
“Bersiaplah hari ini kita akan menemuinya!” Baron berkata dengan sangat tegas. Menatap wanita yang duduk dihadapannya. Dia sedang menikmati sarapan paginya.
Wanita yang beberapa hari ini telah resmi menjadi istrinya kembali. Dia yang dipaksa olehnya. Martha mau tidak mau menuruti semua kemauan Baron, daripada ada nyawa yang tidak bersalah berkorban untuk dirinya. Martha masih menatap wajah Baron. Bingung dengan ucapannya. Bertanya dalam hati apa yang akan ditemuinya nanti.
“Aku hanya memintamu, menemaniku dan menemuinya. Apakah ada masalah? Mengapa kau menatapku seperti itu?” kembali Baron berbicara dengan suara sakrasnya. Membuat Martha tetap diam. Dia tak perduli dengan ucapannya. Dia tahu saat dia mencoba menjawab setiap perkataannya akan timbul hal yang tidak diinginkan.
“Baiklah, aku akan bersiap-siap!” ucapnya setengah terpaksa.
“Apa kau sebegitu tak sukanya pergi bersamaku?” Baron menaikkan rahangnya dengan kasar menatap Martha yang baru beberapa hari ini resmi menjadi istrinya.
“Siapa bilang?” Martha menjawab dengan lantang. Membalas tatapan suami barunya itu. Dia pun tak mau kalah ketika dia menatapnya tajam.
“Itu tatapanmu? Tidak bisakah kau bersikap manis terhadapku?” cetusnya.
“Memangnya aku harus bersikap seperti apa? Wajahku memang sudah seperti ini. Jauh setelah kau meninggalkanku, ya memang seperti ini. Tidak ada yang berubah!” sindirnya.
“Ck, ck, ck, hah, susah! Wanita memang benar-benar sesuatu hal yang menyebalkan,” gerutunya. Namun, terdengar sangat jelas ditelinga Martha. Sebenarnya Baron sangat kesal mendengar ucapan Martha apalagi menjawab semuanya acuh tak acuh. Dia hanya menginginkan Martha berubah sikapnya. Menjadi lebih baik terhadapnya.
Dia bahkan mengatur dokter spesialis untuk merawat kondisi istrinya sekarang. Dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apalagi dia sudah tahu kalau istrinya itu pernah melakukan operasi jantung. Karena dia menyembunyikan penyakitnya dari Baron.
Martha mengidap jantung bocor sejak dia kecil. Dia di—didik oleh orangtuanya untuk menjadi wanita yang anggun. Dia harus bisa menutupi semua kekurangannya. Berpenampilan layaknya wanita kelas atas. Hanya demi perusahaan dan mengobati penyakitnya itu.
Orangtua Martha dulu hanya bersikap pura-pura kaya. Sebenarnya perusahaan Martha sudah diambang kebangkrutan. Jadi untuk menyelamatkan perusahaannya, orangtuanya meminta dirinya untuk bertemu dengan para anak rekanan bisnis, orangtuanya menjual wajah cantik Martha. Agar salah satu dari mereka bisa menikah dengannya.
__ADS_1
Walaupun Martha menolak tetap saja orangtuanya bersikras. Padahal orangtuanya tahu, bukan hal itu yang diinginkan anaknya. Dan Martha sendiri sudah jatuh hati terhadap Baron, tapi memandang Baron yang miskin dan melarat membuat orangtuanya tak memperdulikan perasaan anaknya.
“Markus, siapkan mobil, kita berangkat sekarang!” perintahnya melirik Markus yang memang senantiasa selalu berada disamping tubuh tuannya itu.
Martha beranjak dari duduknya. Mengikuti Baron yang lebih dahulu. Dia tak ingin bertanya kemana dia akan pergi atau menanyakan apapun. Keberadaannya sekarang sudah seperti boneka yang diperintah dan harus menurutinya. Dia tak berhak untuk menolak atau tak menghiraukan semua perkataannya.
Mobil Baron berhenti di suatu tempat yang tak pernah dia kenali. Rumah yang cukup megah. Rumah kediaman keluaga Willy. Baron membukakan pintu untuk istrinya. Membawanya masuk ke dalam.
Beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan mereka. Willy yang tengah berada ruang keluarga. Menikmati waktu bercengkraman bersama anak dan istrinya. Langkah kaki Martha terhenti. Jantungnya seakan berhenti. Mulutnya seolah tercekik tiba-tiba.
