
Dominique berjalan malas mendekati Haiden, Haiden menarik handuk yang menutupi bagian terbuka Dominique, membiarkan mata Haiden menikmanti setiap jengkal yang ada dihadapannya. Menikmanti tampilan pakaian hadiahnya tadi.
Haiden menelan salivanya berkali-kali.
Semakin melihatnya, semakin Aku ingin memakannya,
dia yang sekarang jauh lebih mempesona dibandingkan dahulu,
ah, Haiden kau harus segera mengikatnya agar dia tidak bisa lari ataupun kabur lagi.
Tatapan apa itu, dasar otak gila Dan mesum Haiden, habislah Aku kali ini, Aku harus bisa merayu dan membujuknya.
Haiden menarik tangan Dominique membiarkan Dominique duduk dipangkuannya. Sesaat Haiden memabukkan dirinya dalam tubuh Dominique, menciumi aroma tubuh dan rambut Dominique, tubuh yang selama sepuluh tahun Haiden rindukan.
"iden__geli" Dominique bergidik beberapa kali, tapi Haiden tidak memperdulikan ocehan yang keluar dari mulut Dominique.
Semakin Dominique berontak mencari celah melepaskan diri, semakin erat pelukan Haiden membelenggu di tubuhnya.
"iden__please, Aku mohon berhenti" Dominique yang sudah pasrah tidak berontak lagi, Haiden pun berhenti dengan kegiatannya.
"berikan Aku jaminan, agar Aku bisa percaya"
Haiden menatap dalam wajah gadis imutnya.
Aku bisa gila, hanya menatap saja Aku ingin memakannya. Tahan sebentar lagi Haiden.
Jaminan, jaminan apa maksudnya? Aku tidak mengerti.
Haiden masih menatap Dominique, menunggu sesuatu "jaminan apa yang kau maksud" dengan suara lirih Dominique, malah berdebat kembali.
"Kau sungguh ingin Aku yang menjawabnya" Haiden seperti mendapat angin surgawi.
Dominique mengangguk pasrah.
"Keluarlah dari pekerjaanmu, serahkan dirimu seutuhnya hanya untukku Dan ikut tinggal bersamaku" titah yang mulia sultan Haiden.
ini bukan jaminan namanya Haiden, kau sama saja mematahkan kedua kakiku.
"jangan soal pekerjaan, kau kan tahu Aku tidak suka bergantung kepada seseorang"
"kau tidak suka bergantung kepadaku,
tapi kau menggantungkan harapanmu kepada lelaki brengsek itu" Haiden penuh tekanan kembali.
"ini tidak Ada kaitannya dengan dia"
"Bahkan Airmatamu di rumah sakit lebih jujur dibandingkan ucapanmu,
jadi kau rela menyerahkan dirimu seutuhnya juga ikut bersamaku"
Dominique hanya diam, kalah telak, dia tidak mungkin bisa menang dari Haiden___
Flashback on (Sepuluh tahun sebelumnya)
__ADS_1
"John apa Papa Sudah tidak waras mengirimkanku bersekolah di tempat kumuh seperti ini" Haiden saat berusia tujuh belas tahun.
"Hanya beberapa bulan saja Tuan, setelah urusan perusahaan selesai kita akan segera terbang ke Inggris"
"Baru melihat wujud sekolahnya saja sudah membuatku malas, apalagi harus bertahan beberapa bulan"
Haiden dan John yang harus disembunyikan identitasnya karena keluarga dan perusahaan sedang dalam incaran rekanan bisnis.
Haiden membuka pintu mobilnya, diekori oleh John. Saat akan ke kantor tata usaha untuk melapor murid baru, Haiden ditabrak seorang siswi wanita membuat tubuh Haiden terjatuh dilantai dan tubuh siswi wanita tadi menindihnya__
"Ah, maaf__aku tidak sengaja" ucap siswi tadi dengan nafas yang tidak beraturan, wajahnya begitu dekat dengan Haiden.
Ini pertama kalinya Haiden di tabrak seseorang, yang menurutnya siswi itu manis dan imut, apalagi rambutnya dikuncir dua,
anehnya lagi biasanya Haiden menolak bersentuhan dengan seorang yang dinamakan wanita, sampai saat John akan menarik tangan siswi tadi, Haiden malah memberi kode keras melarangnya.
"Ah, maaf" siswi tadi sadar tubuhnya sudah menimpa diatas Haiden segera bangun, tapi saat mencoba bangun dari tubuhnya Haiden rambut siswi tadi tersangkut di kancing baju Haiden.
"Aw, sakit" tubuh siswi tadi malah kembali jatuh lagi menimpa Haiden, Haiden masih terus menatapnya tidak berkedip, mata Haiden menyusuri setiap tampilan siswi tadi. "sekali lagi maaf Yaa" siswi tadi mencoba mengeluarkan rambut dari kancing baju Haiden.
Setelah berhasil, siswi tadi meminta maaf kembali dan berlari pergi meninggalkan Haiden.
