MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dia juga "setan" seperti Haiden


__ADS_3

Pagi hari,


Dominique menatap cermin, matanya sembab dan bengkak tidak karuan, walaupun dia menangis semalaman, hatinya masih terasa sakit, namun ada lega yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Hari ini libur ngapin ya...,


"Sarapan bubur saja ah" ucap Dominique, membuka pintu kontrakannya, berjalan malas, perutnya sudah tak terkendali karena lapar.


Ia berjalan sambil mengecek ponselnya, dia mendapatkan chat dari Justin kalau pukul 7 tadi Justin sudah terbang bersama keluarganya.


Huh.


Dominique menghela nafasnya panjang, ruang hatinya sudah kosong, Justin perlahan dia lepaskan.


*Ikhlas Domi, ikhlas, kamu kuat, semua pasti segera berlalu. Sekarang saatnya kamu focus, berikan Haiden kesempatan, dia layak mendapatkannya. Guma hati Dominique*.


Dominique duduk di meja tukang bubur ayam, setelah dia memesan satu mangkok bubur.


"Tuan, apa dia Target yang akan kita bunuh selanjutnya?" tanya Ramon, yang masih heran dengan Tuannya, selalu ingin kembali kepada wanita tersebut.


"Jaga lidahmu, kalau tidak ingin aku berikan kepada anjing" saut Willy tajam,


dan Willy terus menatap Dominique dari kaca spionnya, yang Dominique sedang melahap bubur ayamnya.


wanita itu, Bisa-bisanya dia keluar dengan pakaian tipis seperti itu, mau dia pamerkan pada siapa tubuh jeleknya itu. Maki Willy kesal mengumpat Dominique.


"Tuan ini data yang lain yang kau minta" Ramon menyerahkan amplop coklat pada Tuannya.


Willy membuka amplop coklatnya, ia melihat data di dalamnya adalah data tentang Dominique, toko dan rumah sewanya. Menatap lekat informasinya.


Hemm..., seorang Aramgyan pun tertarik dengan hal semacam ini, wanita ini, siapa dia, benar-benar membuatku penasaran. Batin Willy.


Willy membuka pintu mobilnya,


"Yang lain tunggu, Ramon, kau ikut denganku" perintahnya, Ramon pun mengekori.


Dominique baru selesai sarapan bubur ayam, bangkit dari duduknya membayar pesanannya, saat berbalik badan Dominique menabrak seseorang,


"Maaf," Dominique menaikkan kepalanya, orang di hadapannya membuka jas dan memakaikannya kepada Dominique.


"Lho, Tuan, anda...., kenapa bisa ada di sini?" akan membuka jas tadi.


"Pakai, kalau kau lepaskan, tanggung akibatnya," tatapan tajam mematikan.


Apalagi ini, satu masalah selesai, sekarang datang orang tidak jelas ini...


"Rumah saya tidak jauh dari sini Tuan, sebaiknya...,"


"Akh... " Dominique berteriak ketika lengannya di seret meninggalkan tukang bubur.


"Sakit ..., sakit Tuan... " Willy mengendurkan genggamnya.


Dominique berjalan menelusuri gang sempit dan berhenti di depan pintu rumah sewanya. Willy melepaskan genggamannya, mengambil kunci dari saku dasternya.


"Tuan, terima kasih sudah mengantar, dan ini milik anda... " membuka jas Willy dan memberikannya kepadanya.


"Willy, kau bisa panggil aku dengan itu..., " memakai kembali jas pemberian Dominique dan tanpa mendapatkan izin Dominique membuka pintu rumah Dominique, masuk ke dalamnya.


Apa aku tidak salah lihat, Tuan memakai jasnya lagi setelah di pakai wanita ini. Biasanya di sentuh pun dia marah. Ramon.

__ADS_1


"Lho, lho... Tu-tuan..., " Dominique mengekorinya yang masuk tanpa izin dan sudah duduk di bangkunya.


"Anda mau apa Tuan, ini... " Willy mendelik, membuat buluk kuduk Dominique berdiri.


Iihh, apa ini... Dia juga "setan" seperti Haiden.


Dominique bergidik sendiri.


"Akh...," tanpa sadar Dominique keceplosan, berteriak sendiri. Willy mengerutkan dahinya.


"Jadi kau tidak memberikan-ku minuman?"


"Haah"


"Minum" Dominique berjalan malas ke arah dapurnya.


Cih, siapa juga yang menyuruhmu untuk mengikuti-ku.


"Ini minuman-nya," Dominique meletakkan segelas air putih, ponsel yang di taruh di atas meja berdering, Dominique berlari kecil menghampiri,


"Iya"


"Sedang apa kau, lama sekali mengangkat telponku," suara Haiden di ujung telpon.