Apa ini? Dia membawaku kesini? Martha bergelut dengan hatinya. Dia belum siap untuk bertemu kondisi yang tak pernah dia bayangkan sama sekali. Dia masih sangat takut dan juga malu menunjukkan wajahnya.
“Kenapa kau membawaku kesini?” Martha menarik lengan suaminya. Membuat langkahnya terhenti saat Will menyadari kedatangan mereka.
“Nyonya? Anda juga datang? Apakah kalian sebenarnya sudah saling mengenal?” tatapnya lembut. Berbicara denganya sambil tersenyum seolah mengartikan sesuatu yang tak pernah bisa dia tebak. Dominique berjalan menggendong bayinya, “Siapa sayang?” liriknya. Bola matanya tak melepaskan tatapan pada wanita itu.
“Oh, ini sayang, beberapa waktu lalu Papa tak sengaja akan menabrak seseorang dan dia—,” Will melayangkan pandangannya pada wanita itu yang terlihat kikuk. Tak lama kemudian Haiden pun keluar menggendong bayinya, menghampiri Dominique. Sesaat pandangan wanita itu pun tertuju padanya.
“Hohoho, jangan heran ya, Nyonya, mereka berdua adalah suamiku dan ini anak-anak kami!” jelas dan tegas Dominique berbicara. Dia menjelaskan tatapan wanita itu terhadapnya sebelum dia menanyakannya.
“Ke-keduanya?” Martha tercekik dengan ucapannya. Langsung membekap mulutnya. Dominique tersenyum dan mengangguk.
“Ya, habis mau bagaimana lagi, Nyonya, dari mereka berdua tidak ada yang mau aku ceraikan. Padahal aku ingin sekali bercerai dari mereka,” kekeh Dominique menunjukkan sederet gigi putihnya. Dan respon dari perkataannya tentu saja membuat dua orang disampingnya itu sama-sama mendelikkan matanya dengan tajam.
__ADS_1
“Hahaha, kau lihat sendiri kan? Mereka tak mau aku ceraikan!” tegasnya kembali. Gurauan yang membuat Martha hampir tidak percaya. Dia bahkan memiliki satu orang yang tak mau melepaskannya saja sulit. Apalagi di penkara oleh dua orang itu. Penjara cinta yang sangat menakutkan.
Baron tak bergeming. Dia memang harus sudah terbiasa dengan keputusan anaknya. Dia pun sependapat dengan Dominique. Namun, baginya sekarang hal yang terpenting adalah adaknya Willy bisa hidup berbahagia dengan pilihannya. Tugasnya adalah melindungi kebahagiaan itu segenap hati.
“Apa kau ingin berpamitan denganku?” Will kini menyela bicara menatap ayahnya. Dia tahu pasti ada hal mendesak hingga ayahnya sendiri yang menghampiri.
“Bisa kita bicara?” Baron melirik Haiden dan Dominique yang terus menatapnya.
“Aku ke ruang baca sebentar sayang!” Will memberi kode pada keduanya dan langsung dimengerti mereka. Mereka mengangguk bersama. Walaupun sebenarnya Dominique penasaran, dia ingin sekali mengikuti suaminya. Baron menghentikan langkah saat mereka sudah berada di depan ruang baca. Will sudah membuka pintu mempersilahkan keduanya masuk.
“Aku akan menunggu di luar, kau saja yang masuk!” ucap Baron membuat Martha dan Willy menoleh. Tubuh Martha sedikit bergetar. Dia masih belum mempersiapkan diri juga hatinya.
“Tidak. Jangan sekarang, aku belum siap!” ucap Martha dengan tatapan penuh nanar. Berharap suaminya mau mengerti dan tak memaksanya.
“Apa aku memerlukan persetujuanmu!” Baron menghempaskan lengannya dengan kasar hingga tubuhnya mundur beberapa langkah darinya.
“Ada apa ini, Pah? Langsung katakan saja, jangan membuatku penasaran yang tak penting. Waktuku jadi terbuang, aku ingin bermain dengan anakku!” dengus Will, kesal dengan sikap ayahnya yang main petak umpat.
“Bicaralah dengannya, bukankah selama ini kau selalu bertanya tentangnya. Sekarang aku bawa dia!” ucapnya membuat Will tersentak. Menoleh langsung pada Martha. Menatap wanita itu dengan perasaan campur aduk.
***
Haloo semuanya, aku, Aleena. Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa mampir ke novel terbaruku yang berjudul, "Mr. Arrogant Baby". Ceritanya nggak kalah seru loh...
__ADS_1