MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Izinkan Aku Jadi Yang Kedua


__ADS_3

Seseorang baru saja tiba di tempat peristirahatannya. Dia menatap sekeliling. Memandangi dengan penuh perasaan setiap sudut dari yang dia pandang. Danau kecil buatan yang pernah mempunyai kenangan manis saat dia bercengkraman dengannya. Juga ruangan dapur tempat mereka pernah bercanda gurau bersama.


"Aku kembali Domi. Aku sangat merindukanmu."


Dia menggengam erat tangannya. Merasakan rindu yang menggebu di dalam dada. Ingin rasanya dia memperjuangkan kembali semua cintanya. Namun, dia sangat menyadari keberadaan-nya sudah sangat tidak mungkin karena sudah terganti dengan seseorang.


"Huh jadi kau sungguh akan menikah dengan-nya sekarang Sop?" kembali Dominique bertanya menghapus air matanya yang masih berurai.


"Uhm, aku 'kan tidak ingin orang lain yang mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan padaku. Sebenarnya kalau masih bisa aku ingin sekali melarikan diri darinya. Aku sangat takut, apalagi kalau dia sedang cemburu," Sophie menunjukkan raut wajahnya yang tersiksa.


"Aku akan bicara dengan Iden. Dia pasti bisa membatalkan semua. Kau jangan khawatir asalkan aku bicara. Dia pasti menuruti semua. Apalagi sekarang aku sedang berbadan dua. Aku tidak ingin kau merasakan seperti apa yang sedang aku rasakan, Sop." dia menghela nafasnya sambil mengelus perutnya yang belum buncit. Sophie hanya bisa menatap wajah temannya yang begitu perhatian dengannya.


"Entahlah Dom. Bisakah aku melarikan diri darinya?" Sophie menautkan kedua alisnya.


"Coba saja. Kalau kau berhasil aku akan meminta saran darimu bagaimana aku melarikan diri dari kedua suamiku yang pecemburu dan posesive itu," mereka hanya bisa saling berpandangan.


Ceklek


John sudah menghampiri mereka kembali yang langsung menatapnya dengan kesal.


"Para tuan sudah menunggu Nyonya di meja makan untuk sarapan. Sebaiknya anda menemui mereka sebelum mereka sendiri yang menyeret anda keluar," John berkata. Namun, pandangan matanya melihat kearah Sophie yang masih mengusap air matanya.


"Cih masa saja mereka mengaturku. Aku tidak akan bisa kabur dari penjara meraka tahu," ketus Dominique menjawab John sambil mengangkat pantatnya dari ranjang sisi Sophie.


"Ayo Sop, kita sarapan dulu," baru saja gadis itu akan menarik lengan temannya yang duduk tertunduk saat di tatap oleh lelaki macan di hadapannya.

__ADS_1


"Tinggal dia disini, Nyonya? Saya masih ada urusan dengannya." John berkata dengan sangat tegas membuat buluk kuduknya berdiri.


"Iya ya. Awas kau jangan buat dia menangis lagi," celetuknya berjalan meninggalkan mereka yang masih canggung.


Setelah pintu di tutup John menghampiri gadis itu yang masih duduk di pinggir ranjang dan memalingkan pandangan darinya. Dia bersimpuh, berlutut di hadapan gadis itu. Membuat gadis itu memalingkan wajah dan menatap pria macan di hadapannya.


"Kau masih marah denganku," ucap lelaki itu sambil menggenggam kedua tangan gadis itu dengan erat. Pandangan matanya begitu lembut dan hangat membuat hati gadis itu mendadak berdebar di buatnya.


Dia menatap mata gadis itu dengan sendu. Harapan yang penuh dengan keinginan di turuti oleh sang gadis. Dia bahkan tersenyum manis pada gadis itu.


"Aaahhh, apa sih? Kenapa kau menatapku seperti itu. Aku 'kan jadi tak bisa memarahimu," gadis itu dengan segala kepolosannya. Melepaskan genggaman erat lelaki tadi dan meukuli perlahan dada lelaki itu.


"Habis dari semalam kau tak mau memandangku. Aku 'kan jadi serba salah. Aku gemas dan ingin sekali semalam meminta itu-" lelaki tadi mengerucutkan bibirnya di hadapan gadis itu memberi kode hasratnya.


