MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kemarahan Haiden


__ADS_3

Haiden mengusap lembut rambut Domique yang masih tidur terlelap, Dominique terusik,


"Sop, jangan iseng aku masih ngantuk," Dominique menghempaskan tangan Haiden.


Namun Haiden tetap mengusapnya, menatap wanita yang di cintainya. Sophie menata sarapan di meja makan.


"Sayang ..., bangun...," bisik Haiden lembut di telinga Dominique, Sophie bahkan tidak percaya dengan penglihatan matanya, Sophie bisa menyaksikan pertunjukan live cinta dari atasannya sendiri.


"Wow, wow... amajiingg," ucap Sophie yang masih terpesona dengan sikap dan ketampanan Haiden.


"Ssttt," desisan John membuyarkan khayalan Sophie.


"Kau ganteng sih, tapi lebih ganteng dia," cibir Sophie pada John.


"Apa kau bilang," John mendelikkan matanya karena kesal. Sophie mendenguskan hidungnya meledek John.


Wanita ini dengan Nyonya sama saja, membuat geram dan sulit di atur. John.


Seketika Dominique terbangun mendengar bisikan, ia menolehkan tubuhnya, Haiden duduk di sampingnya, menatap tajam.


"Kau sedang apa di sini," dengus Dominique kesal.


"Menjemput-mu, ayo... kita pulang," bujuk Haiden.


"Pulang, kau yakin menyuruh-ku pulang, bukannya kau tidak perduli ..., aku hidup atau...,"


"Sssttt, jaga bicaramu," Dominique menghempaskan kembali tangan Haiden, masih ngambek.


Wanita ini, benar-benar menyulitkan kalau sedang ngambek. Haiden.


Dominique ngeloyor ke meja makan,


"Kau buat apa Sop," tanya Dominique.


"Nasi goreng, tapi maaf yaa, aku cuma buat dua porsi,"


"Tenang saja, dia tidak akan makan kok, yuk sarapan," Dominique mengacuhkan Haiden, bahkan saat dia duduk di sampingnya.


Haiden terus menatap Dominique yang makan dengan lahap, sesekali mengusap bibir Dominique dengan lembut.


Haduhhh, Domiiii, jangan umbar kemesraan dong, aku kan jomblo, mana tahan sih lihat begini.


Sophie yang menggigit sendok karena mupeng sendiri.


Pintu di ketuk, Sophie beranjak dari duduknya sambil membawa sendok, ia membuka pintunya, Sophie membulatkan matanya dan menjatuhkan sendok yang dia pegang.


"Oow," ucapnya, melihat Willy sudah di ambang pintu.


"Sudah bangun," ucap Willy lirih, Sophie mengangguk.


"Mana," tak sabar Willy mendorong pintu dan masuk di ikuti Ramon.

__ADS_1


"Pagi ..., Dominique ...," ucap Willy membawa seikat bunga.


OMG.


Dominique menjatuhkan sendoknya, mendelik melihat kedatangan Willy. Bangkit dari duduknya, ingin menghampiri, namun Haiden mencegahnya.


"Duduk," perintah Haiden penuh amarah dan tekanan.


Mata Haiden dan Willy, John dan Ramon saling menatap tajam. Wajah lembut dan manis Willy berubah serius dan dingin saat menatap Haiden, seolah mereka ingin saling membunuh.


"Aku bisa jelaskan," Dominique bersuara.


"Diam," bentak Haiden membuat Dominique tertegun.


"Selamat pagi Tuan Bunarco, ada perlu apa anda sampai berkunjung sepagi ini," rahang Haiden mulai mengeras.


"Selamat pagi Tuan Aramgyan, bagaimana dengan anda, sepagi ini anda pun sudah berada di sini," tak mau kalah Willy pun mengeraskan rahangnya.


"Ow, aku menjemput istriku, bagimana dengan anda?,"


"Wah, ternyata anda suami idaman, saya kesini pun ingin menjemput kekasih saya pulang," memprovokasi Haiden, memproklamirkan diri menantang Haiden terang-terangan sambil mencium bunga yang dia bawa.


Haiden melirik Dominique, matanya seolah ingin membunuhnya.


"Benarkah," sambil menatap tajam Dominique.


"Hei, apa maksud ucapanmu?, " tunjuk Dominique menghampiri Willy, tidak terima dengan perkataannya barusan.


"Aku bilang sedang menjemput-mu," ucap Willy tegas. Dominique akan menampar Willy, namun Willy menangkap tangan Dominique dan mengecup tangannya di hadapan Haiden.


