MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Peristiwa Memilukan


__ADS_3

“John!” teriak Haiden. Dia baru saja memapah istrinya turun dari mobil. Konsentrasinya sedikit terpecah. Dia fokus terhadap istri dan istri temannya. Sophie dan Diana saling menatap saat Haiden mengerahkan seluruh pengawalnya.


“Cari mereka, sekarang!” Haiden meradang dengan segala kemarahannya. Dia gagal melindungi istrinya.


“Ada apa, Tuan?” John menghampiri tuannya yang terlihat kacau.


“Hubungi Ramon, katakan padanya, aku gagal melindungi istriku!” perintahnya. Tanpa ragu John segera menghubungi Ramon. John memberi kode pada beberapa pengawal untuk membawa Sophie dan Diana masuk ke dalam rumah sakit.


“Kawal mereka!” perintah John.


“Ada apa sayang? Apa yang terjadi? Dimana Dominique?” Sophie bertanya dengan penuh khawatir.


"Kalian masuk lebih dahulu, nanti aku akan menyusul!" dia memberi kode keras agar pengawal segera membawa masuk wanita-wanita itu.


"Tapi sayang," Sophie menolak masuk. Bersikeras memegang tangan suaminya.


Cuuppp


"Aku tidak akan lama, masuklah dulu, sayang. Aku akan segera menyusulmu!" John berusaha menenangkan kepanikan istrinya. Akhirnya walau terpaksa Sophie menuruti kemauan suaminya.


Brakkk. Willy menggebrak meja dengan keras saat dia menerima kabar dari Ramon. Mereka sedang mengadakan rapat darurat bersama ayahnya.


"Pah, kau sungguh-sungguh melakukannya? Aku tak percaya, kau benar-benar tega melakukan itu padaku!" Will berteriak dengan sangat keras. Membuat semua mata manatap kearahnya. Baron memberi kode pada Markus untuk membubarkan rapat darurat mereka. Dia tak mengerti dengan perkataan putranya.


"Apa yang kau bicarakan?" ucap ayahnya.


"Kau jangan pura-pura tak mengerti, Pah. Aku sungguh tak menyangka kau tega berbuat itu padaku. Mulai detik ini, aku, Willy Bunarco menganggap putus hubungan kita!" Will meninggalkan ayahnya yang termenung. Markus mendapatkan berita dari salah seorang informan mereka.


"Sepertinya ada yang menyabotase rencana anda, Tuan Baron!" ucap Markus.


"Apa maksudnya?"


"Nyonya Dominique, di culik!" laporan Markus membuat matanya mendelik. Dia memang berencana mengancam anaknya untuk menghabisi istri anaknya. Namun, entah kenapa hatinya berubah pikiran. Dia pun tak tega melakukannya.

__ADS_1


"Pantas saja dia barusan begitu emosi terhadapku! Cari pelakuknya dan habisi dia. Berani sekali dia mencoreng nama baikku!" Kini ayahnya yang meledak. Dia tak ingin ada orang yang menyabotase rencananya.


Willy mengaktifkan alat pencarian yang dia tanamkan di kalung istrinya. Serupa dengan Will, Haiden pun mengaktifkan keberadaan istrinya lewat cincin yang dia pakai.


“Arrgghh! Siapa kau?” teriak Dominique histeris saat mobil yang digunakannya di ambil alih paksa oleh orang lain. Pengemudi tak bergeming. Tetap melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Brakkk. Orang itu menghentikan mobil yang dikemudikannya pada sebuah jalan. Dominique melihat ada mobil lain yang sedang menunggunya. Dia diseret paksa keluar dari mobilnya dan didorong keras masuk ke dalam kursi dekat kemudi mobil lainnya.


"Misi selesai!" ucapnya dan meninggalkan Dominique dengan seseorang.


"Hei, hei, tunggu. Apa maksudmu?" Dominique berteriak. Namun, mobil lain tadi sudah membawanya melaju dengan kencang.


Dddrrzztt dddrrzztt. Dalam kondisi tak bisa dia mengendalikan dirinya. Dominique berusaha membuka tas dan mengangkat telpon yang masuk.


"To-tolong aku, aku di culik!" suaranya memekik. Bergetar ketakutan.


"Di culik? Dimana kau sekarang?" dia bertanya dengan sangat khawatir.


"Arrrggghhh!"


Brakkk. Ponsel Dominique terampas begitu saja saat dia akan memberitahu posisikan.


"Hei, siapa kau? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku?" Dominique memekik, menatap orang di sampingnya yang memakai topeng.


