
“Lepaskan aku, Will! Aku belum selesai berbicara!” hardiknya penuh penekanan. Dia mencoba meronta dalam pelukan suaminya. Tak ingin suaminya membawa pergi dari tempat yang membuatnya penuh dengan pertanyaan.
Will tetap tak menggubris kemauan istrinya kali ini. Dia tak ingin istrinya terluka atau terkena masalah yang tak dia inginkan.
“Kita bicarakan di rumah ya, sayang. Aku akan jelaskan semuannya padamu. Aku berjanji,” suarany melemah. Memohon pengertian istrinya.
Dia menurunkan istrinya perlahan, “Tidak, aku tidak mau! Aku mau sekarang. Kau jelaskan sejelas-jelasnya atau aku akan masuk kembali ke dalam!” dengan suara setengah berteriak membuat Will serba salah.
Dia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk istrinya tahu. Tahu apapun kebenaran yang telah dia sembunyikan selama ini. Apa saja yang sudah dia tutupi, dia tak ingin kebahagiaanya terenggut paksa lebih cepat dari semua yang sudah dia rencankan.
“Aku mohon sayang, percayalah padaku. Aku mohon!” dia mengiba. Dia menginginkan kali ini istrinya lebih berlapang dada dan berbaik hati padanya. Dia hanya ingin waktu yang tersisa dijalani dengan kebahagian. Bukan cara seperti ini.
“Ayolah, Will. Apa yang kau sembunyikan dariku? Dan siapa dia? Apa hubungannya laki-laki itu dengan dirimu? Apa dia memang ayahmu? Katakan, Will!” dia tetap bersikeras dengan sikapnya. Dia terlihat tak sabaran dengan kebungkaman dan sikap bertele-tele suaminya. Selama ini dia tak pernah melakukan hal seperti itu. Baginya dia selalu jujur dan sangat menyayanginya.
Hurf
Will membuang nafas kesalnya. Jika saat ini dihadapannya bukan istri yang amat dia cintai, mungkin sejak tadi dia telah membungkam mulut itu dengan apapun asalkan tak bersuara kembali.
“Iya, dia, papa-ku. Dia datang untuk membawaku pulang. Ada satu pekerjaan yang sudah dia aturkan untukku!” jelasnya ringkas. Padat. Namun, bukan jawaban itu saja yang dia mau.
“Lalu soal wanita yang kau bicarakan? Siapa dia? Apa yang kalian lakukan dengannya?”
Jleb. Pertanyaan itu menghujam seluruh jantungnya. Dia tahu cepat atau lambat pertanyaan seperti akan dia dapatkan. Will memijat tengkuknya. Mengalihkan pandangan mata istrinya yang terus menatapnya dengan tajam. Tatapan penasaran.
“Tidak ada wanita, mungkin kau salah mendengar.” Will berusaha menggoyahkan keyakinan istrinya.
“Kau bohong, Will. Tatap mataku saat kau berbicara. Aku tahu kau sedang berbohong padaku!” Dia berusaha menebak apapun yang bisa dia tebak. Dia ingin tahu apa pekerjaan yang sedang suaminya lakukan. Mengapa dia bisa terlibat dengan sesuatu yang di luar nalarnya. Bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Nyawa manusia seperti tak berharga di hadapan laki-laki itu.
__ADS_1
Will melihat wajah istrinya yang masih terlihat syock sambil terus mengelus perutnya saat berbicara. Dia sebenarnya tak tega, dia selalu akan lemah jika di hadapkan dengan istrinya.
“Kita pulang dulu ya sayang, aku ingin mengecek kondisimu dengan benar. Sungguh aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk menimpamu dan bayi kita!” bujuknya dengan segenap kemampuan.
Dominique menyadari perdebatannya tetap tidak akan membuatku hasil. Suaminya akan tetap memaksakan kehendaknya. Dia pun tahu, dia saat ini tak boleh egois.
Ceklek
Will masih membuka pintu mobilnya menunggu istrinya masuk. Ramon dan Carlos bersiap di mobil belakang.
"Hah! Ini tidak menyelesaikan masalah, Will. Kau berhutang penjelasan padaku," dengusnya kesal. Masuk ke mobil sedikit membantingkan tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat ketus. Will mencoba mendekati istrinya yang sedang ngambek. Dia berusaha membujuk.
