
"Mom, kapan aku bisa bersekolah?” Terry berkata saat mereka memulai sarapannya. Meraka saling berpandangan ketika dia mengutarakan keinginannya.
“Bersekolah? Apa kau disana sudah mulai bersekolah?” Haiden bertanya sambil menatapnya.
“Uhm, mom pernah mendaftarkan. Namun, Aku hanya beberapa bulan saja bersekolah karena Aku harus bolak balik kontrol rumah sakit.”
“Kau ingin bersekolah disini, sayang?” Dominique bertanya.
“Yeah, Mom. Sepertinya Aku akan betah tinggal disini. Lagipula, aku pun sudah tak sabar menantikan kehadiran adikku,” ucapnya tersenyum sambil mengunyah makanan yang sedang dia makan.
“Baik, Mom akan antar kamu untuk daftar sekolah lagi dan sepulangnya nanti kita bisa membeli semua perlengkapan yang kau butuhkan,” Dominique tak kalah semangat. Dia bisa berjalan-jalan keluar sambil menemani Terry.
“Aku izinkan asal kau pergi dengan beberapa pengawal. Aku tidak ingin ada hal buruk yang menimpamu lagi,” Will ikut bersuara ketika istrinya mengeluarkan ide keluar rumah.
“Will, aku kan bisa pergi dengan Sophie, iya kan, Sop? Dan semua akan baik-baik saja,” dia melayangkan pandangan matanya pada Sophie yang sedang asik dengan sarapannya.
“Maaf, Domi. Sepertinya aku tidak bisa menemani. Aku dan Diana sudah berjanji akan ke rumah sakit,” dia melirik Diana yang berseberangan makan dengannya.
“Ke rumah sakit? Ada apa? Apa kalian sakit?” Dominique menaikan kedua alisnya. Menatap mereka secara bergantian. Mereka, keduanya menggeleng. Kompak. Kemudian, Dominique menatap bergantian para suami mereka yang terlihat biasa saja, seperti tidak ada masalah.
“Sungguh kalian tidak sakit? Kalian tidak sedang terluka atau di tindas kan? Lalu--?” mereka masih menggeleng yakin.
Sementara otaknya berfikir. Perlahan dia menyadari dan membulatkan matanya dengan lebar. Sambil bergeleng kepala, “Tidak, jangan bilang kalau kalian sedang akan mengecek-“
“Yup, aku ingin memastikannya,” Sophie memberikan jawaban.
“Aku pun juga,” Diana menambahkan keyakinannya.
“Sepertinya rumah akan ramai. Aku senang, anakku tidak akan merasa kesepian,” dia tersenyum bahagia sambil mengusap perutnya. Mendengar kabar bahagia dari kedua orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga.
“Jadi kalian tidak akan ke kantor hari ini?” Haiden bertanya menatap bergantian pada John. Di ikuti Will yang mengintrogasi dengan pertanyaan sama pada Ramon tanpa berucap.
“Sepertinya seperti itu, Tuan!” kompak keduanya menjawab.
__ADS_1
“Cih, benar-benar merepotkan. Mengapa kalian juga harus memiliki istri yang sama,” umpat Will kesal mendengar jawaban keduanya. Mereka tak bergeming dengan ucapan tuannya. Tetap melanjutkan makan dengan tenang tanpa seperti terjadi apapun.
“Baiklah kalau seperti itu. Aku akan pergi bersama dengan Terry saja!”
“Aku bilang bawa beberapa orang bersamamu,” Will tetap berucap saat istrinya mengantarkan mereka ke halaman depan.
“Iya, aku akan bawa beberapa orang sayang, kau tenanglah,” satu kecupan mendarat di keningnya. Kemudian melambaikan tangan saat mobil keduanya berangkat.
“Kami juga berangkat,” ucap Carlos membukakan pintu depan untuk istrinya dan di ikuti ketiga orang di kursi penumpang.
“Hati-hati di jalan. Semoga hasilnya menggembirakan!” ucapnya sebelum mobilnya menghilang dari pandangan mata.
“Huh, sekarang waktunya kita berangkat sayang,” dia menggandeng lengan anaknya masuk ke dalam mobil di ikuti dua mobil yang menjaga mereka dari belakang.
“Mom,”
“Uhm,”
“Kalau nanti aku bersekolah, aku tidak ingin di kawal seperti ini. Sangat tidak menyenangkan dan membuatku risih,” protes Terry.
“Iya sayang, nanti Mom akan berbicara dengan ayahmu,”
“Jika papa Gyan menolak, biarkan aku yang berbicara dengannya,” anak yang sangat pintar juga dewasa. Dia bahkan tidak mengira anak sekecil itu dapat menjangkau fikirannya.
