena macet karena hujan hampir kehilangan jejak Dominique, ia turun dari mobilnya di ikuti beberapa pengawal menerjang hujan.


Dominique mengangkat pelan tubuhnya, berjalan terhuyung, matanya sudah kabur melihat jalan karena air hujan yang membasahi, dia melangkahkan kakinya menyeberang jalan, saat yang bersamaan sebuah mobil yang melaju cepat menghantam tubuh Dominique dengan keras, Dominique terpental, terkapar berlumuran darah, tas yang dia bawa juga cincin yang dia kenakan di jari manisnya terpental ke segala arah. Dominique tak sadarkan diri.


"Dominique!!!" teriak Willy berlari menghampiri tubuh Dominique yang sudah berlumuran darah.


Sementara di tempat lain, kantor Haiden, dia sedang mengenang rasa cemburu Dominique padanya sambil tersenyum menatap hujan yang turun dari kaca gedung kantornya.


.


.


.


Sial, apa yang wanita itu bicarakan dengan Dominique. Willy yang geram dan marah menunggu di luar ruang ICU.


"Tuan" Ramon menepuk pundak Tuannya masih syock melihat kejadian tadi.


Bagi Willy dan Ramon melihat darah bukanlah hal yang baru, namun ketika Ramon melihat Tuannya begitu terguncang ini adalah hal yang baru baginya. Tuannya tidak pernah mengenal cinta. Baginya wanita adalah hanya sebuah selimut penghangat saat di butuhkan, selebihnya Tuannya tidak pernah menyentuh atau bersentuhan dengan wanita. Ini pertama kalinya Ramon melihat tatapan Tuannya yang begitu manusiawi dan penuh kasih sayang.


"Kita berangkat, aku sudah muak di sini, aku akan menyambut tamu dahulu" perintah Willy. Ramon bergegas meninggalkan Tuannya untuk mempersiapkan segala yang sudah mereka persiapkan.


.


.


.


Mobil Haiden terparkir di ruko bekas Dominique bekerja. Dia dipayungi oleh security yang berjaga ketika melihat Haiden datang.


"Selamat sore Pak" sapa Bu Nat ketika melihat atasannya yang datang berkunjung mendadak.


"Mana Sophie" tanya Haiden membuat Bu Nat bingung karena hal yang di tanyakan di luar pemikirannya.


"Dia, dia... sedang ganti baju di loker, Pak" sahut Bu Nat gugup, takut terjadi sesuatu masalah.

__ADS_1


"Suruh di kemari" perintah Haiden.


"Ba-baik Pak... saya panggilkan," Bu Nat berlari, meninggalkan Haiden.


"Bagaimana, John... sudah bisa di hubungi?" wajah Haiden yang cemas ketika menghubungi Dominique tidak bisa. John menggeleng, tangannya masih sibuk dengan ponsel di telinganya.


Bu Nat dan Sophie segera menghampiri,


"Mana Dominique" Haiden menaikan rahangnya karena marah tidak bisa menghubungi Dominique.


"Dominique, dia tidak ke sini" sahut Sophie yang bingung di tanyakan soal Dominique. Bu Nat hanya bisa melirik.


"Kau jangan berbohong, pagi tadi dia bilang akan menemuimu" Haiden yang kesal merasa di bohongi.


"Sungguh ... dia, tidak datang kesini, untuk apa aku berbohong, apa untungnya buatku" Sophie yang tanpa sadar menjawab seceplosnya.


John mendelik kearah Sophie, " Sungguh, dia tidak datang kesini, swear deh" Sophie menaikan kedua tangannya, menjawab delikan mata John.


Sophie di sikut oleh Bu Nat karena merasa menjawab tidak sopan kepada atasannya.


"Maaf Pak, ada urusan apa bapak sampai mencari Dominique, " tanya Bu Nat yang penasaran.


"Apa aku salah kalau mencari istriku, apa kau juga mau melarangku" hardik Haiden menatap kesal Bu Nat.


"Iya Bu Nat..., Dominique adalah istri Pak Haiden" jelas Sophie dengan santainya.


