
"Tapi, Grandma, aku sungguh kangen dengannya," Richard mencubit kedua pipinya karena gemas. Membuat dua orang dihadapannya seakan memuntahkan lahar.
"Kau!" delik mereka.
"Wo--wo, tenanglah. Aku cuma bercanda dan--"
Cuuuppp
Dengan sengaja kembali Richard membakar kedua orang dihadapannya.
"Chard!"
"Ok, oke. Sudah malam, aku kembali ke hotel," dia masih mengelus kedua pipi sang mantan tunangan.
"Hei, kalian, aku peringatkan. Sekali lagi kalian membuat tunangan-ku!"
"Chard, apa sih?"
"Ssstt, kau diam saja. Jika aku sampai mendengar lagi, dia menangis. Aku akan langsung membawanya pergi tanpa persetujuan dari kalian," tatapan kini terlihat serius. Tidak seperti barusan yang terlihat setengah bercanda.
"Ayo, Grandma, kita pergi!" menggandeng lengan sang nenek meninggalkan wajah kemurkaan pada kedua suami Dominique.
"Cih, bisa-bisa kau di jodohkan dengan orang seperti itu," cibir Will.
"Sudahlah, Will, aku sangat lelah dan mengantuk sekarang. Kita kan harus kembali lagi besok pagi untuk menjemput Terry," dia menaruh lengannya di lengan Haiden. Menggandengnya.
“Apa kau sudah benar-benar siap menerima anak itu?” Haiden berkata saat mereka sudah berada di dalam mobil.
“Sudah dong, dia kan calon kakak anak kita,” ucapnya.
“Cih, kau sungguh yakin di perutmu itu, aku ikut andil?” dengusnya melirik Will.
“Ya ampun, Aramgyan. Kau masih saja cemburu buta terhadapku. Kau bisa membuatnya lagi kalau memang tak ada andil di saat kelahirannya,” Will mencibir. Tak mau kalah dengan rivalnya.
“Oh, tentunya. Kau tak perlu mengajariku. Aku pasti akan langsung membuatnya, tanpa kau suruh!” deliknya.
“Ayolah, apa kalian masih memiliki tenaga untuk bertengkar. Aku benar-benar lelah, izinkan aku beristirahat,” dia menaruh kepalanya di pangkuan Haiden. Will menarik kakinya agar ada di pangkuannya. Tetap tak mau kalah.
Brukk
“Aw, pelan sedikit sih,” Sophie protes ketika tubuhnya di tarik kasar masuk ke dalam mobil oleh kedua suaminya.
“Malam ini, dia milikku,” ucap John menangih jatahnya.
“Argh, lepas. Aku lelah. Jangan ganggu!”
“Jangan membantah. Kau, menyetirlah,” dengus John.
“Tidak, ja-jangan lakukan di sini,” dia meronta. Menolak ketika tangan suaminya mulai berselancar indah di tubuh bagian atasnya.
__ADS_1
“Kau, apa kau fikir aku sedang bercanda?” deliknya. Ketika tangan sang istri menghempaskan tangannya. Sangat kesal.
“Aku juga sedang tidak bercanda, John!” dia tak mau kalah dan terus di kendalikan oleh kedua suaminya.
Huh, rasakan. Akhirnya kau juga di tolak. Dengus Ramon dari spion meliriknya.
Hurf
John menghela nafasnya. Melepaskan diri dan menjauh dari sang istri.
“Kemarilah!” dia mengaluskan nada suaranya. Sang istri menggeleng.
“Baik. Tapi, hanya berlaku sampai di rumah saja,” ucapnya. Dia tetap menggeleng keras.
“Jangan membuat kesabaranku habis, kemarilah,” dia memberi perintah. Meninggikan sedikit suara. Membuat sang istri melompat kepelukannya.
“Aku sungguh lelah, sayang,” dia mencoba membujuk sang suami.
“Aku sudah bilang, apapun yang aku inginkan kau tidak bisa menolaknya,” kini dia diam seribu bahasa.
“Kau mendengar apa yang aku ucapkan kemarin malam kan?” dia mengangguk perlahan. Rasanya dia ingin sekali menjambak rambutnya sendiri. Merasa bodoh telah masuk dalam jebakan.
Tahu begitu semalam aku tidak menyetujuinya. cibirnya di hati.
“Aku ingin kau segera seperti nyonya, memiliki seorang anak. Jadi, aku akan berusaha keras sampai kau--,”
“Aku suka kau menurut seperti ini, sayang,” bisiknya.
“Suka sih suka. Tapi, tidak perlu ada pemaksaan dong,” dia tetap menjawab dengan suara sangat lirih yang hampir tak terdengar. Membuat John tersipu malu melihat tingkah menggemaskan istrinya.
Kalau aku tahu menikah itu akan sebahagia ini, sudah sejak awal kau kumiliki. Aku akan langsung membawamu, dulu. Sesal john di hati karena sejak pertemuan pertamanya dia tak langusung menikahi Sophie.
Dominique dan Sophie sama-sama tertidur dalam pelukan sang suami—Haiden dan John tentunya. Pagi ini Dominique sudah berhias diri dengan sangat cantik. Haiden terus-terusan mendengus dengan kesal. Karena sang istri meninggalkannya tidur dengan sangat pulas.