"Hiss, masih saja kau berfikiran kotor. Aku 'kan sudah bila-"


"Tidak. Aku masih tetap ingin bekerja. Setidaknya kau menurutiku sekali ini saja. Jangan terus memaksaku sih," dengusnya kesal.


"Uhm, jadi sampai kapan batas waktunya?" lelaki itu berkata dengan sangat serius penuh dengan perhitungan.


"Uhm se-tidaknya kalau kau izinkan, sampai aku seperti Dominique sekarang," gadis itu mengutarakan segala keinginannya. Senyuman smirk muncul di wajah John.


Sepertinya aku harus berkerja keras setiap malam agar kau cepat mengandung dan berhenti dari tempatmu bekerja itu.


"Deal! Aku menyetujuinya," lelaki itu mengusap wajah dan rambut gadis di hadapannya dengan lembut.

__ADS_1


"Sungguh? Kau tidak akan mengingkari? Janji?" gadis itu menunjukan  jari kelingkingnya agar pria di hadapannya berkait jari kelingking dengannya.


"Haruskah?" lelaki itu hanya menautkan kedua keningnya.


"Uhm, aku tidak mau kau ingkar janji. Aku bisa saja kau bohongi. Aku kan tidak tahu apa yang sedang kau fikirkan," polos ucap gadis itu. Membuat seberkas senyum kembali di wajah lelaki itu.


Benar benar kucing nakal. Berani sekali tak mempercayaiku. Tapi, dia memang pintar. Tentu saja aku tidak akan menyetujuinya begitu saja.


"Baik. Setelah resmi kau tinggal disini. Jangan mencoba untuk menggoda laki-laki lain di hadapanku. Aku tidak suka ter-utama-" lelaki itu memutarkan bola matanya. Gadis itu pun mengerti kemana araah pembicaraannya.


"Aku 'kan tak pernah menggodanya. Dia itu sangat lembut dan baik terhadapku. Jadi aku kan tak mungkin menolak kalau-" ucapan gadis itu terhenti. Serangan mendadak nan hangat kini mengalir di dalam mulutnya. Lelaki itu sangat pandai memainkan hati gadis itu hingga dia terbuai.


"Awas saja sekali lagi kau berani memujinya. Hukumannya akan lebih dari itu," gadis itu malu. Dia hanya bisa membenamkan wajahnya di dada lelaki tadi.


"Mandi dan bersiaplah. Setelah sarapan kita akan pergi ke catatan sipil. Aku sudah menyiapkan seluruh berkasnya. Kau hanya perlu berdandan cantik dan tersenyum," lelaki tadi bangkit dari sujudnya. Mengecup kening gadis itu sebelum dia benar benar meninggalkan kamar gadis itu.


Arrgghhh. Aku bisa gilaaa. Aku akan menikah hari ini.


Gadis itu berguling sendiri di ranjang, wajahnya memerah. Dadanya masih saja berdebar dengan hebat. Bahkan ketika lelaki tadi sudah tidak di hadapannya.


"Kau sungguh akan menikah dengannya hari ini?" saat John menutup pintu kamar Sophie, Ramon sudah berdiri di balik pintu. Menghadang dan mentaapnya dengan tajam.


"Bukankah kau tadi sudah mendengar dengan jelas ucapanku. Dia istriku sejak semalam," John yang tak ingin sedikit pun memberi celah pada rivalnya.


"Biarkan aku menjadi suami keduanya. Aku berjanji akan menjaga dan mencintainya dengan penuh kasih sayang. Aku rela menjadi yang kedua, asalkan bisa menikah dengannya juga," sontak saja ucapan yang keluar dari mulut Ramon membuat matanya membulat dengan lebar. Dia sangat yakin bahwa rivalnya akan mengutarakan. Namun, dia tak menyangka akan rivalnya akan dengan sangat lantang menyampaikannya secara pribadi padanya.

__ADS_1


"Hah, kau gila. Memangnya kau sudah kehabisab stok wanita. Jika kau memang sangat kekurangan, aku bersedia menjadi jembatan bagimu," bukan jawaban yang dia dapatkan melainkan cibiran darinya.


Cih, bisa bisanya kau memintaku menjadikanmu yang kedua. Kau fikir, aku sudi berbagi dengan-mu.


__ADS_2