MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Berakhir Indah


__ADS_3

“Apa mereka menindasmu? Katakan saja dengan grandma, walau keluarga kita tidak seperti dahulu. Nama Fernando siapa yang tak mengenalnya,” Rose yang meyakini sang cucu ditindas oleh sang mertua. Menyombongkan nama besar suaminya yang sudah tiada.


“Pah, Mah ... ini Nenek-ku, Rose,” ucap sang menantu memperkanalkan sang nenek.


“Nenekmu? Kau tidak sedang membohongi kami kan? Bukankah kau hanya seorang  perempuan yang bekerja di toko kue?” sang ayah mertua terlihat tak mempercayai ucapan sang menantu. Terlihat meremehkan. Dia hanya menyelidiki tenteng menantunya sampai sejauh itu.


“Dia, putri William Estimo, cucu tunggalku,” sang nenek yang menjawab pertanyaan dari sang mertua. Mata mereka membulat tak percaya. Bagi sang ayah mertua siapa yang tidak tahu nama besar keluarga Fernando. Di segani berbagai kalangan pebisnis dan bangsawan.


“Maafkan saya, Nyonya Fernando, saya sangat terlambat mengetahui,” sang mertua menatap sang menantu penuh penyesalan.


“Jadi, kalau aku tidak datang kau akan mengucilkan cucuku seperti itu, hah?” Rose berkacak pinggang. Tidak terima dia melihat cucu semata wayangnya diperlakukan tidak adil hanya karena statusnya.


"Grandma," Dominique mendekati sang nenek. Meredakan emosinya.


"Kau jangan membela mereka, mataku belum rabun. Tatapan dia tidak menyukaimu terlihat dengan jelas," dengus sang nenek. Menatap ayah mertua cucunya.


“Grandma, jangan seperti itu pada Papa dan Mamaku,” dia membela kedua mertuanya.


“Kau ini benar-benar ya. Sudah, grandma putuskan. Sebaiknya kau ikut dengan grandma pulang. Disini tak bagus untuk masa kehamilanmu,” Will yang mendengar segera menghampiri. Jujur dihatinya dia teramat gembira jika semua bisa terwujud.


“Grandma, kita sudah bahas ini sebelumnya. Kau tahu kan, aku sangat ingin melahirkan disini.”


“Grandma tahu, tapi kau malah seperti ini. Semua hakmu, grandma cabut,” sepertinya akan sulit sang cucu membujuknya. Meluluhkan kemarahan sang nenek.


“Grandma, dengarkan aku, aku mohon Grandma. Tolong, kali ini saja Grandma mengerti. Apapun akan aku lakukan, asalkan kali ini aku bisa menebus kesalahanku!” mencoba mengiba dengan segala kemampuannya.

__ADS_1


“Maafkan sikap orangtuaku, Grandma, aku mohon. Biarkan Dominique disini. Melahirkan disini, aku mohon, Grandma,” Haiden ikut meminta permohonan agar sang nenek bisa luluh.


“Terry akan operasi malam ini, Grandma dan aku telah berjanji akan merawatnya. Jadi, aku mohon Grandma mengerti!” Kedua orangtua Haiden merasa sedikit bersalah. Terlebih sang ayah mertua yang memang belum sepenuhnya menerima Dominique sebagai menantu. Tidak bisa dipungkiri salah satu penyebabnya adalah status Dominique.


“Nyonya Fernando, saya, Simon dari lubuk hati terdalam, memohon maaf atas kesalah fahaman ini. Saya bersalah karena sudah salah menilai dan memandang sebelah mata cucu Anda,” sang ayah mertua menghampiri sang nenek. Meminta maaf. Bersikap setulusnya, agar semua terselesaikan dan tidak menjadi masalah dikemudian hari.


Hurf


Sang nenek menghela nafasnya. Dia tahu, ini mungkin hanya gertak sambal untuk sang mertua cucunya. Dia hanya ingin sedikit memberi pelajaran agar tidak lagi selalu memandang suatu hal karena status.


“Aku banyak belajar dari pengalamanku sendiri, Simon. Sangat menyakitkan jika kita berpisah dengan orang yang kita sayangi. Apalagi sampai kita menghalalkan segala cara untuk memisahkannya. Aku hanya mendapatkan rasa kesepian. Kesepian yang tak berujung tanpa bisa meminta maaf dan memberikan restu padanya. Pada putraku—Willliam. Aku menyesal menentangnya,”


“Seumur hidup hanya itu penyesalanku. Saat ini aku hanya ingin menjaga apa yang putraku—William tinggalkan. Cucuku yang hanya tinggal satu orang, dia satu-satunya kini yang aku bisa jaga dan lindungi segenap jiwaku,” Rose berkata berterus terang tentang isi hati dan kepedihan. Penyesalan yang tak bisa digantikan walaupun kini dia sangat ingin. Karena sang putra telah lebih dahulu meninggalkannya.