“Kau sudah siap, sayang?” Will bertanya sambil melayangkan kecupan selamat pagi di kening istrinya.
“Uhm,” walaupun hatinya terus berdebar saat dia membuka mata.
“Tenanglah, semua sudah aku atur. Dia pasti akan betah tinggal di sini,” Haiden mengusap perlahan bahu sang istri. Melepaskan segala kegundahannya.
Hurf
Membuang nafas sekuatnya. Berjalan beriringan keluar dari kamar.
Ceklek
“Selamat pagi, Aunty,” sang anak langsung menyapanya saat dia membuka pintu. Tersenyum dengan riang gembira. Seolah ini adalah penantiannya yang telah dia tunggu.
“Maaf, sedikit telat,’ menarik wajahnya. Mengembangkan senyum membalas dengan tulus.
__ADS_1
“Huh, aku sudah tak sabar, Aunty,” tangan mungilnya meraih jari-jemarinya. Membuat hatinya tersentuh bergejolak.
Tenang, Domi. Kau pasti bisa. Kau sudah memutuskan semuanya, ini adalah yang terbaik dan dia sekarang adalah anakmu. Ingat itu. Berulang kali dia mengingatkan dirinya agar tak membuat kesalahan sedikitpun.
Dia bukan tak siap dengan semua pesan terakhir Rebecca. Namun, lebih dari apapun dia sangatlah ingin bersikap sewajarnya.
“Uhm, kita akan pulang setelah kau memanggilku, Mama,” dia menjongkokkan tubuhnya agar dirinya bisa sejajar dengan anak itu.
“Really? Aku boleh sebut, Aunty, Mommy?” dia hampir melompat saat mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Dominique.
“Apa kau suka?” Anak itu mengangguk, “Ya, aku sangat suka. Aku sangat senang, sekarang aku sudah punya Mommy,” dia tanpa ragu memeluk erat tubuh sang mommy.
“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” rasa syukur berlipat. Bahagia. Dia bisa melepaskan semua beban dari pundaknya.
Dia mengandeng sang anak keluar ruangan rawatnya. Kedua sudah dapat kembali tersenyum. Bernafas dengan lega. Akhir dari melodrama sedih mereka dapat di atasi dengan sangat mulus.
“Jadi, kau ingin makan siang dengan apa nanti?” Dominique bertanya dengan penuh perhatian. Matanya bahkan terus berbinar dengan kehadiran Terry di kehidupannya. Yang geram kini sang para suami. Mereka melipat kedua tangan mereka di atas dada bersama. Memicingkan mata dengan tajam. Menatap Terry sebagai rival baru mereka.
Dasar bocah tengik. Berani sekali dia terus bermanja dengan istriku.
Will terus berdengus kesal. Padahal satu hari pun belum berlalu. Ini baru beberapa jam setelah anak itu keluar dari rumah sakit.
Mau ibu, anak, sama saja. Penganggu. Haiden terus memperhatikan sikap sang istri yang mondar mandir melayani kemauan sang anak.
Harusnya aku yang ada di situ. Kompak mereka bersuara dalam hati.
“Kau mau kemana?” Haiden menjegat istrinya yang akan keluar kamar. Will pun ikut-ikutan menghalagi. Berjajar bersama rivalnya.
“Ke kamar, Terry. Aku sudah janji akan mendongeng sebelum dia tidur,” sang istri menjawab dengan senyuman bahagia sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat. Dia kini sudah memiliki seorang anak. Dan akan menjaganya dengan sangat baik.
“Hah? Lagi? Malam ini pun kau akan ke kamarnya?” protes Will membuka suaranya.
“Iya, memang salah?” dia menjawab tanpa memiliki dosa.
“Tidak, tidak. Sudah cukup. Ini sudah dua minggu. Dan, dia sudah memiliki seorang pengasuh. Biarkan pengasuhnya yang menemani.” Haiden tidak terima. Mereka sudah dua minggu berpuasa. Malam ini, mereka sudah tak bisa menahannya.
“Tidak, tidak. Sudah cukup. Ini sudah dua minggu. Dan, dia sudah memiliki seorang pengasuh. Biarkan pengasuhnya yang menemani.” Haiden tidak terima. Mereka sudah dua minggu berpuasa. Malam ini, mereka sudah tak bisa menahannya.
“Sayang,” dia mencoba menyentuh tangan suaminya yang terlihat emosi. Dan tak ingin bernegosiasi.
“Tidak!” sahut Haiden.
“Benar, aku juga tidak akan mengizinkan,” tetap dengan kemauan mereka.
“Huhuhu, aku pulang saja deh. Lebih baik aku melahirkan di tempat grandma,” dia mengentakan kedua kakinya.
“Sayang, ayolah kau sungguh tega denganku. Aku sudah menahannya selama dua minggi ini,” Haiden bersuara mengungkapkan isi hatinya. Dan di dukung oleh anggukan kepala sang Will.
Haduh, bagaimana ini. aku sudah tak bisa lagi membendung para serigala yang sedang kelaparan ini.
__ADS_1