
"Keluarlah," perintah Haiden, ia turun dari ranjang, keluar kamarnya.
Tubuh Dominique masih bergetar dengan hebat, ia melihat luka di kedua tangannya. Sakit..., tapi tidak seberapa dengan sakit di hatinya, sakit karena Haiden tidak mempercayainya.
Dominique menangis tak bersuara, sedih..., pedih, namun harus dia pendam. Dominique turun dari ranjang keluar kamar, berjalan menghampiri Haiden yang menunggunya di meja makan.
Rebecca menatap sinis pada Dominique, berbisik lirih di hati, menyakinkan diri, kalau dia memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam hidup Haiden.
John membukakan kursi untuk Dominique, ia tak bersuara hanya menatap Dominique yang lemah. Haiden menatap tajam Dominique.
Nyonya, nyonya, mengapa anda berbuat sejauh ini, kenapa anda berbuat bodoh seperti itu, Tuan hanya mencintaimu namun kau menghianatinya. Otak John yang berfikir sama dengan Haiden.
"Gyan, kau makan yang mana dulu," Rebecca mengambil kesempatan, siap mengambilkan makanan untuk Haiden. Dominique melirik tajam Rebecca.
"Kenapa, kau tidak suka, aku cuma ingin melayaninya makan," ucap Rebecca sinis pada Dominique.
"Kapan kau akan pergi, menggangu saja," Dominique bersuara, tak mau kalah dengan cibiran Rebecca.
Haiden tersenyum, mendengar ucapan Dominique.
Akhirnya kau menunjukkan rasa cintamu, apa aku perlu sejauh itu, agar membuatmu cemburu. Haiden.
"Aku mau makan yang itu," ucap Haiden menunjuk salah satu makanan, melirik ke arah Dominique, seperti di berikan angin segar Rebecca langsung mengambil dan akan menaruhnya di piring Haiden.
"Bukan kau," dengus Haiden mendelik pada Rebecca, Rebecca menarik kembali tangannya dan menaruh makanan pilihan Haiden di piringnya.
Dominique berdiri, mengambil makanan yang Haiden inginkan dan menaruhnya di piring. Saat akan kembali ke kursi, Haiden menarik tangan Dominique, Haiden memangku Dominique. Alih-alih kesal Dominique malah sengaja menantang Rebecca, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Haiden. Guratan senyum terlihat di wajah Haiden, Haiden bahagia melihat Dominique cemburu.
"Buka mulut-mu, a-a...," ucap Haiden menyuapi makanan tadi pada Dominique. Dominique menerima suapan Haiden dengan manja sambil tersenyum licik pada Rebecca
Aku pasti balas semua rasa sakit ini Iden, entah wanita pengganggu ini ataupun kau, akulah pemegang kuncinya, aku yang akan memutuskan pintu mana yangg akan ku buka.
Rebecca geram meremas tangannya di bawah meja makan.
"Gyan..., Terry ingin sekali jalan-jalan bisakah setelah makan kita pergi bersama," Rebecca yang tak ingin kalah, menjadikan anaknya sebagai pion.
Haiden menatap Terry, "Iya... pah, aku ingin jalan-jalan," suara munggil Terry menyayat hati Dominique. Dominique hampir saja melupakan kehadiran Terry.
Bahkan sampai saat ini Haiden belum menjelaskan secara gamblang hubungannya dengan anak itu, sedangkan dia bisa menuduhku seenaknya dengan Willy, pekik Dominique di hati.
"Baiklah, kita jalan-jalan," suara Haiden begitu lembut saat berbicara dengan Terry.
__ADS_1
Kau lihat, aku jauh selangkah darimu. Seringai Rebecca menatap licik Dominique.
"Ayo...., Terry kita siap-siap," Rebecca yang beranjak dari meja makan.
"Kau juga siap-siap, kita akan berangkat bersama," ucap Haiden pada Dominique, menghentikan langkah Rebecca sesaat.
"Aku lelah, di rumah saja," Dominique beranjak dari pangkuan Haiden, masuk ke dalam kamar. Haiden mengekori Dominique, mengunci pintu kamarnya.
Dominique memijat pundak leher belakangnya perlahan, " Ah, badanku masih sakit, dasar serigala gila, setan belang," umpat Dominique kesal, saat berbalik badan Dominique terkejut Haiden sudah di hadapannya.
"Akh," teriak Dominique, spontan tubuh kagetnya terpental ke ranjang.
"Oww, jadi kau sedang menggoda dan merayuku," Haiden yang sudah berhasil mengkungkung tubuh Dominique.