"Cih, kau sungguh ingin tahu siapa aku? Hah. Dasar kau, wanita murahan. Perebut suami orang!" suara memekik tajam. Menghina. Dominique sepertinya mengenali suara itu, suara wanita. Terdengar tak asing di telinganya.


"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, siapa kau?" Dominique mencoba membuka topeng yang menutupi wajah wanita itu. Dominique membuka paksa dan melemparkan topeng yang menutupi wajahnya.


"Kau?" dia tersentak saat melihat wanita yang berada di hadapannya. Dia adalah wanita yang sama yang pernah mengacaukan hari Dominique beberapa tahun lalu. Wanita yang pernah menumpahkan minuman di kepalanya beberapa tahun lalu.


"Kau masih mengingatku? Dasar kau wanita munafik, perebut suami orang!" dia tetap menuduh Dominique tanpa Dominique tahu maksud dari pembicaraannya.


"Aku? Hah, yang benar saja. Kau pasti salah orang, aku ini sudah menikah. Dan aku cukup bahagia dengan suamiku. Jadi, tidak ada alasanku untuk menjadi perebut suami orang seperti yang kau tuduhkan!" Dominique pun geram. Dia tak terima dirinya di tuduh seperti itu.

__ADS_1


"Cih, dasar wanita busuk. Wanita tidak tahu diri! Wanita murahan!!" Makinya berulang kali membuat Dominique sakit kepala. Dan dia pun terbakar emosi hingga merantau dan mencoba menghentikan kemudi.


"Arrrggghhh. Berhenti disini. Aku mau turun!" teriaknya histeris. Membuat wanita tadi hilang keseimbangan dan membuatnya tak fokus pada jalan. Hingga.


Brakkk. Satu hantaman keras dari bantingan stir wanita tadi membuat mobil mereka terbalik. Dominique meringis sambil memegangi perutnya. Darah sudah mengalir deras dari pelipis dan kedua pahanya.


"Arrrggghhh, to-tolong! To-tolong!" dia terus berteriak dengan sisa tenaganya.


"Hahahaha. Mati kau. Aku harap kau mati dan dapat merasakan semua penderitaanku," wanita tadi terus mengoceh tak jelas. Dia pun sama terlukanya dengan Dominique. Disaat bersamaan Dominique merasakan kram di perutnya. Dia meringis sangat keras.


"Ah, aw, sa-sa-sakitt! Arrggh!" Dominique terus meraung. Kesakitan. Otaknya seakan tak berfungsi. Perasaannya bercampur aduk.


Willy sampai terlebih dahulu di lokasi. Dia segera berlari menghampiri mobil istrinya yang sudah terbalik.


"Sa-sayang, tolong bertahan. Aku mohon!" wajah Will sudah pucat pasi. Panik melihat kondisi istrinya yang terjepit di antara pintu mobil. Dengan darah yang terus mengalir ke mana-mana.


Dominique meraih wajah suaminya, "To-tolong a-aku. To-tolong aku, Will. Aku, ah, anak kita!" Dominique membuang semua gengsi. Tak lama mobil Haiden datang. Dia benar-benar menangis dan memohon kepada suami tersayangnya. Suami yang tak pernah bisa dia benci dengan apapun keadaanya sekarang.


Haiden segera mengerahkan semua pengawal untuk membantu mengangkat posisi mobil agar istrinya bisa keluar.


"Bertahan sayang, bertahan sebentar lagi, aku mohon bertahanlah!" Willy mencoba memberikan kekuatan pada istrinya. Dia terus memegangi tangan  istrinya. Ingin menariknya secara perlahan. Namun, melihat dulu kondisi terlihat stabil.


Baron dan Markus pun sampai di lokasi kejadian. Seorang ayah dengan mata kepalanya menyaksikan perjuangan anaknya saat menolong istrinya yang sedang dalam kondisi terjepit dengan perut yang terlihat sesak.


"Markus, cepat bantu mereka. Tolong  anak dan mantuku. Selamat mereka, apapun caranya!" perintah Baron. Pertama kali dalam hidupnya dia merasa terusik. Hati kecilnya tak tega saat melihat peristiwa yang memilukan itu.


Markus terkesima dengan perintah tuannya yang berdarah dingin. Dalam hidup Markus tak pernah sekali pun dia melihat tuannya berbelas kasih ataupun merasa iba pada seseorang.


Apa mungkin tuan sudah berubah? Atau tuan merasa iba? Hahhh!


Bugh


"Kau sedang apa?" satu tinju melayang di pinggangnya. Membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Ma-maaf, Tuan!" Markus kembali pada dunia nyata. Bergabung dan memerintah para pengawal untuk membantu mengangkat mobil yang menjepit tubuh Dominique.


__ADS_2