MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Baru pergi sebentar sudah rindu


__ADS_3

Willy menekan dada Marissa, memberikannya nafas buatan, hingga Marissa terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.


"Ma-Marissa, kau baik-baik saja" raut wajah Willy berubah pucat pasi, dia panik.


Marissa menatap limbung sesaat suasana sekitar, di kepalanya muncul kembali bayangan dejavu yang hampir sama, lalu menghilang.


Apa itu? Siapa orang yang kulihat tadi, kenapa wajahnya tak tergambar dengan jelas. Batin Marissa.


"Sayang, kau dengar aku... kau tidak apa-apa kan?" jantung Willy berdegup kencang, dia tidak ingin kehilangan Marissa secepat itu.


"A-aku tidak apa-apa sayang" ucap Marissa.


"Syukurlah, syukurlah... " Willy memeluk Marissa mengusap rambutnya dengan lembut, "Ayo... kita ke dalam, nanti kau masuk angin" Willy langsung memapah Marissa ala bridel style masuk ke dalam kamar mereka.


Willy kembali ke kamar mereka dengan membawa segelas coklat hangat,


"Minumlah" Marissa meneguknya dan meminum air putih setelahnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan giginya terlebih dahulu sebelum tidur.Ini adalah ritual malam selama dua tahun yang di jalani Marissa.


"Besok kamu mengantarkan aku kan sayang" Marissa yang bergelayut manja di pelukan Willy.


"Hemm"


"Janji ya, kalau urusanmu di sini selesai kau susul aku, aku tidak mau lama-lama tidur sendirian" ucap Marissa yang terus memeluk perut sixpack Willy.


"Iya, aku janji, kau tinggalah di Mansion-ku, jangan di hotel" pesan Willy.


"Iya sayang"


"Masalah lainnya tidak usah kau pikirkan aku yang akan mengurusnya, hanya saja malam ini kau harus mempersiapkan diri, aku akan memakanmu tanpa henti, apa kau tidak keberatan" bisik Willy di telinga Marissa, tangan Willy dengan lincah sudah berkeliaran kemana pun.


"Ingat sayang, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah kau menghapus ku dari ingatanmu, oke!" pesan Willy yang menahan tubuhnya di atas tubuh Marissa, memandangi perasaannya yang sudah bercampur aduk dengan kegelisahan.


"Ada apa sayang, apa kau ada masalah?" Marissa menyentuh kedua pipi Willy dengan lembut. Ada kesedihan yang tak bisa Marissa tebak.


"Aku mohon sayang, jangan pernah kau lupakan aku... " ucap Willy terngiang dengan jelas di telinga Marissa sebelum mereka berdua melakukan penyatuan mereka yang membara.


.


.


.


"Marissa bangun, sebentar lagi kita landing" ucap Diana membuat Marissa membuka matanya.


Bahkan Marissa masih bisa bermimpi dengan apa yang mereka berdua lakukan semalam.


"Ahh" Marissa merajuk manja.

__ADS_1


"Kenapa, apa kau tidak enak badan?" Diana yang sangat khawatir dengan kondisi modelnya, apalagi dia mendapatkan extra tambahan perintah dari Willy untuk menjaga Marissa dengan ketat.


"Aku rindu, rindu, ingin pulang, ingin bersama dengan-nya" Marissa merengek seperti anak kecil.


"Hussttt, kau ini, tolong jaga imagemu Marissa" Diana yang celingak celinguk malu saat mereka mendorong koper ke luar bandara.


"Terserah, pokoknya nanti aku mau telpon dia setelah sampai mansion"


"Baik, baik, kau bersabarlah" Diana mengelus dadanya sendiri, padahal mereka baru berpisah beberapa jam, sekarang sudah bilang rindu, aih...


Beginilah nasib jomblo. Diana.


.


.


.


"Kau sungguh melepaskannya begitu saja" ucap Carlos yang melihat Willy murung setelah kepergian Marissa.


"Aku hanya tak ingin terlalu serakah"


"Cih, baru sekarang kau bicara, dahulu kemana saja, aku bahkan harus repot repot mencari obat untuk menekan ingatannya" Carlos yang protes, merasa hasil usahanya selama ini sia-sia.


"Dasar berandal karatan, kau bilang waktu itu, itu adalah obat terakhir untuk nya" Willy yang meremas wajahnya sendiri karena kesal.


"Cih, dasar berandalan karatan!!" umpat Willy tambah kesal.


"Hei, jaga mulut iblis-mu, yang berandalan karatan bukan hanya aku seorang" cibir Carlos sambil melirik Ramon.


