MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Jangan samakan Dominique-ku dengan Ketoprak


__ADS_3

"ehem" Haiden berdahem.


"sudah, aku kenyang" ucap Dominique menolak suapan Justin.


"Kau baru makan sedikit, kenapa, apa kau sakit sampai tidak selera makan" tanya Justin menatap mata Dominique yang menghindari tatapannya.


"Tidak, Terima kasih, aku mau pulang"


"Oke, aku antarkan" jawab Justin langsung berdiri akan menggeser kursi yang Dominique duduki.


"Dia__datang bersamaku, dan pulang pun pasti denganku" Haiden yang tidak mau kalah langsung menarik tangan Dominique ke pelukannya.


"Ideen, sudah, aku sungguh lelah" lirih Dominique memelas dipelukan Haiden.


"Kau dengar sendiri, sebaiknya kau pergi dan jauhi Dominique" ucap Haiden tegas menatap tajam Justin.


"Kau tak berhak melarangku, dan Dominique adalah pacarku, ini adalah urusan pribadiku bukan pekerjaan, kau sebaiknya bertindak secara profesional" Justin yang tidak mau kalah.


Mata Dominique melirik Justin yang terus menatapnya menuntut penjelasan.


"Aku berhak melarangnya karena aku__" Dominique langsung mengecup bibir Haiden dan membuatnya berhenti bicara.


Maafkan aku Justin. pekik Dominique dihati.


Dominique akan menarik bibirnya, namun Haiden dengan sengaja pamer kemesraan dengan mencium bibir Dominique dengan sangat dalam dan lembut, membuat Justin cemburu mengepalkan kedua tangannya.


Dasar pria mau menang sendiri, dia tetap saja mengambil keuntungan dariku.


Dominique yang berusaha melepaskan ciuman dalam dari Haiden dengan mendorong tubuhnya.


"Idenn__" Dominique tergagap melepaskan ciuman Haiden, Haiden menyeringai puas kepada Justin.


"Kau bisa lihat sendiri siapa orang yang dia pilih"


"sudah iden"


"biar dia tahu posisinya, jangan sembanganp mengusik wanita orang lain"


Justin menatap geram, menahan amarahnya, Dominique memberikan kode gelengan kepala kepada Justin, memelas dengan kedua matanya, agar Justin tidak meladeni ucapan Haiden.


"Ayo, kita pulang" Haiden menarik tangan Dominique dan Justin hanya menatap kepergian Dominique.


Aku tidak akan melepaskanmu Dominique, bagaimanapun caranya kau harus kembali kepadaku. Justin.


Haiden menyeret Dominique dengan kasar masuk ke mobil. John pun sudah bersedia dibelakang kemudi.


"Kita ke Villa, segera proses surat pengunduran Dominique, John" perintah Haiden dan John mulai menjalankan mobilnya.


"Baik Tuan" saut John.


Dominique mendelikkan matanya, saat mendengar perintah Haiden,"Tidak, Iden aku tidak mau, aku tidak mau ke villa, dan kau sudah berjanji akan tetap membiarkanku bekerja"


Kalau aku ke Villa, sama saja aku di penjara seumur hidup.


"Kau pikir aku akan membiarkan bebas bertemu dengan laki-laki brengsek tadi, hah" Haiden yang geram memegang dagu Dominique dengan kasar dan menghempaskan.


"Aku janji iden, tidak akan bicara dan akan menghindarinya kalau kami bertemu" Dominique memohon.

__ADS_1


"Kau bisa saja berjanji, lalu bagaimana dengan laki-laki brengsek itu"


"Percaya padaku, dia tidak akan berani, aku__aku janji akan bilang langsung padanya kalau kita sudah menikah dan ini__akan kutunjukan padanya" Dominique menunjukkan cincin berlian yang Haiden berikan.


Haiden diam tak bergeming dengan ajuan Dominique. Dominique malah menyadari laju mobil semakin jauh dari apartemen Haiden.


"John, berhenti, aku__aku tidak mau kesana" Dominique memajukan tubuhnya kearah John dan menarik-narik baju John agar memberhentikan mobilnya.


"Dominique kau gila, kita bisa kecelakaan" Haiden menarik tubuh Dominique yang terus meronta di pelukan Haiden.


"Aku mohon iden, Aku tidak mau ke Villa, aku ingin pulang" Dominique mulai menangis, Haiden yang selalu tidak akan tega kalau Dominique mulai menangis.


arghh, sial, kenapa jurus imutnya dia keluarkan disaat seperti ini, aku jadi tidak tahan untuk memakannya.


"Baiklah, John kembali ke apartemen" Haiden yang terus menenangkan Dominique yang menangis.


Dominique menarik kepalanya, menghapus airmatanya, disaat bersamaan mata Dominique melihat gerobak ketoprak sedang mangkal di pinggir jalan.


"John, Stop!! " teriak Dominique, John menginjak rem sekuatnya, kaget dengan teriakan Dominique.


"Ada apa Nona" John menoleh kepalanya ke belakang.


"Kau mau ketoprak?" tawar Dominique, Haiden dan John mengerutkan dahi bersamaan.


