MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dominique mual


__ADS_3

"Aku masih lapar" Ucap Dominique, Haiden dan Willy langsung menoleh.


"Kau mau makan apa lagi?" Tanya Haiden dan Willy bersamaan.


"Kalian duduk, aku akan ambil sendiri. Awas kalau ada yang berani menghampiri..." Ancam Dominique memberi kode menggorok lehernya sendiri, berdiri dan meninggalkan mereka yang masih bersitegang.


Bikin seleraku hilang saja, pagi-pagi sudah berulah. Dominique yang menghela nafasnya di hati.


Dominique kembali menghampiri meja makan. Sesaat dia melirik meja yang sudah di duduki dua laki-laki yang kini ada dalam hidupnya. Mereka menatap Dominique tak berkedip.


Apa aku masih bisa menghindari mereka. Aku mencintai Willy, namun Haiden adalah suamiku. Haaahhh, kepalaku jadi pusing kalau seperti ini lebih baik tak mengingat segalanya. Aku bisa lepas dari penjara cinta Haiden.


"Kau mau tambah menu yang tadi" Ucap seseorang yang sudah berada di samping Dominique menatapnya dengan lembut.


Dominique menoleh ternyata orang yang sempat memberikan makanan di awal.


"Ah tidak, aku akan mencari menu yang lain" Dominique segera memberikan jarak pada tubuhnya agar sedikit menjauh.


Lelaki tadi menyadari, "Ah maaf membuatmu tak nyaman..., sebenarnya... " Ucap pria tadi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Dominique yang sedang memakai identitas sebagai Marissa yang menjadi model.


"Apa anda benar Nona Marissa" Ucapnya malu-malu.


Dominique tersenyum saat laki-laki tadi menunjukkan ponselnya.


Ow, dia fansku. Pekik Dominique di hati.


"Saya Richard, salah satu penggemar Nona" Ucap laki-laki tadi lagi sambil mengulurkan tangannya.


Dominique menyambut uluran tangannya,


"Terima kasih, sebenarnya saya sudah mundur dari dunia model" Ucap Dominique setelah berjabat langsung melepaskan nya.


"Sungguh. Sangat di sayangkan. Namun beritanya belum di publish kah?" Ucap Richard.


"Heem, aku masih ada beberapa urusan"


"Sungguh sangat di sayangkan, tadinya saya ingin menawarkan anda untuk menjadi model dalam karya terbaru saya" Ucap Richard menunjukkan wajah muram-nya.


" Iya maaf seperti beberapa hari lagi artikel-nya akan turun, manager dan agency ku sedang mengurusnya "


"Huh, tapi bolehkan sebagai kenang-kenangan terakhir saya minta beberapa foto anda,


itu pun jika anda tidak keberatan" Ucap Richard menatap Dominique penuh harap.


Dominique berfikir sesaat dan menoleh kearah dua laki-laki yang tampak geram terselimuti awan hitam ketika melihat Dominique dengan laki-laki lain.


"Apakah perlu saya berbicara dengan mereka, sepertinya anda sedang dalam kesulitan" Celetuk Richard langsung tanggap dengan kondisi Dominique.

__ADS_1


Dominique menghela nafasnya,


"Bolehkah anda tunggu sebentar, aku akan segera kembali" Janji Dominique segera berbalik dan meninggalkan Richard.


Ah, benar-benar manis dan imut. Sangat pantas mereka tak melepaskan-nya. Aku harus mencari cara agar Dominique tak terkejut dengan kehadiran-ku.


Haiden dan Willy langsung berdiri ketika Dominique menghampiri mejanya.


"Aku akan mengambil beberapa foto dengan orang tadi. Aku harap kalian mengerti. Dia fans Marissa" Ucap Dominique.


Dominique sengaja memberitahu keduanya agar tidak ada lagi permasalahan yang seperti benang kusut...


Willy langsung mengangguk, menyetujui, karena dia mengerti keseharian Dominique menjadi model setahun belakangan ini.


"Foto yang benar saja. Untuk apa. Aku tidak izinkan" Haiden yang langsung menolak mentah-mentah ucapan Dominique.


"Iden tolonglah jangan mempersulitku. Manajer dan agency-ku sedang mengurus artikel pengunduran diri ku dari dunia model, jadi aku mohon, mungkin saja dia fans terakhir-ku" Jelas Dominique.


"Benarkah? Manager dan Agencymu sedang mengurus semua" Haiden menatap tak percaya pada Dominique.


