MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Permintaan Maaf


__ADS_3

“Apa aku perduli. Lupakan semuanya. Aku sudah mengurus surat perceraian kita dan aku sudah keluar dari keluarga Abraham jadi kau tak perlu beralasan apapun atas apa yang kau lakukan adalah kesalahanku. Dan, aku peringatkan, sekali lagi kau menyentuhnya. Aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” Justin meradang setelah tahu istrinya melakukan penculikan terhadap Dominique. Wanita yang masih sangat dia cintai sampai saat ini.


Haiden membanting pintu dengan keras. Menerobos masuk pada pertengkaran mereka. Justin baru saja menolehkan wajahnya saat Haiden dengan sangat cepat melayangkan tinjunya berkali-kali. Willy yang mengekori dan juga sempat mencuri dengar sedikit pertengkaran mereka akan melakukan hal yang sama. Namun, yang dia lakukan sekarang adalah melerai Haiden saat memukuli Justin mati-matian.


“Brengsek! Rupaya kau pelakunya!” emosinya masih belum mereda. Dia mengumpat kasar Justin. Monica terkejut dengan kedatangan dua orang yang memasuki ruang perawatannya.


Justin masih sempoyongan ketika Monica dengan khawatir membantunya berdiri.


“Kau, jika istriku tak berpesan untuk menyelamatkanmu. Aku yang lebih dulu akan menghabisimu!” Willy menaikan rahangnya dengan kasar. Memicing tajam pada Monica. Memberikan ancaman yan membuat seluruh tubuhnya bergetar.


Justin menghempaskan tangan istrinya, “Jangan menyentuhku! Ini semua karena ulahmu!” Justin yang terlihat begitu egois. Menekan amarahnya. Menyalahkan istrinya. Monica menatap tak percaya dengan perkataan  yang keluar dari mulut suaminya. Dihadapan orang lain pun, dia sama sekali tak pernah menghargainya. Sesaat Monica menatap wajah Willy. Ada dejavu dalam dirinya saat melihatnya.


Kenapa orang itu terus-terusan membela, ah—? matanya mendelik saat dia menelaah kembali ucapan Will barusan. Dia, suami perempuan murahan itu? Lalu, siapa dia? Monica yang mengalihkan pandangannya kepada Haiden yang sudah membuat suaminya babak belur.


Monica memutar otaknya dan menghela nafasnya dengan kesal. Cih, bisa-bisanya wanita itu mendapatkan banyak perlindungan dari para lelaki. Apa istimewanya? Selain wanita penggoda dan murahan. Cibirnya yang masih bergelut di dalam hati.


“Kau mempercayai wanita murahan dan penggoda itu? Hah, berapa banyak dia mengkoleksi laki-laki?” dengusnya. Terdengar seperti hinaan di telinga kedua suami Dominique.


“Yang kau bilang wanita murahan itu adalah istriku!” protes Haiden. Dia tak terima istrinya dihina di hadapannya.


Monica kembali membuang kasar nafasnya. Dia kembali menggeleng. Tak percaya. ‘Dua suami? Wanita itu menggunakan trik licik apa? Bisa-bisanya pria seperti mereka sampai tertarik dengan wanita sampah itu.’ Dia masih saja kesal ketika Haiden mengatakan Dominique sebagai istrinya.


“Jauhi istriku. Sekali lagi kau berulah tak akan ada ampun!” ancam Willy dan menarik keluar Haiden setelah melampiaskan kekesalan mereka.


“Dasar wanita penggoda. Wanita murahan!” berangnya. Berteriak dengan histeris memaki kepergian kedua suami Dominique.

__ADS_1


Saat mereka keluar, Baron dan Markus tepat berdiri dihadapannya. Markus menatap Will dengan tajam. Haiden yang tak ingin ikut campur, memilih untuk menghindar. Masuk kembali ke kamar perawatan istrinya.


“Markus!” Baron siap memberikan perintah.


“Tidak! Jangan sentuh wanita itu, istriku sudah berpesan untuk menyelematkannya kali ini. Lain kali tanganku sendiri yang akan menghabisi wanita itu!” ucap Willy. Melayangkan pandangannya kepada ayahnya. Dia merasa bersalah karena sudah menuduhnya.


“Maaf! Aku sungguh meminta maaf!” ucapnya kembali menatap wajah ayahnya. Sedikit kecut ayahnya melirik wajah anaknya saat meminta maaf dengannya. Ini kali pertama dia mendengar anaknya secara langung dan terus terang meminta maaf dengannya.


“Hah, sudahlah. Aku juga bersalah padamu!” Baron menepuk pundak anaknya sebagai tanda permohonan maaf anaknya dia terima.


