
"Uhm, itu sepertinya ... aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan seseorang nanti malam," kikuk Sophie dibuatnya. Dia binggung menjawab keinginan Dominique, tapi kembali melihat delikan dari kedua orang di hadapannya membuatnya susah menelan ludah dan bernafas.
"Apa kalian melarang Sophie-ku untuk menginap, hah?" Dominique melayangkan pandangannya kepada mereka karena kesal. Dia tahu ini pasti karena ulah kedua suaminya.
"Huh, memangnya aku mengeluarkan komentar?" sewot Haiden.
Dominique melayangkan pandangannya pada Willy.
"Aku? Apa selama ini aku pernah melarang-mu?" Willy melirikkan mata saat kata larangan di keluarkan dari mulutnya. Dia menyindir Haiden.
"Baiklah kalau begitu tidak akan masalah dong kalau Sophie menginap," dengusnya.
Kedua lelaki itu tak menjawab. Meraka acuh tak acuh.
"Jangan menyentuhku. Satu bulan. Itu hukuman kalian!" ucapnya.
"APA? KAU GILA DOMINIQUE!" keduannya kompak membuka suara sambil membulatkan matanya dengan lebar.
Cih, kau fikir kalian saja yang bisa mengancamku. Aku juga bisa! kesalnya.
Haduh Domi, mereka menyeramkan sekali. Rasanya ketoprak ini kenapa tidak enak ya.
Sophie menangis kejar di dalam hatinya. Dia sedikit merutuki pertemuannya dengan Dominique, bukan bertemu temannya, tapi kedua lelaki yang benar benar menyeramkan baginya.
"Cilok dan mie ayamnya bungkus saja ya Sop? Aku sudah begah nih," Dominique mengelus perutnya yang terasa penuh.
"Te-terserah kau, Domi. Aku ke toilet sebentar ya," Sophie memilih melarikan diri ke toilet.
Walau perutnya tak menginginkan. Tapi dia butuh udara untuk dia hirup. Dia merasa semua udara sudah dikuasi oleh kedua lelaki di hadapan mereka yang berwajah muram.
Sophie melirik sesaat pada puluhan pengawal yang berada di antara mereka. Dia merasa menjadi pusat perhatian. Apalagi mereka berada di tempat terbuka.
Mall terbesar, mereka sedang berada di salah satu foodcourtnya. Para suami Dominique tidak mengizinkannya untuk menghentikan mobil di pinggir jalan. Terlebih sikap overprotek Haiden, semua harus bersih dan higienis.
"Huh, aku harus mencari cara untuk pulang," Shopie baru saja mengeluarkan ponsel dari tasnya, dia akan menekan salah satu kontak untuk menjemputnya.
Blash
Brukk
Dia ditarik pada tangga darurat. Tubuhnya dihempaskan ke tembok. Tas dan ponselnya tepat berjatuhan di kakinya.
__ADS_1
"Akh," seseorang mencekik lehernya dengan erat.
Dia hampir kehilangan nafas, meronta dan ingin berteriak. Matanya memekik melihat sosok di hadapannya. Dia mencoba memukul dada orang itu, tangan kecilnya tak mampu menggapai, yang ada malah buliran air mata mengalir dari pelupuk mata. Saat melihatnya menangis orang tadi tersadar dan melonggarkan perlahan cekikan di leher Shopie.
Sophie terjatuh lemas di lantai. Mengusap lehernya yang sakit dan menghirup udara sedalam dalamnya.
Hosh Hosh
Suara beratnya pun terdengar jelas.
"Nyalimu besar juga ya. Berani sekali kau menggoda pria lain di hadapanku,' ucapnya terdengar murka. Namun, wajahnya tetap tenang seperti air yang mengalir.
Shopie masih mengatur nafasnya, bahkan sejanak nalarnya mencoba mengerti dengan semua ucapan yang keluar dari orang di hadapannya.
"A-apa maksud ucapanmu? Aku tidak mengerti!" kembali gadis itu menautkan kedua alisnya sambil tetap mengatur nafasnya yang masih sesak.
"Kau," deliknya.
"Arggh, apa sih aku tidak mengerti ucapanmu!" spontan gadis itu berteriak karena kesal.
Blash
"Sstt. Kecilkan suaramu. Kau sungguh pembuat onar!" tiba tiba orang tadi membekap mulut Shopie, karena kesal Shopie akhirnya mengigit tangan yang membekap mulutnya.
"****! Apa kau seekor anjing?" bukan lepas dari dekapannya. Orang tadi malah menarik tubuh Shopie hingga terkulai di lantai dan orang tadi kini berada di atas tubuhnya.