"Maaf, tadi aku sedang sarapan bubur ayam"


"Kau pakai apa sekarang, aku lihat," Dominique panik, berbalik melihat orang di hadapannya.


"Aku mau mandi idenn, please jangan ganggu dan kacaukan pagiku..." suara Dominique lirih sambil memberi kode jangan bicara pada Willy.


Hmm, ternyata hubungan-mu dan dia cukup spesial, batin Willy.


dia bilang akan segera kembali, aku harus segera kembali ke apartemen, kalau dia tahu aku di sini ... aku bisa celaka...


Dominique tersadar, tatapan Willy mengintrogasinya.


"Apa sudah selesai minumnya?"


"Kau mengusir ku?," hardiknya melipat kedua tangan.


"Bu-bukan seperti ini, tapi aku mau mandi...,"


"Lalu, apa urusannya dengan-ku?"


What? Orang ini lebih gila dibandingkan Haiden, keras kepala nyaaa....


Dominique menghentakkan kakinya, kesal, berbalik dan masuk ke dalam kamar, lalu keluar menyorenkan handuk di pundaknya, masuk ke kamar mandi.


Imutnya, benar-benar membuat gemas.


Willy yang tersenyum simpul melihat tingkah Dominique.


"Tuan, Ferdy ingin berbicara dengan anda," Ramon menyerahkan ponsel kepada Tuannya, yang melihat sesuatu hal yang langkah di matanya.


Tuan tersenyum, wanita itu... bagaimana bisa membuat Tuan mengikutinya terus, di bandingkan dengan Mona ... bahkan wanita ini tidak terlihat cantik dan sexy seperti selera Tuan...


Willy menerima telpon dengan serius, tidak lama pintu kamar mandi Dominique di buka, dia keluar hanya dengan melilitkan handuk, Willy bangkit dari duduknya, mengisyaratkan Ramon untuk membalikkan badan.


Berani sekali dia keluar seperti itu, dia benar-benar ingin menggodaku, hah.

__ADS_1


Blush... wajah Willy memerah dan jantungnya berdebar keras.


"Aku ada urusan, sebaiknya kau pulang," Dominique beralasan, mengusir Willy pergi.


"Kau mau kemana, aku antar"


*Bagaimana ini, aku cuma mau tidur seharian, sebelum aku kembali ke apartemen.


Kau mau membodohi ku, kau pikir aku bodoh. Kau akan pergi dengan kaos, celana pendek dan sandal jepit mu itu*.


"Ayolah ... Wil, aku lelah sekali, aku mau tidur, " Dominique keceplosan, membekap mulut dengan kedua tangannya, "Eh, tidak, maksudnya, aku mau keluar " Dominique yang malas meladeni Willy.


"Ti-dur, kau libur hari ini?,, " Dominique mengangguk tanpa sadar.


"Ikut dengan-ku" tarik Willy, memberi kode pada bawahannya untuk membereskan sisanya.


"Mau kemana, aku tidak ingin kemana-mana Wil...," Dominique yang coba melepaskan genggaman tangan Willy yang terus menariknya sampai masuk ke dalam mobil.


Dominique mencoba membuka pintu mobil tapi sudah terkunci otomatis.


"Willy... kita mau kemana, ponsel, rumah ku" tangan Willy menerima ponsel dan kunci dari Ramon lalu memasukkan ke dalam saku jasnya.


"Ayolah... Will.. , kembalikan ponselku," Dominique coba mengambang ponselnya, namun kedua tangan Willy sudah terlipat di dadanya.


"Berikan nomor telepon-mu"


"Iya, ia..., tapi kembali kan dulu ponselku" Willy merogoh saku jasnya, "Berapa pin nya,"


"Ah, itu sini," coba mengambil, namun dijauhkan oleh Willy, sehingga tanpa sadar Dominique sudah ada di pangkuan Willy.


"Kau sedang merayu dan menggodaku, Dominique, " tangan Willy sudah melingkar di pinggang Dominique, dan berbisik lirih di telinganya.


"Ah, tidak, bukan seperti itu, " wajah Willy semakin dekat dengan Dominique, namun Dominique segera menghindari.


"Please... Will, kembalikan ponselku," Dominique memohon, dan di mata Willy Dominique terlihat sangat imut.


🌼🌼🌼


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena,


baca cerita lainku ya yang berjudul :


βœ” Elegi Cinta Yuki


βœ” Dua Hati


βœ” Silence


βœ” Mr. Billionaire's Love Prison


βœ” Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terima kasih dan selamat membaca πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2