"Iya, aku memang sudah membicarakan ini dengan Will, dan Will pasti sudah mengaturnya untukku"


"Cih, masih saja kau menyebutkan namanya dengan mesra" Cibir Haiden kesal saat Dominique masih memanggil Willy dengan panggilan mesra.


"Idenn, ayolah! Jangan membuat nya menunggu terlalu lama" Dominique yang tak sabaran.


Masih saja keras kepala, memang hanya Willy yang selalu mengerti ku. Keluh Dominique di hati.


"Ah, Iden!" Seru Dominique.


"Pergi denganku atau tidak sama sekali" Senggit Haiden.


Dominique melirik Willy yang memberikan kode untuk Dominique menyetujui permintaan Haiden agar masalah tidak menjadi larut.


Asalkan kau bahagia sayang, apapun akan aku lakukan. Batin Willy tersenyum dengan kegetiran yang di tahannya.


"Baiklah" Dominique menyetujui nya.


Cih masih saja kau meminta persetujuan pria brengsek itu Dominique. Pekik Haiden di hati penuh dengan api cemburu.


Dominique berjalan di ikuti Haiden dan John di belakangnya.


"Maaf membuatmu menunggu" Sapa Dominique berusaha tersenyum saat menyambangi meja Richard.


Haiden langsung menatap permusuhan pada Richard.


"Tidak mengapa nona Marissa, sudah bisakah kita berfoto" Richard yang melirik jam di tangannya, seperti Richard sedang ada urusan.

__ADS_1


"Dengan senang hati" Senyum Dominique menyambangi Richard lagi.


Richard memotret satu kali Dominique, satu kali foto berdua yang di ambil oleh John dan Richard selfi dengan melingkarkan tangannya di pinggang Dominique dengan pipi mereka yang berdekatan.


Haiden berkobar dan kesal sendiri, tangannya terkepal dengan erat saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.


Baginya, Dominique hanya miliknya seorang, tidak boleh di lihat ataupun di sentuh orang lain.


Dasar Bunarco kurang ajar dia menjadikan istriku santapan laki-laki hidung belang. Geram Haiden di hati masih tidak terima frofesi baru Dominique sebagai model.


"Terima kasih banyak Nona Marissa, kebetulan saya sedang ada urusan" Ucap Richard menaruh ponselnya di dalam saku jas dan mengeluarkan sesuatu.


"Oya, jika anda berubah fikiran dengan tawaran saya, anda bisa hubungi saya disini" Memberikan satu kartu nama di tangan Dominique.


Dominique mengangguk dan melihat punggung kepergian Richard.


"Berikan padaku" Perintah Haiden meminta kartu nama di tangan Dominique.


Dominique segera berbalik dan berlari kecil menghampiri Willy.


"Tolong simpankan kartu namanya dulu" Ucap Dominique yang membuka jas Willy dan segera memasukkan kartu nama tadi di saku dalam jas Willy.


"Kau jangan ikut campur Iden, itu urusan dengan pekerjaan-ku. Kau tak berhak ikut campur" Dengus Dominique kesal melawan ucapan Haiden.


"Kau sungguh punya keberanian melawan ku, hah" Haiden yang langsung mencengkram erat tangan Dominique.


"Aw, sakit" Pekik Dominique meringis kesakitan.


"Lepaskan dia Aramgyan" Hardik Willy tersulut emosi ketika mendengar ringusan dari Dominique.


Willy menghempaskan tangan Haiden yang mencengkram erat tangan Dominique dan segera menarik Dominique kepelukan nya.


"Aku akan membawanya pulang sekarang" Ucap Willy.


"Tidak aku tidak akan izinkan. Dia istriku Bunarco" Haiden bersikeras melarang Dominique ikut bersamanya,


Dominique merasakan pusing dan perutnya sedikit terguncang,


"Will, perutku... "


Uwek. Uwek.


Dominique menutup mulutnya yang tiba-tiba terasa mual.


"Ada apa? Mana yang sakit sayang?" Willy yang langsung memeriksa wajah Dominique yang terlihat pucat.


"Perutku Will..., rasanya sangat tidak nyaman" Ungkap Dominique sambil memegangi perutnya yang terasa terguncang,

__ADS_1


Dominique menghempaskan pelukan Willy yang sudah tak bisa menahannya,


"Dimana toilet nya" Teriak Dominique, Haiden memberi petunjuk kearah petunjuk, Dominique yang matanya mengikuti arahan Haiden segera berlari meninggalkan mereka...


__ADS_2