Simon terkesima dengan pengakuan sang Rose. Dia tak menyangka akan mendapatkan pelajaran yang berharga.


Dia mengerti sebagai orangtua tak boleh egois dan memaksakan kehendak. Sudah satu korban yang dia rasakan. Dia pun kehilangan putra pertamanya yang begitu berharga karena dia terus memaksakan kehendak. Yang tertinggal hanya seorang. Dia pun tidak mau sampai kejadian itu terulang kembali.


“Maaf, maafkan Papa sayang,” dia merengkuh tubuh sang menantu dengan sangat erat. Menyesali semua perlakuan tak ramahnya.


“Tidak apa-apa, Pah,” dia menangis tersedu dipelukan sang ayah mertua. Memaafkannya dengan tulus. Tidak ada hal lain yang sempurana selain mendapatkan sebuah keluarga.


Setelah drama tangis sedu berakhir. Kini, mereka semua sedang menunggu cemas dibalik kamar operasi. Menunggu sang dokter keluar dari ruangannya dan memberikan kabar yang baik. Lima jam berlalu dengan sangat lambat. Hingga akan fajar menyinsing sang dokter pun belum keluar dari ruang operasinya. Dominique menyandarkan kepalanya dipangkuan Haiden dan Will menjaga tubuh istrinya di kaki. Begitu  pun dengan Sophie yang ikut menjaga dan para suaminya pun setia. Sang ayah dan ibu mertua duduk sambil berpelukan. Menguatkan. Berdoa yang terbaik untuk kelancaran operasi sang cucu.


Ceklek

__ADS_1


Satu jam berlalu setelahnya dokter pun keluar. Wajah lelahnya terlihat dengan sangat jelas. Namun, semua tergantikan saat sang dokter tersenyum pada semua orang yang tengah menunggunya. Dominique bisa bernafas dengan lega. Semua rantai yang membelenggunya dengan erat seolah terlepas.


“Syukurlah, terima kasih banyak, Dok. Kapan dia  akan dipindahkan?” dia bertanya dengan sangat tak sabar.


“Setengah jam lagi kira-kira kalian bisa menemuinya. Bergantianlah. Karena pasien pun pasti belum sadar sepenuhnya,” pesan sang dokter.


“Baik, Dok. Selagi terima kasih banyak,” para suami memberikannya dukungan.


“Nah, sekarang kau bisa sarapan dulu ya, sayang. Semalam kau hanya makan sedikit,” Will mengingatkan sang istri sambil mengelus perutnya.


“Iya, aku mau makan. Apapun itu pokoknya harus banyak,” dia mengusap air mata harunya. Dia tak ingin saat nanti bertemu dengan Terry, dia terlihat pucat dan menyedihkan.


“Sophie, Diana, kita cari makanan yang banyak yuk,” dia berbalik. Kini wajahnya sudah terlihat bersemangat saat mendapatkan kabar keberhasilan operasi Terry.


“Ajak kami sayang,” sang ibu mertua dan nenek menghampiri mereka.


“No, no. Mama dan Grandma tunggu saja. Kalian juga pasti lelah. Aku pasti membelikan yang banyak untuk kita semua,” dia yang mengembangkan senyum. Kembali ceria.


Syukurlah cucuku sudah kembali tersenyum. Tenang saja sayang, nenek akan selalu ada disisimu. Menjaga dan menganti semua waktu kehilangan kita.


Terima kasih telah memberikanku menantu yang memiliki hati baik. Selalu rendah hati walaupun dia memiliki segalanya.


Mereka tersemyum melepas kepergian sang menantu dan cucu untuk membeli makanan. Kesalah fahaman sudah terselesaikan. Seperti terlepas dari belenggu yang menghitam. Semuanya berakhir dengan indah.


Brukk Bugh

__ADS_1


Seseorang mengagetkanya. Merengkuhnya kedalam pelukan. Memeluknya dengan sangat erat.


“Syukurlah, kau tidak apa-apa,” ucap seseorang dengan penuh kecemasan.


__ADS_2