Mereka beradu pandang sesaat, “Kau benar-benar anak kurang ajar. Bagimana bisa kau tak memberitahuku kalau Ramon dan Carlos sudah menikah!” dengusnya melanjutkan obrolan mereka agar tak terputus.


“Apa urusannya denganmu? Bukankah kau paling tak suka dengan hal sentimentil seperti itu!” balasnya mendengus kecut.


“Kau bahkan tak memberikanku kesempaatan untuk memberikan hadiah ataupun selamat pada mereka, hah?’ Willy hanya memutar kedua bola matanya saat mendengar ucapan ayahnya yang diluar dugaan. Dia tak mengira ayahnya akan tertarik dengan hubungan harmonis seseorang.


“Ayo, kita pergi, Markus!” cetusnya. Meninggalkannya begitu saja.


“Cih, apa dia sedang bersikap seperti layaknya seorang ayah?” gerutu Willy berjalan kembali ke kamar perawatan istrinya.


Willy masuk ke ruangan istrinya. Haiden sedang membantunya menyuapi makan. Dia tak ingin mengganggu jadi hanya duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah istrinya.


Dominique melirik dan menghentikan makannya, “Sudah kenyang,” ucapnya. Haiden meletakan piring makan istrinya di atas meja. Melirik kehadiran Willy yang sudah berada di dalam ruangan.


“Aku keluar sebentar, kalian berbincanglah!” dia sangat berbesar hati. Memberi kesempatan rival dan istrinya berbicara.

__ADS_1


Dominique mengangguk pelan. Bagaimanapun memang ada masalah diantara mereka yang belum terselesaikan. Will bahkan sudah mempersiapkan dirinya andaikata istrinya akan memaki atau menampar wajahnya. Asalkan istrinya memaafkan, apapun akan dia lakukan. Dia masih saja memandangi wajah istrinya dari tep ranjang. Tak bergerak sedikitpun sebelum istrinya yang mengizinkan.


“Cih, apa kau masih mau tetap disitu dan tak mau bertemu denganku? Kalau tidak mau bertemu, keluarlah!” usirnya karena hampir lima belas menit tak ada pergerakan apapun dari suaminya. Dia mulai kesal.


“Ti-tidak! Jangan usir aku!” willy melompat cepat kearah istrinya. Dia kini sudah duduk di sebalah istrinya yang masih menyamdarkan tubuhnya di ranjang.


Dia  meraih kedua tangan istrinya. Memegangnya dengan sangat erat. Mengecup bergantian kedua tangannya.


“Maafkan aku sayang, aku sungguh meminta maaf. Hukuman apapun boleh kau berikan padaku, asalkan kau tak memintaku untuk jauh lagi dari sisimu!” pinta Willy dengan segenap hati. Dia sudah tak mau lagi kehilangan istrinya.


“Minta maaf sih minta maaf, tapi masa kau tidak membawa apapun untuk merayuku padahal tadi kau sempat keluar!” dengusnya.


“Kau mau apa sayang? Apapun yang kau inginkan sekarang akan aku berikan!” will penuh dengan semangat asalkan istrinya menerima permohonan maafnya.


“Makan rendang jengkol satu penggorengan dan harus habis dalam satu jam!” cibir Dominique menatap wajah suaminya yang langsung berubah saat mengatakan rendang jengkol.


“Hah, yang benar saja sayang, kau tahu kan aku tak suka, tapi aku lebih baik dari si bodoh Aramgyan itu sih ...,” dia tetap berbangga hati karena waktu sempat merasakan suapan rendang jengkol dari istinya. Membuatnya tak bisa melupakan aroma itu seumur hidupnya.


“Cih, kau bilang mau melakukan apapun. Baru aku tantang segitu saja sudah menyerah.” Dominique memalingkan wajahnya. Pura-pura marah.


“Ya, sayang ... tidak gitu juga dong. Yang lain saja dong, asalkan jangan rendang jengkol,” dia mencoba bernegosiasi dengan istrinya yang masih berpaling muka darinya.


Dominique masih melakukan aksi diamnya. Pura-pura marah agar suaminya merayu. Cih, segitu saja usahanya? Kok cuma diam saja. Mana aksinya nih? dia masih menunggu sepak terjang yang akan dilakukan suaminya.


Aku harus melakukan apa agar dia menerima permohonan maafku. Saat ini aku tidak tahu apa yang sedang dia inginkan? Apa aku belikan dia berlian? Atau mungkin mobil baru?

__ADS_1


“Sayang, tolong berikan aku petunjuk dong. Aku kan tidak tahu saat ini kau sedang menginginkan apa?”


__ADS_2