"Ka-kau, sedang apa di sini," suara Dominique seketika bergetar ketakutan, Dominique memalingkan wajahnya, Dominique kembali waspada terhadap Haiden seperti pertama kali mereka bertemu.
"Kau, ada apa dengan-mu," Haiden yang menyadari perubahan Dominique terhadapnya.
"A-aku, tidak apa-apa," menarik selimut menutupi tubuhnya,
"Hei, Dominique, lihat aku..., " Haiden mulai naik pitam berkacak pinggang melihat tingkah Dominique.
"Pergilah, bukannya kau mau pergi," usir Dominique dari balik selimut. Haiden menyibak kasar selimut yang menutupi tubuh Dominique, menarik lengan Dominique.
Haiden menatap Dominique tak percaya, ia duduk dan merengkuh Dominique ke pelukannya, "Maafkan aku sayang, sungguh aku tak bermaksud menyakiti-mu," mengusap rambut Dominique dengan lembut, namun tubuh Dominique masih bergetar.
"Tatap aku, Dominique," menyentuh dagu Dominique, Dominique memalingkan wajahnya, "Hei, kau masih marah padaku,"
"Tidak, Iden, aku hanya lelah, pergilah," tetap mengusir Haiden.
"Sayang, lihat aku dulu, aku tidak akan pergi sampai kau melihat-ku," ancam Haiden, terdengar ketukan pintu dan suara Rebecca memanggil Haiden.
"Sudah pergilah, mereka menunggu-mu," Haiden tidak menggubris Dominique malah merebahkan tubuhnya di samping Dominique.
"Iden..., pergilah, kasihan Terry, " pinta Dominique .
"Aku tidak perduli, toh dia bukan anakku," Dominique tersenyum melihat tingkah Haiden.
"Jangan terlalu lama pergi, aku akan menunggu-mu di sini, bukankah kau bilang ingin segera punya cabang junior Haiden," Haiden menatap Dominique, "Cium aku sayang...," ucap Haiden manja. Dominique menggelengkan kepalanya.
"Pergilah, kalau cepat mengajak Terry jalan-jalan, kau pun cepat kembali, ayo... bangun," Dominique menarik tangan Haiden turun dari ranjang. Meski malas Haiden menuruti Dominique, Haiden bertingkah seperti anak kecil, memeluk Dominique dari belakang.
__ADS_1
Dominique membuka pintu, di ambang pintu Rebecca dan Terry sudah menunggu, "Pergilah," Dominique menutup pintu apartemen sambil melihat mereka pergi dengan bergandengan tangan.
Mereka sudah seperti keluarga lengkap.
Dominique menghapus airmatanya yang tiba-tiba mengalir.
Dan seseorang yang mengintai Dominique, dia memberikan laporan, setelah kepergian Haiden, dia langsung menghubungi seseorang.
***
"Bagaimana dengan luka anda, Tuan," tanya Ramon yang melihat Tuannya memegangi pipinya.
"Hanya luka kecil, yang paling penting sekarang, cari cara agar secepatnya nyonya Bunarco segera pulang ke rumah, aku tidak akan berdiam diri melihatnya di perlakuan seperti tadi," Willy yang teringat wajah tertekan dan ketakutan Dominique.
"Baik Tuan,"
"Oya, kau sudah memberikan biaya pergantian untuk temannya nyonya, " tanya Willy yang penuh percaya diri menganggap Dominique seperti istrinya.
"Sudah Tuan, anda tak perlu khawatir, "
"Pindahkan dia, carikan tempat yang lebih aman, dan tempat-kan beberapa pengawal untuk menjaga dan mengawasi-nya,"
Ramon melirik Tuannya, "Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan mencari temannya, harus amankan situasi terlebih dahulu sebelum tercium musuh,"
"Baik, Tuan,".
Willy menerima sebuah pesan, setelah melihat isi pesannya, Willy menatap geram, " Ayo, kita jemput nyonya Bunarco, sekarang, " perintah Willy. Mobil pun melesat dengan cepat sesuai perintah Tuannya.
.
.
.
Bel pintu apartemen berbunyi, Dominique membuka pintu, matanya membulat lebar ketika melihat Willy sudah di ambang pintu dengan beberapa pengawal.
"Kau, sedang apa di sini, cepat pergilah, " usir Dominique mengibaskan tangannya. Mata Willy menangkap luka di kedua lengan Dominique, menyentuhnya dengan lembut,
"Aku datang ke sini untuk menjemput nyonya Bunarco," menarik Dominique, lalu membekap Dominique dengan sapu tangan yang sudah di taruh obat bius. Dominique tak sadarkan diri. Pingsan.
***
__ADS_1
...Bersambung...