"Kau tahu, kenapa diam saja" umpat Bu Nat kesal terhadap Sophie.


"Saya... juga baru tahu belum lama Bu" sahut Sophie berbalik akan pulang.


"Hei, Sophie tunggu" menghentikan langkah Sophie.


"Iya Bu, kau sungguh baru tahu Dominique adalah istri Pak Haiden, atau kalian berduaan bersekongkol menjadi mata-matanya, melaporkan setiap kejadian di sini" Bu Nat yang panik kalau- kalau dia lupa pernah berbuat salah dengan Dominique.


"Benar Bu, saya juga baru tahu, ya sudah Bu, mumpung hujannya berhenti saya pulang dulu" pamit Sophie bergegas pergi meninggalkan manager nya yang gelisah.


.


.


.


Di dalam mobil Haiden,

__ADS_1


"Kau sudah lacak keberadaannya" Haiden yang gelisah bertanya karena Dominique masih belum bisa di hubungi.


"Sudah Tuan, tapi saya tidak yakin kalau Nyonya berada di situ" ucap John yang menemukan titik lokasi Dominique berada.


"Kita kesana, aku akan mengeceknya sendiri" mobil pun melaju mengikuti arah titik keberadaan Dominique.


Mobil berhenti di sebuah gang sempit dan gelap tempat berkumpulnya para gelandang. Haiden dan John beserta beberapa pangawal turun mengikuti arah titik tersebut. Lampu kedipan semakin dekat, Haiden berdiri di beberapa orang gelandangan yang sedang menunjukkan cincin dan ponsel yang dia temukan di jalan.


"Darimana kau mendapatkan itu" Haiden menarik gelandangan tersebut, menyeret dan mencekik leher gelandangan tadi ke tembok dan merebut cincin Dominique.


Gelandang tadi gelagapan, hampir kehabisan nafas.


"Di ja-ja-lan, saya menemukan di jalan" ucapnya menghirup nafas setelah cekikan tadi di lepas Haiden.


"Katakan di mana dia, kau bawa kemana dia" Haiden menendang bertubi-tubi tubuh gelandangan tadi membuatnya hampir mati.


"Tuan, sepertinya dia tidak bohong, ini tas dan ponsel Nyonya" Haiden menerima ponsel Dominique yang penuh dengan panggilan tak terjawab olehnya.


Tatapan marah dan akan membunuh seseorang ketika dia melihat kotak panggilan masuk tertera nama Willy.


Brengsek. Kau sungguh berani menghianati Dominique. Tangannya menggenggam erat ponsel Dominique dan pergi dengan api penuh kemarahan.


.


.


.


Mobil Haiden menabrak pagar kediaman seseorang, turun dari mobilnya di ikuti John dan puluhan pengawal.


"Bunarco, keluar kau" teriak Haiden sambil menarik pelatuk pistolnya ketika melihat pengawal ada yang menghalanginya masuk. Haiden menembak mati pengawal tersebut.


Orang yang di panggil keluar dengan santai bersama dengan para pengawalnya.


"Di mana dia, cepat suruh dia keluar" Haiden yang membara penuh emosi menodongkan pistol di kepala orang tadi. Kepala Willy. Willy menyeringai mengejek.


"Kau mencari siapa sampai semarah itu, apa kau mencari istri kesayanganmu yang hilang" cibir Willy mengejek.


"Tutup mulutmu, brengsek" Haiden menarik kerah baju Willy dan satu tinjuan keras langsung mendarat di pipi Willy. Bibir Willy berdarah karena tinjuan tadi.


Tawa Willy menggelegar di seluruh ruangan.


"Carilah sendiri, jika kau memang menemukan dia di sini, kau bisa membawanya bersama" tantang Willy. Ramon dan semua pengawal Willy bersiaga menyerang ketika Tuannya mendapatkan pukulan.

__ADS_1


Willy memberi perintah jangan menyerang, dia berjalan duduk ke arah sofa, duduk dengan santai sambil menyalahkan rokoknya...


__ADS_2