MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Mulai merasakan Rindu


__ADS_3

Pria tadi tidak menyentuh makanannya, hanya menatap Dominique yang sedang makan dengan lahap.


Setelah habis makanannya, Dominique akan mencuci tangan, tapi pria tadi menghentikan nya,


"Suapin aku lagi" ucapnya, Dominique kaget.


Apa lagi sih, sifatnya sama seperti Haiden, mengatur orang sesukanya.


"Anda bisa makan sendiri Tuan, maaf saya harus segera masuk" Pria tadi menatap tajam, menggelengkan kepalanya.


"haisss" desis Dominique, kemudian dia berdiri, menarik bangku sebelah dengan pria tadi, menarik piring pria tadi, dan mulai menyuapi pria tadi,


merepotkan, aku harus segera masuk, jam break sudah hampir habis.


Hei wanita, tatap mataku, apa kau tidak melihat pesonaku, wajahku yang tampan ini.


Tanpa memakan waktu lama, Dominique telah selesai menyuapi makan pria tadi, segera mencuci tangan, mengambil dompet dan ponselnya,


pria tadi melirik tangan kiri Dominique, jari manisnya melingkar cincin berlian yang tidak mungkin seorang wanita sederhana seperti Dominique bisa memiliki cincin berlian seperti itu.


Pria tadi menghadang jalan Dominique,


ish, apalagi sih, pria aneh ini.


"Masukkan nomor ponselmu" perintahnya.


"Hah"


"Kau tuli" masih menyodorkan ponsel kepada Dominique.


"Maaf, Tuan__" ponsel Dominique berbunyi, Dominique segera mengangkat ketika tahu yang menelpon Haiden.


"Kau dimana?" suara Haiden dari sebrang telpon, mengintrogasi.


Dominique melirik jam di tangannya, lalu berbicara lirih, "Maaf Tuan, jam break saya sudah habis" menutup suara telpon, dan meninggalkan pria tadi.


Berjalan melewati pria tadi, menaruh kembali ponselnya di telinga, pria tadi menatap kepergian Dominique,


hah, sial, aku ditolak. Berani sekali wanita itu menolakku.


"Aku selesai makan, baru akan masuk" saut Dominique.


"Makan? Kau makaan dengan pria brengsekkk itu? " Suara Haiden penuh kemarahan.


"Tidak, aku makan bersama teman"


opss, bahaya, kalau dia tahu aku makan dengan pria asing.


"oh, kau tidak bertanya kapan aku pulang? Kau tidak merindukanku?" suara Haiden mereda,


Dominique menjauhkan sedikit ponselnya ketika Haiden berbicara tentang kerinduannya.


"Ah, iya, kapan pulang, aku merindukanmu"


cih, bisa-bisanya mulutku berbohong. Dominique.


"Sabar sedikit ya sayang, masalah disini ternyata masih membutuhkan sedikit waktu, kau jangan bermain-main dengan pria brengsek itu, bisakah kau berjanji padaku Dominique? " Dominique terdiam sesaat, ucapan Haiden menusuk hatinya, dia pun tak bisa berbohong, disudut hatinya, dia mulai merindukan Haiden.


"emm, iya, aku akan berusaha__" suara Dominique terdengar lirih.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku tutup, aku kangen kamu sayang__" telpon terputus, Dominique terdiam sesaat.


Kaki Dominique melangkah terus menaiki tangga, bergegas mengganti seragam dan merapikan mack up nya yang sudah luntur


🌼🌼🌼


Pria tadi menjentikan jarinya,


"Ada perintah Tuan"


"Cari tahu semua informasi wanita tadi, dan aku inginkan Toko tempatnya bekerja"


"Baik Tuan"


Tidak perduli siapapun kamu, aku pastikan akan memiliki_mu.


Pria tadi beranjak dari warung tenda, dan segera masuk ke dalam mobilnya, diikuti beberapa mobil dibelakang_nya.


"Tuan, Jones dari Blackworld ingin bertemu"


seseorang yang berada di samping Tuannya memberikan informasi.


"Kau aturkan waktunya Ramon, aku tidak mau basa basi dengan orang itu, jika terbukti dia berkomplot, segera lenyapkan tanpa sisa"


"Baik Tuan" Pria tadi menatap lurus tajam ke depan, sesaat lamunannya bergulir mengenang pertemuan pertamanya dengan Dominique.


ah, wanita itu, apa istimewa_nya, padahal dia tidak cantik dan sexy seperti wanita lainnya, kenapa aku malah tertarik padanya.


Mobil berhenti disebuah kawasan remang, sebuah tempat perjudian mewah.


Puluhan bodyguard berjajar menyambut kedatangan pria tadi, seorang wanita berpenampilan sexy dan berpakaian serba terbuka segera bergelatut manja di tangannya.