"Sayang ... jangan marah lagi, aku pasti jelaskan semua. Apapun, malam ini aku bersedia menerima hukuman darimu." Dominique tetap memalingkan wajahnya pada kaca mobil. Memandangi jalan dari mobil yang sedang melaju.
Tangan Will perlahan menarik tubuh istrinya. Melingkari perutnya yang sudah membuncit. Menggapai kedua lengan istrinya yang sudah di balut perban oleh Carlos.
"Maafkan aku, Dominique. Aku sungguh meminta maaf atas sikap kasar papa-ku padamu. Dan dia menunjukkan sesuatu yang seharusnya tak pernah kau lihat!" bisiknya lirih penuh penekanan dari setiap kata yang terucap. Dia membalikkan tubuhnya menatap wajah suaminya yang terlihat kacau dan tak dapat dia mengerti.
Apa sebenarnya yang kau tutupi, Will? Kau benar-benar membuatku penasaran dan terganggu. Kau tidak pernah bersikap seperti ini dan menunjukan wajah tidak berdayamu itu.
Hati istrinya pula menatap getir yang dirasakan suaminya. Dia memang belum bercerita apapun. Namun, entah mengapa hatinya seolah ikut terseret dalam ombak kegalauannya.
"Apa kau akan memaafkan aku jika aku membuat satu kesalahan yang tak bisa termaafkan? Apa kau bisa tak meninggalkanku setelah kau tahu jika aku melakukan kesalahan yang sangat besar padamu?" ucapnya. Terus berputar-putar.
"Apa sih, Will? Cepat katakan. Jangan terus membuatku penasaran!" Dia menyentuh wajah suaminya yang masih terlihat memar dan darah mulai mengering di kening juga bibirnya.
"Sakitkah?" Dominique bertanya meratapi nanar suaminya. Dia bahkan tak bisa menahan buliran air matanya yang keluar begitu saja.
__ADS_1
"Ini tidak seberapa, bukan hal yang menyakitkan!" ucapnya penuh dengan kegetiran dan luka. 'Aku akan sangat tersakiti jika kau pergi menjauh dari hidupku, sayang.'
"Kenapa seorang ayah bisa sampai tega seperti ini sih, dia bahkan tega melukaimu tanpa perasaan. Apa dia benar ayahmu?" kesal kini Dominique. Hatinya masih tidak terima kalau suami yang paling dicintai dipukuli begitu saja.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, jadi jangan menangis lagi. Aku mohon!" Dia mengusap perlahan buliran yang keluar dari mata istrinya. Mencintai menenangkannya.
"Lantas apa penjelasannya? Kenapa kau masih saja belum menceritakan semua padaku?" keukeh tetap menghujam suaminya dengan pertanyaan yang sama.
Ceklek
"Kita sudah sampai, Tuan!" sopir membuka pintu dan mempersilahkan Will dan Dominique keluar. Dari teras sudah terlihat Haiden mondar-mandir dengan gelisah. Ketika dia melihat istrinya turun di papah oleh rivalnya, dia bergegas menghampiri.
Bugh
Dia memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Rasa cemas dan gelisah berangsur-angsur sirna.
Terima kasih Tuhan, kau membawa dia pulang dengan selamat.
"Kau baik-baik saja?" Haiden memeriksa kondisi tubuh istrinya dengan teliti dari rambut hingga dia berjongkok ke ujung kaki istrinya yang sudah terlihat bengkak semua.
"Aku baik-baik saja, Iden. Di mana Terry?" Dominique yang menyadari anaknya tidak terlihat menyambut kedatangannya.
"Dia bersama pengasuhnya di kamar. Aku pun sudah memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya. Aku takut dia mendapatkan trauma akibat kecelakaan itu." Haiden memang tak ingin sesuatu yang buruk menimpa keluarganya.
"Kita bicara di dalam sambil melihat lagi lukamu," ajak Will. Namun, istrinya menghempaskan tangannya ketika akan menyentuh lengannya.
"Jangan sentuh-sentuh aku! Sebelum kau menceritakan semuanya, jangan kau berani sentuh-sentuh aku!" tekadnya bulat penuh penekanan.
__ADS_1