"Kalian berdua yang ribut, jangan libatkan aku, aku tidak mengerti" celetuk Ramon menjawab, dia tidak terima dirinya di jadikan bahan comelan mereka berdua.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya" ucap Carlos serius yang menatap Willy mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Berapa lama sisa waktuku sampai rapat pengumuman pimpinan" ucap Willy dengan tatapan tajamnya.


"Kau sungguh ingin melepaskan jabatan yang selama ini mereka perebutkan dan kau akan menyiakan semua perjuangan kami" ucap Carlos.


"Entahlah, aku hanya ingin menjalani kehidupan tanpa harus khawatir mencemaskan keselamatan-nya"


"Kalau kau yakin dengan keputusan-mu, apa ayah angkatmu akan mengizinkan. Selama ini dia diam bukan tidak mengawasi, namun dia masih percaya kau tidak akan berkhianat kepadanya"


Willy hanya membuang nafasnya jauh, hatinya bimbang memikirkan sesuatu.


.


.

__ADS_1


.


"Akan makan waktu berapa lama pertemuan kita nanti Di?" tanya Marissa sambil memoles kembali wajahnya.


"Harusnya tidak akan memakan waktu lama, aku dengan pimpinan perusahaan menolak bertemu dengan-mu, nanti akan di alihkan dengan tangan kanannya" beritahu Diana.


"Cih... sombong dan besar kepala sekali, dia pikir hanya dia saja orang yang sibuk, suamiku juga seorang pengusaha terkenal, tapi dia berhati lembut seperti malaikat" puji Marissa setinggi langit kalau sedang membicarakan Willy.


"Benar, aku juga berpikir begitu, lagipula kenapa kau susah-susah sih cari uang, seperti orang yang kekurangan uang saja" cibir Diana.


"Kau kan tahu aku cuma iseng, mengisi luang. Tenang saja setelah penandatanganan ini selesai dan pemotretan ulang di sini, aku akan segera kembali. Dan kau aku bebaskan dari tugasmu" ucap Marissa sambil menepuk pundak Diana.


"Kau memecatku, Marissa?"


"Tidak, aku nanti akan meminta suamiku mencarikan posisi yang cocok di perusahaan nya, jadi bersabar lah sedikit lagi, oke" ucap Marissa yang senyam senyum sendiri sambil mengelus-ngelus perutnya.


"Astaga, jangan bilang"


"Belumm, kami sedang dalam proses, aku akan bulan madu ke pulau setelah ini selesai" ucap Marissa yang membocorkan rencananya pada Diana.


"Kau tidak mengajakku, hitung hitung sebagai bonus atas kerja kerasku" Diana yang tidak sabar ikut bergembira dengan keputusan Marissa.


"Akan ku pertimbangkan"


"Serius" sahut Diana tampak bersemangat, Marissa mengangguk.


"Ngomong-ngomong berapa lama lagi kita sampai" ucap Marissa matanya melihat jalanan dari kaca jendelanya.


"Kita parkir di depan" ucap Diana, Marissa mengangguk.


Saat melintasi gedung Marissa merasakan dejavu kembali, namun hanya sesaat dan menghilang.


"Ayo... kita turun" ucap Diana yang terlebih dahulu membuka pintu di ikuti Marissa kemudian.


Marissa menatap gedung tinggi tersebut, pasangan yang tidak asing di matanya.


Ah, apa aku pernah kemari sebelumnya, batin Marissa.


Marissa mengikuti Diana yang telah lebih dahulu berjalan ke meja resepsionis bertanya lantai janji temu mereka.


Marissa sibuk merogoh tasnya, melihat chat yang di kirimkan Willy, tersenyum sendiri penuh bahagia.


Ah, aku kangen, belum apa-apa aku sudah kangen berat, pekik Marissa sambil memandangi foto mesra mereka.


Marissa menyalahkan tombol menghubungi di telinganya, menunggu deringan masuk ke ponsel Willy, sambil tersenyum bahagia mentap ke depan.


"Sayang... aku kangen kamu!" ucap Marissa sambil tersenyum bersama dengan seseorang yang akan turun menghindari rapat pertemuan yang menurutnya membosankan.

__ADS_1


Haiden berdiri di hadapan Marissa ketika Marissa mengucapkan kata-kata tadi, matanya membulat tak percaya, rasa putus asa nya seketika lenyap dengan senyum yang tergambar jelas dan suara yang selama ini dia rindukan kembali hadir mengisi seluruh ruang hatinya kosong.


__ADS_2