"Aku pastikan akan membunuhmu kalau kau berteriak sekali lagi," orang tadi memberikan ancaman, masih membekap mulut Shopie. Dia pasrah hanya bisa menuruti kemauannnya sambil mengangguk perlahan.
"Sa-kit sekali, apa kau tidak bisa pelan pelan?" renggek Shopie.
Orang tadi menarik perlahan tubuhnya hingga mereka berdua duduk bersandar pada tembok. Bunyi deringan ponsel Shopie mengalihkan perhatian mereka.
"Awas saja kalau kau berani mengangkatnya. Aku hancurkan ponselmu," ancamnya membuat Sophie menciut.
"Kau ini kenapa sih? Apa salahku?" dengus Shopie kesal.
Dia sama sekali tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Bahkan semua di luar nalar dan jangkauannya. Apalagi berurusan dengan pria di hadapannya.
Pria kurang ajar. Ya itulah kiranya anggapan Shopie. Dia sangat tak bersahabat dengan orang di hadapannya itu.
Pria tadi masih saja belum menjawabnya. Dia tak bergeming. Dia pun mengatur nafasnya yang tak beraturan karena suasana yang menegangkan tadi.
__ADS_1
Hurf
Shopie mencoba bangkit karena pria aneh di sampingnya masih tak bersuara dan bereaksi atas apa pun pertanyaan yang dia lontarkan.
Bugh
Pria itu mengikutinya berdiri dan merangkul tubuh Shopie dari belakang. Membuatnya menghentikan langkah. Terkejut sekaligus tak berdaya oleh perbuatannya.
Apa sih? Pria ini benar benar aneh. umpatnya kesal.
Dia mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia menjemputnya paksa. Masih teringat jelas semua perlakuan kasar lelaki itu dalam benaknya.
"Aku benar benar akan memberimu pelajaran yang tak akan kau lupakan, kalau kau masih saja menggoda laki laki lain," bisiknya di telinga Shopie yang bahkan dirinya sendiri tak mengerti arah perkataannya. Membuatnya menelan salivanya.
Dia pergi begitu saja setelah memberikan ancaman itu pada Shopie. Setelah beberapa saat dia tersadar, dia mendengar ponselnya berdering.
"Kau di mana sih Shop?" suara Dominique dari telpon menyadarkan segalanya. Dia berjalan dengan lemas keluar dari pintu darurat.
Ceklek
Mata Shopie melihat Dominique sedang mencarinya di depan toilet.
"Aku di belakangmu Dom," sahut Shopie.
Dominique berbalik menatap wajah Shopie yang terlihat tidak baik.
"Ada apa? Kau kenapa? Kenapa lama sekali?"
Dominique melontarkan pertanyaan bertubi, tak berapa lama kedua lelakinya, Ramon, John, Carlos, Diana dan beberapa pengawal sudah menyusulnya. Shopie hanya mampu menghela nafasnya.
"Aku tidak apa apa Dom. Sebaiknya aku pulang saja ya. Alan menelpon-ku barusan, dia mengajakku kembali melanjutkan kencan buta nya. Tapi, waktunya di ganti dengan makan malam," ucap Shopie, membuat salah seorang di antara mereka langsung memburunya seperti pedang. Menghujam ke jantungnya.
"Ah, pokoknya batalkan. Kau sudah janji akan menginap. Aku tidak mau tau. Pokoknya kau harus menginap,"
Dominique tak mau kehilangan kesempatan untuk menghindari kedua suaminya. Dia sedang tak ingin di sentuh oleh salah seorang pun dari mereka.
"Tapi aku sudah janji Dom. Aku akan datang menemuinya. Tidak enak kalau di batalkan," Shopie berusaha keras agar dia tak menginap.
"Begini saja, kau berangkat kencannya dari tempatku. Aku dan Diana akan mendandani-mu secantik mungkin agar Alan terpesona denganmu dan dia menjadikanmu sebagai pacarnya. Uhm, kalau perlu aku akan suruh John yang akan mengantarkan-mu sebagai supir dan pengawal pribadi," tawaran menggiurkan yang tak mung di tolak oleh siapapun.
"Nah, sekarang lebih baik kita cari gaun yang cantik saja untuk-mu. Gaun yang kau pakai kan sudah kotor. Tenang saja, aku traktir semua. Kau tak usah khawatir!" Dominique pantang mundur, segera menyeret paksa Shopie agar tak lagi mendapatkan penolakan darinya.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkanmu pergi Sop. Tolong aku malam ini. Aku benar benar butuh kamu. lirih batinnya.