"Tidak Iden..., kau jangan dengarkan dia, itu bohong...," Dominique bergetar ketakutan.


"Tidak... itu benar Tuan Aramgyan, istrimu sedang berbohong dan dia memang sedang menjadi kekasihku," menarik Dominique ke dalam pelukan Willy, memeluk Dominique dengan erat.


"Ah, sakit ... Will, lepaskan aku," Dominique berontak.


"Lepaskan dia, atau ku bunuh kau," Haiden mengeluarkan pistol dari saku jasnya.


Dominique tidak percaya Haiden begitu serius sampai menodongkan pistol ke hadapan Willy. Haiden biasanya tidak akan sampai semarah itu.


"Will, aku mohon..., jangan buat keributan," mencoba membujuk Willy yang emosi sudah mulai terpancing.


"Berikan aku satu ciuman, baru kau lepaskan," Willy tak mau kalah.


"Apa. Kau jangan gila Willy, dia..., suamiku," Dominique yang mulai bernegosiasi.


"Aku tidak perduli," Willy bertambah gila.


"Lepaskan dia, Dominique cepat kemari kau," bentak Haiden.


Willy tanpa ragu membalikkan tubuh Dominique, memeluknya dengan erat lalu Willy mencium bibir Dominique dengan lembut, matanya menatap Haiden penuh kemenangan.

__ADS_1


DOR!! DOR!! DOR!!!


Suara tembakan menggema di udara, tak sedikit pun Willy gentar, dia tetap mencium Dominique sampai puas. Dominique yang mulai kehabisan nafas, mencoba melepaskan diri, Haiden yang terbakar cemburu menghampiri, menarik tubuh Dominique, dan sepersekian detik Haiden dan Willy sudah baku hantam.


Dominique syock masih mengatur nafasnya, tak menduga Willy akan bersikap nekad seperti tadi, dan Haiden yang terprovokasi meluapkan semua kemarahannya.


Willy tersungkur di lantai, rumah sewaan Sophie berserakan, Haiden langsung menarik Dominique, menyeretnya keluar dan mendorongnya dengan kasar masuk ke mobil.


Mobil melaju kencang meninggalkan rumah Sophie. Sampai di apartemen, Rebecca yang menyambut kedatangan Haiden terkejut saat melihat Haiden menyeret kasar Dominique masuk ke kamarnya. Haiden melemparkan Dominique ke kamar mandi, menyalahkan shower agar membasahi seluruh tubuh Dominique.


"Stop, Iden, aku bisa jelaskan," Haiden yang gelap mata karena cemburu dan amarah merobek baju Dominique, ia mengikat tangan Dominique di tiang, Dominique menangis dan ketakutan, "Iden..., tolong jangan seperti ini," renggek Dominique mengiba, memohon.


"Kau.... sungguh berani, berkhianat di belakangku, kau tahu apa hukumannya kan," Haiden menjabak rambut Dominique.


"Aargghh," jeritan Dominique bergema di ruangan. Haiden memberikan hukuman yang selamanya tidak akan Dominique lupakan.


Rebecca menutup kedua mulutnya, ia bahkan belum pernah melihat kemarahan Haiden yang seperti tadi, dan dia mendengar jeritan Dominique dari kamar mandi.


Dua jam Haiden baru keluar dari kamar mandi. Haiden mengangkat tubuh Dominique yang lemah dan membaringkannya di ranjang. Haiden melemparkan baju ganti untuk Dominique, dengan tubuh bergetar Dominique meraihnya, mengenakan perlahan baju yang di berikan Haiden.


"Aku sudah pernah bilang, jangan berani menghianati-ku, kalau tidak kau akan menerima hukuman yang bahkan kau sendiri tak bisa bayangkan," mencengkam dagu Dominique dengan kasar.


Dominique tak menjawab, dia hanya menangis sejadinya tanpa bersuara.


Kau kejam Iden, setan yang paling jahat yang pernah kutemui. Derai airmata Dominique mengalir deras.


"Jangan bermain api dengan-ku, patuhlah, maka kau akan bebas dari hukumanku," Haiden mengusap airmata Dominique, merengkuhnya dalam pelukan.


"Aku sungguh mencintai-mu, aku bisa gila karena kehilangan, jadi aku mohon tetaplah di sisiku," mengusap rambut dan punggung Dominique yang masih menangis sejadinya.


Kenapa kebahagiaan itu bersayap, sekalinya ingin mencoba, dia malah terbang membuat luka. Pekik Dominique di hati.


***


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena,


baca cerita lainku ya yang berjudul :


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Dua Hati


✔ Silence


✔ Mr. Billionaire's Love Prison


✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2