John menyadari Tuannya sudah menaruh hati pada siswi tadi, bahkan John menganggap itu Cinta Monyet Tuannya.
Setelah melapor dari tata usaha, salah guru pembimbing mengantarkan Haiden dan John ke kelas.
Mata Haiden langsung tertuju pada satu meja yang sedang asik mengobrol dengan teman sebangkunya. Sedangkan yang ditatap Haiden seolah tidak memperdulikan dan memperhatikan.
John pun menyadari tatapan Tuannya, tatapan yang begitu dalam dan hangat tidak seperti biasanya.
tanpa memperdulikan ocehan guru yang sedang memperkenalkan Haiden Dan John, Haiden langsung berjalan dan duduk di meja kosong tadi.
Setelah perkenalan singkat yang dilakukan John, John langsung duduk di sebelahnya Haiden.
Pelajaran berjalan cepat, saat bel istirahat tampak semua murid berhamburan keluar menuju kantin, sedang Haiden masih menatap orang yang dihadapannya yang tidak memperdulikan kehadiran Haiden, sampai seorang murid laki-laki menghampiri meja orang yang ditatapnya__
"Dom, kamu kenapa terlambat, tadi Aku melihatmu berlarian saat masuk kelas" sapa lelaki berkacamata, berwajah manis.
"hehe__iya Kevin__ Aku bangun kesiangan gara-gara bergadang nonton drama tv"
"Jiahh___kebiasaan deh kamu" lelaki tadi mengelus-elus rambutnya.
Sorot Mata Haiden langsung berubah dingin Dan tajam saat kehadiran lelaki berkacamata tadi.
"udah__jangan pamer kemesraan mulu,
ayok istirahat, Aku sudah lapar, bagaimana kalau kita makan bakso mang Udin" selak teman sebangkunya.
"iya__Bella, tenang aja, Damar sudah mencari tempat duduk buat kita, ayok__Domi kita ke kantin" tangan Domi ditarik oleh Kevin, Bella pun mengikutinya.
Haiden yang kesal saat mereka sudah keluar kelas, langsung menendang kursi didepan nya itu dengan kedua kakinya. Ini pun pertama kalinya John melihat tatapan Mata Tuannya berkobar seperti penuh dengan kecemburuan, bahkan di sekolah lamanya yang terbilang elite, siswi manapun yang coba mendekati ataupun mencari perhatian pada nya, dia tidak pernah memperdulikannya__
"John, berani sekali dia mengacuhkanku, bahkan dia tidak mengenaliku, Aku pasti akan membalasnya berlipat-lipat penghinaan ini" Haiden mengepalkan kedua tangannya, berdiri dengan kemarahannya.
__ADS_1
Haiden dan John berjalan menuju kantin, saat memasuki kantin wajah Haiden dan John langsung menjadi pusat perhatian. Tampan Dan keren, bahkan beberapa siswi langsung gercep tebar pesona, ataupun sekedar mengajaknya berkenalan.
Namun Mata Haiden langsung berkeliaran mencari keberadaan siswi yang dipanggil Domi tadi, setelah dia menemukan, Domi sedang asik mengobrol bersama leleki tadi dan dua temannya.
Haiden langsung berjalan menuju meja Domi, dan tanpa permisi langsung menggeser pantat Domi duduk di sebelahnya, Domi yang terkejut sekaligus binggung, melirik orang yang di sebelahnya yang menurut Domi sangat mengganggu Dan menyebalkan.
"Eh, maaf sudah penuh, cari bangku lain saja" Domi masih bersikap sopan, sedangkan Haiden tidak memperdulikan ucapan Domi.
Resek banget sih nih orang
Domi mulai tidak nyaman dan terganggu.
Sial, sudah dihadapannya pun, dia masih tidak mengenaliku, padahal dia sudah menindihku dua kali tadi.
Umpat Haiden di hati.
"Kevin, Aku sudahan nih, Aku balik ke kelas duluan ya, tugas matematika Bu Ester Ada yang belum Aku kerjakan nih" Domi yang berdiri, "Maaf, permisi" Domi menyengol lutut Haiden agar bergeser memberikan jalan, Haiden langsung menatap tajam Domi.
"iya__aku mau keluar nih" Domi yang terkejut melihat tatapan tajam mata Haiden yang langsung membuat bulu kuduk Domi seketika berdiri seperti bertemu "Setan".
Haiden menggeserkan pahanya, memberikan jalan untuk Domi.
Aneh, kenapa tengkuk leherku jadi dingin Dan merinding begini Yaa.
Domi yang berjalan menuju kelas memegangi leher belakangnya.
Saat pulang sekolah, Haiden kembali melihat pertunjukan yang membuat matanya sakit, Haiden melihat Domi diantar pulang naik motor vespa.
" John, berapa harga motor vespa butut seperti itu?" John mengerutkan dahinya.
"Jika Tuan menggunakan itu kesekolah, Tuan besar pasti tidak akan mengizinkan" saut John.
"Sial, Aku kalah bersaing dengan vespa butut"
Haiden yang kesal berjalan masuk ke mobilnya.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.