Ini pasti karena gen dalam tubuhnya. Gen pemilih, posesif dan tak mau diatur, persis sama dengan ayahnya. Buah memang tak jauh jatuh dari pohonnya.
"Oke, deal. Mom juga penasaran bagaimana dia menolak permintaan-mu," kekehnya. Bersama menikmati perjalanan menuju saat satu sekolah dasar intrnasional.
"Mom, apa aku harus bersekolah di tempat seperti ini?" Nada tidak suka keluar begitu saja dari mulutnya saat mereka sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan pagar yang begitu tinggi.
"Uhm, sepertinya ini rekomendasi sekolah terbaik untukmu. Kau tahu sendiri ayahmu akan seperti apa? Jika aku tidak memilihkan sekolah terbaik untukmu," dia masih melipat kedua tangannya di dada. Berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala khas anak-anak membuat Dominique tersenyum dengan tingkahnya.
"Apa kau tidak menyukai?"
__ADS_1
"Sebenarnya kalau di bolehkan, aku ingin bersekolah di sekolah umur saja. Tidak ingin terlalu mencolok," celotehan.
Hohoho, benar-benar satu pemikiran denganku. Sebenarnya ini anakku atau Rebecca sih? Bahkan sikap dan gayanya tak mirip sama sekali dengan ibunya itu.
"Hei, apa kau sungguh anak mommymu? Kenapa kau tidak mirip sama sekali dengannya. Aku malah merasakan kau sangat mirip denganku," ucapnya. Terry menaikan satu alisnya menatap wajah ibunya.
"Mungkin, saat Mommy-ku sedang mengandung dia sangat menyukaimu." Perkataan yang wow banget di telinga Dominique. Dia bahkan tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari seorang anak kecil. Perkataan yang menyejukan hatinya.
Mana mungkin dia menyukai. Bahkan ketika mommynya mengandung kita belum saling kenal. Saat itu kan hanya papamu saja yang bersamanya. Kemungkaran yang pasti dia sudah lama membenciku karena Haiden begitu mencintaiku.
"Oya, Mommy terharu sayang. Sekarang Mommy punya satu lelaki kecil yang akan melindungi, Mommy!"
"No. Mommy tak bisa merayu. Katakan pada papa Gyan, aku tidak ingin bersekolah di sini, Mom. Biarkan aku sekolah di sekolah umum saja," dia menolak masuk.
"Untuk hal ini Mommy tak bisa mengambil keputusan, sayang. Kau kan tahu, ayahmu itu bukan orang sembarangan. Jika-"
"Berikan telponmu, Mom. Aku akan berbicara langsung dengan papa Gyan," tangannya terulur meminta Dominique menyerahkan ponselnya.
"Mommy tidak yakin itu, sayang. Anggap saja, Mommy memohon padamu. Oke?" dia berusaha membujuknya anaknya yang tetap tak ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke area sekolah. Dominique mencoba memasang wajah memelasnya agar anaknya bisa membantunya kali ini.
"Mommy, mohon sayang ...,"
"Mommy, Mommy, apakah papa Gyan terlalu mengekangmu. Baiklah, demi Mom akan aku lakukan. Tunggu aku dewasa, Mom. Aku pasti akan melindungi Mommy dan adikku," dia dengan berhati lapang memeluk tubuh Ibunya.
Pertama kali Dominique merasakannya. Dia benar-benar menjadi seorang ibu. Di anggap sebenarnya, bukan hanya sebagai ibu pengganti. Padahal hubungan mereka baru saja terjadi, seolah benar-benar Terry sudah menjadi anaknya sejak di lahirkan.
"Terima kasih banyak, sayang!" Dia mengecup kening anaknya. Tak pernah membayangkan bahwa hadiah yang di titipkan Rebecca sangat berharga.
Terima kasih banyak, Rebecca. Dia anakmu, sudah menganggapku seperti ibu kandungnya.
"Bagaimana hasilnya, Carlos?" Dua pria dihadapannya kompak menanyakan hasilnya. Semenjak datang, dan istrinya melakukan pemeriksaan mereka mondar-mandir tak karuan. Menunggu hasil di depan kamar periksa. Akhirnya setelah hampir dua jam lebih berlalu Carlos memanggil mereka ke ruangannya.
"Selamat. Seperti perkiraan kalian, istri kalian sedang mengandung. Dan tentu saja, istriku pun sama." Ketiga lelaki itu tiba-tiba berjingkrak kegirangan. Menari sana sini. Dan bersorak-sorai hore sambil berpelukan bersama.
__ADS_1
"Astaga, suamimu?" kedua istri mereka. Berucap. Dan saling berpandangan.