"Tuan, kenapa anda lama sekali, Mona sangat merindukanmu Tuan" terus menghimpitkan kedua dadanya, bergelajut seperti cacing kepanasan.


Tampak seorang pria, dengan wajah lebam dimana-mana, bergetar, ketakutan saat melihat kehadiran pria tadi dalam ruangan__


"Ma-afkan sa-ya Tuu-an, sungguh saya tidak berkhianat pada Tuan" terus memohon ampun pada pria tadi, memenangi kakinya.


"owh, lalu bagaimana kau menjelaskan dengan ini__" pria tadi melemparkan beberapa foto diwajahnya, tampak dalam foto pria itu dengan seseorang sedang menyepakati sesuatu.


Pria tadi bergetar, "Jones, kau tahu kan hukumannya sebagai seorang pengkhianatan" Pria tadi mengeluarkan pistol dari saku kemejanya dan menodongkannya tepat di jidatnya.


"Kau bersekongkol dengan Fredy untuk membunuhku, hah, berani berbuat, kau pun harus berani Terima akibatnya"


"Tu-an, tolong maafkan saya, saya jan-ji tidak akan berkhianat" Pria tadi menarik pelatuknya, dan tanpa ragu, tiga tembakan langsung bersarang di jidatnya.


Wanita yang bernama Mona tadi, menyerengit, ketakutan, apalagi dia melihat dengan jelas pembunuhan dimatanya.


"Tuan, Malam ini Mona yang temani yaa, Mona kangen Tuan" wanita tadi segera menetralisir keadaannya, bergelatut kembali dengan manja.


Pria tadi, menghempaskan tangan wanita yang bernama Mona, keluar dari ruangan, diikuti bodyguard lainnya, sedangkan dua orang membersihkan sisa penembakan tadi__


🌼🌼🌼


Di tempat lain,


"Jadi kapan kau mau meninggalkan pekerjaan sampahmu itu" Seorang pria sedang Menintrogasi seseorang diruang kerjanya, disampingnya seorang wanita tampak harap cemas, tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada putranya.


"Papa kembali hanya untuk ini, sebaiknya buang jauh Pa, aku tidak akan bernasib sama seperti Mario, cukup Mario yang jadi boneka-mu"

__ADS_1


"Dasar sampah, anak kurang ajar" satu tamparan keras mendarat di pipi pria tadi, yang tidak lain adalah Justin.


"Pa, sudah__" Wanita tadi segera mencegah ketika pria tadi akan menampar nya lagi.


"Kemana Monica, Jack"


Pria diujung ruangan yang bernama Jack menghampiri, "Nona Monica sedang berjalan-jalan Tuan"


"Setelah kembali, suruh dia menemui-ku" pria tadi berbalik, masih geram, menahan emosinya.


"Pa__, sudahlah, bukankah kau sudah berjanji kepadaku__" wanita tadi mengiba, memohon untuk kebebasan putranya.


"Jangan berdebat dengan-ku Rossa, kau selalu membela dan memanjakannya, lihat hasil didikanmu, dia jadi pria yang tidak berguna"


Justin menggenggam kedua tangannya emosinya seakan meledak, namun dia tidak ingin melukai hati mama tercintanya, jadi tetap dia menerima perlakuan papanya.


🌼🌼🌼


Sore hari,


Akhirnya pulang, hemm, kemana yaaa__


oya, aku mau belanja baju, argghh, lemari baju sialan__


Gerutu Dominique dipinggir jalan, sambil mengacak-acak rambutnya.


Dominique menghentikan angkot, dari belakang angkot beberapa mobil terparkir, sepertinya mobil itu memang sudah lama menunggu kehadiran Dominique.


Angkot Dominique berhenti disebuah pasar malam, ia turun dan memasuki pasar malam tersebut, dan seorang pria turun dengan beberapa orang bodyguard dibelakangnya, mengikuti langkah kaki Tuannya__


ah, sepi juga yaa, seandainya Haiden ada. Ah Dominique, kau jangan gila, masa kau mulai merasakan rindu padanya__


Dominique bergidik ditengah jalan, ketika memikirkan sosok Haiden,


sedangkan pria dibelakang Dominique, menatapnya heran, kadang tersenyum melihat tingkah polos Dominique,


Ada apa dengan Tuan Willy, setelah menerima informasi wanita ini,


dia langsung mengikuti wanita ini, apa dia Target yang harus kami bunuh selanjutnya??


Ramon.


🌼🌼🌼


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena,


baca cerita lainku ya yang berjudul :


βœ” Elegi Cinta Yuki


βœ” Dua Hati


βœ” Silence


βœ” Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terima kasih dan selamat membaca πŸ™πŸ™


__ADS_2