MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kedatangan Tamu Mendadak


__ADS_3

“Pagi Sop?” sapa Dominique ketika melihat temannya baru saja membuka pintu. Berwajah pucat dan terlihat sangat kelelahan. Dia diapit kedua suami barunya yang berwajah kebalikan darinya. Keduanya tersenyum bahagia.


“Pagi juga Dom. Dom, aku pulang ya. Aku sudah bolos kerja tiga hari,” ucapnya. Seketika membuat dua wajah suaminya melirik.


“Eh, itu bukankah kau masih cuti?” Dominique berlagak lupa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Cuti? Berapa hari aku cutinya? Aku mau menelpon bu Nath, Dom. Tapi-“ wajahnya melirik John yang sudah melipat kedua tangannya di dada.


“Aku sudah memproses surat pengunduran dirimu,” sahut John.


Kini delikan mata langung menghujam John, “Kau, bukankah kau sudah berjanji? Tidak akan mengungkit masalah ini sampai aku,”


“Kami sedang berusaha!” sahut kedua suami Sophie berbarengan. Dominique hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Mereka menyela istrinya berbicara


Huh, ternyata mereka sama saja. Mau tuan atau bawahan. Kelakuan mereka sebelas dua belas. Gerutu Dominique.


“Dom, bantu aku sekali saja. Aku ingin kembali ke rumah kontrakanku,” pertama kali dalam hidupnya Sophie sangat merindukan tempat tinggalnya. Biar pun sempit dia tetap bahagia karena dirinya bebas melakukan apa saja yang dia inginkan.


“Maaf ya Sop, aku sekarang tak bisa ikut campur. Sebaiknya kau bicarakan pada dua suami di belakangmu itu. Dia sedang memelototiku,”  Dominique berdengus mengerucutkan bibirnya.


”Arrgghhh! Aku ingin pulang Dom, tolonglah!” dia kini merengek seperti anak kecil. Karena dia berbicara pada kedua suaminya tak mungkin dituruti. Mereka pasti akan langsung menolaknya.


“Ada apa? Kenapa kalian sangat berisik?” Haiden dihadapan mereka sudah mengenakan celemek di dadanya.


“Uhm, sayang ... bisakah kau mengizinkan Sophie pulang ke rumah?" ucapnya berusaha membantu teman seperjuangan.


“Kenapa kau meminta izin denganku. Aku bukan suaminya. Cepat sarapan, aku buatkan omelet dan Bunarco membuatkan pancake untukmu,” ucap Haiden tak menghiraukan permintaan istri tersayang. Dia mengacuhkannya.


Ada apa ini? Kenapa dengan mereka? Apa aku melewatkan sesuatu tadi malam?  batin Dominique heran melihat kedua suaminya yang sudah akur.


Mereka baru saja memulai sarapan ketika seorang pengawal menghampiri meja makan.

__ADS_1


“Ada apa?” Willy langsung memberikan tatapan mematikannya. Dia sama sekali tidak menginginkan istrinya diganggu apalagi sedang makan.


“Maaf Tuan, di depan ada yang mencari Nyonya Dominique. Dia ingin sekali bertemu dengan beliau,” ucapnya. Tak berani menatap kearah Dominique.


“Apa dia punya janji atau hal lain, Diana?” kini tatapan matanya teralih pada Diana yang juga tengah ikut sarapan dengan mereka.


“Tidak Tuan. Semua jadwal Marissa sudah saya kosongkan. Setelah publik tahu Marissa berhenti, saya tak mengizinkan jadwal ataupun hanya sekedar jumpa fans seperti yang Tuan inginkan. Lagipula pengawal itu bilang ingin bertemu Dominique bukan Marissa,” sahut Diana pun bingung.


“Usir dia. Aku tidak ingin dia mengganggu waktu istirahat istriku,” kembali Haiden angkat bicara.


“Mohon maaf Tuan, saya sudah berusaha mengusirnya. Namun, dia tetap memaksa. Dia bilang sangat membutuhkan bantuan Nyonya,” terang pengawal tadi masih menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap dua tuannya yang terdengar emosi.


Siapa yang mencari dan membutuhkan bantuanku? Sepertinya aku tidak ada janji dengan siapapun saat kembali, kecuali Justin. Dominique meletakkan sendoknya dan beranjak dari duduk.


“Biarkan aku berbicara dan bertemu langsung dengannya,” ucapnya.