"Jika Nona tidak keberatan, boleh, kebetulan tadi saya mau makan siang saat Tuan Haiden menelepon" John yang tidak menyia-yiakan tawaran Nonanya.


"Pedas atau__"


"Sedang saja Nona" John sambil melirik wajh Tuannya yang mendelik.


"Sudah sayang, jangan marahin John ya, Kau mau coba makan ketoprak juga?" Dominique yang menyentuh pipi Haiden dengan lembut, membuatnya tidak berdaya dengan rayuan maut Dominique.


"John" John segera membalikkan wajahnya, dan keluar mobil.


"Eh, Lho__" Haiden langsung mencium Dominique dengan ganas, dan memasukkan tangannya yang satu kebagian dada Dominique, Dominique yang terbuai dengan sentuhan Haiden hanya bisa pasrah menerima perlakuan Haiden, sampai perut Dominique kembali berbunyi membuat Haiden hilang selera dan melepaskan ciumannya.


ah, sial. pekik Haiden kesal karena gejolaknya yang sudah naik terganggu.


"Jadi kau mau apa tidak?" tanya Dominique.


"Tidak, cepat ayo kita pulang" Haiden yang kepalanya sudah pusing.


"Berikan aku uang" Dominique menegadahkan kedua tangannya.


Haiden tidak menggubris, ia malah berteriak memanggil John. John menghampiri Tuannya yang membuka sedikit kaca mobilnya dan memberikan selembar uang kepada John.


"Eh, aku saja yang beli" Dominique berusaha mengambil uang di tangan John dari kaca yang langsung di tutup Haiden, "Kau pikir aku akan membiarkanmu keluar dengan seperti itu" Tatap Haiden geram, Dominique yang tidak menyadari bagian depan dressnya sudah berantakan karena ulah ganas Haiden tadi.


"Maaf" Dominique segera merapikan dressnya.


Dominique mendengar ponselnya berdering, ia mencari tas yang sudah terjatuh di bawah kakinya, Lagi-lagi Haiden menelan salivanya saat melihat pungguk leher Dominique.


Dominique baru saja mau mengangkat telponnya, Haiden sudah menarik kembali Dominique ke pangkuannya dan menutup slot bagian depan sopir lalu menyalakan musik dengan keras.


"Idennn__ah, berhenti__jangan disini" Dominique yang coba berontak melepaskan serangan dari Haiden yang tidak bisa lagi menahannya dan menjatuhkan tubuh Dominique ke jok mobil dan dalam sepersekian detik dress yang Dominique pakai sudah dirobek Haiden, dan Haiden sudah berada diatas tubuh Dominique,


Dominique sudah tak bisa lagi menolak semua kemauan Haiden, karena semakin dia menolaknya Haiden menjadi semakin gila dan membuat Dominique kewalahan, Dominique pun pasrah menerima perlakuan suaminya.

__ADS_1


John yang kembali dan saat menghampiri mobil mendengar suara musik, ia masuk lalu segera menutup telinganya dengan headphone dan menjalankan mobilnya menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen, mobil Haiden memasuki akses khusus untuk mobil yang bisa masuk dan berhenti dibagian lantainya.


Haiden yang memang sudah selesai dengan aksinya, ia memakaikan kemeja yang dia pakai ke tubuh Dominique yang sudah terlihat kacau, Dominique yang sudah kelelahan hanya bisa menuruti Haiden. Haiden turun tanpa mengenakan kemeja dan langsung mengangkat tubuh Dominique ke pelukannya, membawa Dominique masuk ke kamar apartemen Haiden..


Haiden menaruh tubuh Dominique yang kelelahan diatas ranjang Haiden dan keluar kamarnya.


"Kau benar-benar kelaparan" Haiden yang melihat John lahap memakan ketopraknya.


"Taun coba sendiri saja, saya jamin setelah Tuan coba, Taun akan ketagihan seperti Tuan memakan Nona Dominique" ledek John yang melihat Tuannya menarik bangku membuka bungkusan ketoprak yang dibeli John.


"Sial Kau, jangan samakan Dominique-ku dengan Ketoprak" Haiden yang menendang kaki John, John hanya neringis menahan sakit.


"Pecat dia, aku tidak ingin melihatnya lagi bekerja ditempat yang sama dengan Dominique"


"Kita tidak bisa memecat sembarangan, dia Ascheff berpotensi dan tidak pernah membuat masalah"


"ah, John, kau masih saja kaku, biasanya otakmu bekerja dengan bagus"


"Ini hal yang berbeda Tuan, seperti_nya dia cukup berpengaruh"


"Maksud-Mu"


"Dia Justin Abraham" Haiden menerima amplop coklat pemberian John yang berisi foto dan data detail tentang kebenaran tentang Justin.


"Sial kita kecolongan, harusnya waktu itu kau lenyapkan dia langsung, aku bahkan tidak mengenal_Nya" Haiden yang meremas foto dan data diri yang berisi informasi tentang Justin.


. . .



(Haiden)



(Dominique)



(Justin)


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Silence


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca


__ADS_2