MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Penyesalan Dominique


__ADS_3

Penjelasan Haiden membuat tubuh Dominique bergetar, ada rasa bersalah menyelimuti diri Dominique. Dirinya telah salah sangka dan termakan provokasi dari Rebecca.


DEG.


Dominique tak mampu berkata, dia hanya bisa memaki kebodohan-nya. Andai waktu masih bisa berputar kembali pada dua tahun lalu, mungkin yang akan dia lakukan adalah langsung meminta penjelasan dari Haiden, bukan melarikan diri dari kenyataan. Penyesalan Dominique yang teramat dalam ialah melarikan diri dari masalah.


"Tapi... Rebecca sungguh mencintai, Idenn... "


Akhirnya ucapan itu pun keluar dari mulut Dominique, hati dan lukanya kembali terbuka saat mereka membahasnya.


"Aku tidak perduli. Yang aku cintai hanyalah dirimu. Hanya kamu satu-satunya sayang... " Wajah Haiden pun sama halnya menunjukkan luka yang tak bisa dia sembunyikan lagi.


Haiden sudah pernah kehilangan Dominique selama sepuluh tahun, lalu terpisah lagi oleh hasutan Rebecca sehingga Haiden kehilangan Dominique lagi dua tahun lamanya. Sekarang disaat Dominique mengingatnya, hati Dominique sudah terbagi namun Haiden harus tetap berbesar hati menerima nya karena dirinya sangatlah mencintai Dominique.


Haiden masih menatap dalam-dalam mata Dominique.


"A-aku..., bukan Dominique yang kau kenal seperti dulu Iden, kini di hatiku sudah ada seseorang... " Ucap Dominique terdengar getir bahkan buliran airmatanya pun mengalir tanpa Dominique bisa rasakan.


"Aku tidak perduli sayang, yang aku inginkan kau kembali ke sisi ku. Hal lain aku bisa maafkan. Asalkan kau kembali ke sisi ku... " Tegas Haiden sambil menghapus semua airmata Dominique.


"Tidak Iden, aku mohon jangan kau buat aku menjadi orang yang tak tahu malu. Lepaskanlah aku..., aku mohon idenn... " Dominique tetap berpendirian dirinya tak pantas untuk Haiden.


"Aku sudah bilang, aku tak bisa hidup tanpa mu Dominique. Aku mohon pertimbangan lah diriku lagi Dominique. Kau dengannya kan hanya menikah menggunakan identitas palsu dan itu tidak sah dimata hukum" Tegas Haiden kembali mengingatkan masalah pernikahan yang dijalani Dominique dan Willy, bagaimana Haiden tetaplah pemenangnya karena dia sudah memiliki buku nikah yang sah bersama Dominique.


Bibir Dominique bergetar, mengingat kembali statusnya bersama Willy. Bukan identitas palsu yang dia gunakan, namun Dominique menggunakan identitas saudara kembarnya Marissa.


Haiden terus menatap air muka Dominique yang terus berubah apalagi saat Haiden menyinggung soal identitas Marissa.


Haiden yang bisa menerka dari wajah Dominique ada sesuatu yang terjadi,


"Apa aku salah bicara soal identitas Marissa-mu" Ucap Haiden meyakinkan akan suatu hal yang mengganjal pikirannya.


Dominique memalingkan wajahnya, hatinya masih belum sanggup membicarakan soal Marissa apalagi setelah dia tahu kebenarannya dan Marissa sudah tiada.

__ADS_1


"Di-a..., bukan hanya mirip dengan-ku" Ucap Dominique bergetar dengan suaranya yang parau.


"Sungguh-kah?" Haiden menyimak kelanjutan cerita, dia ingin mendengar langsung dari mulut Dominique.


"Dia..., sepertinya saudara kembar-ku" Pekik Dominique lirih.


Dominique tidak mungkin menutupi apapun dari Haiden, mulutnya langsung meluncur mulus ketika diberikan pertanyaan oleh Haiden.


"Lalu... " Haiden sedang mengorek informasi dari Dominique yang membuat hatinya tergelitik rasa penasaran.


"Hanya saja..., " Ucapan Dominique tertahan, airmata perlahan mengalir begitu saja...


"Hemmm... " Haiden masih mendengarkan cerita Dominique dengan seksama dan melihat Dominique begitu tertekan saat menceritakan nya, Haiden tidak melewatkan kesempatan nya untuk memeluk kembali tubuh Dominique yang bergetar menahan tangis.