Pengawal tadi membungkuk dan memberi jalan kepada Dominique. Di ikuti oleh penghuni lain yang penasaran dengan kedatangan tamu dadakan pagi mereka.


Lengan John di tarik oleh Sophie. Membuat langkah kakinya terhenti dan tentu saja Ramon turut serta tak mau ketinggalan.


“Ada apa?” serunya sedikit kecut dan menatap istrinya dengan dingin.


Cih, ada apa dengannya? Kenapa menatapku seperti itu. Sophie sempat terusir dengan tatapan John.


“Antarkan aku pulang. Aku harus bekerja siang ini,” desak Sophie. Dia tidak ingin absen lagi bekerja atau gajinya di potong.


Srek Srek


Bukan jawaban yang diberikan John. Dia dan Ramon kompak memberikan satu kartu hitam mereka pada Sophie.


“Kau pakailah, kami suamimu sekarang. Kau tak kekurangan uang. Jadi berhenti merenggek memintaku mengantarkan pulang!” John menghempaskan tubuh istrinya pada Ramon. Sepertinya John mengetahui siapa yang datang pagi ini. Haiden sudah memberitahu kedatangan seseorang padanya tadi malam.

__ADS_1


“Kau bawa dia dulu,” kode tajam dari John sangat dimengerti olehnya. Sophie masih tak bergeming ketika tanganya menerima pemberian kartu dari John. Seumur hidup baru sekali dia merasa hidupnya berubah. Namun, perubahan yang terlalu mendadak membuatnya tak nyaman.


"Ayo ikut dengan-ku," Ramon menarik perlahan tangan istrinya. Dia membawa istrinya kearah taman.


"Apa kami terlalu kasar padamu semalam, hah?" ucap Ramon lembut berlutut mengikuti Sophie yang sudah duduk di salah satu ayunan. Sesekali dia mengusap pipi dan membenarkan anak rambut istrinya yang keluar.


Dia hanya mengeleng. "Jujur ini semua terlalu mendadak untuk-ku. Aku sedang mencoba menyesuaikan diri. Tapi, aku mohon kalian izinkan aku kembali. Aku tidak akan mungkin bisa melarikan diri dari kalian kok. Aku hanya butuh waktu, sebentar saja. Aku janji tidak akan lama, lagian kalian juga pasti tahu dimana aku tinggalkan," sek-sekan Sophie menangis.


Air matanya mengalir begitu saja. Dia sudah kehilangan akal untuk berbicara dengan dua suaminya, apalagi John yang angkuh dan seperti macan bagi Sophie.


Ramon tersenyum, "Kau jahat dong pada kami," ucap Ramon.


"Kok aku sih? Aku kan cuma meminta izin pulang bukan berselingkuh dengan pria lain," celetuk Sophie. Kesal sudah hatinya.


"Aw, sakit!" dia meringis ketika Ramon mencubit kecil pinggangnya.


"Berani selingkuh, hah? Kau fikir apa kami masih kurang jantan menghadapimu?" Ramon mencubit hidung istri kecilnya.


"Atau kau yang antarkan aku pulang ya. Setidaknya kalian jangan mengambil keputusan secara sepihak. Aku juga punya hak bicara," cibirnya.


"Semua hakmu hilang ketika menikah dengan kami. Kami tidak ingin kau bekerja. Kami ingin memanjakan-mu. Apa kau mengerti keinginan kecil kami ini," ucap pria yang hatinya sudah keracunan oleh budak cinta.


"Begini saja-" Sophie mendekati wajah Ramon dan berbisik di telinganya.


Mendadak setelah berbisik di telinga Ramon wajahnya bersemu. Merah seperti udang rebus.


Kau benar-benar gila Sop. Kau sudah mulai ketularan Dominique. umpat di hati kecilnya.


"Hahahaha, kau sedang menyogok-ku? Uhm, apa kau tahu kalau kau dan aku saja yang seharian di ranjang. Aku tidak akan membiarkan dirimu bernafas sedikitpun. Kau tidak akan bisa lepas sedetik pun dari pelukanku. Aku akan menempel terus seperti perangko!" Ramon menatap wajah istrinya yang tak bisa dia mengerti isi hatinya sedang kacau balau.


Deg

__ADS_1


Ucapan dari mulut Ramon membuatnya tertohok. Dia sudah gila sampai bisa mengeluarkan ide yang tak masuk akal barusan. Bukan berakibat senang malah sepertinya kesengsaraan sedang menantinya di pintu neraka.


__ADS_2