"Jika kau tak ingin bercerita sekarang tidak usah kau lanjutkan, kita masih banyak memiliki waktu bersama... " Ucap Haiden penuh percaya diri sambil mengusap dan menenangkan Dominique.


"Dia..., dia..., sudah tiada Idenn... " Tangis Dominique pecah seketika, sesegukan dalam pelukan Haiden.


Dominique bahkan lupa sesaat tentang Willy. Dominique hanya meluapkan semua tangis dan kepedihan yang dia rasakan dalam pelukan Haiden.


"Bagaimana kau tahu dia sudah tiada" Tergelitik terlontar begitu saja pertanyaan dari mulut Haiden.


"Willy bilang..., Marissa menyelematkan dirinya dari sebuah kecelakaan... " Jelas Dominique yang mengundang pertanyaan dalam di hati Haiden.


Haiden yang tak mungkin menceritakan siapa sebenarnya Willy membuat Haiden penasaran mengapa bisa terjadi sebuah kecelakaan yang tak mungkin bagi seorang Willy mengalami sebuah kecelakaan.


"Lalu... " Tanya Haiden kembali sambil mengusap rambut Dominique.


"Tadi pagi aku sempat bertemu Marissa, Willy mengajakku ke makam-nya" Jelas Dominique lagi membuat Haiden makin penasaran ingin menyelidiki sesuatu hal.


"Maafkan aku sayang, aku sungguh tidak tahu kalau kau mengalami masa berat dan sulit. Aku berjanji kedepannya akan selalu menjaga dirimu lebih baik lagi" Ucap Haiden sambil menarik wajah Dominique dan mengecup keningnya.


"Kau benar-benar tak marah denganku" Seloroh Dominique tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Haiden tersenyum.

__ADS_1


"Hahaha... " Haiden tersenyum dan memeluk tubuh Dominique dengan erat, Dominique menautkan alisnya masih tidak mengerti jalan pikiran Haiden.


"Syukurlah..., kau akhirnya sudah kembali. Kembali menjadi Dominique-ku" Sekali lagi Haiden mengecup kening Dominique.


DRETTT. DRETTT.


Ponsel di atas meja samping ranjang Haiden bergetar.


Haiden menatap layar ponsel dan melihat penelepon adalah Willy, Haiden segera mengangkatnya...


"Dimana dia" Suara dari seberang menayakan keberadaan Dominique.


"Bersamaku. Kami kelelahan dan dia sekarang tertidur di pelukanku" Sahut Haiden dengan tegas memperjelas kembali bahwa pemilik sebenarnya sudah mengambil Dominique.


Willy mengepal erat tangannya saat mendengar istri yang dia cintai sudah melakukan penyatuan dengan orang lain.


"Antarkan dia. Aku ingin dia kembali padaku besok pagi" Suara tajam terdengar mengancam, namun bagi Haiden bukan sesuatu yang harus dia takutkan.


"Dia istriku yang sah Bunarco. Jangan pancing kesabaran-ku. Aku sudah membebaskan dirimu dua tahun bersama dengan-mu. Kini saat dia pulang dan kembali pada pemilik sebenarnya!" Geram Haiden mendengar Willy meminta dirinya mengantarkan Dominique ke sisi Willy besok pagi.


"Dia juga istriku, Aramgyan. Kami saling mencintai, sebaiknya kau lepaskan dia!" Kesal Willy mendengar ucapan sombong dari Willy.


"Hanya dalam selembar identitas palsu Bunarco. Dia tetaplah istriku yang sebenarnya!" Haiden memutuskan telpon dari Willy.


Haiden melirik kembali Dominique yang sudah tertidur pulas dalam tangan kekarnya, mengusap kembali wajah Dominique, wajah yang selama dua tahun ini sangat di rindukannya.


"Tidurlah sayang, aku tidak akan melepaskan mu lagi, apalagi untuk seorang Bunarco yang tak tahu malu itu" Dengus Haiden lirih mengecup kembali kening Dominique dan menarik selimut agar menutupi tubuh Dominique...


Haiden meletakkan perlahan kepala Dominique di bantal, dia turun dari ranjang dan memakai piyama tidurnya.


Haiden membuka pintu,


"Biarkan dia masuk dan memeriksanya" Perintah Haiden pada John yang memang siaga menunggu Haiden dari balik pintu.

__ADS_1


Seorang dokter sudah bersiap menanti perintah dan dokter itu langsung masuk ketika Haiden membuka kan pintu untuknya.


"Kau sudah melakukan perintah ku" Haiden mengalihkan pandangannya terhadap John.


__ADS_2